Kesadaran Manusia

Manusia dan Kesadaran

Reza A.A Wattimena

Pada bab ini, masih terhubung dengan bab sebelumnya, saya akan membedah aspek-aspek yang membentuk manusia. Pengenalan akan aspek-aspek ini membuahkan pengenalan terhadap diri sendiri. Dan pengenalan terhadap diri sendiri merupakan syarat utama untuk mencapai hidup yang otentik. Selain didorong oleh motivasinya manusia juga dipengaruhi oleh kesadaran yang ada di dalam dirinya. Pada bab ini saya akan mencoba memberikan beberapa refleksi filosofis tentang fenomena kesadaran manusia. Sebagai kerangka saya banyak terinspirasi dari pembacaan saya terhadap tulisan Ken Wilber dan Lycan W.G.

Di dalam sejarah para filsuf dan psikolog seringkali berbicara tentang “problematika kesadaran” (the problem of consciousness), seolah problem kesadaran merupakan problem yang sudah jelas pemetaannya. Descartes, seorang filsuf modern asal Prancis, berupaya menanggapi problem itu dengan merumuskan pendapatnya sendiri. Ia berpendapat bahwa pikiran manusia merupakan entitas yang lebih tinggi tingkatannya dari pada tubuh. Pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Fakta bahwa kita dapat berpikir menunjukkan bahwa manusia merupakan entitas yang memiliki kesadaran. Ada relasi internal antara kesadaran dan pikiran.[1] Pikiran juga memiliki prioritas atas dunia. Tanpa pikiran tidak ada realitas eksternal. Dengan demikian pikiran terpisah dari dunia. Pikiran adalah entitas yang mandiri. Pikiran juga terlepas dari tubuh. Argumen Descartes banyak dikenal sebagai teori tentang dualisme tubuh dan jiwa. Pandangan semacam ini mendominasi dunia filsafat, terutama dalam metafisika dan epistemologi, dari abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-20. Pada akhir dekade 1950-an pandangan ini mulai ditantang dari berbagai penjuru.

Behaviorisme dan Kritik terhadap Dualisme

Penantang pertama adalah para pemikir positivisme logis. Mereka memprioritaskan verifikasi dari pikiran individual. Pernyataan yang bermakna adalah pernyataan yang bisa diverifikasi langsung di dalam realitas. Pernyataan yang bermakna adalah pernyataan yang menggunakan “bahasa bersama yang bisa diobservasi secara inter personal” ( interpersonally shared observation language). Cara pandang ini kemudian menjadi basis bagi behaviorisme di dalam filsafat dan psikologi.

Behaviorisme, baik di dalam filsafat maupun psikologi, sebenarnya merupakan kritik terhadap pandangan Descartes tentang pikiran dan kesadaran. Kritik pertama berpendapat bahwa filsafat Descartes menggunakan bahasa-bahasa privat yang tidak diakui secara komunal, sehingga keakuratannya patut dipertanyakan. Kritik kedua terhadap dualisme tubuh-jiwa Cartesian adalah bahwa problem tentang keterpisahan tubuh dan jiwa di dalam filsafat Cartesian seolah tidak akan pernah terselesaikan, dan hanya tetap tinggal sebagai misteri manusia selamanya. Untuk memberikan kontribusi terhadap problem itu orang perlu menggunakan piranti sains yang empiris dan eksperimental, seperti peran otot dan organ di dalam relasi antara tubuh dan jiwa.[2] Di dalam kerangka ilmiah ini hipotesis Cartesian tidak akan lagi mengambang, melainkan bisa diverifikasi dan diuji secara empiris oleh orang banyak.

Menurut Lycan hipotesis Descartes tentang dualisme tubuh dan jiwa juga menyalahi hukum fisika. Andaikan kita bisa membuka tengkorak kepala seseorang. Kemudian kita mengamati proses mekanis yang ada di dalam otak. Di dalamnya kita melihat aliran listrik yang tidak berasal dari manapun, tetapi hanya dari kekosongan. Artinya ada semacam energi yang tidak berasal dari aspek biologis tubuh. Tentunya ini adalah penemuan yang mencengangkan, dan akan menjadi afirmasi empiris atas dualisme. Walaupun dalam realitas penemuan semacam ini akan sulit dilakukan. Para fisikawan akan menolak kesimpulan itu. Tidak mungkin ada energi yang berasal dari kekosongan, pasti ada sebab biologis yang belum diketahui.

Behaviorisme, baik di dalam filsafat maupun psikologi, berpindah dari sudut pandang orang pertama menjadi sudut pandang orang ketiga, atau pengamat. Hal yang sama berlaku di dalam refleksi tentang pikiran dan kesadaran manusia. Kesadaran manusia dianalisis secara obyektif melalui sudut pandang pengamat, dan bukan dari sudut pandang orang yang menghayatinya. Ini merupakan ciri khas pendekatan positivisme dan behaviorisme di dalam menganalisis realitas. Di dalam tulisannya Lycan dengan tegas menyatakan bahwa behaviorisme merupakan kritik yang salah sasaran terhadap dualisme di dalam filsafat.

Kritik terhadap Behaviorisme

Bagi para pemikir behavioris kondisi internal mental manusia bukanlah sebuah fakta. Kondisi internal mental tidaklah relevan, karena itupun akan tunduk pada hukum aksi reaksi dan stimulus respons. Misalnya anda bertanya pada orang di pinggir jalan, “Bagaimana pendapat anda tentang sepeda motor?” Ia menjawab, “Benda itu berbahaya. Begitu banyak kecelakaan terjadi karenanya.” Maka dapatlah dipastikan jika anda menawarkannya untuk mengendarai motor, maka ia akan menolaknya. Dalam hal ini kondisi internal mental seseorang tidaklah relevan. Keputusannya nyaris bisa dipastikan, sama seperti satu tambah satu sama dengan dua. Akan tetapi banyak filsuf berpendapat bahwa penolakan terhadap pengetahuan tentang kondisi mental seseorang justru merupakan “kelupaan” terhadap aspek paling penting yang mempengaruhi perilaku seseorang. Para pemikir behavioris menolak mengakui kondisi internal mental seseorang sebagai sesuatu yang faktual demi alasan rigorisitas saintifik. Misalnya anda duduk dan menghadap sebuah tembok berwarna hijau. Lalu anda mengkontemplasikan warna hijau tersebut. Apakah warna hijau, yang merupakan persepsi internal mental anda, tidaklah faktual? Hanya orang bodoh yang menyebut bayangan anda tidak faktual.[3]

Lycan kemudian mengajukan alternatif terhadap behaviorisme dalam bentuk teori identitas. Di dalam teori ini kondisi internal mental seseorang berperan sangatlah penting di dalam menentukan perilakunya. Ia menyebutnya sebagai perasaan-perasaan mentah (raw feels), yang hanya dapat dipahami dengan menggunakan metode fenomenologi kualitatif. Perasaan-perasaan mentah ini melibatkan pengalaman inderawi sekaligus gambar-gambar mental (mental images). Teori identitas, juga behaviorisme, memang menolak pandangan-pandangan dualisme Cartesian. Akan tetapi teori identitas juga menolak pandangan-pandangan dasar behaviorisme. Dari sudut pandang teori identitas para pemikir behavioris mereduksikan kondisi internal mental manusia melulu pada kondisi fisiknya. Menurut Lycan kondisi internal manusia berbeda dengan kondisi fisiknya. “Kondisi mental”, demikian tulis Lycan. “..adalah kondisi yang menjadi penghubung antara stimulus dan respons.”[4] Kondisi mental adalah kondisi di dalam diri manusia yang menentukan apa keputusan seseorang menghadapi keadaan yang ada.

Menuju Teori Tentang Kesadaran

Dengan demikian kesadaran adalah bagian dari kondisi internal manusia yang harus dibedakan dengan kondisi fisiknya. Dengan menolak behaviorisme teori identitas menjadi alternatif memandang relasi antara kesadaran, tubuh, dan dunia luar. Kesadaran dapatlah dipandang sebagai penghubung antara stimulus yang diterima oleh seseorang, dan respons yang diberikannya. Inilah paham tentang kesadaran di dalam teori identitas, yang menjadi alternatif dari dualisme dan behaviorisme. Sekilas pandangan ini memang mirip dengan dualisme, yakni jiwa yang melulu dipisahkan dari badan. Namun di dalam teori identitas yang ditawarkan Lycan, pikiran, kesadaran, dan jiwa manusia terhubung dengan tubuh untuk memberikan respons terhadap rangsangan yang datang dari dunia luar. Pikiran, kesadaran, tubuh, dan dunia luar adalah empat konsep yang saling terhubung satu sama lain, yang mempengaruhi perilaku manusia secara signifikan.

