Amal atau Solidaritas?

Amal atau Solidaritas?

Dalam realitas, orang selalu lahir dalam keadaan berbeda. Keadaan yang berbeda itu menentukan bagaimana nasibnya di kemudian hari.

Akan tetapi, perbedaan itu bukanlah karena kehendak sendiri. Salah siapakah, jika anak tukang becak tak dapat bersekolah atau anak seorang pedagang kecil telah menjadi pekerja seks komersial, karena ia tak mampu membayar uang pendidikan?

Agama mengajarkan kita bahwa setiap orang harus menanggung dosa pribadinya sendiri. Refleksi ilmu-ilmu sosial telah membuat kita semakin menyadari, bahwa dosa sosial seringkali ditanggung bersama, dan seringkali justru ditanggung oleh orang-orang yang tidak melakukannya.

Pada titik inilah solidaritas dibutuhkan. Solidaritas adalah komitmen terhadap nasib orang ataupun kelompok lain.

Jika dirumuskan secara singkat, solidaritas menjadi suatu tuntutan mutlak, karena adanya perbedaan yang tak terhindarkan. Tentu saja agak berlebihan, jika kita mengembalikan semua masalah pada konteks sosial-ekonomi, karena intelegensi, watak, semangat kerja, pandangan tentang masa depan, sikap terhadap waktu juga akan menentukan apakah seseorang, atau sekelompok orang, akan berhasil atau tidak.

Akan tetapi, jelas juga bahwa orang dengan intelejensi yang kurang lebih setingkat, dengan kepribadian yang mungkin lebih lemah, dengan watak yang lebih payah, seseorang dengan basis sosial ekonomi yang lebih baik akan lebih cepat melesat, jika dibandingkan dengan saingannya yang tidak didukung dengan basis sosial ekonomi yang sama (Kleden, 1988)

Adanya perbedaan pada hampir semua level kehidupan sosial manusia, yakni mulai dari lingkungan RT/RW sampai ke upaya pemerataan kemakmuran antarbangsa, merupakan suatu bukti bahwa perbedaan nasib ataupun keberuntungan bukanlah suatu gejala yang bersifat kebetulan, apalagi alamiah. Pada titik ini wajarlah jika kita mengajukan pertanyaan, mengapa perbedaan tersebut bisa terjadi, dan tidak alamiah?

Di level internasional, negara-negara berkembang, Indonesia salah satunya, dikategorikan sebagai negara-negara dunia ketiga. Sementara, negara-negara industri maju dikategorikan sebagai negara dunia pertama.

Negara-negara industri maju, terutama yang menerapkan kebijakan welfare state (negara kesejahteraan), menetapkan aturan bahwa negara harus membiayai orang-orang yang tidak bekerja. Alasannya, sumber daya dan kekayaan yang ada di dalam setiap negara pada dasarnya adalah terbatas, bahkan sumber daya di dalam bumi kita juga terbatas.

Oleh karena itu, jika ada sekelompok orang yang hidup lebih makmur, hal itu mungkin terjadi, karena ada sekelompok lain yang hidup dengan cara yang kurang, bahkan, tidak makmur. Jika dianalogikan sebagai sebuah kue, seseorang mendapatkan potongan kue lebih besar, hanya karena ada orang lain yang mendapatkan potongan lebih kecil.

Jika dikatakan secara singkat, kemakmuran suatu golongan seringkali dimungkinkan dan “dibiayai” oleh ketidakmakmuran golongan lain.

Argumentasi ini adalah salah satu alasan mengapa negara-negara welfare state menerapkan kebijakan pajak lebih tinggi kepada orang-orang yang berpenghasilan tinggi untuk membiayai kehidupan orang-orang yang tidak bekerja, atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Pertanyaan kemudian, apakah solidaritas semacam itu adalah suatu bentuk amal? Dengan kata lain, apakah sikap kita terhadap golongan lain yang tidak mampu adalah suatu bentuk amal atau solidaritas?

Pernak Pernik Kekuasaan

i-heart-god.com

Pernak Pernik Kekuasaan

Hidup memang aneh. Jadi penguasa susah, karena banyak tanggung jawab yang harus dipikirkan. Jadi orang yang tidak berkuasa juga susah, karena tidak pernah bisa memutuskan diri, tetapi selalu disuruh-suruh.

Jadi wajarlah saya mulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Mana yang lebih baik, menjadi penguasa, atau berada di bawah kekuasaan?” Pertanyaan itu tidak datang bagaikan petir dari langit, tetapi dari pengalaman sehari-hari.

Jika pertanyaan tersebut diajukan pada seorang sufi, tentunya ia akan menjawab. “berada di bawah kekuasaan.” Kita pun bertanya, “mengapa?”

“Orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain selalu diberi tahu bahwa ia salah, lepas dari apakah ia sungguh-sungguh bersalah atau tidak. Ini memberikanya suatu kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri dengan menelaah dirinya sendiri, karena mungkin saja ia memang bersalah.”

“Akan tetapi, orang yang berkuasa hampir selalu membayangkan bahwa dirinya benar, sehingga ia hampir tidak punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri.” (GM, 1980)

Yah, jawaban yang bagus memang. Mungkin itupula sebabnya, mengapa orang yang berada di bawah kekuasan orang lain kelak akan menjadi penguasa, dan para penguasa akan kembali menjadi orang yang dikuasai.

Hegel, seorang filsuf Jerman pada abad ke-19, pernah menulis tentang dialektika tuan dan budak. Intinya sederhana, bahwa budak akan menjadi tuan, karena ia menggunakan akal budinya untuk bekerja. Sementara, tuan akan menjadi budak, karena ia malas menggunakan akal budinya, dan hidup berleha-leha.

Akan tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu

Tidak Niscaya

Ternyata, tidak ada kepastian bahwa orang yang dikuasai suatu saat akan menjadi penguasa. Dan juga tidak ada kepastian, bahwa sang penguasa nantinya akan menjadi orang yang dikuasai.

Akan tetapi hampir selalu pasti, bahwa ketika sang penguasa turun, seorang menteri atau bawahan penguasa tersebut juga turun. Jadi, logikanya terbalik sebenarnya. Sang bawahan tidak jadi penguasa, tetapi malah ikut turun bersama penguasa yang turun takhta.

Misalnya, anda adalah seorang CEO perusahaan besar. Menarik membayangkan bahwa suatu saat, anda akan turun dari jabatan tersebut, dan menjadi orang biasa. Mungkin, saat itu adalah saat yang paling tepat bagi anda untuk memperbaiki dan menelaah kembali diri anda sendiri.

Yah, hidup memang susah, tetapi hidup juga menyenangkan, karena kita bisa belajar langsung dari hidup itu sendiri. Gerak perubahan penguasa menjadi yang dikuasai, atau yang dikuasai menjadi penguasa, sebenarnya juga merupakan sebuah proses belajar.

Oleh sebab itu, janganlah hanya mau menelaah dan memperbaiki diri hanya kalau sedang tidak berkuasa. Atau dikatakan sebaliknya, kalau sedang berkuasa janganlah terlalu terlena, sehingga jadi lupa diri.

Perubahan Paradigma

Mungkin itu pula sebabnya teori demokrasi modern sangat menekankan fungsi kontrol terhadap presidennya, terutama supaya penguasa bisa ‘menelaah dirinya sendiri’. Akan tetapi, fungsi kontrol tersebut janganlah diharapkan datang dari kehendak baik sang penguasa itu, karena harapan itu akan jadi sia-sia.

Kritik dan teguran langsung terhadap penguasa bisa berperan penting disini. Dan harus diingat, jika kita dikritik atau ditegur, bukan berarti kita dikuasai. Dan sebaliknya, jika kita mengkritik atau menegur, bukan berarti kita menguasai.

Konon, Napoleon tidak mau dikritik secara publik. Ia hanya mau menerima kritik yang ditujukan langsung secara pribadi kepadanya. Yah, kritik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu memang tidak banyak gunanya, karena hanya berguna bagi sedikit orang.

Padahal, seperti yang ditulis Goenawan Mohamad lebih dari 15 tahun yang lalu, “orang lain yang dapat memanfaatkan suatu kritik terhadap Napoleon,… mungkin dapat menjadi napoleon berikutnya.” (GM, 1980)

Yah, jadi jangan malu dikritik, karena kritik memberikan kesempatan pada kita untuk menelaah dan memperbaiki diri. Juga, jangan malu untuk dikritik secara publik, karena berarti banyak orang yang dapat belajar dari kritik tersebut. Jadi ga ada ruginya toh..

Pernak Pernik Kekuasaan

Kekuasaan, seperti hampir segala sesuatu di dunia ini, juga membutuhkan aksesoris tambahan. Aksesoris tambahan itu bisa macam-macam, bisa semakin memperburuk wajah kekuasaan, atau justru mempercantiknya.

Tentunya, kita ingin kekuasaan yang kita miliki ataupun yang menguasai kita berwajah cantik dong. Kita tidak mau diperintah oleh sosok kekuasaan yang bikin ngeri, kita juga ingin agar orang lain mengenang kita sebagai penguasa yang cantik.

Nah, supaya cantik, kekuasaan harus didandani dengan kritik. Kritiklah dandanan yang paling memadai untuk kekuasaan, sehingga kekuasaan tersebut tidak menyeramkan dan jelek, tetapi ramah dan simpatik.***

Saya banyak terinspirasi dari karya Goenawan Mohamad

Reza A.A Wattimena, Dosen Filsafat Politik Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya