Bahasa dan Dunia yang Terbalik

techedon.com
techedon.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Mengapa rakyat yang hidup di dalam masyarakat demokratis membiarkan pemerintahnya melanggar hak-hak asasi manusia warganya sendiri, maupun negara lainnya? Di Indonesia, dua hal kiranya muncul di depan mata. Pertama, rakyat yang membiarkan pemerintahnya menarik pajak dan beragam uang illegal lainnya (coba saja bikin surat di kelurahan), sementara korupsi dari level pusat sampai daerah terus meningkat. Kedua, serangan militer Indonesia kepada Timor Leste yang sampai sekarang belum diberi pertanggungjawaban yang memadai oleh pemerintah Indonesia.

Di depan peristiwa-peristiwa itu, rakyat seolah diam. Hanya beberapa orang yang peduli, dan kemudian membangun gerakan untuk melawannya. Sisanya tenggelam dalam kesibukan menumpuk uang, dan menikmati hidup dengan berbelanja. Dua alasan muncul di mulut mereka, ketika berdiskusi soal ini.

Pertama, mereka sudah muak dengan segala berita buruk terkait dengan politik. Rasa muak itu berlangsung begitu lama, bahkan diwariskan ke generasi berikutnya. Rasa muak lalu melahirkan sikap tidak peduli, atau apati politik. Mereka pun menarik diri dari kehidupan politik, dan menjadi warga negara yang pasif. Akar dari sikap mundur ini sebenarnya adalah rasa sakit, hati kecewa dan rasa muak. Lanjutkan membaca Bahasa dan Dunia yang Terbalik

Iklan

Kapitalisme sebagai Revolusi

gifteconomy.org
gifteconomy.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Dunia memang semakin kacau. Ini terjadi, karena kesenjangan sosial yang begitu besar antara si kaya dan si miskin. Orang yang kaya semakin kaya, karena memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memutar uangnya, guna menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dan lagi. Sementara, orang yang miskin semakin sulit hidupnya, karena harga barang makin tinggi, sementara daya beli entah tetap, atau justru semakin menurun.

Kesenjangan sosial lalu menghasilkan kemiskinan. Seperti di Jakarta, mobil BMW seri terbaru berseliweran, dibarengi dengan pengemis yang belum menemukan rejeki untuk makan pagi ini. Pemandangan yang kontras semacam ini juga banyak ditemukan di berbagai kota-kota besar dunia. Kemiskinan tidak hanya membuat perut kosong, tetapi juga menghancurkan harga diri seorang manusia.

Dari kemiskinan muncul lalu beragam masalah lainnya. Pemukinan kumuh bertambah jumlahnya di samping pemukiman mewah. Masalah kebersihan dan kesehatan kota lalu muncul, karena akses terhadap air bersih dan lingkungan layak semakin berkurang. Angka kriminalitas juga meningkat, karena orang tidak memiliki pilihan lain, selain menjadi maling dan perampok. Hidup bersama lalu menjadi tidak nyaman, karena selalu dibayangi oleh ketakutan dan kekumuhan. Akarnya sama: kesenjangan sosial. Lanjutkan membaca Kapitalisme sebagai Revolusi