Pemahaman diatas dapatlah kita jadikan titik tolak untuk merumuskan teori tentang kesadaran.[5] Menurut Wilber dewasa ini banyak bermunculan beragam pendekatan di dalam memahami fenomena kesadaran manusia. Ada beberapa aliran yang kiranya cukup dominan di dalamnya. Yang pertama adalah pendekatan ilmu pengetahuan kognitif (cognitive science). Pendekatan ini mencoba memandang kesadaran sebagai bagian dari fungsi otak yang kemudian berkembang (emerge). “Kesadaran dalam pendekatan ini”, demikian Wilber, “dipandang sebagai berkembanganya jaringan-jaringan yang terintegrasi secara hirarkis.”[6] Kesadaran adalah sesuatu yang bertumbuh dari kompleksnya jaringan yang saling terhubung di dalam otak manusia.

Pendekatan kedua adalah pendekatan instrospeksionisme (introspectionism). Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai kesadaran orang pertama yang tertuju pada sesuatu di luarnya. Penafsiran terhadap realitas didasarkan pada kesadaran langsung yang muncul dari pengalaman sehari-hari, dan bukan dari pengamatan obyektif orang ketiga. Menurut Wilber pendekatan ini mencakup fenomenologi, eksistensialisme, dan psikologi introspektif.

Pendekatan ketiga adalah neuropsikologi. Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai sesuatu yang berakar pada sistem-sistem saraf, neurotransmiter, dan mekanisme otak yang bersifat organik. Sekilas pandangan ini mirip seperti pendekatan ilmu pengetahuan kognitif. Namun ilmu pengetahuan kognitif lebih menggunakan ilmu komputer sebagai pisau analisisnya, sehingga seringkali, menurut Wilber, pendekatan ini mengalami kebingungan tentang relasi antara kesadaran dengan struktur organik dari otak. Sementara pendekatan neuropsikologi lebih berbasis pada ilmu biologi. “Dengan bersandar lebih pada ilmu saraf daripada ilmu komputer,” demikian tulis Wilber, “neuropsikologi melihat kesadaran sebagai sesuatu yang secara intrinsik terhubung dengan sistem saraf organik dengan kompleksitas yang memadai.”[7]

Pendekatan keempat adalah apa yang disebut Wilber sebagai psikoterapi individual (individual psychotherapy). Pendekatan ini menggunakan psikologi interpretatif dan psikologi introspektif untuk menyelesaikan masalah-masalah emosional dan personal. Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang berakar pada kemampun adaptif dari individu terhadap dunia luarnya. Pendekatan psikoterapi sangat mengandalkan suatu pemahaman tertentu tentang kesadaran, karena pendekatan itu berurusan langsung dengan kemampuan individu untuk menciptakan makna dari apa yang dialaminya. Ketidakmampuan individu untuk menciptakan makna dari peristiwa yang dialaminya, terutama peristiwa buruk, akan membuatnya terjatuh kepada tekanan mental emosional yang berat. Kondisi terakhir ini yang disebut sebagai psikopatologi.

Pendekatan kelima adalah pendekatan psikologi sosial. Menurut Wilber pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang tertanam pada jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain kesadaran adalah produk dari sistem sosial yang ada di dalam suatu masyarakat. Pendekatan ini terdiri dari pendekatan marxisme, konstruktivisme, dan hermeneutika kultural. Semua pendekatan ini berakar pada satu asumsi bahwa kesadaran tidaklah terletak melulu di kepala individu, tetapi ditentukan oleh kultur sosial-politik-ekonomi masyarakat.

Pendekatan keenam adalah pendekatan psikiatri klinis (clinical psychiatry). Pendekatan ini berfokus pada relasi antara psikopatologi, pola perilaku, dan psikofarmakologi. Sebenarnya pendekatan ini mirip dengan neuropsikologi. Dewasa ini, pendekatan psikiatri klinis banyak menggunakan kosa kata biologis untuk menganalisis “penyakit mental” manusia. Problem emosional dan mental, dari sudut pandang ini, dianggap merupakan problem yang terdapat di dalam sistem saraf. Pengobatannya dapat dilakukan dengan meminum obat tertentu, atau melakukan terapi tertentu.

Pendekatan ketujuh adalah pendekatan psikologi perkembangan. Pendekatan ini memandang kesadaran bukan sebagai sesuatu yang tunggal, tetapi sebagai sesuatu yang terus berkembang di dalam proses. Setiap tahap di dalam proses tersebut memiliki perbedaan yang substansial, dan harus dianalisis menurut kekhususannya masing-masing. Menurut Wilber pendekatan ini juga menyentuh perkembangan-perkembangan unik di dalam diri manusia dalam bentuk kemampuan supernatural. Kemampuan ini dianggap sebagai fungsi kognitif, afektif, moral, dan spiritual yang berada di level yang lebih tinggi.[8]

Pendekatan kedelapan adalah pendekatan pengobatan psikosomatik (psychosomatic medicine). Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang terkait erat dengan proses-proses tubuh yang bersifat biologis. Pada level yang lebih maju pendekatan ini melihat adanya kemungkinan kesadaran sebagai fungsi penyembuh dari penyakit-penyakit akut yang diderita manusia. Kesadaran bisa ditingkatkan dengan meningkatkan kekuatan doa didalam tradisi religius, misalnya. Pendekatan ini juga mempelajari dampak kekuatan kehendak dan intensionalitas manusia untuk penyembuhan. Bentuknya mulai dari terapi suara, visualisasi, sampai dengan meditasi.

Pendekatan kesembilan, menurut Wilber, adalah pendekatan nonordinary states of consciousness. Pendekatan ini mencakup area yang luas, mulai dari tafsir mimpi hingga penggunaan obat-obat tertentu yang memiliki efek halusinatif. Pendekatan ini, menurut Wilber, berusaha memahami kesadaran dalam arti yang luas. Pada titik ekstrem penggunaan obat dengan efek halusinatif bisa menimbulkan keracunan. Akan tetapi jika digunakan secara tepat, obat-obat semacam itu dapat memberikan penyembuhan pada kesadaran dengan cara-cara yang tampaknya diabaikan oleh ilmu pengetahuan, atau diremehkan oleh pendekatan-pendekatan lainnya.

Pendekatan kesepuluh yang diajukan oleh Wilber adalah pendekatan yang berasal dari tradisi Timur yang bersifat kontemplatif. Di dalam pandangan ini kesadaran, seperti yang dimaksud oleh ilmu-ilmu yang mempelajarinya, berada pada tingkatan yang lebih rendah dari yang seharusnya bisa dicapai manusia. Untuk meningkatkan kesadarannya orang perlu melakukan praktek meditasi dan yoga. Kesadaran yang sesungguhnya hanya dapat dicapai, jika orang melakukan praktek tersebut secara konsisten.

Pendekatan kesebelas dalam pandangan Wilber adalah apa yang disebutnya sebagai kesadaran kuantum. Di dalam pendekatan itu kesadaran dipandang sebagai sesuatu yang secara intrinsik terikat dengan dunia fisik. Kesadaran memiliki interaksi dan kemampuan untuk mengubah dunia luar. Jadi realitas ditentukan oleh kesadaran, terutama pada level intracellular. Pendekatan ini mencakup teori tentang dawai di dalam memandang alam semesta, sampai teori tentang hyperspace.

Pendekatan keduabelas adalah pendekatan yang disebut sebagai teori energi-energi halus (subtle energies). Di dalam pendekatan ini penelitian dilakukan dengan berpijak pada pengandaian, bahwa ada sesuatu yang disebut energi kehidupan yang melampaui fisika. Energi ini mempengaruhi kesadaran dan perilaku manusia secara signifikan. Energi ini memiliki banyak nama lain, seperti prana, ki, dan chi. Energi ini pula yang direkayasa di dalam praktek akupunktur untuk kepentingan pengobatan. Menurut Wilber energi kehidupan ini merupakan penghubung antara dunia luar yang bersifat material dengan kesadaran manusia, dan sebaliknya, yakni dunia kesadaran manusia yang tertuju pada dunia luarnya.

Pemadatan Teori Lebih Jauh

Wilber tidak hanya menjabarkan beragam pendekatan di dalam memahami kesadaran, tetapi juga menawarkan teorinya sendiri. Ia menyebutnya sebagai teori yang integral tentang kesadaran. Pada hemat saya teori ini cukup representatif sebagai cara untuk memahami fenomena kesadaran manusia. Coba kita lihat pandangannya lebih jauh.

Menurut Wilber suatu teori yang bersifat integral tentang kesadaran haruslah menempuh dua langkah berikut. Yang pertama penelitian yang berkelanjutan di berbagai pendekatan yang ingin memahami fenomena kesadaran manusia. Fenomena kesadaran adalah suatu enigma, yakni sesuatu yang misterius. Masing-masing pendekatan yang telah dijabarkan sebelumnya mampu memberikan sumbangan untuk memahami enigma ini. Setiap pendekatan penting, dan layak mendapatkan dukungan lebih jauh untuk mengembangkan penelitiannya.

