Mengembangkan Filsafat Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Cukup lama, saya mengunjungi berbagai kelas filsafat di Eropa. Tentu saja, filsafat Barat amat kental berkembang di sana. Banyak ahli yang mendalami satu bidang tertentu di dalam filsafat Barat, misalnya filsafat Yunani kuno atau filsafat Jerman, lalu mengajar di berbagai universitas. Dengan cara ini, filsafat Barat, atau lebih tepatnya filsafat Eropa, mampu memelihara dan mengembangkan identitasnya.

Namun, di Eropa, pemahaman tentang filsafat Asia amatlah kurang. Belahan dunia lainnya, seperti Asia, Amerika, Afrika dan Australia, memang dianggap tidak menelurkan pemikiran filsafat tertentu. Jika pun ada kuliah ataupun penelitian filsafat tentang peradaban di luar Eropa, nuansa orientalisme masih amatlah kuat. Dalam arti ini, orientalisme adalah pandangan yang berusaha memahami kebudayaan lain dengan menggunakan kaca mata pemikiran Eropa. Pola ini tentu akan jatuh ke dalam kesalahpahaman.

Lalu, bagaimana dengan filsafat Indonesia? Apakah mungkin Indonesia mempunyai ajaran filsafat tersendiri? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami arti dari Indonesia dan arti dari filsafat itu sendiri.

Indonesia

Sebagai sebuah bangsa dan tata negara, Indonesia lahir dari penjajahan negara-negara Eropa, terutama Belanda. Sebelum masa penjajahan, atau masa kolonialisme, tidak ada yang disebut sebagai Indonesia. Yang ada adalah beragam kerajaan mandiri dengan budaya dan keunikannya masing-masing. Setelah 1945, berkat kesamaan nasib hidup penjajahan selama ratusan tahun, lahirlah Indonesia sebagai sebuah kesadaran, pemahaman, sebagai bangsa dan tata negara (berikutnya ditambahkan beberapa daerah lainnya).

Pada hemat saya, Indonesia tidak memiliki ajaran filsafat tertentu. Yang dimiliki oleh Indonesia, sebagai sebuah bangsa-negara yang begitu majemuk, adalah beragam  pandangan dunia (Weltanschauungen) atau alam pikir yang telah ada serta berkembang selama ribuan tahun. Pandangan dunia ini menjadi bagian dari budaya, lalu menghasilkan beragam produk budaya, seperti tata nilai, ritual, pakaian, makanan, pola perilaku dan sebagainya. Inilah yang lebih banyak dikenal sebagai kearifan-kearifan lokal (local wisdoms) Indonesia.

Pandangan dunia adalah sekumpulan pemahaman tentang segala hal terkait hidup pribadi maupun hidup bersama yang tertanam di dalam sebuah kelompok budaya tertentu, serta menjadi bagian dari identitas mereka. Pandangan dunia bisa dipahami dari lima titik.

Sistematika Pandangan Dunia

Titik pertama adalah kosmologi. Kosmologi adalah pandangan sebuah kelompok budaya tentang alam yang mereka tempati, termasuk di dalamnya pandangan tentang penciptaan semesta, proses terbentuk sampai dengan kehancurannya. Setiap kelompok budaya memahami alam mereka dengan caranya yang khas, misalnya pemahaman tentang gunung, sungai, gurun ataupun hutan. Pandangan semacam ini tersebar begitu banyak dan beragam di berbagai kelompok budaya di Indonesia.

Titik kedua adalah teologi. Teologi adalah pandangan tentang Tuhan yang dianut oleh sebuah kelompok budaya tertentu. Teologi biasanya terkait dengan institusi agama yang telah ada, termasuk di dalamnya nilai-nilai moral, ritual, hirarki dan tempat fisik. Setiap kelompok budaya, juga di Indonesia, memiliki pemahaman tentang Tuhan yang khas sesuai dengan keadaan kehidupan mereka.

Titik ketiga adalah aksiologi. Aksiologi adalah pandangan tentang nilai yang tertanam di dalam kelompok budaya tertentu. Termasuk di dalamnya adalah pandangan sekaligus penjelasan tentang segala yang dianggap bernilai, seperti tindakan yang dianggap baik, perkataan yang dianggap baik, perilaku yang dianggap baik, ajaran yang dianggap baik, dan sebagainya. Aksiologi sebuah kelompok budaya tertentu mengikat orang-orang di dalamnya ke dalam komunitas nilai tertentu.

Titik keempat adalah epistemologi, yakni pandangan tentang asal usul pengetahuan yang ada di dalam suatu kelompok budaya tertentu. Di dalamnya terkandung penjelasan tentang bagaimana sebuah pengetahuan, misalnya tentang penciptaan alam semesta, bisa tercipta. Epistemologi kental dengan penjelasan yang berpijak pada akal budi, tentu sebagaimana kelompok budaya tersebut memahami akal budi. Disinilah kita bisa memahami bahwa “bernalar” pun tidak merupakan sesuatu yang absolut dan universal, melainkan tertanam dalam pada pandangan dunia yang khas dan hidup.

