Hubungan Indonesia, Komputer, dan Pemilu Kita

Indonesia, Komputer,

dan Kontradiksi Pemilu

Reza A.A Wattimena

Ada yang menarik dari pemilu kita sekarang ini, yakni kemampuannya untuk bisa dianalogikan dengan komputer. Seperti halnya dengan komputer, masyarakat Indonesia terdiri dari dua unsur, yakni sistem dan kultur. Sistem itu seperti perangkat keras (hardware). Dan kultur itu seperti perangkat lunak (software).

Keduanya diperlukan untuk beroperasi suatu mekanisme tertentu. Dalam hal komputer perangkat lunak dan perangkat keras diperlukan untuk bisa bekerja, mendengarkan lagu, berkomunikasi, atau tersambung ke internet. Dalam hal masyarakat keduanya berfungsi menjalankan roda rutinitas harian masyarakat. Jika keduanya terpisahkan maka akan timbul patologi dan bahkan krisis sosial.

Sistem dan Kultur Indonesia

Menurut Niklas Luhmann, salah satu teoritikus terbesar teori sistem, sistem memiliki karakter autopoiesis. Artinya sistem itu bersifat cukup diri. Ia tidak membutuhkan sesuatu apapun di luar dirinya. Dalam hal ini masyarakat juga bisa dipandang sebagai sistem, karena dalam banyak hal, masyarakat berfungsi secara otomatis dan otonom terlepas dari individu-individu yang membentuknya. Masyarakat adalah sistem.

Di sisi lain masyarakat tidak hanya terdiri dari sistem, melainkan juga kultur. Di dalam bukunya yang berjudul The Theory of Communicative Action jilid kedua, Juergen Habermas, seorang filsuf Jerman yang masih aktif sampai sekarang, menyamakan kultur dengan dunia kehidupan (lifeworld). Di dalam dunia kehidupan orang menemukan makna dan identitas. Self seseorang terbentuk melalui relasi terus menerus dengan dunia kehidupan yang ia miliki.

Indonesia juga terdiri dari dua dimensi itu, yakni sistem dan kultur. Sistem bisa dibayangkan sebagai sistem politik, sistem hukum, dan sistem ekonomi. Sementara kultur bisa dibayangkan sebagai budaya, seni, dan tradisi. Keduanya diperlukan untuk menjaga ‘ada’nya Indonesia. Keduanya terus ada dalam relasi yang saling mengisi sekaligus meniadakan. Bisa dikatakan bahwa keduanya saling membenci, tetapi saling membutuhkan.

Habermas juga menambahkan bahwa sistem dan kultur beroperasi dengan cara berpikir yang berbeda. Di dalam sistem cara berpikir yang tepat untuk digunakan adalah rasionalitas instrumental, yakni cara berpikir kalkulatif, berjarak, dan dalam arti tertentu, manipulatif. Sementara di dalam kultur cara berpikir yang digunakan adalah rasionalitas komunikatif, yakni penggunaan bahasa untuk mencapai saling pengertian tentang segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan bersama. Sekali lagi kedua cara berpikir tersebut saling bertentangan, sekaligus saling membutuhkan.

Sistem dan kultur di dalam masyarakat dapat dianalogikan dengan perangkat lunak dan perangkat keras di dalam komputer. Pada komputer perangkat kerasnya adalah motherboard, processor, VGA Card, dan Sound Card. Sementara perangkat lunaknya adalah program operasi, seperti Windows, dengan program-program lainnya, seperti Microsoft Office, Windows Media Player, dan sebagainya. Motherboard bisa dibayangkan seperti sistem politik. Dan kultur bisa dibayangkan sebagai program operasi.

Pemilu sebagai Kontradiksi

Yang menarik adalah kita bisa menggunakan analogi komputer dan telepon seluler untuk memahami masalah yang kiranya bercokol di dalam kultur masyarakat Indonesia, yang membuat semua proses Pemilu sekarang ini menjadi problematis. Bayangkan sistem di Indonesia sebagai perangkat keras yang canggih. Sistem di Indonesia adalah sistem yang modern dengan demokrasi, pemilu, perwakilan rakyat, baik di tingkat pusat maupun daerah, pers yang relatif bebas, dan sebagainya. Analoginya adalah motherboard Pentium Core 2 Duo dengan processor tercepat yang ada, dan VGA Card keluaran Nvidia yang terbaru. Intinya sistem yang ada di Indonesia, termasuk pemilu yang dilaksanakan kemarin, sangatlah canggih.

Sebaliknya kultur di Indonesia tidak bisa dibilang canggih. Dalam banyak hal Indonesia tidak bisa disebut sebagai ‘masyarakat modern’. Mungkin kata ‘desa raksasa’ (the big village) lebih tepat menggambarkan kultur orang Indonesia sekarang ini. Gejalanya bisa dilihat mulai dari perilaku para politikus yang penuh dengan korupsi, kolusi, ataupun nepotisme, sampai perilaku pengguna jalan raya yang tidak lagi peduli pada tata aturan lalu lintas bersama. Dalam hal analogi dengan komputer, kultur di Indonesia itu mirip program operasi DOS 6.22 yang sudah punah, dan VGA Card yang untuk menonton film sederhana sajapun tidak mampu.

Jelaslah sistemnya modern tetapi kulturnya ‘pra-pedesaan’. Perangkat kerasnya canggih tetapi perangkat lunaknya jauh ketinggalan jaman. Bisa dibilang sistem dan kulturnya incompatible, sama seperti DOS 6.22 tidak mungkin mengenali kecanggihan processor Core 2 duo. Pemilu kita pun berlangsung di dalam kondisi seperti ini, di mana mekanisme perhitungan dengan menggunakan mekanisme yang canggih, media massa yang relatif bebas, dan slogan-slogan demokratis yang kelihatan cerdas, namun kultur yang melandasi cara hidup bangsa kita incompatible dengan kecanggihan sistem tersebut. Cita-citanya tinggi. Namun sayang kontradiksi diantara keduanya terlalu besar.