Memang jika dilihat sekilas beberapa pendekatan terlihat sangat dekat dengan mistik, sehingga kadar ilmiahnya memang patut dipertanyakan. Akan tetapi, menurut Wilber, fenomena kesadaran itu tidak melulu ilmiah, tetapi merupakan suatu misteri. Maka pendekatan apapun sebenarnya bisa membantu kita untuk memahaminya. Dalam hal ini kesombongan ilmiah sedapat mungkin harus dicegah.

“Tidak ada pikiran manusia”, demikian tulis Wilber, “yang dapat melakukan kesalahan seratus persen. Kita dapat berkata, tidak ada orang yang cukup pintar untuk salah setiap waktu.”[9] Dalam konteks ini semua pendekatan dapat menyumbangkan kebenarannya masing-masing di dalam proses memahami kesadaran. Semua cara harus ditempuh, supaya enigma yang bernama kesadaran ini semakin dapat dipahami.

Yang kedua walaupun masing-masing pendekatan memiliki keunikannya sendiri, tetapi upaya untuk menciptakan kerja sama di antara ragam pendekatan tersebut teruslah harus diupayakan. Hal ini sangat penting supaya teori tentang kesadaran yang bersifat integral dapat dirumuskan secara komprehensif. “Fakta bahwa, sebagian besar, pendekatan selama ini telah terkurung di dalam kerangkengnya masing-masing”, demikian Wilber, “tidak berarti bahwa bahwa realitas juga terkurung seperti itu.”[10] Realitas itu melampaui batas-batas paradigma ilmiah yang digunakan oleh para peneliti. Realitas itu melompat dari satu kerangkeng ke kerangkeng yang lain. Untuk merumuskan suatu teori komprehensif tentang kesadaran, kita perlu juga untuk melompat dari satu pendekatan ke pendekatan yang lain, mengikuti lenturnya realitas yang ingin kita teliti, terutama lenturnya fenomena kesadaran.

Setiap pendekatan memiliki asumsi dan metode yang berbeda. Akan tetapi masing-masing pendekatan itu sebenarnya melukiskan aspek yang berbeda dari realitas yang sama. Dalam arti ini setiap pendekatan sebenarnya saling berhubungan satu sama lain. Setiap pendekatan menyentuh realitas, dan membahasakannya dengan menggunakan kerangka teorinya masing-masing. Dengan demikian setiap pendekatan, apapun bentuknya, memiliki arti penting sebagai salah satu cara untuk memahami satu aspek dari keseluruhan realitas.



[1] Bagian ini terinspirasi dari pembacaan terhadap Lycan W.G, Consciousness, versi E book.

[2] Lihat, Ibid, hal. 2.

[3] Bdk, Lycan, hal. 4.

[4] Ibid, hal. 8.

[5] Bagian ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap Ken Wilber, “An Integral Theory of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, 4 (1), February 1997, hal. 71-92.

[6] Ibid, hal. 72.

[7] Ibid, hal. 73.

[8] Ibid, hal. 74.

[9] Ibid, hal. 90.

[10] Ibid, hal. 91.

Iklan

Motivasi Hidup Manusia

Manusia dan Motivasi Hidupnya

Reza A.A Wattimena

Untuk menjadi otentik orang perlu untuk mengenal dirinya sendiri. Proses pengenalan itu adalah proses belajar. Proses belajar yang tertinggi bukanlah mengetahui hal-hal baru di dunia luar, tetapi justru mengenal dan memahami diri sendiri secara penuh. Itulah proses belajar tertinggi. Jika orang tidak mengenal dirinya sendiri, maka ia tidak akan pernah merasa bahagia. Ia juga tidak akan pernah menjadi orang yang bijaksana. Semua pengetahuan akan dunia luar akan menjadi percuma, jika orang tidak memahami dirinya sendiri. Bisa juga dibilang bahwa pengetahuan yang penuh akan dirinya sendiri adalah pengetahuan tertinggi yang bisa dimiliki manusia, dan cara terpenting untuk mencapai hidup yang otentik.

Salah satu aspek mendasar yang mendorong setiap orang untuk hidup dan beraktivitas adalah motivasi. Motivasi mendasari tindakan orang, apapun tindakannya, dan siapapun orang itu. Untuk memiliki pengetahuan yang utuh tentang diri, orang perlu untuk memahami motivasi yang mendorong tindakan. Menurut Laming[1] motivasi adalah “perubahan dari beberapa pola perilaku dari suatu program tindakan yang ditentukan secara spesifik internal oleh individu.”[2] Jika dibahasakan secara lugas, motivasi adalah program internal yang ada di dalam diri seorang, yang mendorong orang itu untuk melakukan tindakan tertentu. Program internal itu bisa bersifat bawaan, yakni sudah ada di dalam diri orang sejak ia lahir, atau dibentuk melalui pengalaman.

Laming juga berpendapat bahwa setiap mahluk biologis pasti memiliki insting yang bersifat repetitif. Insting ini adalah semacam pola tetap yang bisa diabstraksi dari perilakunya. Manusia pun juga sama. Tanpa pola perilaku yang tetap ini, orang tidak akan bisa beraktivitas, ataupun untuk hidup. “Diberikan rangsangan yang tepat”, demikian Laming, “maka pola perilaku terkait akan tergerak.”[3] Motif tindakan dipandang sebagai sumber energi, yang memungkinkan orang bisa melakukan sesuatu. Rangsangan dari luar itu bukanlah sumber perilaku, melainkan suatu cara untuk membebaskan energi internal, yakni motivasi, yang sudah ada di dalam diri orang. Inilah yang disebut Laming sebagai pola instingtif, yang juga disebutnya sebagai “perilaku semi mekanis” dari manusia.

Menggaruk kulit ketika gatal adalah perilaku instingtif. Perilaku semacam ini juga bisa direkayasa. Di dalam psikologi rekayasa perilaku ini disebut juga sebagai conditioning, atau pengkondisian. Ketika pola perilaku yang ada mulai tampak dan menjadi rutin, maka lama-kelamaan, pola itu akan menjadi instingtif. Di dalam filsafat ini disebut juga sebagai behaviorisme. Mahluk hidup, termasuk manusia, jika diberikan rangsangan yang tepat, maka mereka akan bertindak sesuai dengan pola tertentu yang tetap. Sebaliknya tanpa rangsangan yang tepat, mahluk hidup tidak akan mampu bertindak sesuai dengan yang diharapkan. Pada beberapa kasus rangsangan yang salah justru dapat membuat orang bertindak aneh, seperti orang yang biasanya sabar tiba-tiba berubah menjadi pelaku kekerasan yang mengerikan.[4]

Untuk memahami dinamika motivasi dan perilaku manusia, seorang ilmuwan memiliki tugas untuk mengajukan teori yang mampu memberi penjelasan rasional dan ilmiah terhadap dua kategori itu. Tujuannya adalah supaya orang semakin memperoleh pengetahuan sistematis tentang diri dan dunianya, sekaligus untuk mendorong penelitian lebih jauh. Pada titik ini peran teori di dalam mengamati fakta sangatlah penting. Menurut Laming teori, walaupun masih merupakan pernyataan yang belum teruji secara metodis, dapat membantu orang untuk mengaitkan berbagai kejadian faktual yang terjadi, sehingga bisa dipahami secara sistematis.[5]

Tiga Kerangka Teori

Laming kemudian mengajukan tiga kerangka teori yang bisa digunakan untuk memahami manusia. Yang pertama adalah apa yang disebutnya sebagai perilaku semi mekanis dari manusia. Manusia memiliki aspek instingtif yang bersifat mekanis di dalam dirinya. Aspek instingtif ini seringkali mempengaruhi perilaku manusia, dan bisa dipelajari melalui pendidikan, ataupun melalui pengaruh kultural secara rutin. Akan tetapi, perilaku manusia tidak sepenuhnya mekanis. Kita menyebut perilaku orang mekanis, karena kita terbiasa dengannya. Namun jika dipikirkan lebih jauh, tidak ada perilaku yang sungguh mekanis, dan sama sekali terlepas dari kesadaran pelakunya. “Perilaku kita sendiri”, demikian Laming, “tidak merasa mekanis sama sekali.”[6] Orang menyadari, bahwa mereka berbuat sesuatu, sehingga mereka menolak untuk disebut sebagai orang yang mekanis. Karena jika mekanis, maka manusia memiliki status yang kurang lebih sama seperti benda-benda.

Pandangan kedua berangkat dari kelemahan pandangan pertama. Laming menyebutnya sebagai teori tentang sudut pandang personal dan sudut pandang kamera (personal and camera view). Ia memberikan contoh tentang pertandingan sepak bola. David Beckham adalah seorang pemain bola yang terbiasa melakukan tentang sudut di pertandingan. Dalam satu pertandingan, ia bisa melakukannya lebih dari lima kali. Bagi para penonton, itu adalah hal yang biasa dan mudah ditebak. Namun bagi Beckham, tendangan itu sama sekali tidak bersifat mekanis. Ia harus memilih, kemana ia harus menendang bola, dan kepada siapa ia harus mengumpannya.

