Tawaran Menjadi Manusia Bahagia dari Reza

May be an image of 1 personOleh Johanes Supriyono, Antropolog, Alumnus STF Driyarkara. 

Buku Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern (2021), saya pandang sebagai bagian dari filsafat manusia yang ditawarkan oleh Reza Wattimena. Gagasan-gagasan yang ia tuangkan di dalamnya bersumber dari ajaran filsafat timur, lebih khusus ajaran Zen yang dipraktikkan oleh penulisnya. Seperti ia akui sendiri di dalam salah satu halaman di buku ini, Zen telah ia alami sebagai jalan pembebasan dari dukkha (hlm 175).

Rasanya tidak sepenuhnya tepat untuk sekadar menyebut sebagai gagasan yang seolah-olah dipungut dari tumpukan kitab atau olah pikir belaka. Pencerahan-pencerahan yang dikisahkan di buku ini berasal dari buah pencarian Reza yang menempuh jalan Zen untuk mengolah batin. Rasanya saya juga keliru jika menyebutnya sebagai gagasan. Sebab, buku ini lebih banyak menyajikan bagaimana Reza mempersepsi, memahami, mencecap, menjalani—atau jika boleh saya sebut mengolah—pengalaman dengan tradisi Zen.

Bagaimana ia mengolah pengalaman keseharian dengan Zen—yang kulminasinya adalah pencerahan batin—itulah yang ia sajikan dalam kisah-kisah serba singkat di sini.  Pencerahan batin yang mentransformasi cara pandang kita terhadap diri, realitas, relasi, kebahagiaan, kepemilikan, atau apapun menjadi klimaks dalam setiap kisah di buku ini. Memandang dan menyadari secara jernih apapun di dunia ini merupakan tawaran yang paling ultim buku ini.

Maka, sesiapa yang sedang berada dalam kegaduhan hidup semoga tertolong setelah mencecap kisah-kisah di buku ini. Anda bisa memilih kisah yang pas. Tidak harus memulai membaca dari halaman pertama.

Namun, saya harap Anda tidak melewatkan bagian epilog. Sebab, bagian ini amat penting untuk mengingatkan diri kita bahwa hidup kita hanyalah bagian sangat kecil dari seluruh semesta jagat raya dan eksistensi kita selama beberapa tahun sesungguhnya sangat singkat dibanding umur alam raya. Maka, sayang sekali jika Anda membuang kesempatan untuk sadar bahwa hidup ini hanya numpang tertawa!

Urban Zen

Menyadari Realitas

Semua manusia ingin bahagia. Ingin kaya. Tidak ingin miskin. Ingin sehat terus. Tidak ingin sakit. Juga tidak ingin mati kalau bisa. Ingin semuanya baik-baik saja. Tidak ingin menderita. Tidak menjadi tua dan meninggal. Tidak ingin relasinya berantakan. Kenyataannya kita menderita karena kita tidak kunjung kaya meskipun sudah bekerja dan hidup hemat dan macam-macam cara ditempuh untuk mengakumulasi kekayaan. Dorongan untuk menjadi semakin kaya tidak surut atau bahkan padam. Tidak hanya itu. Langkah-langkah agar cepat kaya semakin ngawur pula. Penyakit datang menghampiri seiring tubuh yang merenta. Orang-orang dekat satu per satu pergi. Rasa cemas pada tahun-tahun di ujung kehidupan tidak kunjung menjadi kepasrahan dan penyerahan.

Para penghuni kota, orang-orang modern itu, yang setiap waktu berdesak-desakan dan dengan demikian berebut oksigen [bayangkan Anda berada dalam gerbong kereta atau bus umum yang padat pada jam berangkat dan pulang kerja], yang mungkin merasa lega sejenak setelah menerima gaji sebulan sekali yang segera pula dipangkas untuk membayari cicilan dan tagihan-tagihan, kemudian sempat mencicipi bahagia karena berhasil mentraktir diri sendiri atau anak-anak dan isteri bagi yang punya, menjalani hidup dalam beragam desakan dan himpitan yang bukan karena pilihan bebas, tapi lebih karena kekalahan. Barangkali ada sedikit yang mengklaim diri sebagai pemenang. Tapi, para pemenang itu pun sejatinya ditaklukkan oleh rasa hampa—syukur saja bahwa mereka memiliki fasilitas untuk melipur lara dan melupakan sejenak nestapanya. Mereka tidak pernah berhasil mengatasi kesia-siaan tetapi mereka berhasil melupakannya.

