Belajar Praktis

Untitled-20111
kyaari.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul ēthiká Nikomácheia atau ἠθικὰ Νικομάχεια, Aristoteles merumuskan dua bentuk kebijaksanaan dalam hidup manusia. Kebijaksanaan ini harus dilihat sebagai bagian dari keutamaan hidup manusia, atau aretḗ (ἀρετή). Kebijaksanaan pertama adalah kebijaksanaan teoritis, atau yang disebutnya sebagai theoria (θεωρία). Yang kedua disebutnya sebagai kebijaksanaan praktis, atau phronêsis (φρόνησις).

Kebijaksanaan pertama terkait dengan upaya untuk memahami alam. Manusia memandang alam dan segala yang ada, serta berusaha memahaminya. Kebijaksanaan kedua terkait dengan moralitas dan etika, yakni segala hal di dunia ini yang terkait dengan penilaian baik dan buruk, serta apa yang mendasarinya. Jika orang memiliki keduanya, maka ia akan menjadi bijaksana, begitu kata Aristoteles.

Di Indonesia

Berpijak pada pandangan ini, kita bisa mencoba memahami keadaan pendidikan di Indonesia. Berada berjam-jam di kelas, anak dipompa dengan berbagai informasi teoretik, mulai dari rumus fisika, sampai dengan butir-butir Pancasila yang mesti mutlak dihafalkan, tanpa cacat. Sejak kecil, anak dihujam dengan berbagai ujian dan pekerjaan rumah yang justru kerap membuat stress dan depresi. Jelas, dimensi praktis pendidikan di Indonesia terlupakan. Lanjutkan membaca Belajar Praktis

Iklan

Demokrasi dan Rasa Jijik

blenderss.com
blenderss.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Semua teori tentang demokrasi berpijak pada satu prinsip yang sama, yakni kesetaraan antar manusia. Setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara orang kaya atau orang miskin, lelaki atau perempuan, dan agama minoritas atau mayoritas.

Dari kesetaraan ini lahirlah lalu nilai kedua, yakni keterbukaan. Demokrasi, kata Karl Popper, filsuf kelahiran Austria, di dalam bukunya yang berjudul Open Societies and Its Enemies, adalah masyarakat terbuka. Ia menentang segala bentuk pemaksaan, baik menggunakan suap ataupun todongan senjata. Ia memberikan ruang kehidupan untuk semua orang, apapun latar belakangnya.

Namun, di dalam masyarakat demokratis seperti Indonesia, dua prinsip ini terus berada dalam ancaman. Orang dibeda-bedakan seturut agama, ras, dan bahkan jenis kelaminnya. Yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Orang-orang dengan latar belakang tertentu juga tidak bisa terlibat di dalam pemerintahan, semata karena ras, agama ataupun keyakinan politiknya yang berbeda. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Rasa Jijik