Menurut Laming dalam hal ini, Beckham adalah “sekaligus pada waktu yang sama mesin biologis kompleks yang berkemampuan tinggi yang menendang bola dan juga pengamat dari tindakan itu – sebuah mesin yang mengamati dirinya sendiri.”[7] Jika manusia adalah mesin yang bisa mengamati dirinya sendiri, seperti yang diajukan oleh Laming, maka ia lebih kompleks daripada mesin biasa, karena mesin biasa tidak menyadari dirinya sendiri adalah mesin. Mesin tidak menyadari bahwa dirinya bersifat mekanis. Mesin juga tidak bisa menggunakan dirinya sendiri. Harus ada orang yang menggunakannya, seperti orang yang menggunakan telepon untuk berkomunikasi, orang yang melihat jam untuk mengetahui waktu, dan sebagainya.

Dari sudut pandang orang luar, perilaku manusia terlihat mekanis. Jika ia lapar, maka ia makan. Ia akan minum, jika ia haus. Jika dipukul, maka ia akan mengeluh sakit. Itu semua terlihat mekanis. Itulah yang disebut Laming sebagai perilaku semi mekanis dari manusia. Disebut semi mekanis, karena sesungguhnya, tidak ada perilaku manusia yang sepenuhnya mekanis. Jika dilihat dari dalam, yakni dari sudut pandang pelaku yang menghayati suatu perilaku, maka unsur mekanisnya sangat kecil. Setiap orang memang akan makan, ketika ia lapar. Akan tetapi, tegangan perasaan yang ia alami ketika ia lapar berbeda-beda pada setiap orang. Dapat juga dibilang, orang menghayati laparnya dengan cara yang berbeda-beda. Inilah yang disebut Laming sebagai pandangan personal dari suatu perilaku yang sama sekali tidak mekanis. Setiap orang pergi bekerja. Itu adalah perilaku mekanis. Akan tetapi, setiap orang menghayati pekerjaannya secara berbeda. Itulah perilaku sadar yang hanya dapat dipahami dengan menggunakan sudut pandang personal.

Pandangan ketiga adalah apa yang disebut Laming sebagai teori pengaruh sosial. Perilaku dan motivasi manusia sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia lahir dan berkembang. Lingkungan sosial yang satu membentuk individu yang berbeda dengan lingkungan sosial lainnya. Tidak hanya perilaku, konsep-konsep pun tertanam pada konteks sosial. Konteks sosial yang berbeda memberikan arti yang berbeda pula pada konsep-konsep yang digunakan. Misalnya konsep keluarga. Di Jakarta, konsep keluarga mengacu pada keluarga inti, yakni ayah, ibu, dan anak. Sementara di beberapa tempat di Papua, konsep keluarga mengacu pada klan, yakni keluarga besar yang memiliki satu nama. Konsep keluarga dimaknai berbeda di konteks sosial yang berbeda.

Interaksi kita dengan orang lain tampak bersifat instingtif-mekanis. Namun, seringkali apa yang tampak instingtif-mekanis itu mengalami hambatan. Interaksi kita dengan orang lain menjadi menurun kualitasnya. Contoh ekstrem yang diajukan oleh Laming adalah pelaku kejahatan yang anti sosial akan ditempatkan di lembaga pemasyarakatan. Hal yang sama kurang lebih terjadi dengan orang-orang yang mengalami gangguan mental. Mereka ditempatkan di rumah sakit jiwa. Dengan demikian, masyarakat mempertahankan tradisi sistem dan kulturnya dengan menciptakan institusi-institusi yang mampu “mengembalikan orang ke kondisi yang sesuai dengan kelompok dominan di dalam masyarakat”, seperti lembaga pemasyarakatan, rumah sakit jiwa, dan bahkan sekolah. Perilaku dan motivasi manusia dalam bertindak seringkali dipengaruhi oleh institusi-institusi sosial tersebut.

Tiga kerangka teori di atas, yakni teori perilaku semi-mekanis manusia, teori tentang cara pandang kamera dan personal, serta teori tentang pengaruh sosial, dapat membantu kita memahami mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan. “Apa yang orang lakukan”, demikian tulis Laming, “adalah mengekspresikan pola bawaan dari perilaku yang diperoleh secara kultural dengan cara menyesuaikan diri dengan tuntutan dan konvensi yang ada di masyarakat di mana mereka hidup.”[8]

Pemadatan Kerangka Teori

Kita memiliki emosi-emosi dan perasaan-perasaan internal di dalam diri kita. Kita menghayati hasrat, kecemasan, dan pikiran-pikiran bergejolak. Tidak ada orang lain yang mampu memahami perasaan-perasaan kita, selain kita sendiri. Perasaan-perasan itu bersifat privat. Bahkan seorang dokter atau psikiater paling ahli sekalipun hanya bisa berspekulasi tentang apa yang sesungguhnya kita rasakan. Laming menyebut ini sebagai pandangan personal (personal view). Di sisi lain, ada sisi obyektif dari manusia yang bisa dilihat oleh orang banyak. Orang berjalan, dan orang lain bisa melihatnya. Inilah yang disebut Laming sebagai pandangan kamera (camera view). Hal yang sama berlaku sebaliknya. Kita tidak dapat melihat orang lain sebagaimana mereka melihat dirinya sendiri.[9] Kita tidak memiliki akses untuk langsung memahami pikiran, perasaan, dan kegelisahan dari orang lain. Yang dapat kita lakukan adalah melakukan spekulasi terhadapnya untuk sampai pada pengetahuan yang bersifat probabel.

Di dalam melakukan penelitian dan pengamatan mendalam terhadap perilaku manusia, setidaknya ada dua sudut pandang yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah pengamatan perilaku kita sendiri melalui sudut pandang pertama, yakni sudut pandang kita sendiri. Yang kedua adalah pengamatan terhadap perilaku kita sendiri, tetapi dengan menggunakan sudut pandang orang kedua, yakni sudut pandang orang lain. Yang pertama disebut Laming sebagai sudut pandang personal. Dan yang kedua disebutnya sebagai sudut pandang kamera.[10]

Dari sudut pandang personal, orang memiliki kebebasan. Mereka memiliki pergulatan emosional, perasaan, dan kecemasan-kecemasan. Ciri-ciri itulah yang membuat manusia menjadi manusiawi. Di sisi lain, jika dilihat dari sudut pandang kamera, perilaku manusia tampak mekanis. Ia diberi rangsangan, dan kemudian memberikan respons yang kurang lebih tetap terhadap rangsangan tersebut. “Pertanyaan tentang perilaku manusia ditandai oleh kehendak bebas atau sepenuhnya ditentukan”, demikian tulis Laming, “bukanlah bagian dari perilaku, tetapi dari titik tolak dari mana perilaku tersebut diamati”.[11] Jika kedua sudut pandang ini tidak dibedakan, maka yang terjadi adalah kebuntuan intelektual (intellectual impasse), di mana suatu tindakan tampak melulu ditentukan sekaligus bebas dalam waktu yang sama.

Dari sudut pandang kamera, perilaku manusia tampak sepenuhnya ditentukan. Perilaku manusia seolah berlangsung secara mekanis. Manusia dikenal juga sebagai mesin biologis. Walaupun memiliki unsur biologis, tetapi tetap saja, manusia itu mesin. Mesin biologis itu bereaksi terhadap berbagai rangsangan yang muncul dari luar dirinya. Laming menyebut aspek perilaku ini sebagai perilaku semi mekanis. Jika ada seorang wanita cantik berpakaian seksi berjalan di terminal bis kota pada siang hari, maka semua pria yang duduk di terminal, baik itu supir maupun penumpang, akan terkesima melihat wanita tersebut. Memang secara personal, masing-masing orang yang menyaksikan wanita seksi berjalan menghayati peristiwa itu secara berbeda-beda. Namun dilihat dari sudut pandang kamera, perilaku mereka tampak mekanis.

Dengan demikian dari sudut pandang personal, tidak ada perilaku manusia yang mekanis. Namun dari sudut pandang kamera, yakni sudut pandang pengamat, perilaku manusia tampak mekanis. Namun seringkali, orang tidak menyadari dirinya sendiri adalah mesin yang mekanis. Pada saat memandang wanita cantik tadi, saya berpikir, “Dia cantik sekali, saya ingin berkenalan dengannya”. Pada saat itu, saya tidak menyadari, bahwa kepala saya ternyata sedang menghadap wanita itu, dan menatapnya langsung. Dari sudut pandang kamera, itu adalah tindakan yang khas pria, yakni menatap wanita cantik yang sedang berjalan. Isi dari pikirannya memang berbeda-beda, tetapi tindakannya serupa. Laming menyatakan dengan jelas, bahwa tidak mungkin orang bisa mengamati perilakunya sendiri secara akurat.