Inovasi Kultural

Tidak mungkin Indonesia kembali ke jaman kerajaan untuk menyesuaikan sistem dengan kulturnya yang ‘pra-pedesaan’. Satu-satunya pilihan adalah menyesuaikan kultur yang primitif tersebut dengan sistem yang modern, sehingga kontradiksinya dapat diperkecil. Seperti yang dikatakan oleh Habermas, sistem selalu berada dalam tegangan dengan kultur. Keduanya tidak bisa dipisahkan, namun juga tidak bisa selalu dalam kondisi tanpa kontradiksi.

Kontradiksi itu perlu. Demokrasi yang sehat selalu memberi ruang untuk tegangan dan kontradiksi di dalamnya. Masalah muncul ketika kontradiksi itu terlalu besar atau terlalu kecil. Jika terlalu besar maka akan timbul anarkisme politik, seperti yang sedikit kita rasakan sekarang ini. Jika terlalu kecil maka akan muncul totalitarisme, seperti yang kita alami selama lebih dari tiga dekade lalu.

Yang kita perlukan sekarang ini adalah inovasi kultural untuk bisa mengimbangi kecanggihan sistem demokrasi yang kita gunakan. Inovasi bukan hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam bidang budaya, politik, HAM, dan pendidikan. Urgensi kita sekarang ini bukanlah membuat pesawat, tetapi merancang kultur demokrasi modern yang compatible dengan sistem demokrasi yang kita pilih bersama. Sekali lagi pilihannya hanya satu; lakukanlah inovasi kultural secepat mungkin, atau Indonesia kembali menjadi negara kerajaan.***

Iklan

Sedih

Sedih

Reza A.A Wattimena

Ada empat hal yang membuat saya sedih hari ini. Yang pertama adalah soal anjing. Di tempat saya tinggal ada tiga anjing. Satu laki-laki dan dua perempuan. Yang laki-laki sudah tua. Saya dengar dia dibunuh kemarin siang, karena akan ada anjing pria pengganti yang lebih muda. Haruskah ia dibunuh? Salah apakah dia? Tadi pagi saya dengar, anjing pria pengganti itu kabur dari rumah. Maka kematian si anjing pria tua itu sia-sia. Anw diakan hanya anjing, bukan manusia. Menerapkan pola pikir manusia untuk memandang anjing adalah kesalahpahaman epistemis. Lagi pula jutaan orang mati karena perang dan kemiskinan toh tidak membuat saya sedih. Akan tetapi hati tetap saja terasa tersayat-sayat, jika mengingat kejadian ini.

Yang kedua saya sering merasa kesepian, jika berbeda pendapat. Kesepian ini lain dengan kesepian karena tidak punya teman ataupun tidak punya pacar. Kesepian ini muncul dari upaya untuk menjadi otentik dengan diri sendiri. Menjadi otentik tentu saja menciptakan perbedaan diri dengan orang lain. Dan perbedaan itu seringkali membuat saya merasa kesepian. Pilihan lainnya adalah menyesuaikan diri. Akan tetapi penyesuaian diri itu seringkali artifisial dan pura-pura belaka, karena takut pada kekuasaan. Saya tidak mau melakukan itu. Saya jadi ingat kata-kata dosen saya. Orang Indonesia takut dengan perbedaan pendapat. Mereka takut kepada kesepian yang timbul akibat perbedaan pendapat. Oleh karena itu mereka memilih untuk hidup harmonis; menyesuaikan diri dengan lingkungan. Walaupun seringkali harmoni itu cuma tanda hidup yang munafik. Sekali lagi saya tidak mau melakukan itu.

Yang ketiga saya mulai muak dengan kebodohan dan fanatisme religius maupun fanatisme ekonomi yang berkembang di sekitar saya. Mereka seolah tidak mau berpikir, apakah praktek hidup yang mereka lakukan itu sudah tepat atau belum. Mereka seperti mayat-mayat hidup berjalan, bekerja, berdagang, berdoa, tanpa sungguh sadar akan apa yang mereka lakukan. Jika saya mulai bertanya dan mengajak diskusi, mereka melarikan diri, dan menganggap saya sok pintar, sombong, pemberontak, bidaah, dan sebagainya. Padahal tidak ada niat jahat apapun yang ada di dalam hati saya. Yang ada adalah cita-cita, supaya hidup bersama kita diwarnai dengan keterbukaan, toleransi, dinamika yang sehat, serta solidaritas. Praktek beragama dan berbisnis yang saya lihat sekarang ini jauh dari cita-cita hidup bersama tersebut.

Yang keempat saya merasa diri saya sangat kering dan tidak bermakna. Saya sudah mencoba berdoa, berpikir, menulis, bertanya, tetapi semua itu tidak memuaskan saya. Kekeringan itu ditambah dengan rasa bersalah dan rasa tidak pantas diri yang begitu besar. Saya memiliki kesalahan berat di masa lalu, yang sampai sekarang masih menghantui mimpi-mimpi saya. Akibat kesalahan itu saya jadi tidak merasa pantas melakukan peran sosial yang saya jalankan sekarang ini. Tapi saya ingat kata pembimbing rohani saya. Hidup yang sempurna bukanlah hidup yang tanpa cacat, melainkan hidup dengan mengakui, menerima, serta mengintegrasikan semua kesalahan dan cacat yang kita punya pada kehendak Tuhan, karena Tuhanlah yang akan menyempurnakan semua cacat dan kesalahan itu menjadi senjata untuk menyebarkan cinta dan kebaikan. Kesadaran ini menenangkan saya. Semoga waktu dan kedewasaan dapat membimbing saya di dalam masa-masa sedih ini. Terus terang menulis apa yang saya rasakan sedikit memberikan saya ketenangan. Mungkin anda juga harus mencobanya.

