Demokrasi dan Rasa Jijik

blenderss.com
blenderss.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Semua teori tentang demokrasi berpijak pada satu prinsip yang sama, yakni kesetaraan antar manusia. Setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara orang kaya atau orang miskin, lelaki atau perempuan, dan agama minoritas atau mayoritas.

Dari kesetaraan ini lahirlah lalu nilai kedua, yakni keterbukaan. Demokrasi, kata Karl Popper, filsuf kelahiran Austria, di dalam bukunya yang berjudul Open Societies and Its Enemies, adalah masyarakat terbuka. Ia menentang segala bentuk pemaksaan, baik menggunakan suap ataupun todongan senjata. Ia memberikan ruang kehidupan untuk semua orang, apapun latar belakangnya.

Namun, di dalam masyarakat demokratis seperti Indonesia, dua prinsip ini terus berada dalam ancaman. Orang dibeda-bedakan seturut agama, ras, dan bahkan jenis kelaminnya. Yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Orang-orang dengan latar belakang tertentu juga tidak bisa terlibat di dalam pemerintahan, semata karena ras, agama ataupun keyakinan politiknya yang berbeda. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Rasa Jijik

Iklan

Pretensi

blogspot.com
blogspot.com

atau…. Simulo ergo sum; Aku Berpura-pura, Maka Aku Ada

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul Masse und Macht, Elias Canetti, penulis dan pemikir asal Bulgaria, mencoba mengamati berbagai bentuk perilaku manusia, dan mengaitkannya dengan perilaku hewan. Salah satu perilaku yang menonjol adalah pretensi, atau berpura-pura. Perilaku semacam ini tampak di dalam perilaku bunglon. Ketika latar belakang berubah, maka si bunglon akan mengubah warna tubuhnya, guna menyesuaikan dengan latar belakangnya.

Manusia pun memiliki perilaku yang sama. Kita berpura-pura di hadapan orang lain, guna mencapai tujuan kita. Orang menyebutnya sebagai kemampuan beradaptasi, atau kemampuan untuk menyesuaikan diri. Namun, di balik itu, kita tahu, bahwa kita berusaha memoles tampilan luar kita, agar sesuai dengan keadaan di luar diri kita. Bahkan, kita menipu diri kita sendiri, demi supaya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar kita.

Pretensi di Sekitar Kita

Politikus tampil terlihat kuat dan dapat dipercaya, supaya ia bisa memperoleh dukungan politik dari rakyat. Ia berpura-pura kuat dan kredibel, walaupun niat hatinya tetap tak dapat ditebak. Nyatanya, begitu banyak politikus, tidak hanya di Indonesia, menjadi koruptor di kemudian hari. Pretensi adalah suatu bentuk kebohongan, yang mengaburkan kenyataan dan bayangan. Lanjutkan membaca Pretensi