Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

IMG-20211225-WA0008Oleh Reza A.A Wattimena

Tegangan mesin itu terasa di tangan. Angin dingin menerpa seluruh tubuh. Ramai lalu lintas membuat semua terasa hidup. Semua bergerak dengan satu tujuan: Yogyakarta.

Semua sudah rapih. Jam 9 malam, badan segar. Motor sudah siap. 24 Desember 2021, saatnya berangkat. Untuk pertama kalinya, saya merayakan Natal di atas dua roda sepanjang malam.

Hati terasa tenang. Tak ada pikiran yang menganggu. Semua persiapan sudah selesai. Jogja nan menawan sudah menanti. Di sana, saudara dekat hendak memulai hidup baru bersama kekasih hatinya.

Terkadang, rasa ngantuk berkunjung. Entah Masjid atau pom bensin, keduanya siap menampung lelah. Mata terpejam. Badan beristirahat sejenak, supaya nanti bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Keadaan jalanan ramai. Banyak orang pulang kampung untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Ada yang berkendara pelan, layaknya pengantin baru. Ada yang mengebut, tak sabar ingin berjumpa keluarga di kampung.

Terkadang pula, perut terasa lapar. Haus pun mengering di lidah. Tapi, saya sama sekali tak perlu khawatir. Begitu banyak tempat makan dan minum yang terbuka sepanjang jalan.

Jalur Pantura memang menakjubkan. Supir truk dan bis berjalan beriringan. Badannya begitu besar. Beberapa berkendara sangat lambat, karena beban berat, sementara lainnya mengebut untuk menyelesaikan tugas dengan cepat.

Beberapa tempat menarik pandangan. Warung-warung redup dengan para wanita cantik yang siap menemani. Wajah segar pantura untuk para pengembara yang rindu rumah. Saya tersenyum, sambil melewati keindahannya.

Fajar menyingsing. Suara Subuh menggema di sepanjang Pantura. Keindahannya tiada tara. Kota-kota sepanjang Pantura bersinar keemasan dengan udara segar yang membungkusnya.

Tak sadar, rasa haru muncul di dada. Setitik air mata menetes. Bukan sedih yang datang, tapi rasa syukur tiada tara. Ya manusia, kamu sudah di surga. Mengapa kamu buta, dan mencari surga lainnya, sambil menghancurkan surga di depan mata?

Gunung dan hutan sudah menyambut. Keindahan dan keagungan Jawa Tengah memeluk jiwa. Manusia-manusia yang begitu ramah dan lembut. Alam dan budaya yang begitu indah, dan memikat hati.

Banyak pula perjumpaan yang tak terduga. Sesama pengembara yang merindukan rumah saling bersapa dan bercanda ria. Ini menyegarkan: sekumpulan orang yang tak saling mengenal berbincang dengan ringan. Rekan seperjalanan terasa seperti saudara yang lama tak berjumpa.

Ah, 14 jam telah berlalu. Jogja yang menawan sudah di genggaman. Badan tetap segar. Namun, setelah menyentuh air dan kasur, ia akan langsung terlelap di dalam mimpi indah.

Bagi saya, ini semua adalah Zen. Ini semua adalah meditasi. Saya melebur dengan getaran mesin, dan keriuhan jalan. Saya menjadi satu dengan angin yang menerap, dan cahaya mentari yang menjamah tubuh.

Tak ada “aku”. Tak ada “diri”, dan “ego”. Pikiran lenyap. Yang ada hanya kebenaran saat ke saat di atas dua roda kendaraan yang melebur di dalam keadaan.

Semuanya melebur ke dalam jaringan tanpa kata. Matahari memantul di perairan sawah. Udara dingin berpelukan dengan ketajaman bau pasar-pasar milik manusia. Semuanya satu, utuh dan saling membutuhkan.

Semuanya adalah semesta. Semuanya adalah Sang Pencipta. Tuhan dan kita semua tak pernah terpisah. Semuanya terjalin indah di dalam kekosongan agung maha luas yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Segalanya berubah dari saat ke saat. Bangunan indah besar terlewatkan begitu saja, ketika kita berkendara. Hutan dan gunung maha indah dan perkasa bagaikan bayangan yang segera lenyap ke dalam kenangan. Segalanya sementara.

Namun, segalanya juga abadi. Setiap saat adalah keabadian. Setiap detik adalah selamanya. Saat ini dan di sini adalah surga yang melampaui segala ungkapan manusia.

Saya sungguh hidup. Semua panca indera menyala terang. Kesadaran memuncak di dalam terpaan angin yang menerpa tubuh. “Sadar penuh”, begitu kata para master meditasi di seluruh dunia.

Inilah Zen di dunia yang berwarna. Ia tidak terkurung aturan-aturan baku yang mencekik jiwa. Ia tidak terpenjara oleh beragam tradisi yang sudah kehilangan makna. Zen para pengembara adalah Zen yang hidup dalam denyut nadi kehidupan, dan menari di antara kerumitan serta keindahan semesta.

Ia menikmati semua. Namun, ia tak melekat pada apapun. Segalanya berubah. Namun, segalanya juga abadi di sini dan saat ini.

Di dunia yang dicekam radikalisme agama, Zen membawa harapan yang mencerahkan. Di dunia yang dicekam perang dan bencana, Zen menawarkan kejernihan yang menyegarkan. Andai, saya bisa memberikan pengalaman ini pada anda semua. Kita mungkin akan hidup dengan cara berbeda.

Namun, anda yang harus mengalaminya sendiri. Zen adalah pengalaman pribadi yang membuka mata. Ia melepaskan manusia dari belenggu kebodohan dan derita kehidupan. Ia melintasi batas-batas agama, suku dan ras yang mencekik manusia.

Cobalah menjadi pengembara di dunia yang abadi sekaligus sementara ini.  Mudik Lebaran 2022 sudah di depan mata. Meleburlah dengan keadaan di sekitar sepanjang perjalanan. Sadarlah sepenuhnya dari saat ke saat. Inilah Zen untuk para pengembara.

***

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.