Menuju Agama Yang Membebaskan

Menuju Agama yang Membebaskan

Sketsa tentang Hubungan Iman, Akal budi, dan Agama

Reza A.A Wattimena

Kata orang iman tanpa agama itu kosong. Itu bagaikan roh tanpa tubuh. Banyak orang juga berkata, bahwa agama tanpa iman itu juga bahaya, bisa jatuh ke formalisme agama. Dalam konteks itu analoginya adalah tubuh tanpa jiwa, yang kering dan tak bernyawa.

Pandangan itu kelihatan koheren, tetapi sebenarnya mempunyai cacat fundamental di dalamnya. Yang pertama agama-agama yang ada sekarang ternyata tidak mampu menjawab kebutuhan iman umatnya. Agama dengan ritual yang dibanggakannya telah mengurung ekspresi iman umat ke dalam bentuk liturgi yang membosankan. Dengan ritualnya yang tidak menjawab kebutuhan umat, agama telah tercabut dari konteks umatnya, sehingga menjadi asing dan tak bermakna.

Di sisi lain iman mutlak tetap diperlukan. Adanya iman membantu orang untuk tetap kuat menjalani hidup. Iman adalah relasi personal Allah dengan manusia yang bersifat intim. Iman bisa memberikan kehidupan yang bermakna bagi yang memilikinya.

Dan iman bukanlah sesuatu yang tidak rasional. Iman yang otentik justru diperoleh dengan pencarian akal budi yang tak kenal lelah untuk memahami misteri dunia, alam, dan Tuhan. Jadi iman terkait dengan akal budi. Keduanya tak terpisahkan. Manusia yang secara otentik beriman hidup dalam tegangan pencarian yang tak akan berhenti antara akal budi dan kepercayaannya pada Yang Mutlak, yang disebut umat beragama sebagai Tuhan.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa iman lebih penting daripada ritual. Ritual seringkali tidak menjawab persoalan makna orang yang mengikutinya. Beberapa orang memaksakan bentuk ritual tertentu tanpa ada konsultasi dengan umat beragama, yang nanti harus mengikutinya. Dalam arti ini ritual tidak hanya asing, tetapi juga memperbodoh orang yang mengikutinya.

Apakah iman itu mengandaikan agama? Jawabannya ya dan tidak. Ya karena iman berakar pada konteks kultural agama tertentu. Tidak karena iman sekaligus melampaui konteks kultural tersebut. Agama itu punya nuansa politik yang kuat. Sementara iman memang berdasar pada agama, tetapi iman menyangkut hubungan yang intim dengan Yang Mutlak, yang disebut juga sebagai Tuhan. Sekarang ini yang terjadi adalah agama dengan ritualnya justru menjadi penghalang bagi penghayatan iman seseorang dengan Tuhannya. Agama menjadi dangkal. Ritual menjadi tidak bermakna. Umat pun jadi diperbodoh.

Agama tetap dibutuhkan. Namun agama yang dibutuhkan adalah agama yang membebaskan, yakni agama yang memberikan makna bagi hidup pemeluknya, dan bukan agama yang memperbodoh dengan dogma, ajaran, serta ritual yang cenderung dipaksakan. Agama yang membebaskan adalah agama yang memberikan ruang dialog bagi umatnya tentang bagaimana cara mereka menghayati imannya.

Yang terjadi sekarang adalah para pemuka agama melakukan monopoli terhadap bentuk penghayatan tersebut. Akibatnya ritual yang seharusnya menjadi bentuk konkret dari iman kini terasa kosong, karena jauh dari perasaan, pergulatan, dan air mata umatnya. Ritual agama menjadi impersonal. Dan itu bukanlah agama yang membebaskan, tetapi agama yang memperbodoh. Iman dan agama haruslah didasarkan pada akal budi yang jernih. Jika sudah begitu barulah agama yang membebaskan bisa terwujud.

Mungkin agama yang membebaskan adalah sebuah cita-cita yang harus terus dikejar, karena tidak mungkin terwujud di dalam realitas. Namun cita-cita ini haruslah disadari dan dikejar terus menerus, baik oleh pemimpin ataupun pemeluk agama lainnya. Jadi walaupun tetap sebuah cita-cita, namun realitas yang ada tidaklah terlalu jauh dengan cita-cita itu. Cita-cita tentang agama yang membebaskan, dan bukan agama yang memperbodoh, adalah cita-cita yang bermakna dan layak dikejar bagi semua orang beriman.***

Pendidikan Virtual

Pendidikan “Virtual”?

Reza A.A Wattimena

Saya jamin judul tulisan ini langsung menarik pikiran anda pada pendidikan berbasis teknologi di era digital-internet sekarang ini. Sayangnya anggapan anda salah.

Tulisan ini adalah sebuah ratapan sekaligus harapan tentang dunia pendidikan secara umum, maupun aktivitas akademik yang dilakukan secara khusus di Universitas Widya Mandala, Surabaya. Sebuah ratapan sekaligus harapan tentang pendidikan yang telah tercabut dari konteks kehidupan manusia yang penuh dengan warna dan hiruk pikuk peradaban, dan menjadi “virtual”.