Masyarakat dibentuk oleh interaksi antar manusia. Interaksi tersebut memiliki pola yang kurang lebih tetap. Namun di dalam perjalanan waktu, interaksi antar manusia tersebut semakin diwarnai oleh kekuasaan. Interaksi pun jatuh ke titik negatif ekstrem, seperti terjadinya perkelahian antar kampung, pencurian, pembunuhan, dan bahkan pemerkosaan. Sebagai antitesisnya, masyarakat kemudian mendirikan berbagai institusi sosial dan kelompok kepentingan yang berpihak pada perwujudan kepentingan umum. Keberadaan organisasi-organisasi itu bertujuan menghadapi krisis interaksi yang terjadi di dalam masyarakat.

Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa pada akhirnya orang melakukan “kejahatan” pada orang lainnya, sehingga merusak interaksi sosial yang merupakan inti dari keberadaan masyarakat? Menurut Laming, suatu perilaku didefinisikan sebagai suatu kejahatan, jika perilaku tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Sedari kecil, setiap orang selalu dibentuk dalam suatu konteks kultural tertentu yang memilik norma-norma spesifik. Tuntutan masyarakat merupakan suatu tuntutan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Apa yang baik oleh masyarakat harus juga dianggap sebagai yang baik oleh individu. Namun dalam perjalanan, banyak orang tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial tersebut. Mereka memiliki dorongan personal yang berbeda dengan tuntutan kultural dibebankan masyarakat. Mereka bertindak dengan motivas personal yang tidak memerlukan justifikasi dari dunia sosial. Akibatnya, mereka dianggap jahat, asing, aneh, eksentrik, dan sebagainya. Dengan kata lain, Laming mengajukan argumen menarik, yakni bahwa kejahatan muncul justru karena adanya aturan. Keberadaan aturan dan norma tidak memusnahkan kejahatan, tetapi justru melahirkannya.[12]

Dunia sosial memilki kekuatan yang luar biasa, sehingga bisa memaksakan norma-normanya kepada individu. Norma-norma ini diperpanjang oleh institusi-instusi pendidikan, penjara, dan rumah sakit jiwa yang menyatakan inilah yang benar, dan yang lain adalah salah. Moral dan agama pun membantu di dalam pelestarian tata sosial tersebut. Moral, agama, pendidikan, penjara, hukum, dan rumah sakit jiwa adalah elemen-elemen dunia sosial yang memiliki fungsi kontrol kuat terhadap individu. Jika individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang terdapat di dalam institusi-institusi tersebut, maka ia bisa dipenjara, rehabiliitasi, ataupun dimasukan ke dalam rumah sakit jiwa. Keberadaan institusi ini tidaklah melulu buruk, karena mereka menjaga stabilitas sosial, sekaligus mewariskan nilai-nilai kultural ke generasi berikutnya. Dalam kerangka ini, motivasi manusia, terutama yang mekanis, haruslah tunduk pada norma-norma kultural dan hukum positif yang ada.



[1] Tulisan ini diinspirasikan dari pemikiran Donald Laming, Understanding Human Motivation, Oxford, Blackwell, 2004.

[2] Ibid, hal. 2.

[3] Ibid.

[4] Lihat, Laming, 2004, hal. 3.

[5] Lihat, ibid, hal. 6.

[6] Ibid.

[7] Ibid, hal. 7.

[8] Laming, 2004, hal. 8.

[9] Lihat, Ibid, hal. 278.

[10] Lihat, ibid, hal. 279.

[11] Ibid, hal. 279.

[12] Bdk, Laming, 2004, hal. 281.


Menuju Pendidikan yang Mengubah Hati

Pendidikan yang Mengubah Hati

Reza A.A Wattimena

Dunia pendidikan kita carut marut. Idealisme pendidikan untuk mengembangkan keseluruhan diri manusia terancam musnah digantikan pendidikan sebagai mesin pencetak uang instan.

Untuk mendapatkan pendidikan yang bermakna, orang harus keluar banyak uang. Padahal, tidak semua orang Indonesia mampu memenuhi kebutuhan itu.

Sekolah sebagai institusi pendidikan pun tidak lagi murni, namun dilumuri kepentingan untuk mendapatkan uang, sehingga mereka bisa survive dengan membayar upeti pada pemerintah. Sekarang ini, jika ingin bertahan sebagai sekolah yang unggul, maka sekolah haruslah menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk pelicin ke pemerintah.

Inilah praktek kotor yang terus berlangsung, namun tampak tidak lagi menjadi tema persoalan, karena sudah dianggap biasa. Kejahatan sudah dianggap banal.

Ekonomi

Hal yang sama terjadi di dalam bidang ekonomi. Banyak pengusaha harus membayar uang pelicin kepada pemerintah, supaya mereka tetap bisa melakukan bisnis.

Pada hari-hari raya, pejabat pemerintah, mulai dari yang tinggi sampai yang rendah, ramai-ramai meminta upeti dari pengusaha. Upeti itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Uang upeti itu kemudian digunakan untuk membuat pesta-pesta keagamaan demi menjaga citra pejabat tersebut di mata masyarakat. Dengan membuat pesta-pesta itu, maka kesalahan-kesalahan si pejabat seolah terhapuskan, padahal tidak.

Tidak jarang pula ditemukan, banyak pejabat yang meminta uang upeti dari para pengusaha sekedar untuk liburan ke luar negeri bersama keluarganya. Pengusaha tidak bisa menolak. Jika mereka menolak, maka bisnis mereka bisa terhambat nantinya.

Korbannya adalah para buruh. Keuntungan dari bisnis, yang seharusnya cukup besar untuk meningkatkan gaji buruh, diberikan kepada pejabat pemerintah yang korup. Gaji buruh tetap rendah. Kemiskinan pun jadi penyakit akut yang sulit sekali disembuhkan.

Hukum

Korupsi di bidang hukum pun sudah bukan lagi rahasia. Para “prajurit hukum”, yang seharusnya menjadi pionir pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, justru melestarikan budaya korupsi, dan membuat hukum menjadi impoten di hadapan para pelanggarnya.

Hakim, jaksa, dan pengacara tak berdaya di hadapan suap. Hati nurani dan etika profesi mereka terancam musnah, karena tak mampu menahan suap.

Tidak hanya itu, undang-undang kini pun bisa dipesan, asalkan dengan nominal finansial yang mencukupi. Kontradiksi dalam undang-undang yang ada sudah bukan hal baru lagi. Kontradiksi itu pun ditutupi dengan uang.

Di mata para pejabat hukum, kejahatan tidak lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi sebagai barang dagangan. Tidak berlebih jika analis ekonomi, B. Herry Priyono, berulang kali menegaskan bahaya homo oeconomicus di dalam semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Pendidikan yang Mengubah Hati

Bidang politik dan hukum tidak lagi bisa diharapkan untuk membawa perubahan. Kultur dan sistem yang sudah eksis di kedua bidang itu sudah terlalu kotor dan akut untuk bisa mengubah dirinya sendiri.

Harapan utama kita adalah pada bidang pendidikan. Akan tetapi,bidang ini pun juga dipenuh masalah.

Politik uang mewarnai bidang ini. Pendidikan pun seringkali jatuh pada pengajaran yang bersifat teknis semata, dan tidak pernah menyentuh hati para peserta didik.

Para praktisi dan teoritikus pendidikan harus mulai menggalakan pendidikan yang mengubah hati. Pendidikan semacam ini tidak hanya mengajarkan hal-hal teknis kepada mahasiswa, tetapi mengubah hatinya ke arah yang lebih bermoral.

Akal bisa dipakai untuk tujuan apapun, tetapi hati menggambarkan otentisitas jiwa manusia. Sastra dan filsafat adalah kunci untuk mengubah hati para peserta didik.

Pendidikan hati mampu menyentuh kedalaman sanubari orang, sehingga ia berubah. Tentu saja, metode menghafal juga tidak berguna di dalam membentuk hati seseorang.

Teknik menghafal membunuh kreatifitas dan dinamika intelektualitas peserta didik. Para peserta didik harus diajak untuk mulai peduli dengan dunia. Kepedulian yang tidak didasarkan pada hitungan untung rugi, tetap pada solidaritas yang berbasis hati serta kepekaan.

Hati yang terbuka, sabar, dan peka kepada orang lain bukan karena kesamaan identitas, seperti satu agama, satu bangsa, ataupun satu ras, dan juga bukan karena motif keuntungan finansial, tetapi karena hati nurani yang menjerit untuk peka menolong siapapun atau apapun yang membutuhkan.

