Menuju Pendidikan yang Mengubah Hati

Pendidikan yang Mengubah Hati

Reza A.A Wattimena

Dunia pendidikan kita carut marut. Idealisme pendidikan untuk mengembangkan keseluruhan diri manusia terancam musnah digantikan pendidikan sebagai mesin pencetak uang instan.

Untuk mendapatkan pendidikan yang bermakna, orang harus keluar banyak uang. Padahal, tidak semua orang Indonesia mampu memenuhi kebutuhan itu.

Sekolah sebagai institusi pendidikan pun tidak lagi murni, namun dilumuri kepentingan untuk mendapatkan uang, sehingga mereka bisa survive dengan membayar upeti pada pemerintah. Sekarang ini, jika ingin bertahan sebagai sekolah yang unggul, maka sekolah haruslah menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk pelicin ke pemerintah.

Inilah praktek kotor yang terus berlangsung, namun tampak tidak lagi menjadi tema persoalan, karena sudah dianggap biasa. Kejahatan sudah dianggap banal.

Ekonomi

Hal yang sama terjadi di dalam bidang ekonomi. Banyak pengusaha harus membayar uang pelicin kepada pemerintah, supaya mereka tetap bisa melakukan bisnis.

Pada hari-hari raya, pejabat pemerintah, mulai dari yang tinggi sampai yang rendah, ramai-ramai meminta upeti dari pengusaha. Upeti itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Uang upeti itu kemudian digunakan untuk membuat pesta-pesta keagamaan demi menjaga citra pejabat tersebut di mata masyarakat. Dengan membuat pesta-pesta itu, maka kesalahan-kesalahan si pejabat seolah terhapuskan, padahal tidak.

Tidak jarang pula ditemukan, banyak pejabat yang meminta uang upeti dari para pengusaha sekedar untuk liburan ke luar negeri bersama keluarganya. Pengusaha tidak bisa menolak. Jika mereka menolak, maka bisnis mereka bisa terhambat nantinya.

Korbannya adalah para buruh. Keuntungan dari bisnis, yang seharusnya cukup besar untuk meningkatkan gaji buruh, diberikan kepada pejabat pemerintah yang korup. Gaji buruh tetap rendah. Kemiskinan pun jadi penyakit akut yang sulit sekali disembuhkan.

Hukum

Korupsi di bidang hukum pun sudah bukan lagi rahasia. Para “prajurit hukum”, yang seharusnya menjadi pionir pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, justru melestarikan budaya korupsi, dan membuat hukum menjadi impoten di hadapan para pelanggarnya.

Hakim, jaksa, dan pengacara tak berdaya di hadapan suap. Hati nurani dan etika profesi mereka terancam musnah, karena tak mampu menahan suap.

Tidak hanya itu, undang-undang kini pun bisa dipesan, asalkan dengan nominal finansial yang mencukupi. Kontradiksi dalam undang-undang yang ada sudah bukan hal baru lagi. Kontradiksi itu pun ditutupi dengan uang.

Di mata para pejabat hukum, kejahatan tidak lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi sebagai barang dagangan. Tidak berlebih jika analis ekonomi, B. Herry Priyono, berulang kali menegaskan bahaya homo oeconomicus di dalam semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Pendidikan yang Mengubah Hati

Bidang politik dan hukum tidak lagi bisa diharapkan untuk membawa perubahan. Kultur dan sistem yang sudah eksis di kedua bidang itu sudah terlalu kotor dan akut untuk bisa mengubah dirinya sendiri.

Harapan utama kita adalah pada bidang pendidikan. Akan tetapi,bidang ini pun juga dipenuh masalah.

Politik uang mewarnai bidang ini. Pendidikan pun seringkali jatuh pada pengajaran yang bersifat teknis semata, dan tidak pernah menyentuh hati para peserta didik.

Para praktisi dan teoritikus pendidikan harus mulai menggalakan pendidikan yang mengubah hati. Pendidikan semacam ini tidak hanya mengajarkan hal-hal teknis kepada mahasiswa, tetapi mengubah hatinya ke arah yang lebih bermoral.

Akal bisa dipakai untuk tujuan apapun, tetapi hati menggambarkan otentisitas jiwa manusia. Sastra dan filsafat adalah kunci untuk mengubah hati para peserta didik.

Pendidikan hati mampu menyentuh kedalaman sanubari orang, sehingga ia berubah. Tentu saja, metode menghafal juga tidak berguna di dalam membentuk hati seseorang.

Teknik menghafal membunuh kreatifitas dan dinamika intelektualitas peserta didik. Para peserta didik harus diajak untuk mulai peduli dengan dunia. Kepedulian yang tidak didasarkan pada hitungan untung rugi, tetap pada solidaritas yang berbasis hati serta kepekaan.

Hati yang terbuka, sabar, dan peka kepada orang lain bukan karena kesamaan identitas, seperti satu agama, satu bangsa, ataupun satu ras, dan juga bukan karena motif keuntungan finansial, tetapi karena hati nurani yang menjerit untuk peka menolong siapapun atau apapun yang membutuhkan.

Untuk mencapai tujuan perubahan hati ini, para praktisi pendidikan haruslah mengubah asumsi dan metode mengajar mereka. Mereka harus mengajar peserta didik untuk berpikir dengan jernih, sekaligus dengan keberpihakan yang jelas pada cita-cita kehidupan bersama yang lebih baik. Bentuk dialog imajinatif dan diskusi rasional sangat cocok dengan ini.

Kemampuan teknis, seperti menghitung, membuat besi, mengolah minyak, memang perlu. Akan tetapi, bangsa ini lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki hati. Kehadiran mereka bagaikan oasis segar di tengah padang gurun krisis sosial yang terjadi sekarang ini.***

Iklan

Panduan untuk Memahami Platon: Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Panduan untuk Memahami Platon[1]

Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Reza A.A Wattimena

Platon adalah warga Athena yang berasal dari keluarga aristokrat. Ia aktif hidup dan berfilsafat pada abad keempat sebelum masehi. Ia adalah pengikut setia dari Sokrates. Tulisan-tulisannya menunjukkan hal ini dengan sangat jelas. Hampir semua isi tulisan Platon, yang kebanyakan bergaya dialog, menjadikan Sokrates sebagai tokoh utamanya. Sokrates adalah guru dari Platon. Ia adalah filsuf yang suka berjalan-jalan di pasar, dan mengajukan pertanyaan kritis kepada orang disana tentang berbagai hal, seperti tentang keadilan, manusia, pengetahuan, kebenaran, dan sebagainya. Ia dihukum mati oleh pemerintah Athena, karena dianggap meracuni pikiran anak muda pada jamannya. Di dalam tulisan-tulisannya, Platon, dengan menggunakan nama Sokrates, seringkali berfilsafat sambil bernostalgia tentang bagaimana keadaan politik Athena sebelum dirobek oleh perang saudara, atau mengalami kekalahan perang dari Sparta. Filsafat politiknya juga muncul dari imajinasi dan nostalgia semacam itu.