Titik kelima adalah ajaran sosial politik, yakni pandangan tentang bagaimana suatu kelompok budaya menata hidup bersama, mulai dari struktur masyarakat sampai dengan pandangan soal kekuasaan. Di dalam ajaran sosial politik ini terdapat pula upaya sebuah kelompok budaya mengelola konflik yang ada, pembagian sumber daya ekonomi, pengaturan soal keluarga dan sebagainya. Kelima titik ini bisa digunakan untuk memahami beragam pandangan dunia yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini merupakan titik tolak untuk merumuskan suatu “Filsafat Indonesia”.

Filsafat Indonesia

Filsafat berasal dari kata philo (pencinta) dan sophia (kebijaksanaan). Kata ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang juga dikenal sebagai tempat kelahiran filsafat. Sulit untuk memastikan, apakah Yunani Kuno sungguh merupakan penemu filsafat. Beberapa ahli sejarah filsafat bahkan menyatakan, bahwa Yunani mengambil pemahaman filosofis dari India dan Afrika Utara. Saya tidak akan masuk ke dalam perdebatan ini.

Yang khas di dalam filsafat adalah penggunaan akal budi secara utuh dan kritis untuk memahami segala yang ada. Filsafat tidak berpijak pada iman agama tertentu. Filsafat juga tidak berpijak pada mitologi tertentu yang berkembang di sebuah kelompok budaya. Filsafat bersandar pada akal budi dan diskusi kritis untuk semakin mendekati kebenaran, serta menjadi manusia yang bijaksana.

Apakah Indonesia memiliki filsafat semacam ini? Jawabannya tidak. Indonesia memiliki ragam pandangan dunia yang luhur dan khas, namun bukan filsafat. Di dalam beragam pandangan dunia tersebut kerap kali terdapat ajaran-ajaran yang sudah tidak lagi cocok dengan perkembangan jaman, misalnya ajaran yang menomorduakan perempuan, memperbolehkan anak di bawah umur bekerja, perbudakan, poligami, diskriminasi terhadap kaum LGBT dan sebagainya.

Supaya bisa menjadi filsafat, beragam pandangan dunia yang ada di Indonesia harus diangkat menjadi tema pembicaraan yang rasional, terbuka dan kritis. Dengan kata lain, beragam pandangan dunia yang ada harus dianggap dari tingkat pra-pemahanan (yang dilakukan secara otomatis dalam hidup sehari-hari, bahkan cenderung tabu untuk dibicarakan) ke tingkat pemahaman (yang disadari sepenuhnya sebagai sesuatu yang terbuka untuk perubahan). Ada tiga keuntungan dari hal ini.

Pertama, Indonesia bisa melepaskan diri dari pandangan-pandangan dunia yang menyembunyikan beragam penindasan. Indonesia bisa belajar dari kesalahan masa lalunya, dan berubah ke arah yang lebih baik dan terbuka. Beragam praktek perbudakan, diskriminasi dan kesempitan berpikir yang berkembang di masa lalu bisa dianggap sebagai proses belajar dan pendewasaan budaya. Hanya dengan beginilah Indonesia bisa menjadi bangsa besar.

Kedua, beragama pandangan dunia yang berharga tersebut bisa menjadi inspirasi untuk pembangunan di masa sekarang. Indonesia tidak lagi melulu melihat ke luar negeri untuk mencari teori ataupun model pembangunan, tetapi bisa melihat ke dalam kekayaan budayanya sendiri yang begitu beragam dan berharga. Dengan cara ini, Indonesia bisa menerapkan pembangunan yang berpijak pada nilai-nilai Ke-Indonesiaan, dan tidak lagi tunduk pada nilai-nilai Barat ataupun Arab, seperti sekarang ini.

Ketiga, pengembangan filsafat Indonesia juga memiliki peran besar di dalam hubungan antar bangsa. Dengan panduan nilai dan filsafat yang jelas, Indonesia bisa berdiri sejajar dengan peradaban-peradaban besar lainnya di dunia, seperti peradaban Cina, India dan Eropa. Dialog pun bisa dilakukan dalam keduduan setara, dan bukan dengan sikap tidak percaya diri, seperti yang sekarang ini banyak terjadi.

Filsafat Indonesia bisa mendorong proses Indonesia menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar tidak hanya ternama di antara bangsa-bangsa lainnya, tetapi juga menjadi amat manusiawi terhadap warganya. Ini semua membutuhkan panduan nilai maupun filsafat yang jelas. Harapannya sederhana, kita bisa berdiri tegak sebagai orang Indonesia di kancah politik dunia internasional, dan menawarkan pencerahan yang membawa pada perdamaian dunia dan kemakmuran global.

Apa lagi yang kita tunggu?

Tulisan ini diinspirasikan dari diskusi mendalam dengan Komaruddin Hidayat dan Pamela Cardinale di Jakarta.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan