“Tujuan” Hidup

“Tujuan” Hidup

Satu artikel kecil di Web Site majalah Economist langsung menyentak saya, ketika membacanya. Artikel tersebut ditulis oleh seorang pemegang Phd di bidang literatur, serta master di bidang musik.

Ia menulis tentang hidup, dan tujuan hidup. Saya pun tertarik untuk merefleksikannya secara pribadi.

Pertanyaannya sederhana, apakah yang akan terjadi pada saya sepuluh tahun lagi? Saya pun mencoba menjawab. Mungkin, saya akan ada di pendesaan di Bali, bertani, beternak, dan menulis kolom untuk majalah atau koran setempat. Atau, mungkin saya sudah meninggal.

Siapa tahu?

Tujuan Hidup

Dulu, saya adalah orang yang selalu punya target penting dalam hidup saya. Saya adalah orang yang punya tujuan yang jelas, punya cita-cita. Saya masih ingat dengan jelas, lima tahun lalu, saya yakin sekali bahwa suatu saat, saya akan menjadi seorang imam Katolik.

Keyakinan semacam itu memang menguatkan saya, setidaknya untuk saat itu.

Saya pun mulai menyarankan pada orang-orang di sekitar saya, teman-teman terdekat saya, kakak perempuan saya, untuk segera menetapkan tujuan jangka panjang di dalam hidup mereka, seperti yang telah saya lakukan. Bagi saya, tujuan hidup adalah motivasi paling kuat yang mendorong saya untuk maju dan berkembang.

Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad ke-19, pernah menulis bahwa jika saya mengetahui mengapa saya hidup, maka saya akan bertahan dalam semua keadaan. Mengapa itu adalah tujuan hidup yang membuat saya mempu bertahan dalam semua gejolak kehidupan.

Saya pun mulai membuat jadwal, seperti tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan tujuan jangka panjang. Semua tujuan tersebut harus terus dicek kembali, dan dilihat sejauh mana sudah berjalan.

Tanpa Tujuan?


Ternyata, kehidupan itu memang jauh lebih luas dari jadwal. Beragam kejadian merusak semua jadwal yang telah saya buat, mulai kegagalan-kegagalan tujuan jangka pendek, sampai saya terpaksa harus membuat jadwal lagi.

Saya harus keluar dari seminari, dan dengan demikian, cita-cita dan tujuan hidup saya untuk menjadi imam kandas sudah. Beberapa kali saya berhubungan serius dengan wanita, dan beberapa diantaranya sudah hendak melangkah ke tahap pernikahan. Itu pun harus kandas di tengah jalan.

Pada titik ini, saya teringat apa yang pernah dikatakan oleh John Lennon, “kehidupan yang sesungguhnya sedang berjalan, justru ketika anda sedang membuat rencana-rencana.” Dan, seperti yang ditulis Wolfee dalam satu tulisan di majalah Economics yang baru saya baca, “perumusan tujuan adalah suatu kesia-siaan yang dipaksakan!” (Wolfee, 2007)
Memang, proses pemenuhan tujuan membuat hidup anda seolah-olah bergerak sangat cepat. Dalam arti ini, hidup adalah proses perpindahan yang begitu cepat dari A sampai ke Z.

Dalam perjalanan itu, kita tidak boleh pelan-pelan jalan sambil menikmati B. Tidak ada waktu untuk mengenal G lebih jauh, yang ada adalah Jalan Terus! Terus! Terus!

Kesadaran Baru

Saya pun mulai merubah pandangan. Yang penting bukankah apa tujuan jangka panjang saya tercapai? Apa saya terkenal dan kaya, seperti yang menjadi tujuan banyak orang? Yang penting adalah, apakah saya bahagia?

Mungkin, hal ini terdengar sudah umum. Akan tetapi, di tengah kehidupan kota Jakarta yang terus dibayangi kompetisi, orang sangat sulit menyadari apa yang baru saya katakan di atas.

Saya pun mulai menyadari, bahwa saya akan lebih mampu menerima dan menikmati kehidupan yang saya miliki, jika saya mencoba untuk tidak melihat terlalu jauh ke depan. Kesadaran semacam ini sungguh membebaskan dan melegakan. Hidup pun tampak lebih indah.

“Hidup”, demikian tulis Wolfee, “mungkin dapat dipandang sebagai sebuah jalan tol yang panjang. Akan tetapi, sekarang saya telah meletakkan peta dan semua tujuan saya. Jika ada pemandangan indah di tengah perjalanan, saya akan berhenti sejenak untuk memfotonya, dan menikmatinya.” (Ibid)

Kemana saya sepuluh tahun lagi? Mungkin saja, saya akan bermain musik di Kanada. Mungkin saja, saya akan menjadi wartawan di New York Times.

Siapa tahu?

Yang jelas, saya terbuka untuk semua kemungkinan. Yang wajib saya pikirkan adalah masalah disini dan sekarang ini, dan membiarkan masalah esok untuk diurus hari esok. Setuju?