Tulisan-tulisan awal Platon lebih banyak bernada pembelaan terhadap pandangan-pandangan Sokrates tentang penghukuman dan kematian. Dialog yang paling terkenal adalah Apology, yang merupakan reproduksi dari pidato Sokrates saat pengadilannya. Pada dialog Gorgias, Platon menuliskan perdebatan tentang pilihan antara kehidupan berpolitik atau kehidupan berfilsafat. Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, terlibat dalam perdebatan keras dengan seorang retoris, seorang sophis di dalam Protagoras, dan seorang ahli agama di dalam Euthyphro. Melalui dialog-dialognya, Platon tetap berpegang teguh, bahwa filsafat merupakan jalan utama untuk sampai pada kebenaran dan keutamaan. Ia menolak semua pendekatan lainnya.

Di dalam Meno, Symposium, dan Phaedo, Platon mengembangkan pemikirannya ke ranah etika, metafisika, epistemologi, dan psikologi. Metode yang ia gunakan adalah metode hipotesis. Di dalam metode ini, orang mengajukan pendapat, lalu ditanggapi secara bersama-sama di dalam diskusi oleh orang lainnya. Di dalam dialog ini pulalah Plato mulai menjauhkan diri dari pandangan-pandangan Sokrates, dan mengajukan pandangan-pandangannya sendiri. Dua teori yang kiranya khas Platon adalah teori tentang forma dan teori tentang keabadian jiwa. Teori tentang forma mengacu pada pengetahuan tentang suatu benda yang tidak berada di dunia empiris, tetapi merupakan eidos yang bersifat abadi, tidak berubah, dan cukup diri. Misalnya, eidos tentang keindahan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan keindahan. Keindahan di dalam realitas merupakan partisipasi terhadap eidos keindahan. Eidos keindahan merupakan esensi dari keindahan. Eidos ini bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, keindahan di dalam realitas sifatnya relatif dan berubah-ubah. Di dalam Phaedo, Platon menulis, bahwa argumen ini hanya bisa dibenarkan, jika teori ini konsisten dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Di dalam Republic, ia menulis bahwa teori tentang forma baru bisa dibenarkan, jika argumennya koheren dengan satu prinsip tertinggi yang disebutnya sebagai “yang baik”. Yang baik merupakan sumber dari segala eidos. Ia adalah to agathon.

Teori tentang keabadian jiwa dipertahankan oleh Platon di dalam dialog-dialognya. Asumsi dari teori ini adalah, bahwa jiwa dan tubuh merupakan dua entitas yang terpisah. Pada waktu hidup, dua entitas ini saling bergandengan di dalam diri manusia. Akan tetapi, entitas ini akan murni terpisah pada saat orang meninggal. Argumen ini pertama kali muncul pada dialog Meno, ketika membicarakan tentang bagaimana orang bisa sampai pada pengetahuan apriori tentang kebenaran matematis. Menurut Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, kebenaran matematis tidaklah diberikan orang lain kepada kita dalam bentuk informasi. Kita mengetahuinya melulu dengan penalaran kita, terutama dengan menggalinya dari dalam diri kita sendiri, di mana terdapat memori laten yang sudah selalu ada. Dalam perjalanan waktu, orang lupa akan pengetahuan yang sudah mereka punya. Kelupaan pertama akan eidos terjadi, saat jiwa memasuki tubuh. Tubuh membuat jiwa kehilangan pengetahuannya. Proses belajar sebenarnya adalah proses mengingat kembali. Di dalam dialog Phaedo, Platon mengajukan argumen bahwa orang yang mendedikasikan hidupnya untuk berfilsafat, yakni untuk mencari kebijaksanaan, akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya, ketika ia mati dan meninggalkan tubuhnya. Ketika mati, ia akan mencapai kebijaksanaan, dan terbebas dari belenggu tubuh. Ia akan sampai pada pengetahuan murni tentang eidos kembali, sama seperti sebelum jiwa memasuki tubuh.

Buku Republic merupakan karya terbaik Platon. Buku ini ditulis, ketika ia sedang subur-suburnya berfilsafat. Di dalam buku itu, metafisika dan epistemologi di dalam filsafatnya diterjemahkan dalam konteks filsafat politik. Platon merumuskan tentang kota yang ideal. Kota yang ideal adalah kota yang diatur dengan prinsip keadilan. Kota itu dibentuk dengan pemerintahan komunisme, di mana semua tata kehidupan bersama diatur oleh seorang filsuf-raja juga atas dasar prinsip keadilan. Seorang filsuf raja adalah seorang filsuf yang ambil bagian di dalam kehidupan politik. Ia adalah orang yang telah terlatih untuk berpikir abstrak tentang eidos dan matematika. Ia memiliki keutamaan yang diperlukan untuk menciptakan harmoni di dalam masyarakat. Tata politik yang ideal hanya bisa terwujud, jika dipimpin oleh seorang filsuf raja yang memiliki pemahaman tentang eidos dan tentang to agathon.

Sampai sekarang, banyak ahli Platon masih berdebat, apakah filsafat politik Platon tentang filsuf-raja, baik perempuan ataupun pria, memang dimaksudkan untuk diterapkan, atau tidak. Tulisan-tulisan Platon sendiri, jika dibaca secara detil, menujukkan pesimisme yang besar terhadap kemungkinan manusia untuk sampai kehidupan bersama yang ideal. Metafor yang paling terkenal di dalam buku republic adalah analogi gua. Di dalam metafor tersebut digambarkan, bagaimana orang pada umumnya lebih senang terjebak dalam ilusi di gua, dan menolak untuk dicerahkan oleh para filsuf yang berhasil keluar dari gua dan melihat matahari sebagai simbol kebenaran. Teori psikologi Platon juga cukup pesimis. Ia menggambarkan bagaimana manusia terdiri dari akal budi, emosi, dan hasrat. Ketiga elemen itu seringkali berkonflik, dan pada akhirnya menciptakan keraguan moral, yang berujung pada kejahatan. Platon juga menulis dialog berjudul Timaeus. Di dalam dialog ini, ia berpendapat, bahwa alam semesta diciptakan oleh seorang tukang agung, yang menciptakan segala sesuatu dengan ketepatan rasio matematik yang sangat akurat.