Orang-orang modern berjuang untuk menjadi manusia yang ‘sempurna’ (kaya raya, suka-suka, cerda, dan entah apalagi). Sebuah ilusi, menurut Reza. Semua yang diidamkan adalah kesia-siaan dan sumber dari penderitaan (dukkha). Untuk apa mengejar kesia-siaan? Untuk bahagia?

Kehendak untuk mengejar-ngejar kebahagiaan itu rupanya menjadi asal-mula rasa tidak bahagia alias penderitaan. Kecemasan karena tidak kunjung menjadi insan yang bahagia itu menjadi kehampaan yang tidak mudah diisi. Ilusi bahwa gelimang harta dan kuasa bisa menutup kehampaan yang mengerikan itu tidak pernah terwujud. Batin tetaplah laksana akar-akar pokok jati yang meranggas dan kehausan pada musim kemarau panjang!

Padahal untuk bahagia, kata Reza, sangat sederhana: Terimalah dan teguklah kenyataan bahwa derita dan sakit adalah bagian hidup yang sia-sia untuk dihindari (hlm 165). Berjalanlah selaras dengan hukum alam. Tidak guna menentangnya (hlm 168).

“Hidup itu sendiri, jika disadari, sudah cukup memberikan kebahagiaan yang sejati. Orang hanya perlu mengarahkan kesadarannya ke dalam diri, baik ke napas,..” Sumber kebahagiaan adalah kesadaran yang jernih akan eksistensi diri sendiri yang bisa tertawa, bisa sakit, bisa menderita, dan pada waktunya akan pergi.

Manusia Bahagia

Tidak ada jaminan bahwa setelah membaca buku ini Anda menjadi bahagia. Tidak ada kepastian juga bahwa Anda akan bebas dari derita setelah mencecap seluruh kisah dari Reza. Jika Anda saat ini sedang terpukau dengan gemerlap kemewahan dan kekayaan, malah buku ini akan menampar Anda. Untuk Anda yang mengarahkan seluruh daya upaya untuk menumpuk harta, pencerahan-pencerahan dari penekun Zen ini akan terasa mengganggu. Sebaiknya, jika Anda termasuk golongan yang barusan saya sebut, singkirkan atau bakar saja buku ini. Atau, kalau Anda sudi sedikit bermurah hati, berikanlah buku ini kepada penekun jalan spiritual.

Namun, jika Anda sedang disergap oleh rasa hampa dalam hidup, dan perasaan itu membuat Anda gila atau menggiring Anda untuk bunuh diri, ambillah buku ini. Kisah-kisah di buku ini bisa menghibur sejenak sebelum Anda berangkat untuk menggantung diri, menceburkan diri ke laut, atau menempuh apapun cara yang Anda pilih untuk mengakhiri hidup. Dan, kalau Anda baca perlahan dengan penuh perhatian, Anda akan sempat merenung-renung yang mungkin berujung pada mengubah keputusan untuk “bergerak lebih jauh”.

Apakah kehampaan itu akan sirna gara-gara cerita-cerita dari Reza? Tidak juga. Rasa hampa akan tetap berada di sana. Penderitaan tetap akan ada. Barangkali yang bisa Anda lakukan adalah memiliki jarak dan sikap yang berbeda daripada sebelumnya. Anda akan lebih memiliki rasa optimistis terhadap hari-hari Anda.

Sekurangnya kisah-kisah ringan—percayalah, Anda tidak perlu mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk membaca buku ini—berkembang menjadi suara-suara halus yang mengajak Anda bertanya pada diri sendiri seputar bagaimana bisa bahagia, bagaimana menjalani hidup dengan segala tanggung jawab dan tetap merasa tidak kehilangan harapan, dan kendati dikepung berbagai kewajiban cicilan, tagihan, pekerjaan, masih bisa tetap waras.

Pada akhirnya, seperti saya katakan, buku ini tidak akan membuat Anda bahagia. Namun, Anda punya pilihan setelah menyesap kisah-kisah, yang sebagian sesungguhnya sangat pribadi, untuk memutuskan apakah Anda ingin menempuh perjalanan sederhana untuk menjadi bahagia—Atau masih ingin menempuh perjalanan sulit dan berat untuk menjadi nestapa.

Itu saja.

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.