Untuk mencapai tujuan perubahan hati ini, para praktisi pendidikan haruslah mengubah asumsi dan metode mengajar mereka. Mereka harus mengajar peserta didik untuk berpikir dengan jernih, sekaligus dengan keberpihakan yang jelas pada cita-cita kehidupan bersama yang lebih baik. Bentuk dialog imajinatif dan diskusi rasional sangat cocok dengan ini.

Kemampuan teknis, seperti menghitung, membuat besi, mengolah minyak, memang perlu. Akan tetapi, bangsa ini lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki hati. Kehadiran mereka bagaikan oasis segar di tengah padang gurun krisis sosial yang terjadi sekarang ini.***

Panduan untuk Memahami Platon: Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Panduan untuk Memahami Platon[1]

Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Reza A.A Wattimena

Platon adalah warga Athena yang berasal dari keluarga aristokrat. Ia aktif hidup dan berfilsafat pada abad keempat sebelum masehi. Ia adalah pengikut setia dari Sokrates. Tulisan-tulisannya menunjukkan hal ini dengan sangat jelas. Hampir semua isi tulisan Platon, yang kebanyakan bergaya dialog, menjadikan Sokrates sebagai tokoh utamanya. Sokrates adalah guru dari Platon. Ia adalah filsuf yang suka berjalan-jalan di pasar, dan mengajukan pertanyaan kritis kepada orang disana tentang berbagai hal, seperti tentang keadilan, manusia, pengetahuan, kebenaran, dan sebagainya. Ia dihukum mati oleh pemerintah Athena, karena dianggap meracuni pikiran anak muda pada jamannya. Di dalam tulisan-tulisannya, Platon, dengan menggunakan nama Sokrates, seringkali berfilsafat sambil bernostalgia tentang bagaimana keadaan politik Athena sebelum dirobek oleh perang saudara, atau mengalami kekalahan perang dari Sparta. Filsafat politiknya juga muncul dari imajinasi dan nostalgia semacam itu.

Tulisan-tulisan awal Platon lebih banyak bernada pembelaan terhadap pandangan-pandangan Sokrates tentang penghukuman dan kematian. Dialog yang paling terkenal adalah Apology, yang merupakan reproduksi dari pidato Sokrates saat pengadilannya. Pada dialog Gorgias, Platon menuliskan perdebatan tentang pilihan antara kehidupan berpolitik atau kehidupan berfilsafat. Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, terlibat dalam perdebatan keras dengan seorang retoris, seorang sophis di dalam Protagoras, dan seorang ahli agama di dalam Euthyphro. Melalui dialog-dialognya, Platon tetap berpegang teguh, bahwa filsafat merupakan jalan utama untuk sampai pada kebenaran dan keutamaan. Ia menolak semua pendekatan lainnya.

Di dalam Meno, Symposium, dan Phaedo, Platon mengembangkan pemikirannya ke ranah etika, metafisika, epistemologi, dan psikologi. Metode yang ia gunakan adalah metode hipotesis. Di dalam metode ini, orang mengajukan pendapat, lalu ditanggapi secara bersama-sama di dalam diskusi oleh orang lainnya. Di dalam dialog ini pulalah Plato mulai menjauhkan diri dari pandangan-pandangan Sokrates, dan mengajukan pandangan-pandangannya sendiri. Dua teori yang kiranya khas Platon adalah teori tentang forma dan teori tentang keabadian jiwa. Teori tentang forma mengacu pada pengetahuan tentang suatu benda yang tidak berada di dunia empiris, tetapi merupakan eidos yang bersifat abadi, tidak berubah, dan cukup diri. Misalnya, eidos tentang keindahan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan keindahan. Keindahan di dalam realitas merupakan partisipasi terhadap eidos keindahan. Eidos keindahan merupakan esensi dari keindahan. Eidos ini bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, keindahan di dalam realitas sifatnya relatif dan berubah-ubah. Di dalam Phaedo, Platon menulis, bahwa argumen ini hanya bisa dibenarkan, jika teori ini konsisten dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Di dalam Republic, ia menulis bahwa teori tentang forma baru bisa dibenarkan, jika argumennya koheren dengan satu prinsip tertinggi yang disebutnya sebagai “yang baik”. Yang baik merupakan sumber dari segala eidos. Ia adalah to agathon.

Teori tentang keabadian jiwa dipertahankan oleh Platon di dalam dialog-dialognya. Asumsi dari teori ini adalah, bahwa jiwa dan tubuh merupakan dua entitas yang terpisah. Pada waktu hidup, dua entitas ini saling bergandengan di dalam diri manusia. Akan tetapi, entitas ini akan murni terpisah pada saat orang meninggal. Argumen ini pertama kali muncul pada dialog Meno, ketika membicarakan tentang bagaimana orang bisa sampai pada pengetahuan apriori tentang kebenaran matematis. Menurut Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, kebenaran matematis tidaklah diberikan orang lain kepada kita dalam bentuk informasi. Kita mengetahuinya melulu dengan penalaran kita, terutama dengan menggalinya dari dalam diri kita sendiri, di mana terdapat memori laten yang sudah selalu ada. Dalam perjalanan waktu, orang lupa akan pengetahuan yang sudah mereka punya. Kelupaan pertama akan eidos terjadi, saat jiwa memasuki tubuh. Tubuh membuat jiwa kehilangan pengetahuannya. Proses belajar sebenarnya adalah proses mengingat kembali. Di dalam dialog Phaedo, Platon mengajukan argumen bahwa orang yang mendedikasikan hidupnya untuk berfilsafat, yakni untuk mencari kebijaksanaan, akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya, ketika ia mati dan meninggalkan tubuhnya. Ketika mati, ia akan mencapai kebijaksanaan, dan terbebas dari belenggu tubuh. Ia akan sampai pada pengetahuan murni tentang eidos kembali, sama seperti sebelum jiwa memasuki tubuh.

Buku Republic merupakan karya terbaik Platon. Buku ini ditulis, ketika ia sedang subur-suburnya berfilsafat. Di dalam buku itu, metafisika dan epistemologi di dalam filsafatnya diterjemahkan dalam konteks filsafat politik. Platon merumuskan tentang kota yang ideal. Kota yang ideal adalah kota yang diatur dengan prinsip keadilan. Kota itu dibentuk dengan pemerintahan komunisme, di mana semua tata kehidupan bersama diatur oleh seorang filsuf-raja juga atas dasar prinsip keadilan. Seorang filsuf raja adalah seorang filsuf yang ambil bagian di dalam kehidupan politik. Ia adalah orang yang telah terlatih untuk berpikir abstrak tentang eidos dan matematika. Ia memiliki keutamaan yang diperlukan untuk menciptakan harmoni di dalam masyarakat. Tata politik yang ideal hanya bisa terwujud, jika dipimpin oleh seorang filsuf raja yang memiliki pemahaman tentang eidos dan tentang to agathon.

Sampai sekarang, banyak ahli Platon masih berdebat, apakah filsafat politik Platon tentang filsuf-raja, baik perempuan ataupun pria, memang dimaksudkan untuk diterapkan, atau tidak. Tulisan-tulisan Platon sendiri, jika dibaca secara detil, menujukkan pesimisme yang besar terhadap kemungkinan manusia untuk sampai kehidupan bersama yang ideal. Metafor yang paling terkenal di dalam buku republic adalah analogi gua. Di dalam metafor tersebut digambarkan, bagaimana orang pada umumnya lebih senang terjebak dalam ilusi di gua, dan menolak untuk dicerahkan oleh para filsuf yang berhasil keluar dari gua dan melihat matahari sebagai simbol kebenaran. Teori psikologi Platon juga cukup pesimis. Ia menggambarkan bagaimana manusia terdiri dari akal budi, emosi, dan hasrat. Ketiga elemen itu seringkali berkonflik, dan pada akhirnya menciptakan keraguan moral, yang berujung pada kejahatan. Platon juga menulis dialog berjudul Timaeus. Di dalam dialog ini, ia berpendapat, bahwa alam semesta diciptakan oleh seorang tukang agung, yang menciptakan segala sesuatu dengan ketepatan rasio matematik yang sangat akurat.

Dialog-dialog ini memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat. Namun, kontribusi terbesar tampaknya diberikan oleh teks Platon yang berjudul Parmenides. Di dalamnya, Parmenides mengajukan kritik terhadap koherensi logis teori forma Platon tentang eidos. Menurutnya, teori forma Platon tidak menampung proses dialektika, yang notabene merupakan pola gerak realitas. Di dalam Theaetetus, Platon menulis tentang kritiknya terhadap kebenaran relatif yang diajukan oleh kaum sofis. Dua karya terakhir Platon adalah Statesman dan Laws. Statesman berisi pengetahuan praktis tentang cara seorang negarawan memerintah rakyatnya. Sementara, Laws terdiri dari 12, yang belum selesai ditulis, bahkan sampai Platon meninggal.

