Untuk Eric Mulyadi Santosa

cdn1.1stwebdesigner.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Januari 2008, Atma Jaya, Jakarta, saya lupa tepatnya. Itulah ketika saya pertama kali berjumpa dengan Eric Mulyadi Santosa. Saya sudah sering mendengar namanya waktu itu. Namun kami belum pernah berjumpa langsung.

Percakapan pertama kali kami adalah soal apa itu manusia. Wah memang terdengar berat sekali, tetapi itulah yang terjadi. Ia dulu bilang begini, “manusia itu bukan substansi, tetapi jaringan.” Saya langsung setuju dengan pendapat itu.

Saya merasa berbicara dengan cermin. Yah, bagaikan berbicara dengan diri sendiri. Sejak awal berbicara kami langsung nyambung, terutama tentang tema-tema yang terkait dengan kehidupan manusia. Dalam banyak hal kami juga amat mirip.

Eric cenderung mengatakan segala sesuatu secara tegas. Saya pun sama. Ketika di kelas ia tidak ragu untuk bilang begini, “paper-mu dangkal.” Saya pun sama. Hehehe… Tak perlu diragukan lagi. Saya dan Eric memiliki posisi teoritis maupun nilai-nilai kehidupan yang “sama”. Lanjutkan membaca Untuk Eric Mulyadi Santosa

Iklan

Horor Kebudayaan

2.bp.blogspot.com

OLEH INDRA TRANGGONO

Kecuali sibuk menjadi panitia pasar bebas, para penyelenggara negara saat ini bergerak nyaris tanpa gagasan dan praksis ideologis yang berbasis pada kultur kebangsaan.

Antara struktur dan kultur terbentang lubang besar; dalam dan gelap. Di situ terjadi praktik berbagai anomali nilai, antara lain, dalam politik dan ekonomi. Anomali politik tampak pada crime democracy, demokrasi curang, yang menjadikan politik tak lebih siasat jahat untuk menggenggam kekuasaan. Politik dipisahkan dari keagungannya: martabat. Politik takluk pada berhala uang.

Anomali ekonomi melahirkan hegemoni kelas berkuasa yang berujung pada penumpukan modal, aset negara, dan pemusatan akses ekonomis. Akibatnya, keadilan dan kesejahteraan tak terdistribusi optimal. Peternakan kemiskinan (masyarakat miskin) dan perluasan lapangan pengangguran jadi kenyataan yang menikam hati nurani bangsa.

Dua anomali tersebut membuyarkan cita-cita besar membangun negara kesejahteraan. Lanjutkan membaca Horor Kebudayaan

Yang-Lain

immaculateheartacademy.org

Oleh Goenawan Mohamad

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna.

Saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Tapi ia ingat: mantra yang lengkap itu tak diberikan kepadanya oleh gurunya, Rama Bargawa. Sang guru membatalkan memberinya versi yang penuh, karena ia dianggap telah berdusta: ketika ia datang berguru, Karna tak mengaku ia datang dari kasta ksatria—kasta yang bagi Rama Bargawa, yang berasal dari kaum brahmana dan punya dendam khusus kepada para ksatria, harus dimusnahkan.

”Tapi hamba memang bukan dari kasta itu,” Karna ingin memprotes ketika sang guru membongkar ”kepalsuan” dirinya. Tapi protes itu, seperti air matanya, harus ia tahan. Ia segera kembali ke asrama, mengemasi pakaian dan busur serta panahnya, lalu pergi seperti dikehendaki: seorang murid yang diusir. Lanjutkan membaca Yang-Lain

Dekonstruksi Penampilan Profesional

chestofbooks.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga 24 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa artinya menjadi seorang profesional? Saya melihat setidaknya dua hal yang terkandung di dalam kata ini. Yang pertama adalah kompetensi seseorang di dalam satu bidang. Yang kedua adalah pemberian diri atau totalitas untuk melayani masyarakat di bidang tersebut. Saya akan coba bahas satu per satu tentang ini.

Profesional

Yang pertama; profesionalitas selalu terkait dengan kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan pada satu bidang yang lahir dari latihan, ketekunan, kemampuan bertahan di dalam kesulitan, serta komitmen.

Misalnya saya adalah seorang dosen profesional di bidang filsafat. Artinya saya terlatih untuk berpikir dan menulis filsafat, terus bertahan di tengah kesulitan belajar dan mengajarkan filsafat, serta memiliki komitmen teguh untuk terus mengembangkan filsafat di Indonesia. Anda bisa deret banyak contoh lainnya. Lanjutkan membaca Dekonstruksi Penampilan Profesional

Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

3.bp.blogspot.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga Surabaya, 19 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Ruang publik adalah sebuah ruang tempat dibentuk dan dimatangkannya opini publik. Di dalamnya orang-orang berkumpul, saling bertukar pendapat, saling memahami, dan sampai pada satu keputusan tentang satu masalah di dalam hidup bersama. (Wattimena, 2007)

Misalnya ada masalah terkait seorang mahasiswa yang terpaksa putus kuliah. Pihak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) Fakultas akan menanyakan penyebab utama dari peristiwa ini kepada dekanat. Lalu pihak BLM juga akan bertanya kepada mahasiswa terkait, apakah ia menerima keputusan ini dengan lapang dada. Jika ada masalah maka BLM akan membuat forum.

Forum ini bertujuan untuk dua hal, yakni perubahan keputusan, atau menjelaskan keputusan yang telah dibuat, sehingga seluruh pihak yang terkait bisa memahaminya. Tujuan forum adalah memberi legitimasi bagi setiap keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.  Lanjutkan membaca Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan