Kutukan Homo Corruptus

js4853's deviantART gallery | Surrealism painting, Surrealism, PaintingOleh Reza A.A Wattimena

2012, saya menulis buku dengan judul Filsafat Anti Korupsi: Membedah Hasrat Berkuasa, Pemburuan Kenikmatan dan Sisi Hewani Manusia di balik Korupsi. Buku itu unik. Ia tidak membahas korupsi dari sisi politik ekonomi semata, seperti buku-buku korupsi pada umumnya. Buku ini membahas korupsi dari sisi pelakunya, yakni manusia yang jiwanya sudah membusuk: homo corruptus.

Homo Corruptus

Homo corruptus adalah mahluk yang koruptif. Nilainya sebagai manusia sudah membusuk. Yang ada di otaknya hanya mencuri, terutama mencuri dalam jumlah besar untuk memuaskan hasrat kerakusannya. Di Indonesia, homo corruptus memegang jabatan tinggi, mulai dari pejabat partai politik sampai dengan menteri penanggung jawab krisis.

Secara resmi, korupsi adalah menggunakan barang publik untuk kepentingan pribadi. Para pejabat negara berpeluang besar melakukan ini, terutama ketika aparat penegak hukum cenderung tak berdaya berhadapan dengan orang kaya dan berkuasa di Indonesia. Namun, rakyat biasa pun bisa melakukannya. Ketika ruang bersama digunakan untuk kepentingan berjualan tanpa ijin, korupsi pun terjadi.

Namun, korupsi bermakna jauh lebih luas daripada itu. Korupsi adalah tindakan memperbusuk keadaan. Ini berlaku mulai dari orang tua yang tidak menjalankan kewajibannya mendidik anak dengan baik, sampai dengan pemuka agama yang menyebarkan kebencian dan kebodohan pada umatnya. Merekalah mahluk-mahluk koruptif (homo corruptus) yang sesungguhnya. Ketika politik, ekonomi, agama dan budaya dipenuhi ketidakdilan, masyarakat tersebut sudah menjadi masyarakat koruptif. Inilah yang kiranya terjadi di Indonesia.

Tiga Tahap Korupsi

Lebih dari 85 persen manusia hidup di bawah pemerintahan yang korup. Begitulah data yang ditemukan oleh Transparency International 2017 lalu. Dampaknya mengerikan, yakni milyaran orang yang hidup dalam himpitan kemiskinan. Rasa keadilan juga rusak, karena korupsi juga mengggerogoti para penegak hukum dan politisi yang dipilih langsung oleh rakyat. Negara yang koruptif, seperti Indonesia, akan terus terjebak di dalam kemiskinan, kesenjangan sosial dan hancur pada akhirnya.

Ada tiga tahap korupsi, sebagaimana dijabarkan oleh Pokharel dan Pratap (2017). Tahap pertama adalah korupsi kecil yang tidak berdampak pada hidup rakyat. Para koruptor adalah pejabat tinggi yang mencuri di balik pintu-pintu tertutup. Masyarakat umum hidup dalam tingkat kemakmuran dan keadilan yang cukup tinggi, walaupun ada korupsi yang terjadi.

Tahap kedua adalah korupsi yang sudah menular ke pelayanan publik. Pemerintah mencuri uang rakyat, dan membagikannya ke pihak-pihak yang mendukungnya. Para pemuka agama dan pendidik disuap untuk mendukung rezim yang korup, namun berkuasa. Hukum dirumuskan untuk melindungi para koruptor, menghabisi upaya pemberantasan kourpsi serta memungkinkan terjadinya korupsi di masa depan.

Tahap ketiga adalah korupsi yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Nilai-nilai luhur hanya kata-kata manis, dan sama sekali tak terlaksana di kenyataan. Pemberantasan korupsi hanya mengincar beberapa orang yang menjadi kambing hitam penguasa. Namun, pelaku koruptur besar dan struktur yang korup dibiarkan berkembang.

Hubungan antar manusia dipenuhi kebohongan. Tak ada lagi yang bisa dipercaya. Saudara menipu saudara. Penguasa menipu rakyat yang sudah memilihnya.

Penegak hukum tidak berdaya menghadapi penguasa yang korup. Bahkan, para penegak hukum itu sendiri yang justru menjadi pelaku korupsi. Seluruh sistem politik dan ekonomi membusuk, karena korupsi yang menyebar seperti kanker ini. Indonesia di 2021 ada di dalam situasi ini.

Bunuh Diri

Homo corruptus sebenarnya sedang melakukan bunuh diri. Jika ia terus mencuri, maka masyarakat akan hancur. Ia tak lagi punya obyek untuk dirampas. Ia sendiri pun akan hancur.

Masyarakat dibangun di atas nilai-nilai bersama. Korupsi merusak nilai-nilai tersebut. Masyarakat pun akan hancur, jika tak ada perubahan berarti. Para koruptor bisa kabur, setelah menyelesaikan kejahatan mereka. Namun, mereka akan selalu hidup dalam ketakutan dan ancaman kehilangan, karena dampak dari tindakan mereka.

Mungkin memang kita hidup pada masa, dimana korupsi dan kebodohan merajalela. Segala usaha perubahan bisa dilakukan. Namun, dampaknya kecil, bahkan tidak terasa sama sekali. Yang pasti, segala hal berubah. Masa ini pun akan berlalu. Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut masa yang lebih baik dengan tetap berjuang untuk pencerahan dan keadilan dari saat ke saat.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Kutukan Homo Corruptus”

  1. Homo Corruptus. Ulasan yang baik pak Reza. Terima kasih. Saya salut, pak Reza sangat produktif melahirkan tulisan2 menarik terutama kajian dalam bidang filsafat. Ide2 baru, kritis, dan disiplin dalam merawat gagasan. Pak Reza, kami anak2 muda butuh suplemen pengetahuan yang bergizi seperti ini. Kalau pak Reza berkenan untuk membagikan kepada kami dan kita diskusikan, saya kira suatu kehormatan dan kebanggaan buat kami. Maaf pak kami dari NTT. Kalau pak Reza berkenan saya akan tinggalkan kontak yang bisa bapak konfirmasikan untuk undangan kami ini. 081237155845.🙏🙏
    Mohon maaf dan terima kasih pak Reza.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.