Mengenai Cara Berpikir Platon

Salah satu metode yang dipakai oleh Platon di dalam mengemukakan pendapatnya adalah metode bidan. Metode ini didapatkannya dari Sokrates. Metode bidan adalah metode yang menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk sampai pada kebenaran. Metode bidang berusaha menemukan kebenaran melalui proses bertanya terus menerus, karena kebenaran tidak terletak di luar diri manusia, tetapi di dalamnya. Pertanyaan membantu orang untuk sampai pada kebenaran yang sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Jadi, seperti bidang yang membantu ibu melahirkan anak, begitu pula seorang filsuf mengajukan pertanyaan untuk membantu orang melahirkan kebenaran yang sudah ada di dalam dirinya.

Filsafat Platon juga menunjukkan tegangan yang besar antara apa yang ideal dan apa yang faktual. Yang ideal adalah apa yang seharusnya. Sementara, yang faktual adalah apa yang terjadi. Di dalam filsafat Platon, yang ideal adalah eidos. Sementara, yang faktual adalah benda-benda di dalam dunia nyata. Eidos adalah esensi dari benda-benda yang ada di dalam dunia konkret. Filsafat politik Platon juga berbicara tentang tata sosial masyarakat dengan menggunakan eidos sebagai panduannya, jadi bukan suatu tips praktis untuk membangun negara. Eidos adalah esensi yang bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, benda-benda di dunia konkret adalah benda-benda tidak abadi dan terus mengalami perubahan.

Platon secara tegas menentang relativisme dalam segala bentuknya. Relativisme adalah pengetahuan yang menyatakan, bahwa kebenaran itu bersifat plural, tergantung pada konteksnya. Menurut Platon, kebenaran semacam ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya adalah eidos dari kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak berubah. Segala pernyataan yang mengklaim kebenaran itu relatif masihlah berada di tataran realitas konkret sehari-hari, dan belum sampai pada eidos. Pengetahuan semacam itu masihlah merupakan doxa, yang belum mencapai kemurnian kebenaran.

Platon juga menjadikan filsafat sebagai jalan hidup. Jalan filsafat adalah jalan untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan. Jalan hidup lainnya berorientasi pada kenikmatan sesaat yang diberikan oleh materi. Sementara, jalan filsafat menawarkan kebahagiaan yang muncul, karena orang memandang kebaikan itu sendiri. Jalan hidup filsafat, menurut Platon, melepaskan orang dari penjara tubuh, yang membuat orang tidak mampu sampai pada kebenaran. Oleh karena itu, seorang filsuf tidaklah takut pada kematian. Kematian adalah pemusnahan badan. Jika badan dimusnahkan, maka jiwa terbebas dari penjara badan. Jiwa akan kembali menemukan kebenaran yang sempat diambil dari padanya.***

Filsafat Politik untuk Indonesia: Sebuah Pancingan Diskusi

Filsafat Politik untuk Indonesia

Sebuah Pancingan Diskusi

Reza A.A Wattimena

Mari kita mulai terlebih dahulu diskusi kita ini dengan beberapa pengertian mendasar. Setelah itu, barulah kita masuk ke diskusi-diskusi yang lebih mendalam mengenai filsafat politik, dan relevansinya untuk indonesia.

Filsafat

Apa itu filsafat? Secara literal, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yakni philia dan sophia. Philia berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. (Wattimena, 2008, 1)

Dalam konteks ini, filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan, dan seorang filsuf adalah orang yang mencintai kebijaksanaan. Orang yang mencintai kebijaksanaan bukanlah orang yang sudah memiliki kebijaksanaan, melainkan orang yang terus berupaya mencari kebijaksanaan.

Menurut saya, filsafat adalah suatu aktivitas, dan bukan sekedar mata kuliah saja. Ia berdiri secara formal sebagai mata kuliah, namun jangkauannya melampaui bangku dan ruang kelas kuliah.

Secara formal, filsafat adalah suatu aktivitas berpikir manusia mengenai segala sesuatu di dalam realitas, namun dilihat dari sudutnya yang paling mendasar, dan dilakukan secara terbuka, kritis, sistematis, dan rasional. Filsafat berbicara tentang semua hal, tentang tata sosial, ekonomi, budaya, seni, manusia, alam, dunia, dan Tuhan.

Namun, tidak seperti ilmu-ilmu empiris yang cenderung sibuk dengan hal-hal teknis displinnya masing-masing, sehingga nyaris buta terhadap ilmu lainnya, filsafat mendekati beragam fenomena dengan membongkar aspek-aspek dasariahnya. Proses pembongkaran itu dilakukan secara terbuka, kritis, rasional, dan sistematis.

Misalnya, saya ingin memahami manusia dengan menggunakan piranti filsafat. Apa yang membedakan pendekatan filsafat dengan pendekatan psikologi atau antropologi?

Di dalam psikologi, manusia dipahami sebagai agensi dari perilaku tertentu. Metode pendekatannya dilakukan dengan pengumpulan data, pengolahan statistik, dan penarikan kesimpulan. Sebagian besar penelitian dilakukan untuk membedah dimensi-dimensi empiris.

Dengan filsafat, pendekatan tidak dilakukan secara empiris, seperti dengan pengumpulan data, pengolahan statistik, ataupun dengan penarikan kesimpulan sementara. Filsafat mendekati manusia secara reflektif dan analitis. Data empiris hanyalah titik tolak untuk menggali apa yang menjadi akar hakiki dari manusia.

Filsafat menjadikan data sebagai titik tolak, dan menembus data tersebut untuk menemukan apa yang paling hakiki dari manusia. Dalam hal ini, filsafat memang lebih radikal daripada psikologi dalam upayanya memahami manusia.

Ellias Canetti seorang filsuf-antropolog asal Eropa Timur pernah mengatakan, bahwa lepas dari semua topeng peradabannya, manusia pada dasarnya menyerupai hewan. Perilaku dan sifat-sifatnya menampakkan gejala hewani.

Ia bisa berkumpul seperti tawon untuk menyerang musuh, gejala yang dengan mudah ditemukan di dalam perkelahian massal. Ia juga bisa dengan mudah melakukan tipu muslihat, sama seperti rubah menipu manusia dengan gerak geriknya.

Seorang psikolog dan antropolog tidak akan berani menarik kesimpulan sejauh itu, kecuali mereka memasuki ranah filsafat. Di era sekarang ini, pendekatan interdispliner untuk memahami berbagai fenomena di dunia mulai menjadi acuan.

Tujuannya adalah, supaya data-data yang diperoleh dapat diolah dengan berbagai perspektif dan menghasilkan berbagai terobosan-terobosan pemahaman baru. Dengan demikian, filsafat adalah pola pendekatan terhadap realitas dengan menggunakan aktivitas berpikir yang bersifat terbuka, kritis, sistematis, dan rasional.

Terbuka, artinya filsafat merupakan suatu proses yang tidak pernah mencapai kata final. Kritis, artinya filsafat mampu mempertanyakan segala sesuatu, bahkan dirinya sendiri.

Sistematis, artinya filsafat haruslah didasarkan pada kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan prinsip koherensi yang tidak menyalahi aturan logika. Dan rasional, artinya filsafat tidak boleh mengacu pada iman, sentimen, perasaan, tetapi melulu mengacu pada kemampuan akal budi manusia untuk memahami realitas.

Filsafat Politik

Filsafat politik dapat didefinisikan sebagai suatu refleksi filsafat tentang bagaimana kehidupan bersama kita ditata. Soal-soal kehidupan bersama itu mencakup tata politik, bentuk negara, pengaturan pajak, tata ekonomi, dan sebagainya. (Routledge Encyclopedia of Philosophy)

Seorang filsuf politik hendak merumuskan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi dari suatu bentuk negara tertentu. Ia juga sering menyatakan dengan jelas, bahwa manusia, siapapun itu, memiliki hak-hak dasar yang tidak bisa ditolak keberadaannya.

Di dalam bidang ekonomi, banyak filsuf politik mengajukan suatu ide dasar tentang pembagian kekayaan ekonomi ke seluruh warga negara yang mengacu pada prinsip keadilan. Refleksi filsafat di dalam bidang ini biasanya dilakukan dengan menafsirkan ulang prinsip-prinsip hidup sosial, seperti keadilan, kebebasan, kekuasaan, dan kemudian diaplikasikan secara kritis pada kondisi sosial politik yang tengah terjadi.

Beberapa filsuf politik lainnya telah mencoba memberikan justifikasi bagi berdirinya suatu pemerintahan tertentu, sementara beberapa lainnya memberikan kritik tajam bagi kondisi sosial politik yang terjadi, dan kemudian merumuskan sendiri suatu bentuk negara ideal yang mungkin sangat berbeda dengan apa yang telah dialami secara empiris.