Sudah dua bulan ini saya mengajar filsafat manusia di Universitas Widya Mandala, Surabaya. Sebelumnya saya mengajar di Universitas Atma Jaya, Jakarta selama kurang lebih dua tahun. Satu hal yang terus menjadi bahan refleksi saya; begitu sulitnya membuka mata dan membangunkan mahasiswi/a dari tidur dogmatis mereka!

Orang yang mengalami tidur dogmatis itu adalah orang yang tetap beraktivitas, namun aktivitas tersebut dijalankan secara mekanis. Mereka tenggelam di dalam rutinitas, dan seolah kehilangan kesadaran kritis pada aktivitas yang mereka lakukan.

Mereka tidak mengerti betul apa yang mereka lakukan. Jika ditanya “mengapa?” maka mereka akan menjawab, “sudah dari dulu begitu!”

Dalam hati saya bertanya, mengapa ini terjadi? Jangan-jangan yang mengalami tidur dogmatis ini bukan hanya mahasiswi/a, tetapi juga dosennya, dan mayoritas orang di dalam masyarakat kita!

Integrasi

Salah satu sebabnya adalah, bahwa metode pendidikan dan isi pendidikan yang diberikan di dalam perkuliahan tidak mengajarkan mereka untuk membuka mata pada dunia. Pendidikan jatuh pada teknikalitas dan transfer pengetahuan teknis, tanpa ada usaha untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa/i tentang situasi dunia.

Dalam arti ini saya menyebut pendidikan kita sebagai pendidikan virtual, yakni pendidikan yang telah tercabut dari realitas, dan menjadi artifisial. Apa yang disebut sebagai pendidikan kini terasa jauh dari hiruk pikuk penderitaan, emosi, dan perasaan manusia.

Pendidikan seolah terputus dari konteks, dan menjadi “pertunjukan anonim” belaka. Pendidikan bukanlah usaha manusia untuk memahami dunia dengan segala kerumitannya, tetapi seni menghafal materi yang dimuntahkan pada saat ujian sekedar untuk mendapatkan nilai baik.

Menghadapi fenomena ini saya sadar betul bahwa, sebagai dosen, saya perlu mengambil tindakan nyata, dan tidak sekedar melakukan kritik saja, walaupun kritik tetaplah mutlak perlu dilakukan. Oleh karena itu saya berusaha mengajak mahasiswa get in touch dengan dunia global melalui kuliah-kuliah yang saya berikan.

Kata kuncinya adalah integrasi pengetahuan dengan dunia. Di awal kuliah saya mengajak mahasiswa untuk berdiskusi mengenai salah satu artikel majalah internasional, seperti Newsweek dan Times, yang membahas situasi politik internasional terkini.

Terakhir ini saya mengajak mahasiswa berdiskusi soal radikalisme dalam Islam secara khusus, maupun radikalisme di dalam kehidupan secara umum. Memang artikel yang saya bahas hampir tidak terkait dengan materi yang akan saya berikan, namun relevansi diskusi tersebut di dalam kehidupan terasa jelas. Dan itu memang tujuan utamanya.

Analitis

Di samping menekankan aspek teknis dari materi kuliah, dosen perlu mengajarkan mahasiswa berpikir analitis. Di dalam tradisi pemikiran rasionalisme, cara berpikir analitis tidak mau memberikan data-data baru, tetapi berusaha menarik kesimpulan-kesimpulan logis dari data dan fenomena yang sudah ada.

Banyak dosen yakin bahwa mahasiswa haruslah diberikan data-data terbaru dari studi yang terkait dengan mata kuliah yang diberikan. Anggapan ini sekaligus benar dan salah.

Benar karena data terbaru bisa merubah perspektif kita tentang sesuatu. Salah karena mahasiswa tidak punya waktu untuk mengolah dan menarik kesimpulan-kesimpulan logis dari data yang sudah ada.

Yang terakhir ini seperti sudah makan kenyang, tetapi lalu suguhi makanan baru, sementara makanan lama juga belum diolah. Perut bisa mual, dan orang pada akhirnya muntah.

Kritis

Kemampuan menarik kesimpulan logis dari data yang sudah ada juga berguna untuk membuat orang menjadi kritis. Secara literer cara berpikir kritis adalah cara berpikir yang mengambil jarak dari suatu data atau fenomena, dan berusaha menilai fenomena tersebut dengan menggunakan penalaran rasional.

Orang yang kritis akan sulit mengalami tidur dogmatis. Mereka bertanya dan menggugat tentang segala sesuatu yang sudah berjalan rutin, namun terasa tidak tepat.

Di dalam realitas banyak orang merasa terganggu dengan orang-orang kritis ini. Padahal merekalah para pemicu perubahan, dan, dalam arti yang lebih luas, “hati nurani” masyarakat.

Cara berpikir kritis dimulai dengan pertanyaan sederhana, seperti “mengapa?”, lalu dilanjutkan dengan pengajuan-pengajuan hipotesis tentatif untuk menjawab pertanyaan tersebut. Suatu cara yang sangat familiar sekaligus sangat asing bagi dunia pendidikan kita yang semakin lama menjadi semakin virtual; semakin tercabut dari realitas.

Praksis

Cara berpikir analitis dan kritis adalah praksis itu sendir. Pikiran adalah tindakan. Keduanya terpaut erat tanpa bisa terpisahkan.

Banyak orang berpendapat bahwa berpikir itu bukanlah tindakan nyata. Yang disebut tindakan nyata adalah demonstrasi, pelatihan, atau apapun.

Padahal semua itu tidak dapat dilakukan, jika orang tidak berpikir terlebih dahulu. Tidak hanya awalnya tetapi semua proses tersebut melibatkan pikiran.

