Fokus Karya Penulis

themovingarts.com
themovingarts.com

Sintesis:  Kaitan antara Politik, Organisasi, Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan Hidup

Oleh Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di bidang Filsafat Sosial-Politik, Pengembangan Organisasi dan Kepemimpinan, Filsafat Ilmu Pengetahuan serta Filsafat Timur, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Empat tema ini (Politik, Organisasi, Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan Hidup) merupakan tema-tema hidup saya. Selama 14 tahun ini (2002-2016), saya melakukan penelitian, berdiskusi, refleksi dan menulis untuk memahami keempat tema ini, serta keterkaitannya satu sama lain. Penelitian ilmiah yang saya lakukan juga dibarengi dengan pengalaman bekerja sekaligus memimpin di beberapa organisasi. Secuil refleksi ini kiranya bisa memberikan sedikit penjelasan.

Keempat tema ini, yakni politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, adalah tema universal di dalam hidup manusia. Semua unsur kehidupan memilikinya, mulai dari hubungan dengan kekasih sampai dengan hubungan antar negara ataupun organisasi internasional. Dengan kata lain, tidak ada satupun dimensi kehidupan manusia yang luput dari politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Maka, pemahaman atasnya mutlak diperlukan.

Keempat tema ini juga membutuhkan pendekatan lintas ilmu. Tidak ada satupun cabang ilmu pengetahuan yang mampu memahaminya sendirian. Berbagai metode yang ada perlu dikaitkan terus menerus dengan pengalaman langsung manusia yang dipenuhi dengan makna dan tafsiran subyektif. Hasil penelitian pun terus berubah, serta menuntut proses pembelajaran yang berkelanjutan (continuous learning process).

Kegiatan penelitian dan refleksi yang saya lakukan mengarah pada satu tujuan mendasar, yakni menciptakan kondisi-kondisi, dimana orang dan organisasi bisa mengembangkan hidupnya secara optimal (die Bedingungen der Möglichkeit des gelungenen Lebens). Pribadi yang optimal adalah pribadi yang bahagia. Ia bisa menyumbangkan hal berharga bagi perkembangan lingkungannya. Cara berpikir yang sama juga bisa diterapkan pada organisasi.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana keempat hal ini terkait? Bagaimana politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan mempengaruhi satu sama lain? Apa peran dari keempat hal ini untuk mewujudkan kehidupan bersama maupun individual yang optimal? Pada tingkat yang lebih luas, bagaimana keempat hal ini bisa berperan di dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur sekaligus majemuk, seperti Indonesia?

Das Politische- das Soziale

Berbicara soal politik, berarti berbicara soal hidup bersama. Dalam arti ini, politik adalah seni untuk mewujudkan berbagai kemungkinan di dalam hidup bersama. Kemungkinan itu bisa saja kebaikan bersama (common good), atau juga perang yang berkelanjutan (permanent state of war). Itu semua tergantung pada prinsip-prinsip apa yang digunakan untuk mengatur kehidupan bersama tersebut.

Filsafat politik menawarkan prinsip-prinsip yang bisa digunakan untuk menata hidup bersama, sehingga hidup bersama bisa dilandasi oleh keadilan dan kemakmuran untuk semua, tanpa kecuali. Namun, pemahaman filsafat politik harus juga dibarengi dengan pemahaman tentang hakekat dari kehidupan sosial manusia itu sendiri. Yang sosial (das Soziale) adalah kolektivitas yang terdiri dari orang-orang, namun memiliki status yang berbeda dari orang-orang yang membentuknya.

Kolektivitas ini memiliki dua unsur. Unsur pertama adalah kesadaran praktis (praktisches Bewusstsein) yang juga dapat dipahami sebagai habitus. Ini adalah pola perilaku berulang dari sekumpulan manusia yang akhirnya menciptakan sistem dan struktur sosial tertentu. Sistem dan struktur sosial tersebut akhirnya menjadi sesuatu yang cukup diri dan mengental menjadi tradisi, sehingga tidak lagi disadari keberadaannya.

Namun, perubahan dapat terjadi, karena manusia memiliki sisi lain dari kesadaran, yakni kesadaran diskursif (diskursives Bewusstsein). Dengan kesadaran ini, manusia bisa memikirkan ulang kebiasaan maupun struktur sosial yang melingkupinya. Dengan ini pula, manusia bisa mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal lama, dan memulai sebuah pembaharuan di dalam hidupnya, maupun masyarakatnya. Kolektivitas adalah kombinasi yang terus berubah dari kesadaran praktis dan kesadaran diskursif tersebut.

