Tentang Relasi Manusia dan Alam

Mesangat - HomeOleh Johanes Supriyono, Antropolog

Pak Yus seorang pemancing ikan di Danau Mesangat. Ketika ditanya nama panjangnya, jawab singkat: Iyus. “Nama panjang-panjang pun yang diingat orang pasti yang pendek,” kelakarnya. Sehari-hari, jika tidak sedang tidak enak badan, ia pergi memancing. Itulah pekerjaannya.

Pagi hari, ia menajur. Puluhan kail berumpan ikan-ikan kecil atau katak kecil ia pasang di permukaan Danau Mesangat. Danau itu dipenuhi ikan-ikan toman (Channa micropeltes)—ikan toman dikenal sebagai predator buas. Danau itu juga adalah habitat bagi buaya badas kuning dan buaya sepit (Tomistoma schlegelii). Meski ada spesies ikan yang lain, target utama tajur Pak Yus adalah ikan toman.

“Apa susah? Tidak ada. Kita pasang tajur. Ikan-ikan ada di danau. Tapi kita tidak tahu di mana ikan-ikan itu sembunyi. Dari dulu sekali ikan sudah ‘ditaruh’ di situ. Bukan kita yang taruh bibit. Tidak tahu darimana ikan itu bisa sampai di sana. Bila kita tidak menajur, tidak mungkin ikan itu datang sendiri ke rumah kita. Kalau kita pasang tajur terlalu banyak, ikan cepat pula habis. Kalau ikan di danau habis, bagaimana kita mau makan ikan? Kalau kita pasang tajur satu saja, celaka kalau tidak dapat. Mau makan apa? Mau jual apa? Makan sendiri saja tidak cukup,” kelakar Pak Yus. Ia memang dikenal suka melucu.

Siang hari, ia akan melintas di jalur yang sama untuk mengangkat kailnya.Kadang, pada ujung kail ada hasilnya. Tapi kail yang lain kosong. Umpan masih utuh. Menurut ceritanya, Pak Yus pernah mendapatkan 45 kilogram ikan toman dalam sehari. Tapi pernah pula hanya 5 kg.

Pak Yus bersama dengan pemancing yang lain melarang penggunaan setrum dan racun untuk mengambil ikan. Bagi mereka, kehancuran habitat Danau Mesangat akan berdampak pada perikehidupan setempat. Dan, bukti kesimpulan itu sudah mereka rasakan.

Kerusakan alam di sekitar Sungai Kelinjau telah merusak keseimbangan ekosistem setempat. Sungai Kelinjau mengering sampai habis pada musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan, air sungai itu meluap. Kampung-kampung sekitar kebanjiran. Hutan yang sangat luas di bentang alam Kutai Timur banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan tanaman industri lain.

“Sekarang susah dapat ikan di sungai. Ikan kecil-kecil saja yang masih ada. Orang-orang sekarang makan bukan lauk ikan dari sungai, tapi lauknya dari pabrik-pabrik yang ada di Jakarta sana. Datang ke sini sudah dibungkus plastik. Padahal, mana lebih enak? Ikan-ikan besar di sinilah,” sekali lagi Pak Yus berjenaka.

***

Pak Yus menyaksikan jagatnya yang melumpuh. Planet ini sudah kehilangan sebagian fungsinya dalam memproduksi pangan sehat dan tentu lebih murah. Ia pernah mengalami zaman ketika ikan tersedia melimpah—sekurangnya sebagaimana mereka rasakan.  Sejauh ingatannya, ketika hutan-hutan masih bertahan, kampungnya tidak terendam banjir meski hujan berhari-hari. Pun permukaan sungai di depan rumahnya tidak surut sampai ke dasar pada musim kering.

Pada kenangannya, Sungai Kelinjau dan hutan Kalimantan mengandung banyak harapan. Ia menyimpan ingatan ketika lingkungan begitu bermurah hari merawat kehidupan di dalamnya. Tidaklah mereka susah untuk mendapatkan pangan. Rasa keterikatan orang-orang setempat dengan sungai, hutan, dan satwa di situ cukup erat.

“Mesangat ini yang sekarang masih ada. Tidak boleh orang nyetrum atau pakai tuba di sini. Kalau ikan-ikan di sini punah, tidak lagi ada telurnya, nanti kita makan apa? Anak-anak cucu nanti mau dapat makan dari mana? Sawit itu tidak bisa dimakan. Kita di sini tidak makan sawit. Orang-orang dimana yang mana sawit?”

Orang-orang seperti Pak Yus dan sekian orang di kampung itu hidup menyatu dengan alam. Kesadaran diri sebagai bagian integral dari alam tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Manusia tidak bisa hidup secara waras dan manusiawi di dalam ekosistem yang tidak seimbang atau sudah rusak. Alam yang rusak kehilangan kemampuan untuk merawat kehidupan di dalamnya. Bahkan untuk menyembuhkan dirinya pun sangat susah. Maka, merusak alam sama saja dengan merusak diri sendiri.

***

Percakapan dengan Pak Yus antara Maret sampai Agustus 2011 itu menggoreskan pesan penting tentang relasi dengan alam sekitar. Danau Mesangat, ruang hidup yang sangat ia kuasai seluk-beluknya, bukanlah objek untuk ia taklukan atau ia keruk sehabis-habisnya. Tidak ada mental sebagai ‘tuan pemilik’ yang hendak mengeksploitasi sehabis-habisnya layaknya seorang tuan rakus yang memeras keringat budaknya hingga tidak ada tetes yang tersisa.

May be an image of 1 person

Hidup bersahaja berlawanan dengan semangat hidup rakus. Orang-orang seperti Pak Yus mengambil apa yang ia butuhkan untuk hidup. Ia menanam padi, pisang, dan beberapa pohon buah. Ia tidak mengambil kayu-kayu ulin besar yang memang ia tidak butuhkan. Kalau perlu, ia pun mengambil seperlunya.

Kesahajaan memberikan jeda bagi alam. Ikan-ikan berkembang biak mengikuti musimnya. Burung-burung pun demikian. Padi menghasilkan bulir-bulir pada saatnya tiba. Tidak ada manusia yang mendesak-desak mereka untuk berkembang biak atau menghasilkan buah lebih cepat dan lebih cepat dan lebih cepat. Tidak juga orang seperti Pak Yus berkuasa untuk memaksa atau mengintervensi ‘hukum alam’ agar alam menghasilkan lebih banyak, lebih seragam, dan lebih apapun demi memuaskan hasrat diri manusia yang dibayang-bayangi rasa takut binasa.

Manusia modern memang paradoksal. Ia berjuang untuk memanipulasi atau menaklukkan alam demi melestarikan dirinya. Tapi sesungguhnya usaha itu tidak lain adalah penghancuran dirinya.

“Pak Yus, apakah tidak ingin menjadi orang kaya?” tanyaku.

“Ada di sini orang-orang yang sebentar kaya karena dulu ikut kerja perusahaan kayu. Sungai ini siang malam pagi sore penuh kayu. Besar-besar. Orang-orang kaya itu tinggal di hotel-hotel di Samarinda. Berbulan-bulan. Uangnya tidak habis-habis. Enak dia tinggal di hotel. Semua dilayani. Mau makan pilih saja. Habis itu apa? Supaya uangnya cukup terus, bisa hidup enak terus, tambah banyak pohon ditebang. Tidak bisa pohon jadi besar dalam satu dua hari. Hutan habis. Lalu apa? Balik lagi dia di sini,” kata Pak Yus.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.