Maka teori adalah praksis. Pikiran adalah tindakan, dan cara berpikir analitis dan kritis adalah praksis. Jangan pernah meremehkan pemikiran, ide, dan teori, karena peradaban manusia dibangun di atas itu semua, mulai dari sistem politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kesehatan.

Yang pertama-tama harus diubah di dalam masyarakat kita bukanlah sistem politiknya, atau sistem ekonominya, atau sistem pendidikannya, tetapi cara berpikir yang bercokol di dalam bidang-bidang itu. Maka tindakan nyata pertama adalah berpikir!

Kebaikan Bersama

Apa relevansi tulisan ini bagi kebaikan bersama kita sebagai masyarakat? Tulisan ini mau meratapi gejala dunia pendidikan kita yang semakin hari semakin tercabut dari realitas. Dunia pendidikan yang menjadi menara gading, seolah tidak mau kotor dari derita dan air mata dunia.

Tulisan ini juga sebuah harapan tentang integrasi kembali pendidikan dan dunia. Harapan perubahan yang berpijak pertama-tama tidak pada sistem obyektif yang sudah ada, melainkan pada sistem organis yang pertama-tama bercokol di kepala kita, yakni pikiran.

Kebaikan bersama hanya bisa diraih, jika kita memandang dunia ini dalam kaca mata integrasi, di mana segala sesuatu saling bertautan tanpa bisa terpisahkan. Pendidikan adalah salah satu unsur penting di dalam pertautan itu. Salam. ***

Kesadaran Manusia

Manusia dan Kesadaran

Reza A.A Wattimena

Pada bab ini, masih terhubung dengan bab sebelumnya, saya akan membedah aspek-aspek yang membentuk manusia. Pengenalan akan aspek-aspek ini membuahkan pengenalan terhadap diri sendiri. Dan pengenalan terhadap diri sendiri merupakan syarat utama untuk mencapai hidup yang otentik. Selain didorong oleh motivasinya manusia juga dipengaruhi oleh kesadaran yang ada di dalam dirinya. Pada bab ini saya akan mencoba memberikan beberapa refleksi filosofis tentang fenomena kesadaran manusia. Sebagai kerangka saya banyak terinspirasi dari pembacaan saya terhadap tulisan Ken Wilber dan Lycan W.G.

Di dalam sejarah para filsuf dan psikolog seringkali berbicara tentang “problematika kesadaran” (the problem of consciousness), seolah problem kesadaran merupakan problem yang sudah jelas pemetaannya. Descartes, seorang filsuf modern asal Prancis, berupaya menanggapi problem itu dengan merumuskan pendapatnya sendiri. Ia berpendapat bahwa pikiran manusia merupakan entitas yang lebih tinggi tingkatannya dari pada tubuh. Pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Fakta bahwa kita dapat berpikir menunjukkan bahwa manusia merupakan entitas yang memiliki kesadaran. Ada relasi internal antara kesadaran dan pikiran.[1] Pikiran juga memiliki prioritas atas dunia. Tanpa pikiran tidak ada realitas eksternal. Dengan demikian pikiran terpisah dari dunia. Pikiran adalah entitas yang mandiri. Pikiran juga terlepas dari tubuh. Argumen Descartes banyak dikenal sebagai teori tentang dualisme tubuh dan jiwa. Pandangan semacam ini mendominasi dunia filsafat, terutama dalam metafisika dan epistemologi, dari abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-20. Pada akhir dekade 1950-an pandangan ini mulai ditantang dari berbagai penjuru.

Behaviorisme dan Kritik terhadap Dualisme

Penantang pertama adalah para pemikir positivisme logis. Mereka memprioritaskan verifikasi dari pikiran individual. Pernyataan yang bermakna adalah pernyataan yang bisa diverifikasi langsung di dalam realitas. Pernyataan yang bermakna adalah pernyataan yang menggunakan “bahasa bersama yang bisa diobservasi secara inter personal” ( interpersonally shared observation language). Cara pandang ini kemudian menjadi basis bagi behaviorisme di dalam filsafat dan psikologi.

Behaviorisme, baik di dalam filsafat maupun psikologi, sebenarnya merupakan kritik terhadap pandangan Descartes tentang pikiran dan kesadaran. Kritik pertama berpendapat bahwa filsafat Descartes menggunakan bahasa-bahasa privat yang tidak diakui secara komunal, sehingga keakuratannya patut dipertanyakan. Kritik kedua terhadap dualisme tubuh-jiwa Cartesian adalah bahwa problem tentang keterpisahan tubuh dan jiwa di dalam filsafat Cartesian seolah tidak akan pernah terselesaikan, dan hanya tetap tinggal sebagai misteri manusia selamanya. Untuk memberikan kontribusi terhadap problem itu orang perlu menggunakan piranti sains yang empiris dan eksperimental, seperti peran otot dan organ di dalam relasi antara tubuh dan jiwa.[2] Di dalam kerangka ilmiah ini hipotesis Cartesian tidak akan lagi mengambang, melainkan bisa diverifikasi dan diuji secara empiris oleh orang banyak.

Menurut Lycan hipotesis Descartes tentang dualisme tubuh dan jiwa juga menyalahi hukum fisika. Andaikan kita bisa membuka tengkorak kepala seseorang. Kemudian kita mengamati proses mekanis yang ada di dalam otak. Di dalamnya kita melihat aliran listrik yang tidak berasal dari manapun, tetapi hanya dari kekosongan. Artinya ada semacam energi yang tidak berasal dari aspek biologis tubuh. Tentunya ini adalah penemuan yang mencengangkan, dan akan menjadi afirmasi empiris atas dualisme. Walaupun dalam realitas penemuan semacam ini akan sulit dilakukan. Para fisikawan akan menolak kesimpulan itu. Tidak mungkin ada energi yang berasal dari kekosongan, pasti ada sebab biologis yang belum diketahui.

Behaviorisme, baik di dalam filsafat maupun psikologi, berpindah dari sudut pandang orang pertama menjadi sudut pandang orang ketiga, atau pengamat. Hal yang sama berlaku di dalam refleksi tentang pikiran dan kesadaran manusia. Kesadaran manusia dianalisis secara obyektif melalui sudut pandang pengamat, dan bukan dari sudut pandang orang yang menghayatinya. Ini merupakan ciri khas pendekatan positivisme dan behaviorisme di dalam menganalisis realitas. Di dalam tulisannya Lycan dengan tegas menyatakan bahwa behaviorisme merupakan kritik yang salah sasaran terhadap dualisme di dalam filsafat.

Kritik terhadap Behaviorisme

Bagi para pemikir behavioris kondisi internal mental manusia bukanlah sebuah fakta. Kondisi internal mental tidaklah relevan, karena itupun akan tunduk pada hukum aksi reaksi dan stimulus respons. Misalnya anda bertanya pada orang di pinggir jalan, “Bagaimana pendapat anda tentang sepeda motor?” Ia menjawab, “Benda itu berbahaya. Begitu banyak kecelakaan terjadi karenanya.” Maka dapatlah dipastikan jika anda menawarkannya untuk mengendarai motor, maka ia akan menolaknya. Dalam hal ini kondisi internal mental seseorang tidaklah relevan. Keputusannya nyaris bisa dipastikan, sama seperti satu tambah satu sama dengan dua. Akan tetapi banyak filsuf berpendapat bahwa penolakan terhadap pengetahuan tentang kondisi mental seseorang justru merupakan “kelupaan” terhadap aspek paling penting yang mempengaruhi perilaku seseorang. Para pemikir behavioris menolak mengakui kondisi internal mental seseorang sebagai sesuatu yang faktual demi alasan rigorisitas saintifik. Misalnya anda duduk dan menghadap sebuah tembok berwarna hijau. Lalu anda mengkontemplasikan warna hijau tersebut. Apakah warna hijau, yang merupakan persepsi internal mental anda, tidaklah faktual? Hanya orang bodoh yang menyebut bayangan anda tidak faktual.[3]

Lycan kemudian mengajukan alternatif terhadap behaviorisme dalam bentuk teori identitas. Di dalam teori ini kondisi internal mental seseorang berperan sangatlah penting di dalam menentukan perilakunya. Ia menyebutnya sebagai perasaan-perasaan mentah (raw feels), yang hanya dapat dipahami dengan menggunakan metode fenomenologi kualitatif. Perasaan-perasaan mentah ini melibatkan pengalaman inderawi sekaligus gambar-gambar mental (mental images). Teori identitas, juga behaviorisme, memang menolak pandangan-pandangan dualisme Cartesian. Akan tetapi teori identitas juga menolak pandangan-pandangan dasar behaviorisme. Dari sudut pandang teori identitas para pemikir behavioris mereduksikan kondisi internal mental manusia melulu pada kondisi fisiknya. Menurut Lycan kondisi internal manusia berbeda dengan kondisi fisiknya. “Kondisi mental”, demikian tulis Lycan. “..adalah kondisi yang menjadi penghubung antara stimulus dan respons.”[4] Kondisi mental adalah kondisi di dalam diri manusia yang menentukan apa keputusan seseorang menghadapi keadaan yang ada.

Menuju Teori Tentang Kesadaran

Dengan demikian kesadaran adalah bagian dari kondisi internal manusia yang harus dibedakan dengan kondisi fisiknya. Dengan menolak behaviorisme teori identitas menjadi alternatif memandang relasi antara kesadaran, tubuh, dan dunia luar. Kesadaran dapatlah dipandang sebagai penghubung antara stimulus yang diterima oleh seseorang, dan respons yang diberikannya. Inilah paham tentang kesadaran di dalam teori identitas, yang menjadi alternatif dari dualisme dan behaviorisme. Sekilas pandangan ini memang mirip dengan dualisme, yakni jiwa yang melulu dipisahkan dari badan. Namun di dalam teori identitas yang ditawarkan Lycan, pikiran, kesadaran, dan jiwa manusia terhubung dengan tubuh untuk memberikan respons terhadap rangsangan yang datang dari dunia luar. Pikiran, kesadaran, tubuh, dan dunia luar adalah empat konsep yang saling terhubung satu sama lain, yang mempengaruhi perilaku manusia secara signifikan.

Pemahaman diatas dapatlah kita jadikan titik tolak untuk merumuskan teori tentang kesadaran.[5] Menurut Wilber dewasa ini banyak bermunculan beragam pendekatan di dalam memahami fenomena kesadaran manusia. Ada beberapa aliran yang kiranya cukup dominan di dalamnya. Yang pertama adalah pendekatan ilmu pengetahuan kognitif (cognitive science). Pendekatan ini mencoba memandang kesadaran sebagai bagian dari fungsi otak yang kemudian berkembang (emerge). “Kesadaran dalam pendekatan ini”, demikian Wilber, “dipandang sebagai berkembanganya jaringan-jaringan yang terintegrasi secara hirarkis.”[6] Kesadaran adalah sesuatu yang bertumbuh dari kompleksnya jaringan yang saling terhubung di dalam otak manusia.

Pendekatan kedua adalah pendekatan instrospeksionisme (introspectionism). Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai kesadaran orang pertama yang tertuju pada sesuatu di luarnya. Penafsiran terhadap realitas didasarkan pada kesadaran langsung yang muncul dari pengalaman sehari-hari, dan bukan dari pengamatan obyektif orang ketiga. Menurut Wilber pendekatan ini mencakup fenomenologi, eksistensialisme, dan psikologi introspektif.

Pendekatan ketiga adalah neuropsikologi. Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai sesuatu yang berakar pada sistem-sistem saraf, neurotransmiter, dan mekanisme otak yang bersifat organik. Sekilas pandangan ini mirip seperti pendekatan ilmu pengetahuan kognitif. Namun ilmu pengetahuan kognitif lebih menggunakan ilmu komputer sebagai pisau analisisnya, sehingga seringkali, menurut Wilber, pendekatan ini mengalami kebingungan tentang relasi antara kesadaran dengan struktur organik dari otak. Sementara pendekatan neuropsikologi lebih berbasis pada ilmu biologi. “Dengan bersandar lebih pada ilmu saraf daripada ilmu komputer,” demikian tulis Wilber, “neuropsikologi melihat kesadaran sebagai sesuatu yang secara intrinsik terhubung dengan sistem saraf organik dengan kompleksitas yang memadai.”[7]

Pendekatan keempat adalah apa yang disebut Wilber sebagai psikoterapi individual (individual psychotherapy). Pendekatan ini menggunakan psikologi interpretatif dan psikologi introspektif untuk menyelesaikan masalah-masalah emosional dan personal. Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang berakar pada kemampun adaptif dari individu terhadap dunia luarnya. Pendekatan psikoterapi sangat mengandalkan suatu pemahaman tertentu tentang kesadaran, karena pendekatan itu berurusan langsung dengan kemampuan individu untuk menciptakan makna dari apa yang dialaminya. Ketidakmampuan individu untuk menciptakan makna dari peristiwa yang dialaminya, terutama peristiwa buruk, akan membuatnya terjatuh kepada tekanan mental emosional yang berat. Kondisi terakhir ini yang disebut sebagai psikopatologi.

Pendekatan kelima adalah pendekatan psikologi sosial. Menurut Wilber pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang tertanam pada jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain kesadaran adalah produk dari sistem sosial yang ada di dalam suatu masyarakat. Pendekatan ini terdiri dari pendekatan marxisme, konstruktivisme, dan hermeneutika kultural. Semua pendekatan ini berakar pada satu asumsi bahwa kesadaran tidaklah terletak melulu di kepala individu, tetapi ditentukan oleh kultur sosial-politik-ekonomi masyarakat.

Pendekatan keenam adalah pendekatan psikiatri klinis (clinical psychiatry). Pendekatan ini berfokus pada relasi antara psikopatologi, pola perilaku, dan psikofarmakologi. Sebenarnya pendekatan ini mirip dengan neuropsikologi. Dewasa ini, pendekatan psikiatri klinis banyak menggunakan kosa kata biologis untuk menganalisis “penyakit mental” manusia. Problem emosional dan mental, dari sudut pandang ini, dianggap merupakan problem yang terdapat di dalam sistem saraf. Pengobatannya dapat dilakukan dengan meminum obat tertentu, atau melakukan terapi tertentu.

Pendekatan ketujuh adalah pendekatan psikologi perkembangan. Pendekatan ini memandang kesadaran bukan sebagai sesuatu yang tunggal, tetapi sebagai sesuatu yang terus berkembang di dalam proses. Setiap tahap di dalam proses tersebut memiliki perbedaan yang substansial, dan harus dianalisis menurut kekhususannya masing-masing. Menurut Wilber pendekatan ini juga menyentuh perkembangan-perkembangan unik di dalam diri manusia dalam bentuk kemampuan supernatural. Kemampuan ini dianggap sebagai fungsi kognitif, afektif, moral, dan spiritual yang berada di level yang lebih tinggi.[8]

Pendekatan kedelapan adalah pendekatan pengobatan psikosomatik (psychosomatic medicine). Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang terkait erat dengan proses-proses tubuh yang bersifat biologis. Pada level yang lebih maju pendekatan ini melihat adanya kemungkinan kesadaran sebagai fungsi penyembuh dari penyakit-penyakit akut yang diderita manusia. Kesadaran bisa ditingkatkan dengan meningkatkan kekuatan doa didalam tradisi religius, misalnya. Pendekatan ini juga mempelajari dampak kekuatan kehendak dan intensionalitas manusia untuk penyembuhan. Bentuknya mulai dari terapi suara, visualisasi, sampai dengan meditasi.

Pendekatan kesembilan, menurut Wilber, adalah pendekatan nonordinary states of consciousness. Pendekatan ini mencakup area yang luas, mulai dari tafsir mimpi hingga penggunaan obat-obat tertentu yang memiliki efek halusinatif. Pendekatan ini, menurut Wilber, berusaha memahami kesadaran dalam arti yang luas. Pada titik ekstrem penggunaan obat dengan efek halusinatif bisa menimbulkan keracunan. Akan tetapi jika digunakan secara tepat, obat-obat semacam itu dapat memberikan penyembuhan pada kesadaran dengan cara-cara yang tampaknya diabaikan oleh ilmu pengetahuan, atau diremehkan oleh pendekatan-pendekatan lainnya.

Pendekatan kesepuluh yang diajukan oleh Wilber adalah pendekatan yang berasal dari tradisi Timur yang bersifat kontemplatif. Di dalam pandangan ini kesadaran, seperti yang dimaksud oleh ilmu-ilmu yang mempelajarinya, berada pada tingkatan yang lebih rendah dari yang seharusnya bisa dicapai manusia. Untuk meningkatkan kesadarannya orang perlu melakukan praktek meditasi dan yoga. Kesadaran yang sesungguhnya hanya dapat dicapai, jika orang melakukan praktek tersebut secara konsisten.

