Filsafat Tentang Kesepian

wheresthedrama.com
wheresthedrama.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada lebih dari 6 milyar manusia di atas muka bumi sekarang ini. Akan tetapi, banyak orang masih hidup dalam kesepian yang menggerogoti jiwa. Inilah salah satu keanehan terbesar masyarakat manusia di awal abad 21 ini. Seperti lantunan lagu yang dinyanyikan Once dari Band Dewa, “di dalam keramaian, aku masih merasa sepi..”

Beragam penelitian dari berbagai bidang ilmu sampai pada satu kesimpulan, bahwa kesepian itu berbahaya. Ia mendorong orang untuk berpikir salah. Akibatnya, ia merasa kesal, dan bahkan mengalami depresi. Dari keadaan yang jelek ini, banyak orang lalu memutuskan untuk melakukan bunuh diri. (Solomon, 2002) Apakah kesepian selalu menggiring manusia ke arah kegelapan semacam ini?

Akar-akar Kesepian

Saya melihat, ada dua akar mendasar dari kesepian. Pertama adalah akar sistemik. Kita hidup di dalam masyarakat pembunuh. Ada dua ciri mendasar dari masyarakat pembunuh, yakni ketakutan pada segala bentuk perbedaan (cara berpikir yang berbeda, cara hidup yang berbeda, bahkan warna kulit yang berbeda) dan kecenderungan untuk melihat sistem, aturan serta kebijakan lebih penting dari hidup manusia. Lanjutkan membaca Filsafat Tentang Kesepian

Iklan

Epikuros dan Kenikmatan Hidup

daydaypaint.com
daydaypaint.com

Tentang buku Surat Kepada Menoikeus

Oleh Reza A.A Wattimena

Banyak orang merasa sedih dan sakit kepala, ketika membaca koran harian. Banyak berita buruk. Akhirnya, ia semakin sedih, karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Koran sebagai sumber informasi justru malah membuat kita merasa tak berdaya, ketika membacanya.

Ketika mendengar berita tentang bencana, kita juga merasa sedih sekaligus bersyukur, karena kita dan keluarga kita bukanlah korbannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tetap takut, bila bencana itu menghampiri kita dan orang-orang yang kita kasihi. Kita takut, terutama jika kita mati, siapa yang akan menjaga dan merawat keluarga kita?

Yang lebih mendasar lagi, kita takut akan masa depan. Kita takut ada “apa-apa” di masa depan kita, apapun itu artinya. Kita lalu membuat rencana untuk menata masa depan, seperti bikin asuransi, menabung, dan sebagainya. Namun, kegelisahan dan ketakutan tetap ada, bahkan mungkin semakin besar. Lanjutkan membaca Epikuros dan Kenikmatan Hidup