Kapitalisme sebagai Revolusi

gifteconomy.org
gifteconomy.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Dunia memang semakin kacau. Ini terjadi, karena kesenjangan sosial yang begitu besar antara si kaya dan si miskin. Orang yang kaya semakin kaya, karena memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memutar uangnya, guna menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dan lagi. Sementara, orang yang miskin semakin sulit hidupnya, karena harga barang makin tinggi, sementara daya beli entah tetap, atau justru semakin menurun.

Kesenjangan sosial lalu menghasilkan kemiskinan. Seperti di Jakarta, mobil BMW seri terbaru berseliweran, dibarengi dengan pengemis yang belum menemukan rejeki untuk makan pagi ini. Pemandangan yang kontras semacam ini juga banyak ditemukan di berbagai kota-kota besar dunia. Kemiskinan tidak hanya membuat perut kosong, tetapi juga menghancurkan harga diri seorang manusia.

Dari kemiskinan muncul lalu beragam masalah lainnya. Pemukinan kumuh bertambah jumlahnya di samping pemukiman mewah. Masalah kebersihan dan kesehatan kota lalu muncul, karena akses terhadap air bersih dan lingkungan layak semakin berkurang. Angka kriminalitas juga meningkat, karena orang tidak memiliki pilihan lain, selain menjadi maling dan perampok. Hidup bersama lalu menjadi tidak nyaman, karena selalu dibayangi oleh ketakutan dan kekumuhan. Akarnya sama: kesenjangan sosial. Lanjutkan membaca Kapitalisme sebagai Revolusi

Iklan

Kerinduan untuk Dikuasai

beginningandend.com
beginningandend.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa setelah keluar dari Orde Baru jaman Suharto dulu yang penuh dengan teror dan ketakutan, Indonesia terjerumus kembali pada berbagai bentuk fundamentalisme, seperti fundamentalisme agama dan uang? Seolah kita sebagai bangsa keluar dari mulut singa, dan kemudian masuk ke mulut harimau. Seolah kita meninggalkan satu masalah untuk kemudian terjun bebas ke masalah berikutnya, tanpa sadar. Apa sebenarnya akar dari fenomena ini?

Fundamentalisme agama jelas menjadi gejala serius di Indonesia sekarang ini. Berbagai kelompok hendak memaksakan ajaran agama mereka untuk diterapkan di seluruh masyarakat. Dasar negara Indonesia yang bersifat pluralis, terbuka dan nasionalis kini sedang terancam. Gejala ini menciptakan keresahan sosial di berbagai kalangan, terutama mereka yang minoritas.

Budak, Minder dan Abdi

Di dalam gerakan fundamentalisme agama ini, kita bisa menyaksikan dengan jelas satu bentuk mentalitas, yakni mentalitas budak. Mentalitas budak berarti, orang malas atau tidak mau berpikir mandiri, dan menyerahkan keputusan hidupnya pada apa kata kelompok. Dalam hal ini, kelompok itu adalah agama. Orang semacam ini tidak lebih sebagai budak yang rindu untuk dikuasai dan ditaklukan, karena tidak mau berpikir mandiri. Lanjutkan membaca Kerinduan untuk Dikuasai