Otfried Höffe dan Republik Dunia

novartisstiftung.org
novartisstiftung.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Di Jerman sekarang ini sedang ada diskusi kencang tentang status imigran dan pengungsi. Mereka biasanya adalah orang-orang yang meninggalkan tanah airnya, karena perang atau kemiskinan, terutama dari Timur Tengah dan Afrika. Mayoritas tentu saja datang dari Suriah, yang sedang mengalami perang saudara. Diskusi menjadi keruh, karena Jerman tak mau menerima terlalu banyak pengungsi, karena dianggap akan membebani ekonomi dan budaya (mayoritas berlatar belakang Kristen dan Katolik) mereka.

Jalan tengah adalah, para pengungsi dan imigran diberi kesempatan menetap dalam jangka waktu tertentu, biasanya 1 sampai 2 tahun. Setelah perang usai, mereka harus kembali ke negara asal mereka. Seluruh perdebatan ini, pada hemat saya, berpijak pada satu pengandaian, bahwa kita ini berbeda. Warga negara satu berbeda dengan warga negara lainnya.

Seolah-olah, kita hidup di dunia yang berbeda (negara dan budaya yang berbeda), walaupun menginjak bumi yang sama. Jika pengandaian ini kita ubah, maka perdebatan akan jauh menjadi lebih jelas. Saya berpendapat, bahwa dalam diskusi soal imigrasi dan pengungsi, kita perlu menggunakan paradigma kosmopolitisme, yakni pandangan yang menyatakan, bahwa kita semua pada dasarnya adalah manusia yang sama, yang merupakan warga dari dunia (Weltbürger) yang sama. Segala perbedaan perlu dilampaui, dan kita perlu melihat diri kita sendiri sebagai manusia di atas tanah dan langit yang sama, tak lebih dan tak kurang. Lanjutkan membaca Otfried Höffe dan Republik Dunia

Iklan

Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

http://www.globalresearch.ca

Oleh Reza A.A Wattimena

Tahun 2011 adalah tahun yang cukup bersejarah untuk umat manusia. Sampai Oktober 2011 setidaknya sudah ada beberapa peristiwa yang mengubah “wajah” dunia.

Musim semi di Arab, di mana rakyat di daerah Arab dan Afrika Utara mulai bergerak melawan pemerintahan diktator yang menindas mereka, kerusuhan di London terkait dengan kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan rakyat, protes dari kelas ekonomi menengah di Israel terkait dengan semakin mahalnya harga rumah tinggal dan mahalnya biaya hidup, gerakan sosial (nasional) India melawan korupsi di negaranya, kontroversi terkait dengan hubungan Tibet dan Cina, dan yang terbaru adalah gerakan menduduki Wall Street di New York dan di berbagai bursa efek di seluruh dunia, termasuk Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (Roubini, 2011) Lanjutkan membaca Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita