Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

amazonaws.com
amazonaws.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.

Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“telek”-tual ini? Lanjutkan membaca Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

Iklan

Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

creativeintelligenceinc.com
creativeintelligenceinc.com

Oleh B. Herry Priyono

Musim gempita membandingkan dua calon presiden/wakil-presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.

Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara “memilih dari keputusasaan” dan “memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.

Namun dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal-sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan. Lanjutkan membaca Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014