Filsafat politik telah lahir semenjak manusia mulai menyadari, bahwa tata sosial kehidupan bersama bukanlah sesuatu yang terberi secara alamiah, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terbuka untuk perubahan. Oleh karena itu, tata sosial-ekonomi-politik merupakan produk budaya, dan memerlukan justifikasi filosofis untuk mempertahankannya.

Lahirnya suatu refleksi filsafat politik sangat dipengaruhi oleh konteks epistemologi dan metafisika jamannya, sekaligus mempengaruhi jamannya. Jadi, filsafat itu dipengaruhi sekaligus mempengaruhi jamannya. Inilah lingkaran dialektis yang terus menerus berlangsung di dalam sejarah.

Perkembangan di dalam epistemologi dan metafisika mempengaruhi asumsi-asumsi yang digunakan oleh para filsuf politik untuk merumuskan pemikirannya. Pada abad pertengahan, banyak filsuf politik mengawinkan relfkesi teologi Kristiani dengan filsafat Yunani Kuno untuk merumuskan refleksi filsafat politik mereka.

Filsafat politik juga seringkali muncul sebagai tanggapan terhadap situasi krisis jamannya. Pada era abad pertengahan, tema relasi antara negara dan agama menjadi tema utama filsafat politik.

Pada era modern, tema pertentangan antara kekuasaan absolut dan kekuasaan raja yang dibatasi oleh konstitusi menjadi tema utama refleksi filsafat politik. Pada abad ke-19, pertanyaan tentang bagaimana masyarakat industri harus menata ekonominya, yakni apakah melulu dengan mengacu pada liberalisme pasar atau menciptakan negara kesejahteraan, menjadi tema utama filsafat politik.

Jika mempelajari sejarah filsafat politik, maka akan tampak beberapa pertanyaan abadi yang menjadi pergulatan para filsuf. Beberapa diantaranya adalah, bagaimana seseorang bisa mendaku otoritas untuk memerintah orang lainnya? Apakah suatu prinsip, yang dirumuskan oleh seorang filsuf politik, memiliki keabsahan universal yang berlaku lintas jaman dan lintas tempat, atau merupakan ekspresi dari nilai-nilai partikular suatu komunitas tertentu?

Suatu rumusan filsafat politik memiliki aspek-aspek antropologis yang mendasarinya. Aspek antropologis ini menyangkut pemahaman tentang hakekat dari manusia, atau karakter dasariah dari manusia.

Untuk memberi pendasaran bagi suatu tata politik-sosial-ekonomi-budaya tertentu, rumusan filsafat politik haruslah mengajukan suatu konsep tentang manusia, tentang kebutuhan-kebutuhannya, kemampuan-kemampuannya, tentang apakah manusia itu melulu egois, atau mampu menjadi mahluk altruis, dan sebagainya. Akan tetapi, apakah konsep itu berlaku universal lintas tempat dan lintas waktu, ataukah merupakan ciri khas dari suatu kultur partikular komunitas tertentu?

Secara kasar, setidaknya ada dua bentuk tipe filsafat politik yang berkembang di dalam sejarah. Yang pertama adalah filsafat politik yang terintegrasi secara koheren dengan suatu sistem filsafat tertentu yang lebih besar, seperti dalam filsafat Thomas Aquinas, Hegel, dan Plato.

Sistem pemikiran filsafat secara menyeluruh biasanya membentuk suatu sistem metafisika, dan filsafat politik hanya satu aspek di dalamnya. Hegel menjelaskan sejarah dunia sebagai sejarah alienasi roh absolut, dan filsafat politik hanya salah satu bagian saja.

Di sisi lain, ada para filsuf politik yang tidak mengajukan suatu sistem metafisika tertentu, tetapi memberikan kontribusi bsar di dalam filsafat politik secara spesifik. Merek adalah Cicero, Machiavelli, Rousseau, dan Marx. Pada abad kedua puluh, kita juga mengenal Hannah Arendt, Foucault, Habermas, dan Charles Taylor.

Untuk Indonesia

Apa peran filsafat politik untuk Indonesia? Pada hemat saya, ada tiga peran filsafat politik untuk Indonesia, yakni mendefinisikan ulang konsep dan praktek politik di Indonesia secara jernih, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap praktek-praktek sosial yang tengah terjadi, dan mengajukan suatu bentuk tata sosial tertentu yang lebih baik.

Pertama, Filsafat politik dapat dijadikan alat untuk mengajukan mendefinisikan ulang konsep-konsep dan praktek politik yang telah lama dilakukan di Indonesia, seperti konsep negara, konsep kekuasaan, konsep otoritas, peran hukum, aspek keadilan di dalam hukum. Dalam bidang hukum misalnya, banyak pelaku korupsi di berbagai bidang lolos begitu saja dari jeratan hukum, karena tidak ada UU yang pas untuk menjeratnya.

Filsafat hukum mengajukan proposisi, bahwa hukum tidak hanya mengacu pada rumusan baku saja, tetap pada rasa keadilan yang sudah ada di dalam masyarakat. Rumusan hukum harus mengacu pada rasa keadilan.

Tanpa keadilan, hukum adalah penindasan. Hukum merupakan terjemahan teknis dari keadilan. Melakukan praktek hukum tanpa dasar keadilan berarti membunuh ibu dari hukum itu sendiri.

Proses mendefinisikan ulang sesuatu membutuhkan kerangka normatif, dan filsafat menyediakan itu. Suatu penilaian haruslah berbasis pada kriteria penilaian tertentu, dan di dalam bidang politik, filsafat politik menyediakan itu.

Tanpa wawasan filsafat politik yang kuat, kita tidak akan mampu melakukan kritik ideologi secara jernih dan sistematis, karena kita tidak memiliki basis normatif untuk membuat suatu penilaian terhadap kebijakan politik tertentu. Praktek-praktek politik di Indonesia yang kotor dapat dibedah secara rasional dan sistematis, jika kita, sebagai warga negara, memiliki wawasan filsafat politik yang kuat.

Kedua, filsafat politik mampu menjadi alat untuk melakukan kritik ideologi. Sebuah bangsa, mau tidak mau, hidup dalam suatu ideologi tertentu. Ideologi mencerminkan pandangan dasar yang dianut secara naif oleh suatu bangsa, dan tidak lagi dipertanyakan.

Filsafat politik, sebagai aktivitas berpikir secara terbuka, rasional, sistematis, dan kritis tentang kehidupan bersama, mampu menjadi alat yang kuat untuk membongkar kesesatan-kesesatan berpikir yang ada di dalam ideologi-ideologi tersebut. Contoh paling konkret adalah pendirian Indonesia dengan berbasis Islamisme.

Islamisme adalah suatu ideologi yang menyatakan dengan tegas, bahwa semua kehidupan publik dan privat warga negara haruslah diatur berdasar asas-asas Islam yang dominan. Filsafat bisa mempertanyakan, konsep manusia macam apakah yang dianut oleh Islamisme? Apakah konsep itu sesuai dengan kondisi yang ada? Apakah hanya ada satu Islam di Indonesia ini?

Filsafat politik mampu membongkar secara sistematis kesesatan berpikir yang terdapat di dalam ideologi Islamisme, maupun ideologi-ideologi lainnya, seperti liberalisme, amerikanisme, marxisme, komunisme, dan sebagainya. Filsafat politik dapat dipandang sebagai pencair dari kebekuan berpikir yang sangat mudah ditemukan di dalam ideologi-ideologi.

Ketiga, filsafat tidak hanya mau berhenti menjadi pengkritik saja, tetapi juga maju mengajukan suatu model tata sosial politik alternatif yang mungkin. Tata sosial politik itu berbasis pada prinsip-prinsip keadilan, kebebasan, dan solidaritas.

Contoh yang paling mungkin adalah wacana multikulturalisme di dalam filsafat yang, pada hemat saya, sangat cocok sebagai alternatif tata sosial politik di Indonesia. Multikulturalisme adalah suatu paham yang berpendapat, bahwa kehidupan sosial manusia diwarnai oleh banyak cara hidup, cara berpikir, dan cara berkomunitas yang berbeda satu sama lain, namun kesemuanya harus ditempatkan setara secara kultural maupun secara yudisial dengan prinsip penghormatan sebagai satu bangsa.

Kemerdekaan bentuk-bentuk kehidupan, pemikiran, cara berkomunitas menandakan pluralisme yang diakui dan dikembangkan terus menerus. Sementara, prinsip penghormatan satu sama lain menandakan adanya solidaritas dan kesatuan.

Tata sosial politik semacam ini baru bisa terwujud, jika trauma sosial sudah bisa dicairkan, dan peristiwa-peristiwa negatif masa lalu, seperti penculikan, pembantaian massal, dan sebagainya dijamin tidak lagi terulang. Filsafat dapat memberikan kontribusi di dalam proses bangsa ini untuk menjadi semakin beradab, makmur, adil, dan manusiawi.***