Dialog-dialog ini memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat. Namun, kontribusi terbesar tampaknya diberikan oleh teks Platon yang berjudul Parmenides. Di dalamnya, Parmenides mengajukan kritik terhadap koherensi logis teori forma Platon tentang eidos. Menurutnya, teori forma Platon tidak menampung proses dialektika, yang notabene merupakan pola gerak realitas. Di dalam Theaetetus, Platon menulis tentang kritiknya terhadap kebenaran relatif yang diajukan oleh kaum sofis. Dua karya terakhir Platon adalah Statesman dan Laws. Statesman berisi pengetahuan praktis tentang cara seorang negarawan memerintah rakyatnya. Sementara, Laws terdiri dari 12, yang belum selesai ditulis, bahkan sampai Platon meninggal.

Mengenai Cara Berpikir Platon

Salah satu metode yang dipakai oleh Platon di dalam mengemukakan pendapatnya adalah metode bidan. Metode ini didapatkannya dari Sokrates. Metode bidan adalah metode yang menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk sampai pada kebenaran. Metode bidang berusaha menemukan kebenaran melalui proses bertanya terus menerus, karena kebenaran tidak terletak di luar diri manusia, tetapi di dalamnya. Pertanyaan membantu orang untuk sampai pada kebenaran yang sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Jadi, seperti bidang yang membantu ibu melahirkan anak, begitu pula seorang filsuf mengajukan pertanyaan untuk membantu orang melahirkan kebenaran yang sudah ada di dalam dirinya.

Filsafat Platon juga menunjukkan tegangan yang besar antara apa yang ideal dan apa yang faktual. Yang ideal adalah apa yang seharusnya. Sementara, yang faktual adalah apa yang terjadi. Di dalam filsafat Platon, yang ideal adalah eidos. Sementara, yang faktual adalah benda-benda di dalam dunia nyata. Eidos adalah esensi dari benda-benda yang ada di dalam dunia konkret. Filsafat politik Platon juga berbicara tentang tata sosial masyarakat dengan menggunakan eidos sebagai panduannya, jadi bukan suatu tips praktis untuk membangun negara. Eidos adalah esensi yang bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, benda-benda di dunia konkret adalah benda-benda tidak abadi dan terus mengalami perubahan.

Platon secara tegas menentang relativisme dalam segala bentuknya. Relativisme adalah pengetahuan yang menyatakan, bahwa kebenaran itu bersifat plural, tergantung pada konteksnya. Menurut Platon, kebenaran semacam ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya adalah eidos dari kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak berubah. Segala pernyataan yang mengklaim kebenaran itu relatif masihlah berada di tataran realitas konkret sehari-hari, dan belum sampai pada eidos. Pengetahuan semacam itu masihlah merupakan doxa, yang belum mencapai kemurnian kebenaran.

Platon juga menjadikan filsafat sebagai jalan hidup. Jalan filsafat adalah jalan untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan. Jalan hidup lainnya berorientasi pada kenikmatan sesaat yang diberikan oleh materi. Sementara, jalan filsafat menawarkan kebahagiaan yang muncul, karena orang memandang kebaikan itu sendiri. Jalan hidup filsafat, menurut Platon, melepaskan orang dari penjara tubuh, yang membuat orang tidak mampu sampai pada kebenaran. Oleh karena itu, seorang filsuf tidaklah takut pada kematian. Kematian adalah pemusnahan badan. Jika badan dimusnahkan, maka jiwa terbebas dari penjara badan. Jiwa akan kembali menemukan kebenaran yang sempat diambil dari padanya.***

Filsafat Politik untuk Indonesia: Sebuah Pancingan Diskusi

Filsafat Politik untuk Indonesia

Sebuah Pancingan Diskusi

Reza A.A Wattimena

Mari kita mulai terlebih dahulu diskusi kita ini dengan beberapa pengertian mendasar. Setelah itu, barulah kita masuk ke diskusi-diskusi yang lebih mendalam mengenai filsafat politik, dan relevansinya untuk indonesia.

Filsafat

Apa itu filsafat? Secara literal, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yakni philia dan sophia. Philia berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. (Wattimena, 2008, 1)

Dalam konteks ini, filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan, dan seorang filsuf adalah orang yang mencintai kebijaksanaan. Orang yang mencintai kebijaksanaan bukanlah orang yang sudah memiliki kebijaksanaan, melainkan orang yang terus berupaya mencari kebijaksanaan.

Menurut saya, filsafat adalah suatu aktivitas, dan bukan sekedar mata kuliah saja. Ia berdiri secara formal sebagai mata kuliah, namun jangkauannya melampaui bangku dan ruang kelas kuliah.

Secara formal, filsafat adalah suatu aktivitas berpikir manusia mengenai segala sesuatu di dalam realitas, namun dilihat dari sudutnya yang paling mendasar, dan dilakukan secara terbuka, kritis, sistematis, dan rasional. Filsafat berbicara tentang semua hal, tentang tata sosial, ekonomi, budaya, seni, manusia, alam, dunia, dan Tuhan.

Namun, tidak seperti ilmu-ilmu empiris yang cenderung sibuk dengan hal-hal teknis displinnya masing-masing, sehingga nyaris buta terhadap ilmu lainnya, filsafat mendekati beragam fenomena dengan membongkar aspek-aspek dasariahnya. Proses pembongkaran itu dilakukan secara terbuka, kritis, rasional, dan sistematis.

Misalnya, saya ingin memahami manusia dengan menggunakan piranti filsafat. Apa yang membedakan pendekatan filsafat dengan pendekatan psikologi atau antropologi?