Reza A.A Wattimena

Iklan

Manusia dan Uang

Manusia dan Uang

Sudah beberapa kali ini, semua rencana saya gagal karena keterbatasan uang. Teman-teman saya selalu bilang, “sekarang ini, semua orang punya prinsip UUD”, yang artinya Ujung-Ujungnya Duit. “Kalo ga punya uang, lo ga bisa apa-apa”.

Uang memang telah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Banyak orang rela mengorbankan hal-hal yang terpenting di dalam hidup untuk mendapatkannya.

Uang bisa membuat manusia menjadi kejam. Ia bisa mendikte orang untuk melakukan hal-hal tertentu yang tidak pernah dibayangkan orang itu sebelumnya.

Uang membuat manusia cemburu, iri, benci, dendam, dan mendorong manusia untuk memusnahkan sesamanya. Saya yakin banyak orang akan setuju dengan saya, ketika saya bilang bahwa sekarang ini yang menentukan segala-galanya adalah uang.

Lepas dari itu semua, muncul sebuah pertanyaan di benak saya.

Pertanyaannya begini, bisakah kita mengubah fungsi uang? Saya melihat dan mengalami sendiri bagaimana fungsi uang seperti yang difungsikan sekarang ini begitu jahat. Ia mempunyai potensi destruktif yang sangat besar, dan mudah sekali mengubah manusia menjadi ‘bukan manusia’.

Apalagi setelah membaca tulisan Herry Priyono tentang homo oeconomicus di dalam buku Sesudah Filsafat dan membaca tulisan Aristoteles tentang ekonomi di dalam Politics, saya semakin yakin bahwa kita harus meredefinisikan arti dan peran uang di dalam keseluruhan kosmos yang kita hidupi ini.

Dasarnya begini, kertas uang tidaklah berharga. Yang berharga adalah benda yang nilainya diwakilkan oleh uang tersebut, seperti emas, ataupun yang lainnya.

Akan tetapi, emas dan apapun yang nilainya diwakilkan kertas uang, sehingga uang tersebut menjadi berharga, pun disandarkan pada satu hal yang membuat ia berharga, yakni kesepakatan bersama bahwa benda itu berharga. Jadi, berharga atau tidaknya suatu benda sangat tergantung pada kesepakatan yang dibuat.

Lebih jauh lagi, kesepakatan bersama dibuat berdasarkan persepsi, dan persepsi selalu sudah menyangkut cara berpikir. Maka, cara berpikir manusialah yang sesungguhnya menentukan apakah sesuatu itu disepakati bersama atau tidak sebagai yang berharga.

Kembali ke soal uang tadi, jika uang telah berevolusi fungsinya menjadi sedemikian destruktif, dan bahkan efek destruktifnya lebih besar dari efek positif yang dihasilkannya, lalu apakah uang masih perlu? Jika masih perlu, bukankah fungsinya di dalam keseluruhan kosmos yang kita hidupi ini harus dievaluasi kembali, yang itu juga berarti mengevaluasikan kembali seluruh kesepakatan yang telah dibuat manusia tentang uang, dan berarti juga mempertanyakan kembali cara berpikir manusia tentang uang yang sudah begitu saja dianggap benar selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun ini?

Tujuannya sederhana, supaya uang tidak menjadi elemen penghancur kehidupan manusia. Memang, pertanyaannya bisa dua, apakah uang yang menghancurkan hidup manusia, atau persepsi manusia tentang uang yang menghancurkan hidupnya sendiri?

Berbekal dari pemikiran Kant, manusia tidak pernah mengetahui benda pada dirinya sendiri. Yang ia tahu adalah benda bagi dirinya dalam bentuk kategori-kategori transendental di dalam ruang dan waktu (Kant, Critique of Pure Reason).

Dengan kata lain, kita tidak pernah tahu benda yang utuh dan murni. Yang kita dapat ketahui adalah benda bagi kita, yakni bagaimana kita mempersepsikan benda itu sesuai dengan kapasitas, ataupun, mengikuti Kant, sesuai dengan kategori-kategori transendental yang telah melekat di dalam kemampuan rasionalitas kita.

Begitu pula dengan uang. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mengerti apakah uang yang menghancurkan hidup kita. Akan tetapi, yang kita tahu adalah bahwa persepsi kita tentang uanglah yang menciptakan kerakusan, perang, pembunuhan, dan sebagainya.

Lalu, jika uang itu menyangkut kesepakatan, dan kesepakatan menyangkut persepsi, serta persepsi menyangkut cara berpikir, bukankah kita harus meredefinisikan kembali seluruh cara berpikir kita tentang peran uang di dalam transaksi ekonomi pada khususnya, dan di dalam kosmos pada umumnya?

Pertanyaannya kembali, masihkah uang diperlukan di dalam kosmos yang kita hidupi ini, terutama jika kemungkinan aspek negatif dan destruktif yang diakibatkannya sangat besar, dan bahkan lebih besar dari pada aspek positifnya? Jika ya, perlukah seluruh dunia meredefinisikan kembali arti uang dan perannya di dalam kosmos kehidupan manusia?