Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Nelson Mandela, almarhum, adalah Presiden Pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis. Sebelumnya, ia adalah tahanan politik selama 27 tahun, karena menentang sistem yang bersifat diskriminatif di Afrika Selatan, yang banyak juga dikenal sebagai Apartheid. Setelah menjadi presiden, ia tidak pernah terdorong untuk membalas dendam, namun justru mendorong proses perdamaian dan pengampunan, guna membangun masyarakat Afrika Selatan yang baru. Mengapa ia bisa melakukan itu?

Yesus, tokoh terpenting di dalam Agama Kristiani (bahkan mereka meyakininya sebagai Tuhan), dihukum mati dengan penyaliban. Ini adalah hukuman yang amat sadis dan menghina. Sebelum kematiannya, konon ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu, apa yang mereka lakukan.” Bagaimana mungkin? Mengapa ia mau mengampuni para pembunuhnya?

Ada semacam kekuatan batin yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Pengampunan setelah pengalaman ketidakadilan adalah tindakan yang luar biasa mulia, namun amat sulit untuk dilakukan. Orang harus memiliki kekuatan batin dan kedamaian hati yang mendalam, supaya bisa melakukan itu. Untuk menerangkan ini, saya rasa, kita perlu untuk belajar dari Boethius, filsuf Eropa yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Lanjutkan membaca Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

Iklan

Seneca dan Kebebasan Batin

miro - seneca
blogspot.com

Seneca di dalam De vita Beata

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan bunga dan duri. Ini tidak dapat disangkal. Setiap orang mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Namun, disela-sela masa-masa itu, mereka pun menemukan kebahagiaan.

Banyak orang yang lelah dengan perjalanan ini. Bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia, ketika saya tahu, ini semua hanya sementara, dan besok atau mungkin nanti sore, musibah lain akan datang menimpa saya? Orang-orang seperti ini lalu mencari cara untuk melampaui jatuh bangunnya kehidupan. Ada beragam cara, mulai dari menggunakan narkoba (ganja, heroin, ampfetamin), belanja gila-gilaan (konsumtivisme?), menjadi pengguna jasa pelacuran tetap (sex sampai mati untuk menutupi kesedihan?), menumpuk kekayaan (kalau perlu dengan korupsi?), pencarian segala bentuk kenikmatan lainnya (pesta setiap malam atau makan tanpa henti?), sampai dengan bunuh diri.

Pertanyaan penting disini adalah, apakah harus seperti itu? Apakah hidup itu harus selalu jatuh bangun dan naik turun? Apakah ada cara hidup yang lain? Untuk menjawab ini, kita perlu untuk menengok pemikiran Seneca. Lanjutkan membaca Seneca dan Kebebasan Batin