Pendekatan kesebelas dalam pandangan Wilber adalah apa yang disebutnya sebagai kesadaran kuantum. Di dalam pendekatan itu kesadaran dipandang sebagai sesuatu yang secara intrinsik terikat dengan dunia fisik. Kesadaran memiliki interaksi dan kemampuan untuk mengubah dunia luar. Jadi realitas ditentukan oleh kesadaran, terutama pada level intracellular. Pendekatan ini mencakup teori tentang dawai di dalam memandang alam semesta, sampai teori tentang hyperspace.

Pendekatan keduabelas adalah pendekatan yang disebut sebagai teori energi-energi halus (subtle energies). Di dalam pendekatan ini penelitian dilakukan dengan berpijak pada pengandaian, bahwa ada sesuatu yang disebut energi kehidupan yang melampaui fisika. Energi ini mempengaruhi kesadaran dan perilaku manusia secara signifikan. Energi ini memiliki banyak nama lain, seperti prana, ki, dan chi. Energi ini pula yang direkayasa di dalam praktek akupunktur untuk kepentingan pengobatan. Menurut Wilber energi kehidupan ini merupakan penghubung antara dunia luar yang bersifat material dengan kesadaran manusia, dan sebaliknya, yakni dunia kesadaran manusia yang tertuju pada dunia luarnya.

Pemadatan Teori Lebih Jauh

Wilber tidak hanya menjabarkan beragam pendekatan di dalam memahami kesadaran, tetapi juga menawarkan teorinya sendiri. Ia menyebutnya sebagai teori yang integral tentang kesadaran. Pada hemat saya teori ini cukup representatif sebagai cara untuk memahami fenomena kesadaran manusia. Coba kita lihat pandangannya lebih jauh.

Menurut Wilber suatu teori yang bersifat integral tentang kesadaran haruslah menempuh dua langkah berikut. Yang pertama penelitian yang berkelanjutan di berbagai pendekatan yang ingin memahami fenomena kesadaran manusia. Fenomena kesadaran adalah suatu enigma, yakni sesuatu yang misterius. Masing-masing pendekatan yang telah dijabarkan sebelumnya mampu memberikan sumbangan untuk memahami enigma ini. Setiap pendekatan penting, dan layak mendapatkan dukungan lebih jauh untuk mengembangkan penelitiannya.

Memang jika dilihat sekilas beberapa pendekatan terlihat sangat dekat dengan mistik, sehingga kadar ilmiahnya memang patut dipertanyakan. Akan tetapi, menurut Wilber, fenomena kesadaran itu tidak melulu ilmiah, tetapi merupakan suatu misteri. Maka pendekatan apapun sebenarnya bisa membantu kita untuk memahaminya. Dalam hal ini kesombongan ilmiah sedapat mungkin harus dicegah.

“Tidak ada pikiran manusia”, demikian tulis Wilber, “yang dapat melakukan kesalahan seratus persen. Kita dapat berkata, tidak ada orang yang cukup pintar untuk salah setiap waktu.”[9] Dalam konteks ini semua pendekatan dapat menyumbangkan kebenarannya masing-masing di dalam proses memahami kesadaran. Semua cara harus ditempuh, supaya enigma yang bernama kesadaran ini semakin dapat dipahami.

Yang kedua walaupun masing-masing pendekatan memiliki keunikannya sendiri, tetapi upaya untuk menciptakan kerja sama di antara ragam pendekatan tersebut teruslah harus diupayakan. Hal ini sangat penting supaya teori tentang kesadaran yang bersifat integral dapat dirumuskan secara komprehensif. “Fakta bahwa, sebagian besar, pendekatan selama ini telah terkurung di dalam kerangkengnya masing-masing”, demikian Wilber, “tidak berarti bahwa bahwa realitas juga terkurung seperti itu.”[10] Realitas itu melampaui batas-batas paradigma ilmiah yang digunakan oleh para peneliti. Realitas itu melompat dari satu kerangkeng ke kerangkeng yang lain. Untuk merumuskan suatu teori komprehensif tentang kesadaran, kita perlu juga untuk melompat dari satu pendekatan ke pendekatan yang lain, mengikuti lenturnya realitas yang ingin kita teliti, terutama lenturnya fenomena kesadaran.

Setiap pendekatan memiliki asumsi dan metode yang berbeda. Akan tetapi masing-masing pendekatan itu sebenarnya melukiskan aspek yang berbeda dari realitas yang sama. Dalam arti ini setiap pendekatan sebenarnya saling berhubungan satu sama lain. Setiap pendekatan menyentuh realitas, dan membahasakannya dengan menggunakan kerangka teorinya masing-masing. Dengan demikian setiap pendekatan, apapun bentuknya, memiliki arti penting sebagai salah satu cara untuk memahami satu aspek dari keseluruhan realitas.



[1] Bagian ini terinspirasi dari pembacaan terhadap Lycan W.G, Consciousness, versi E book.

[2] Lihat, Ibid, hal. 2.

[3] Bdk, Lycan, hal. 4.

[4] Ibid, hal. 8.

[5] Bagian ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap Ken Wilber, “An Integral Theory of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, 4 (1), February 1997, hal. 71-92.

[6] Ibid, hal. 72.

[7] Ibid, hal. 73.

[8] Ibid, hal. 74.

[9] Ibid, hal. 90.

[10] Ibid, hal. 91.