Perdebatan sekaligus penelitian tentang ini didalami di dalam filsafat ilmu-ilmu sosial (philosophy of social sciences). Pada titik ini, refleksi filsafat politik juga menemukan arti pentingnya. Pertanyaan yang menjadi pergulatan disini adalah, bagaimana kolektivitas itu dirawat, ditata dan dikembangkan, sehingga bisa mengembangkan secara optimal hidup orang-orang yang ada di dalamnya? Pada tingkat yang lebih luas, bagaimana kolektivitas tersebut bisa mendorong terciptanya masyarakat yang adil, makmur sekaligus majemuk?

Konsep keadilan memainkan peranan penting disini. Saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan panjang dan mendalam tentang makna keadilan. Ini bisa dilakukan di lain kesempatan. Saya lebih tertarik tentang pengembangan organisasi dan kepemimpinan (organizational and leadership development) yang merupakan bagian yang amat penting dari masyarakat ataupun negara sebagai kolektivitas yang lebih luas.

Organisasi dan Kepemimpinan

Setiap masyarakat adalah sebentuk organisasi. Di dalam organisasi tersebut, ada organisasi-organisasi lainnya dengan lingkup yang lebih kecil, seperti agama, militer, birokrasi negara, bisnis, pendidikan dan keluarga. Dalam arti ini, organisasi adalah sekumpulan orang yang bergerak dengan prinsip-prinsip yang serupa, guna mencapai tujuan yang sama. Karena peran pentingnya di dalam kehidupan manusia, maka organisasi pun harus ditata dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang memadai.

Organisasi semacam ini disebut juga sebagai organisasi yang terus belajar (lernende Organisation). Organisasi ini terus berubah untuk menanggapi tantangan perubahan yang terus datang. Ia memiliki struktur dan birokrasi. Namun, keduanya bersifat cair, dan hanya dilihat sebagai alat untuk tujuan lainnya, yakni pengembangan organisasi terus menerus (sustainable organizational development).

Kepemimpinan pun juga harus terus belajar (lernende Führung) bersama dengan organisasi yang dipimpinnya. Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan disini. Yang pertama adalah kepimpinan yang memiliki visi dan misi yang jelas bagi organisasi yang dipimpinnya. Visi dan misi ini datang dari si pemimpin dalam dialog dengan orang-orang dipimpinnya.

Yang kedua adalah kemampuan untuk menerjemahkan visi dan misi tersebut ke dalam sistem keseluruhan dan keseharian organisasi. Visi dan misi tercermin langsung dari pintu masuk sampai sistem pengelolaan sampah organisasi tersebut. Tentu saja, banyak tantangan untuk mencapai titik ini. Namun, dengan niat baja serta kerja sama yang erat dari semua pihak yang berkepentingan, visi dan misi tersebut bisa menjadi budaya perusahaan yang menyeluruh, operasional dan berkelanjutan (sustainable organizational culture).

Organisasi yang Terus Belajar

Untuk mewujudkan hal tersebut, sebuah organisasi dan tata kepemimpinannya harus memiliki lima hal dasar. Yang pertama adalah kemahiran pribadi, atau personal mastery. Organisasi selalu terdiri dari pribadi-pribadi dengan latar belakang dan cara berpikir yang berbeda. Di dalam organisasi yang terus belajar, setiap pribadi diberi kesempatan dan didorong untuk mengembangkan kemahiran pribadinya masing-masing, meskipun hal tersebut tidak sejalan langsung dengan pekerjaan profesional mereka sehari-hari.

Seorang akuntan bisa saja sekaligus seorang pelukis berbakat. Di dalam organisasi yang terus belajar, ia tidak semata dilihat sebagai akuntan yang mengabdi pada perusahaan. Ia juga dilihat sebagai manusia yang memiliki banyak sisi. Oleh karena itu, minat dan bakatnya pada lukisan juga dikembangkan, supaya hidupnya sebagai manusia juga semakin optimal.

Yang kedua adalah kemampuan reflektif (reflective capability). Setiap orang di dalam organisasi harus diajak untuk mengembangkan kemampuan reflektif mereka, yakni kemampuan untuk memikirkan ulang semua pemahaman mereka yang sudah ada tentang dunia. Dengan kemampuan ini, orang lalu bisa mempertanyakan hal-hal yang telah ia percaya sebagai kebenaran absolut sebelumnya. Ia lalu bisa membangun visi hidup yang lebih bijak, yakni sesuai dengan keadaan kehidupan yang terus berubah.

Dua hal ini menjadi dasar untuk unsur ketiga, yakni visi bersama (shared vision) di dalam organisasi. Visi bersama berarti setiap orang di dalam organisasi tersebut, walaupun memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, memiliki satu tujuan dan prinsip yang sama di dalam mencapai tujuan tersebut. Ini hanya mungkin terjadi, jika pola komunikasi di dalam organisasi tersebut bersifat egaliter dan tanpa paksaan. Pola semacam ini kita kenal juga sebagai pola komunikasi dialogis.

Visi bersama tersebut bisa terwujud dan dipertahankan, jika sebuah organisasi mampu belajar bersama sebagai sebuah tim (team learning). Pola belajarnya adalah pola belajar reflektif (reflective learning), yakni mengajukan pertanyaan pada pandangan-pandangan lama yang telah diterima sebelumnya. Ini penting, supaya organisasi tidak terjebak pada pandangan lama yang telah usang, sementara dunia terus berubah. Sekali lagi, komunikasi antar setiap anggota organisasi yang bersifat bebas dan egaliter mutlak diperlukan.

Pijakan utama dari organisasi yang terus belajar adalah pola berpikir sistemik (systemic thinking). Ini berarti, orang hidup, berpikir dan bertindak sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Ia tidak berpikir melulu dari sudut pandang pribadi ataupun kelompoknya belaka. Sejatinya, setiap orang adalah bagian dari sistem yang lebih luas dari dirinya.

Kita adalah bagian dari sistem sosial dan sistem alamiah. Sistem sosial itu adalah keluarga dan masyarakat beserta tata nilai dan tradisinya. Sementara, sistem alamiah adalah alam beserta binatang maupun tumbuhan yang hidup dan berkembang bersama kita. Berpikir sistemik berarti mempertimbangkan itu semua, sebelum kita membuat keputusan, atau melakukan sesuatu.

Pola berpikir sistemik ini amatlah penting bagi pengembangan organisasi dan kepemimpinan. Jika orang hanya semata melihat dunia dari sudut pandang pribadi atau kelompoknya, maka pandangannya akan kabur, dan keputusannya pun akan salah, serta merugikan banyak orang. Pola berpikir sistemik ini tidak muncul begitu saja, melainkan harus dilatih di dalam keseharian. Tanpa pola berpikir sistemik, orang tidak mungkin bisa memimpin sebuah organisasi untuk menanggapi berbagai perubahan yang terjadi.

Mentalitas Ilmiah

Organisasi modern yang terus belajar berarti organisasi tersebut hidup dengan mentalitas ilmiah. Setiap orang di dalamnya tidak harus seorang ilmuwan atau peneliti. Namun, mereka paham tentang cara berpikir ilmiah, dan menerapkannya di dalam hidup sehari-hari. Apa yang dimaksud dengan mentalitas ilmiah?

Mentalitas ilmiah (scientific mentality) adalah mentalitas yang dibentuk oleh pola berpikir yang berkembang di dalam ilmu pengetahuan. Ada empat ciri dari pola berpikir ilmiah, yakni rasional, kritis, eksperimental dan terbuka. Mentalitas ilmiah juga dibentuk oleh keempat ciri tersebut. Ia tidak hanya terbatas pada bidang penelitian ilmiah semata, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Orang yang rasional mampu melihat sebab akibat yang masuk akal dari peristiwa yang terjadi. Ia tidak menyerah pada penjelasan yang bersifat mistik, melainkan menelusuri sebab akibat yang muncul secara nyata di kenyataan. Ketika penjelasan rasional tak muncul, ia menunggu dengan sabar, sambil tetap meneliti. Ia tetap terbuka pada berbagai kemungkinan.

Keterbukaan ini terwujud di dalam sikap kritis. Ini berarti, orang tidak begitu percaya pada pandangan-pandangan yang sudah ada, melainkan meneliti dan mempertanyakannya lebih jauh. Kata orang tidak lagi ditelan mentah-mentah, melainkan dikaji lebih dahulu. Bukti-bukti tidak diterima begitu saja, melainkan diuji dahulu kesahihannya.

Ilmu pengetahuan, dalam arti ini, dapat dimengerti sebagai kumpulan informasi tentang dunia dan cara kerjanya yang dibangun atas dasar rasionalitas, eksperimen dan proses kritik berkelanjutan. Peran eksperimen, atau uji coba, amat penting disini. Data, sebagai dasar dari penelitian, haruslah diperoleh dari pengalaman langsung. Beragam data tersebut lalu diuji, apakah sejalan dengan hipotesis yang telah dirumuskan, atau tidak.

Keterbukaan menjadi semangat utama dari pola berpikir sekaligus mentalitas ilmiah. Orang harus mengubah pandangannya, ketika itu terbukti salah. Segala bentuk fanatisme dan sikap keras kepala perlu dihindarkan. Ketika pribadi-pribadi di dalam masyarakat secara luas dan beragam organisasi secara khusus mampu menerapkan mentalitas ilmiah di dalam hidup mereka, maka berbagai konflik bisa dihindari, dan kerja sama untuk menciptakan organisasi yang terus belajar serta masyarakat yang adil, makmur dan majemuk bisa dilakukan.

