DUNGU

unnamedOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, seorang pemuda hendak melihat mentari terbit. Katanya, setiap jam 3 pagi, ia sudah bangun, dan mempersiapkan diri. Matahari, baginya, adalah sumber kehidupan. Setiap hari, ia pun menantinya terbit.

Setelah bangun, ia mandi. Segera, ia memakai baju yang baru, supaya tampak sopan di hadapan sang sumber kehidupan. Ia pun menghadap Barat. Sabar menanti, ia terus berdiri, dan terus berharap.

Satu hari berlalu. Dua hari berlalu. Lalu, waktu pun terasa terbang. Seminggu, bahkan sebulan, sudah berlalu. Tak juga ia temukan mentari yang terbit.

Usaha keras. Niat baik. Tapi, tak ada pengetahuan. Tak ada kejernihan. Ini namanya: DUNGU.

Mentari terbit itu dari Timur. Hanya butuh usaha dikit untuk paham hal ini. Hanya butuh pengamatan sederhana untuk keluar dari kebodohan. Tak paham dan tak mengamati dengan jeli, berarti itu DUNGU.

Ekonomi DUNGU

Katanya, untuk sejahtera, kita butuh banyak industri. Katanya, untuk makmur, kita perlu tambang yang banyak. Kekayaan alam dikeruk. Orang-orang sekitar pun akan sejahtera.

Pabrik di bangun. Tanah dan hutan hancur. Udara dikotori oleh polusi yang beracun. Namun, kejahteraan yang dicari tak kunjung tiba.

Yang terjadi, orang malah tambah miskin. Alam rusak. Udara kotor. Konflik berdarah pun banyak terjadi.

Ini namanya DUNGU. Sudah lama, pemerintah Indonesia menggunakan pola pikir serupa. Cara lama yang gagal diulang terus menerus, sambil mengharapkan hasil yang berbeda. Sekali lagi, ini namanya: DUNGU.

Beragama DUNGU

Mereka adalah para pencari surga. Caranya mencari adalah dengan beribadah sambil berteriak-teriak. Orang lain terganggu. Lingkungan menjadi kacau, dan biadab.

Para pencari surga suka wanita. Namun, mereka menindas wanita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wanita hanyalah barang untuk melayani mereka. Ketika wanita ditindas, seluruh masyarakat menjadi rusak.

Mencari surga, tapi berteriak-teriak menganggu orang. Mencari surga, tapi menindas wanita. Itu namanya DUNGU. Tak ada surga yang tercipta, melainkan derita, seperti dalam neraka.

Bekerja dengan DUNGU

Mereka adalah para pencari rejeki. Bagi mereka, hidup adalah soal menjadi kaya. Dengan kekayaan, nama akan termasyur. Kebahagiaan pun tiba.

Untuk menjadi kaya, segala cara dipakai. Mencuri boleh. Menipu boleh. Selama kita menjadi kaya, semua menjadi tak masalah.

Mau kaya, tapi mencuri. Mau kaya, tapi menipu. Ini namanya DUNGU. Yang muncul kemudian hanyalah kemiskinan dan derita tiada tara.

Bergaul dengan DUNGU

Menjadi sultan kini adalah harapan banyak orang. Kekayaan nyaris tanpa batas. Hidup gampang. Pamer menjadi kebiasaan, bahkan kebutuhan.

Dengan pamer, harapannya, teman akan datang. Keluarga akan semakin sayang. Bahagia tiba di hati sanubari. Surga pun tak ada setelah mati, melainkan disini dan saat ini.

Ini namanya DUNGU. Hidup mengejar kekayaan semata akan berakhir pada kehampaan. Hidup untuk pamer hanya akan mengundang iri dan dengki. Untuk pamer, maka orang harus kaya dengan cepat melalui tipuan. Kedunguan yang kerap berakhir di penjara.

Anatomi DUNGU

Orang dungu bisa berkehendak baik. Orang dungu bisa pekerja keras. Namun, orang dungu tak paham keadaan. Akhirnya, walaupun bekerja keras, hasilnya tak ada.

Orang dungu adalah orang yang tak jernih. Pandangannya ditutupi kotoran tradisi dan agama yang membusuk. Ia rajin, tapi tak berpikir. Akhirnya, ia bagaikan mencari mentari terbit di Barat, atau para pencari surga yang menyiksa orang lain.

Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang tepat. Maka, kita harus belajar. Kita harus membaca. Kita harus belajar dari orang-orang yang tercerahkan.

Apa ciri orang yang tercerahkan? Pemahamannya luas. Hatinya damai. Sikapnya terhadap mahluk lain pun bijak: bisa lembut ataupun keras, sesuai yang diperlukan keadaan.

Lalu, kita bisa melihat dunia apa adanya. Ada pola-pola semesta. Kita bisa mengamatinya, dan kemudian meneladaninya. Kita pun keluar dari kedunguan.

Filsafat dan ilmu pengetahuan bisa membantu. Keduanya memahami segala yang ada dengan cara-cara yang rasional, sistematik dan kritis. Keduanya melepaskan kita dari kedunguan. Keduanya bisa membantu kita mencapai pembebasan dan pencerahan.

Indonesia, janganlah mencari mentari terbit di arah Barat. Jangan menjadi bangsa DUNGU. Sudah terlalu lama, kita menjadi bangsa DUNGU. Saatnya untuk bangun…

***

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.