Di dalam psikologi, manusia dipahami sebagai agensi dari perilaku tertentu. Metode pendekatannya dilakukan dengan pengumpulan data, pengolahan statistik, dan penarikan kesimpulan. Sebagian besar penelitian dilakukan untuk membedah dimensi-dimensi empiris.

Dengan filsafat, pendekatan tidak dilakukan secara empiris, seperti dengan pengumpulan data, pengolahan statistik, ataupun dengan penarikan kesimpulan sementara. Filsafat mendekati manusia secara reflektif dan analitis. Data empiris hanyalah titik tolak untuk menggali apa yang menjadi akar hakiki dari manusia.

Filsafat menjadikan data sebagai titik tolak, dan menembus data tersebut untuk menemukan apa yang paling hakiki dari manusia. Dalam hal ini, filsafat memang lebih radikal daripada psikologi dalam upayanya memahami manusia.

Ellias Canetti seorang filsuf-antropolog asal Eropa Timur pernah mengatakan, bahwa lepas dari semua topeng peradabannya, manusia pada dasarnya menyerupai hewan. Perilaku dan sifat-sifatnya menampakkan gejala hewani.

Ia bisa berkumpul seperti tawon untuk menyerang musuh, gejala yang dengan mudah ditemukan di dalam perkelahian massal. Ia juga bisa dengan mudah melakukan tipu muslihat, sama seperti rubah menipu manusia dengan gerak geriknya.

Seorang psikolog dan antropolog tidak akan berani menarik kesimpulan sejauh itu, kecuali mereka memasuki ranah filsafat. Di era sekarang ini, pendekatan interdispliner untuk memahami berbagai fenomena di dunia mulai menjadi acuan.

Tujuannya adalah, supaya data-data yang diperoleh dapat diolah dengan berbagai perspektif dan menghasilkan berbagai terobosan-terobosan pemahaman baru. Dengan demikian, filsafat adalah pola pendekatan terhadap realitas dengan menggunakan aktivitas berpikir yang bersifat terbuka, kritis, sistematis, dan rasional.

Terbuka, artinya filsafat merupakan suatu proses yang tidak pernah mencapai kata final. Kritis, artinya filsafat mampu mempertanyakan segala sesuatu, bahkan dirinya sendiri.

Sistematis, artinya filsafat haruslah didasarkan pada kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan prinsip koherensi yang tidak menyalahi aturan logika. Dan rasional, artinya filsafat tidak boleh mengacu pada iman, sentimen, perasaan, tetapi melulu mengacu pada kemampuan akal budi manusia untuk memahami realitas.

Filsafat Politik

Filsafat politik dapat didefinisikan sebagai suatu refleksi filsafat tentang bagaimana kehidupan bersama kita ditata. Soal-soal kehidupan bersama itu mencakup tata politik, bentuk negara, pengaturan pajak, tata ekonomi, dan sebagainya. (Routledge Encyclopedia of Philosophy)

Seorang filsuf politik hendak merumuskan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi dari suatu bentuk negara tertentu. Ia juga sering menyatakan dengan jelas, bahwa manusia, siapapun itu, memiliki hak-hak dasar yang tidak bisa ditolak keberadaannya.

Di dalam bidang ekonomi, banyak filsuf politik mengajukan suatu ide dasar tentang pembagian kekayaan ekonomi ke seluruh warga negara yang mengacu pada prinsip keadilan. Refleksi filsafat di dalam bidang ini biasanya dilakukan dengan menafsirkan ulang prinsip-prinsip hidup sosial, seperti keadilan, kebebasan, kekuasaan, dan kemudian diaplikasikan secara kritis pada kondisi sosial politik yang tengah terjadi.

Beberapa filsuf politik lainnya telah mencoba memberikan justifikasi bagi berdirinya suatu pemerintahan tertentu, sementara beberapa lainnya memberikan kritik tajam bagi kondisi sosial politik yang terjadi, dan kemudian merumuskan sendiri suatu bentuk negara ideal yang mungkin sangat berbeda dengan apa yang telah dialami secara empiris.

Filsafat politik telah lahir semenjak manusia mulai menyadari, bahwa tata sosial kehidupan bersama bukanlah sesuatu yang terberi secara alamiah, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terbuka untuk perubahan. Oleh karena itu, tata sosial-ekonomi-politik merupakan produk budaya, dan memerlukan justifikasi filosofis untuk mempertahankannya.

Lahirnya suatu refleksi filsafat politik sangat dipengaruhi oleh konteks epistemologi dan metafisika jamannya, sekaligus mempengaruhi jamannya. Jadi, filsafat itu dipengaruhi sekaligus mempengaruhi jamannya. Inilah lingkaran dialektis yang terus menerus berlangsung di dalam sejarah.

Perkembangan di dalam epistemologi dan metafisika mempengaruhi asumsi-asumsi yang digunakan oleh para filsuf politik untuk merumuskan pemikirannya. Pada abad pertengahan, banyak filsuf politik mengawinkan relfkesi teologi Kristiani dengan filsafat Yunani Kuno untuk merumuskan refleksi filsafat politik mereka.

Filsafat politik juga seringkali muncul sebagai tanggapan terhadap situasi krisis jamannya. Pada era abad pertengahan, tema relasi antara negara dan agama menjadi tema utama filsafat politik.

Pada era modern, tema pertentangan antara kekuasaan absolut dan kekuasaan raja yang dibatasi oleh konstitusi menjadi tema utama refleksi filsafat politik. Pada abad ke-19, pertanyaan tentang bagaimana masyarakat industri harus menata ekonominya, yakni apakah melulu dengan mengacu pada liberalisme pasar atau menciptakan negara kesejahteraan, menjadi tema utama filsafat politik.

Jika mempelajari sejarah filsafat politik, maka akan tampak beberapa pertanyaan abadi yang menjadi pergulatan para filsuf. Beberapa diantaranya adalah, bagaimana seseorang bisa mendaku otoritas untuk memerintah orang lainnya? Apakah suatu prinsip, yang dirumuskan oleh seorang filsuf politik, memiliki keabsahan universal yang berlaku lintas jaman dan lintas tempat, atau merupakan ekspresi dari nilai-nilai partikular suatu komunitas tertentu?

Suatu rumusan filsafat politik memiliki aspek-aspek antropologis yang mendasarinya. Aspek antropologis ini menyangkut pemahaman tentang hakekat dari manusia, atau karakter dasariah dari manusia.

Untuk memberi pendasaran bagi suatu tata politik-sosial-ekonomi-budaya tertentu, rumusan filsafat politik haruslah mengajukan suatu konsep tentang manusia, tentang kebutuhan-kebutuhannya, kemampuan-kemampuannya, tentang apakah manusia itu melulu egois, atau mampu menjadi mahluk altruis, dan sebagainya. Akan tetapi, apakah konsep itu berlaku universal lintas tempat dan lintas waktu, ataukah merupakan ciri khas dari suatu kultur partikular komunitas tertentu?

Secara kasar, setidaknya ada dua bentuk tipe filsafat politik yang berkembang di dalam sejarah. Yang pertama adalah filsafat politik yang terintegrasi secara koheren dengan suatu sistem filsafat tertentu yang lebih besar, seperti dalam filsafat Thomas Aquinas, Hegel, dan Plato.

Sistem pemikiran filsafat secara menyeluruh biasanya membentuk suatu sistem metafisika, dan filsafat politik hanya satu aspek di dalamnya. Hegel menjelaskan sejarah dunia sebagai sejarah alienasi roh absolut, dan filsafat politik hanya salah satu bagian saja.

Di sisi lain, ada para filsuf politik yang tidak mengajukan suatu sistem metafisika tertentu, tetapi memberikan kontribusi bsar di dalam filsafat politik secara spesifik. Merek adalah Cicero, Machiavelli, Rousseau, dan Marx. Pada abad kedua puluh, kita juga mengenal Hannah Arendt, Foucault, Habermas, dan Charles Taylor.

Untuk Indonesia

Apa peran filsafat politik untuk Indonesia? Pada hemat saya, ada tiga peran filsafat politik untuk Indonesia, yakni mendefinisikan ulang konsep dan praktek politik di Indonesia secara jernih, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap praktek-praktek sosial yang tengah terjadi, dan mengajukan suatu bentuk tata sosial tertentu yang lebih baik.

Pertama, Filsafat politik dapat dijadikan alat untuk mengajukan mendefinisikan ulang konsep-konsep dan praktek politik yang telah lama dilakukan di Indonesia, seperti konsep negara, konsep kekuasaan, konsep otoritas, peran hukum, aspek keadilan di dalam hukum. Dalam bidang hukum misalnya, banyak pelaku korupsi di berbagai bidang lolos begitu saja dari jeratan hukum, karena tidak ada UU yang pas untuk menjeratnya.

Filsafat hukum mengajukan proposisi, bahwa hukum tidak hanya mengacu pada rumusan baku saja, tetap pada rasa keadilan yang sudah ada di dalam masyarakat. Rumusan hukum harus mengacu pada rasa keadilan.

Tanpa keadilan, hukum adalah penindasan. Hukum merupakan terjemahan teknis dari keadilan. Melakukan praktek hukum tanpa dasar keadilan berarti membunuh ibu dari hukum itu sendiri.

Proses mendefinisikan ulang sesuatu membutuhkan kerangka normatif, dan filsafat menyediakan itu. Suatu penilaian haruslah berbasis pada kriteria penilaian tertentu, dan di dalam bidang politik, filsafat politik menyediakan itu.

Tanpa wawasan filsafat politik yang kuat, kita tidak akan mampu melakukan kritik ideologi secara jernih dan sistematis, karena kita tidak memiliki basis normatif untuk membuat suatu penilaian terhadap kebijakan politik tertentu. Praktek-praktek politik di Indonesia yang kotor dapat dibedah secara rasional dan sistematis, jika kita, sebagai warga negara, memiliki wawasan filsafat politik yang kuat.

Kedua, filsafat politik mampu menjadi alat untuk melakukan kritik ideologi. Sebuah bangsa, mau tidak mau, hidup dalam suatu ideologi tertentu. Ideologi mencerminkan pandangan dasar yang dianut secara naif oleh suatu bangsa, dan tidak lagi dipertanyakan.

Filsafat politik, sebagai aktivitas berpikir secara terbuka, rasional, sistematis, dan kritis tentang kehidupan bersama, mampu menjadi alat yang kuat untuk membongkar kesesatan-kesesatan berpikir yang ada di dalam ideologi-ideologi tersebut. Contoh paling konkret adalah pendirian Indonesia dengan berbasis Islamisme.

Islamisme adalah suatu ideologi yang menyatakan dengan tegas, bahwa semua kehidupan publik dan privat warga negara haruslah diatur berdasar asas-asas Islam yang dominan. Filsafat bisa mempertanyakan, konsep manusia macam apakah yang dianut oleh Islamisme? Apakah konsep itu sesuai dengan kondisi yang ada? Apakah hanya ada satu Islam di Indonesia ini?

Filsafat politik mampu membongkar secara sistematis kesesatan berpikir yang terdapat di dalam ideologi Islamisme, maupun ideologi-ideologi lainnya, seperti liberalisme, amerikanisme, marxisme, komunisme, dan sebagainya. Filsafat politik dapat dipandang sebagai pencair dari kebekuan berpikir yang sangat mudah ditemukan di dalam ideologi-ideologi.

Ketiga, filsafat tidak hanya mau berhenti menjadi pengkritik saja, tetapi juga maju mengajukan suatu model tata sosial politik alternatif yang mungkin. Tata sosial politik itu berbasis pada prinsip-prinsip keadilan, kebebasan, dan solidaritas.

Contoh yang paling mungkin adalah wacana multikulturalisme di dalam filsafat yang, pada hemat saya, sangat cocok sebagai alternatif tata sosial politik di Indonesia. Multikulturalisme adalah suatu paham yang berpendapat, bahwa kehidupan sosial manusia diwarnai oleh banyak cara hidup, cara berpikir, dan cara berkomunitas yang berbeda satu sama lain, namun kesemuanya harus ditempatkan setara secara kultural maupun secara yudisial dengan prinsip penghormatan sebagai satu bangsa.

Kemerdekaan bentuk-bentuk kehidupan, pemikiran, cara berkomunitas menandakan pluralisme yang diakui dan dikembangkan terus menerus. Sementara, prinsip penghormatan satu sama lain menandakan adanya solidaritas dan kesatuan.

Tata sosial politik semacam ini baru bisa terwujud, jika trauma sosial sudah bisa dicairkan, dan peristiwa-peristiwa negatif masa lalu, seperti penculikan, pembantaian massal, dan sebagainya dijamin tidak lagi terulang. Filsafat dapat memberikan kontribusi di dalam proses bangsa ini untuk menjadi semakin beradab, makmur, adil, dan manusiawi.***

Kreativitas, Manajemen, dan Filsafat

Kreativitas Universal

Reza A.A Wattimena

Pandangan umum mengatakan, bahwa kreativitas haruslah muncul dari kebebasan, narkoba, rokok, penderitaan, alkohol, anarkisme, dendam, dan emosi-emosi negatif lainnya. Kreativitas identik dengan ‘seniman’, dan ‘seniman’ identik dengan anarkisme.

Selama anda belum anarkis, seperti para ‘seniman’, maka anda tidak mungkin menjadi orang kreatif. Apakah harus seperti itu? Bagaimana supaya kita kaya akan inovasi-inovasi di dalam hidup kita, tanpa harus menjadi ganas dan liar? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kreativitas?

Beberapa Jawaban

Peter Drucker, seorang ahli manajemen terkemuka, mengajukan jawaban. Baginya, kreativitas adalah kemampuan orang untuk menemukan peluang-peluang baru di dalam mengembangkan dirinya.

Kemampuan tidak hanya bisa dimiliki oleh orang individual saja, tetapi juga bisa oleh organisasi, baik perusahaan maupun organisasi lainnya. Drucker juga secara tegas menyatakan, bahwa di dalam bisnis, kreativitas itu identik dengan praktek inovasi, yakni praktek membuka peluang-peluang baru.

Ada tujuh peluang, yakni peristiwa-peristiwa yang tak terduga, inkongruensi, proses-proses pemenuhan kebutuhan, perubahan pasar, perubahan kondisi demografis, perubahan persepsi masyarakat, dan kemungkinan diciptakannya pengetahuan baru. (Drucker, 2002, 96) Kreativitas yang terwujud dalam praktek inovasi ini dapat dilakukan, jika orang mau dan mampu melakukan praktek yang fokus, sistematis, dan rutin untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

Kata kunci disini adalah fokus mewujudkan tujuan dengan mengambil peluang yang terbuka. Di titik ini dapatlah ditafsirkan, bahwa fokus merupakan hakekat dari kreativitas.

Di sisi lain, Nietzsche, filsuf Jerman abad ke 18, juga menegaskan, bahwa kreativitas adalah kemampuan manusia untuk memfokuskan dorongan-dorongan hasrat di dalam dirinya pada suatu tujuan yang produktif. Orang yang tidak mampu mengendalikan hasratnya adalah orang yang lemah secara kehendak.

Ia tidak akan mampu melakukan inovasi-inovasi secara kreatif. Sebaliknya, orang yang terlalu kuat mengendalikan hasratnya akan jatuh ke dalam dogmatisme.

Jika sudah seperti itu, maka kreativitasnya mati. Orang ini pun tidak mampu untuk menjadi kreatif.

Dengan demikian, Nietzsche menegaskan, bahwa hakekat dari kreativitas adalah kemampuan orang untuk fokus pada tujuan yang spesifik. Fokus semacam itu akan membuat orang tidak lagi dijajah oleh hasrat-hasratnya.

Akan tetapi, fokus juga tidak boleh menjadi dogma, karena ini juga akan menghambat kreativitas. Fokus berarti orang memiliki tujuan yang jelas, sekaligus terbuka pada peluang-peluang baru untuk mewujudkan tujuan itu.

Kreativitas Universal

Pada hemat saya, pandangan Drucker dan Nietzsche sangatlah tepat. Kreativitas bukanlah monopoli para seniman saja, tetapi milik setiap orang yang mau berusaha untuk fokus mewujukan tujuannya.

Mereka melawan pandangan lama yang menyatakan, bahwa kreativitas identik dengan anarkisme, kebebasan, serta keliaran. Drucker dan Nietzsche dengan jelas menyatakan, bahwa kreativitas itu adalah praktek yang tersistematisir, fokus, dan rutin pada satu tujuan yang spesifik.

Praktek semacam itu sama sekali tidak anarkis. Sebaliknya, praktek tersebut sangat terencana dan logis. Praktek ini pula yang dilakukan oleh banyak orang, sehingga mereka bisa secara kreatif menemukan hal-hal baru yang meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Memang, Drucker dan Nietzsche menyatakan, bahwa esensi dari kreativitas adalah fokus pada tujuan yang spesifik. Akan tetapi, tujuan macam apakah yang seharusnya menjadi fokus? Dan, apa yang membuat tujuan tersebut menjadi sah?

Sejauh saya membaca, Drucker tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Namun dalam tulisan-tulisannya ia menegaskan bahwa di dalam bisnis, tujuan dari kreativitas adalah menciptakan bisnis yang bermakna (meaningful business), baik secara material maupun secara spiritual.

Secara material berarti, bahwa bisnis itu mampu menghasilkan keuntungan, dan memberi makan orang banyak. Secara spritual berarti, bisnis tersebut tidak hanya bertujuan mencari keuntungan, tetapi mengembangkan kebudayaan masyarakat, di mana bisnis itu tumbuh dan berkembang.

Yang sering terjadi adalah, bahwa tujuan utama kreativitas dan inovasi di dalam bisnis adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk memuaskan kerakusan beberapa pihak saja. Dalam arti ini, pemikiran Drucker diselewengkan dari tujuan awalnya menjadi pemikiran yang berguna sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan kapitalis murni, yakni menumpuk keuntungan sebanyak-banyaknya, dan membagikannya ke sesedikit mungkin orang.

Dalam arti ini, kreativitas dan inovasi menjadi luntur maknanya. Bisnis pun tidak lagi berkembang sebagai bisnis yang bermakna, tetapi menjadi bisnis yang menghancurkan.

Yang mau saya tegaskan adalah, bahwa kreativitas dan inovasi haruslah dibalut dengan tujuan-tujuan kemanusiaan, yakni mengembangkan kualitas hidup sebanyak mungkin orang. Kemanusiaan haruslah menjadi nilai esensial dari kreativitas dan inovasi di dalam bidang bisnis, maupun di dalam bidang-bidang kehidupan sosial lainnya. Inilah imperatif klasik yang sudah terlupakan di dalam kehidupan bersama kita.***

Mari Belajar untuk menjadi orang yang otentik, yang jujur dan setia pada dirinya sendiri!