Kebijaksanaan Hidup

Namun, mentalitas ilmiah saja tidaklah cukup untuk mencapai hidup yang optimal. Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan pengetahuan yang sahih. Ia tidak secara langsung membawa orang pada kepenuhan hidup. Sistem yang kokoh, yang memungkinkan setiap orang memperoleh kemakmuran dan keadilan, juga tidak secara otomatis memberikan hidup yang optimal. Dititik inilah orang memerlukan kebijaksanaan hidup (Lebensweisheit).

Dalam arti ini, kebijaksanaan berarti orang mampu hidup seturut dengan kenyataan sebagaimana adanya. Ia tidak memaksakan keinginannya untuk terjadi ke dalam kenyataan. Untuk bisa mencapai ini, orang perlu melihat dan memahami kenyataan dunia sebagaimana adanya (Sosein), dan bukan sebagaimana ia inginkan. Ia tidak terjebak pada pandangan konseptual, teori ataupun tradisi yang mencoba memelintir kenyataan sesuai dengan pandangan dan kepentingannya semata.

Ada tiga ciri dasar dari kenyataan sebagaimana adanya. Yang pertama adalah perubahan. Apa yang kita sebut sebagai dunia adalah sesuatu yang terus berubah dari saat ke saat, tanpa henti. Dampaknya adalah, bahwa tidak ada yang bisa kita pahami secara langsung dengan menggunakan konsep atau bahasa.

Ketika kita merumuskan konsep atas sesuatu, sesuatu itu terus berubah. Ketika kita memberi nama pada suatu benda, benda tersebut sudah berubah. Nama dan konsep adalah ilusi yang tak pernah dapat menangkap kenyataan yang terus bergerak. Inilah ciri kedua dari kenyataan, yakni tidak adanya inti yang tetap.

Ciri ketiga adalah ketidakpuasan. Apapun yang kita lakukan di dalam hidup, kita akan selalu sampai pada ketidakpuasan, atau kekosongan. Ketika kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan, kita menderita. Ketika kita mendapatkan yang kita inginkan, kita pun juga menderita, karena kita harus melepasnya nanti.

Namun, ketidakpuasan dan kekosongan ini bisa dilampaui, jika orang hidup sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya. Artinya, orang tidak menolak perubahan, melainkan mencerapnya dari saat ke saat. Orang juga tidak memutlakkan apapun dalam hidupnya, termasuk keberadaan dan kepentingan dirinya. Keberadaannya lalu menjadi jernih dari saat ke saat, sehingga bisa menanggapi apapun yang terjadi dengan tepat.

Kebijaksanaan semacam ini bukanlah semata teori. Ia harus dilatih dari saat ke saat di dalam hidup. Pada titik tertinggi, orang lalu sadar, bahwa segala sesuatu adalah ciptaan dari pikiran dan kesadaran manusia. Ia pun lalu memperoleh kebebasan untuk membentuk hidupnya, serta lepas dari penderitaan yang selama ini mencengkramnya.

Empat tema ini, yakni politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, adalah tema-tema penting di dalam kehidupan manusia. Semuanya mengantarkan manusia pada hidup yang penuh, yakni yang bahagia dan optimal, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Keadilan sosial dan kemakmuran menjadi salah satu pilar penting, namun bukan satu-satunya pilar yang diperlukan. Pandangan yang tepat tentang kehidupan, dibarengi dengan tata kelola organisasi yang terus belajar (lernende Organisation), juga memainkan peranan penting.

Inilah fokus dari karya saya untuk sekarang, dan masa depan.

Buku-buku Saya yang Relevan:

  1. Filsafat dan Sains, Grasindo, Jakarta, 2008.
  2. Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia, Evolitera, Jakarta, 2012.
  3. Melampaui Negara Hukum Klasik, Kanisius, Yogyakarta, 2007.
  4. Filsafat Anti Korupsi, Kanisius, Yogyakarta, 2012
  5. Menjadi Pemimpin Sejati, Evolitera, Jakarta, 2012
  6. Zwischen kollektivem Gedächtnis, Annerkenung und Versöhnung, Dissertation, München, 2016.
  7. Demokrasi: Dasar Filosofis dan Tantangannya, Kanisius, Yogyakarta, 2016.
  8. Filsafat Manajemen Bisnis, Manuskrip
  9. Melampaui Penderitaan, Menuju Kebebasan, Karaniya, Jakarta, akan Terbit 2017.
  10. Tentang Manusia, Maharsa, Yogyakarta, 2016.
Iklan