Menjadi Manusia Otentik

Reza A.A Wattimena

Orang yang otentik adalah orang yang bahagia. Mereka adalah orang bebas. Otentisitas adalah hal terindah yang bisa ditawarkan oleh kehidupan kepada kita.

Oleh karena itu, setiap orang perlu menjadikan otentisitas sebagai tujuan hidupnya.[1] Ungkapan ini tampaknya tidak berlebihan.

Banyak orang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidupnya, dan kebahagiaan yang sejati hanya dapat diperoleh, jika orang mau menjadi dirinya sendiri yang otentik, yang asli, yang tidak dilumuri kemunafikan.

Banyak buku, majalah, talk show di televisi, termasuk Oprah, menjadikan otentisitas sebagai tema utama mereka. Beberapa buku best seller juga mengupas tema ini secara populer.

Ide normatif dari otentisitas adalah, supaya orang bisa menjadi dirinya sendiri secara sungguh-sungguh. Dalam arti ini, terutama di era ketidakpastian politik, ekonomi, dan sosial seperti sekarang, otentisitas merupakan tujuan tertinggi yang bisa diraih manusia.

Akan tetapi sampai sekarang, banyak buku-buku self-help masih mengajarkan orang untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Buku-buku itu mengajarkan, supaya orang menjadi lebih dari dirinya sendiri, menjadi lebih baik, dan menjadi seperti tokoh-tokoh tertentu yang sudah sukses, baik di bidang ekonomi maupun kemanusiaan.

Inilah yang disebut David Riesman sebagai “individu yang terarah pada individu yang lain” (other-directed individual).[2] Buku-buku semacam ini berdiri di atas pengandaian, bahwa ada orang yang belum berkembang secara maksimal.

Oleh karena itu, orang-orang semacam itu perlu dibantu, supaya mereka menyadari bakat-bakat yang mereka miliki, dan mengembangkannya secara maksimal. Setiap orang diajak untuk meraih sesuatu yang belum mereka miliki, terutama dengan mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Menurut Guignon, pandangan semacam itu justru membuat orang tidak menjadi otentik. Orang menjadi palsu, karena ia ingin menjadi apa yang bukan dirinya sendiri.

“Ideal kontemporer tentang otentisitas”, demikian tulisnya, “mengarahkan anda untuk menyadari dan menjadi apa yang sudah merupakan diri anda sendiri, yang unik, karakter-karakter definitif yang sudah ada di dalam diri anda.”[3]

Fritz Perls, seorang terapis eksistensial, berpendapat bahwa, orang yang tidak bisa menjadi otentik dapat dikategorikan sebagai orang yang neurosis. Neurosis sendiri adalah suatu kondisi, di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri.

Orang yang neurosis telah mengorbankan diri mereka sendiri justru untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna.

Bisa juga dibilang, mereka sudah mati, walaupun tubuhnya masih hidup. Buku-buku self help yang banyak beredar sekarang ini tampaknya sesuai dengan analisis Perls tersebut.

Orang diajarkan untuk menjadi kaya melalui cara-cara tertentu, yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri mereka. Akibatnya, banyak orang mengorbankan dirinya sendiri justru untuk mengembangkan dirinya. Jika diri sendiri sudah dikorbankan, maka perasaan hampa makna adalah konsekuensi logisnya.[4]

Jelaslah, bahwa berani untuk menjadi diri sendiri adalah sumber kebahagiaan. Berani untuk menjadi diri sendiri, apapun itu, adalah obat anti neurosis.

Oleh karena itu, pandangan ini layak menjadi tujuan hidup setiap orang. Walaupun begitu, pandangan ini juga sangat sulit diwujukan dalam realitas.

Masyarakat dan dunia sosial keseluruhan mempunyai aturan dan tuntutan, yang seringkali menghalangi orang untuk menjadi dirinya sendiri. “Segala sesuatu di dalam eksistensi sosial”, demikian Guignon, “menarik kita menjauh dari upaya untuk menjadi diri kita sendiri, untuk alasan sederhana bahwa masyarakat bekerja secara maksimal dengan membuat orang terkurung di dalam mekanisme kehidupan sehari-hari.”[5]

Dunia sosial akan berjalan lancar, jika orang memandang diri mereka sendiri sesuai dengan peran sosialnya, serta menjalankan tugas-tugasnya di dalam fungsi sosial tanpa ragu-ragu. Dunia sosial dan peran sosial yang dipaksakan mendorong orang untuk menjadi tidak otentik.

Spiritualitas yang kokoh dan cara pandang yang jernih terhadap realitas merupakan kunci untuk tetap otentik di dalam dunia sosial.

Asumsi dasar dari semua teori tentang otentisitas adalah, bahwa di dalam diri setiap orang terdapat jati diri yang sejati, yang membedakan orang tersebut dari orang-orang lainnya. Jati diri sejati ini mengandung perasaan-perasaan, kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat, kemampuan-kemampuan, dan kreativitas yang membuat orang tertentu unik, jika dibandingkan dengan orang lainnya.

Menurut Guignon, konsep otentisitas memiliki dua aspek pemahaman. Yang pertama adalah pemahaman, bahwa untuk menjadi otentik, orang perlu menemukan jati diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika orang mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, barulah ia mampu mencapai eksistensi diri yang otentik.

Yang kedua, selain menemukan jati diri sejatinya, orang juga perlu mengekspresikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dunia sosial. Orang perlu untuk menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan orang lain. Hanya dengan mengekspresikan jati diri sejatinyalah orang dapat mencapai kepenuhan diri penuh sebagai manusia yang otentik.

Guignon lebih jauh berpendapat, bahwa wacana tentang otentisitas diri manusia terkait erat dengan pertanyaan yang sangat mendasar, yakni apa yang paling bermakna di dalam hidup manusia? Dari sudut pandang filsafat manusia, ada dua kemungkinan jawaban.

Yang pertama adalah, bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang otentik, yakni hidup berdasarkan keyakinan sendiri. Orang diminta untuk hidup sesuai dengan dirinya sendiri, dan bukan atas keinginan orang lain. Seperti sudah disinggung sebelummya, pandangan ini berdiri di atas pengandaian, bahwa setiap orang memiliki potensi dan bakat yang pantas untuk diekspresikan di dalam aktivitasnya di dunia.[6]

Pandangan kedua menekankan, bahwa untuk mencapai hidup yang bermakna, orang perlu mengosongkan dirinya sendiri, dan mengikatkan dirinya pada sesuatu yang lebih besar. Cara pandang ini menegaskan, bahwa orang perlu untuk melepaskan perasaan-perasaan pribadinya, dan mengabdi pada cita-cita yang luhur di luar dirinya sendiri.

Cara pandang ini berakar pada pemikiran Dostoevsky, terutama pada novel Brother Kamazarov, ataupun buku-buku lainnya. Di dalam tulisan-tulisannya, Dostoevsky berpendapat, bahwa konflik di dalam dunia modern muncul, karena orang terlalu berfokus pada dirinya sendiri, sehingga menjadi sangat individualistik.

Orang seolah terpukau pada dirinya sendiri, sehingga ia terobsesi pada kesuksesan pribadi, dan menganggap orang lain sebagai musuh. Orang saling terisolasi satu sama lain, dan hidup dalam permusuhan.

Orang terputus dari komunitasnya, sehingga hidup selalu diwarnai kompetisi, agresivitas, kecemburuan, keterasingan, dan pada akhirnya menciptakan kesedihan yang mendalam. Untuk melawan semua itu, orang perlu melepaskan dirinya dari keinginan dan hasrat.

Orang perlu untuk merasa bebas, bahkan dari dirinya sendiri, sehingga terciptalah situasi yang damai. Dengan melepaskan dirinya sendiri, orang bisa bersatu dengan dunia sosial. Hidup pun mengalir dalam kebersamaan dan harmoni.[7]

Cara pandang terakhir ini mengajak orang untuk keluar dari kesibukan untuk menjadi diri sendiri, yang justru diidealkan oleh teori otentisitas. Dari sudut pandang ini, menurut Guignon, tujuan tertinggi dari kehidupan adalah menjadi peka terhadap panggilan dari sesuatu yang lebih tinggi dari diri manusia itu sendiri.

Orang diajak untuk menyerahkan dirinya pada kehendak Tuhan, pembentukan solidaritas, ataupun pada perjuangan untuk meningkatkan kebebasan di masyarakat. Inti utama dari pandangan ini adalah, bahwa manusia haruslah melepaskan diri dari egonya sendiri yang justru membuatnya tidak bahagia.

Dua pandangan ini mendominasi panggung filsafat barat, terutama pemikiran para filsuf yang merefleksikan manusia secara filosofis. Bagi para pendukung teori otentisitas, pandangan bahwa manusia haruslah mengosongkan dirinya untuk menjadi otentik adalah suatu pelecehan terhadap tanggung jawab orang untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Dengan mengosongkan dirinya sendiri dan berserah pada sesuatu yang lebih besar dari pada dirinya sendiri, orang justru melarikan diri dari tanggung jawabnya sendiri terhadap hidupnya. Orang menjadi dependen.

Para pendukung teori otentisitas yakin, bahwa orang baru dapat hidup secara penuh dan bahagia, jika ia menentukan sendiri hidupnya, dan bertanggung jawab atasnya.

Dari sudut pandang pendukung teori kekosongan diri, hidup yang ditujukan untuk mencapai ideal diri sendiri memiliki masalah yang besar. Bagi banyak orang, proses untuk mencapai otentisitas ideal diri sendiri justru berakhir pada kekecewaan dan kegagalan.

Orang yang gagal mewujudkan ideal ini akan merasa, bahwa ia telah gagal dalam hidupnya. Dapat juga dikatakan, bahwa proses untuk menjadi diri sendiri adalah proses yang elusif, yakni proses yang selalu lepas dari genggaman, walaupun orang sudah berusaha keras menggenggamnya.

Di lubang elusifitas ini, banyak penulis menawarkan tips-tips tentang bagaimana supaya orang bisa menjadi dirinya sendiri. “Seringkali”, demikian tulis Guignon, “program-program pelatihan untuk menjadi diri sendiri terbukti menipu, koersif, manipulatif, mengontrol partisipan, dan eksploitatif secara finansial.”[8]

Disinilah ironisnya, bahwa orang justru kehilangan dirinya sendiri, ketika ia mencoba menemukannya dengan menggunakan pelatihan-pelatihan yang ditawarkan. Pada hemat saya, searah dengan Guignon, program pelatihan yang ditawarkan buku-buku psikologi populer, yang dirancang untuk membantu orang menemukan dirinya sendiri, justru membuat orang terperangkap di dalam cara berpikir ideologis yang sesuai dengan kemauan para perancang program tersebut, yakni kelompok dominan di dalam masyarakat.

Akibatnya, orang yang tidak dapat mencapai cara hidup dari ideologi dominan tersebut akan merasa hampa. Mereka akan merasa bahwa apapun yang mereka lakukan selalu gagal.

Mereka tidak berdaya, dan justru tidak akan pernah bahagia, selama mereka masih menggunakan cara berpikir kelompok dominan di dalam masyarakat, yang seringkali tidak cocok dengan mereka. Pertanyaan sah selanjutnya adalah, dimanakah posisi anda?

Apakah anda adalah orang yang terus menerus berusaha otentik dengan menjadi diri sendiri, lepas dari apa kata orang lain tentang diri anda? Atau, anda adalah orang yang siap untuk mengorbankan diri untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dari pada diri anda melalui pengabdian dan pengorbanan?

Jawaban saya kembalikan pada anda.***


[1] Tulisan pada bab ini diinspirasikan dari pemikiran Charles Guignon, On Being Authentic, London, Routledge, 2004, hal. 1. Ia mengutipnya dari sebuah website di Amerika.

[2] David Riesman, The Lonely Crowd: A Study of Changing American Character, New Haven, Yale University Press, 1950, dalam ibid, hal. 2.

[3] Guignon, 2004, hal. 3.

[4] Lihat, Fritz Perls, “Four Lectures,” in J.Fagan and I.L.Shepherd, eds., Gestalt Therapy Now, New York, Harper Colophon, 1970, hal. 20, 22, dalam Ibid.

[5] Guignon, 2004, hal. 3.

[6] Lihat, ibid, hal. 4.

[7] Lihat, ibid.

[8] Ibid, hal. 5.