Revolusi Moral ala Zen

What is Surrealism in art and cinema? | Clipchamp GlossaryOleh Reza A.A Wattimena

Saya diundang menjadi pembicara di Webinar pada Agustus 2021 lalu. Rekan pembicara saya adalah seorang guru besar dari salah satu universitas negeri di Bandung. Ia doyan sekali berbicara soal moral. Baginya, peserta didik itu harus bermoral, yakni patuh pada orang tua, rajin beribadah, patuh pada agama dan tidak boleh berpakaian bebas.

Dalam hati saya, itu bukan moral. Itu perbudakan. Itu penjajahan. Itu penindasan. Saya menawarkan wacana tandingan. Kita tidak butuh moral dangkal semacam itu. Yang kita butuhkan adalah pemikiran kritis, kreatif dan keberanian menantang pola pikir lama yang sudah membusuk.

Kemunafikan

Wacana perbudakan (yang berbungkus moral) itu sudah membuat saya muak. Sudah terlalu lama pendidikan Indonesia amat terbelakang dan tertutup. Para guru dan dosennya berwawasan sempit serta menjajah. Yang dihasilkan adalah manusia-manusia patuh yang pandai mengikuti perintah, seperti kambing.

Cukup berwacana soal pendidikan moral. Cukuplah berteriak soal pendidikan karakter. Semua itu berbau kemunafikan. Semua itu membuat bangsa ini makin terbelakang.

Teriakan moral kerap dibarengi dengan korupsi para penguasa. Yang tertangkap mencuri mendadak menjadi religius. Baju menjadi agamis, supaya menarik simpati hakim, dan masyarakat luas. Pelaku serupa yang berteriak soal moral, supaya bisa naik jabatan dengan menjilat atasan.

Kemunafikan begitu kuat. Keadaan semacam ini sangat tidak sehat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini sudah terjadi terlalu lama. Buih-buih khotbah moralitas menguat justru di tengah korupsi dan pelanggaran HAM yang menumpuk.

Ada ratusan ribu tempat ibadah di Indonesia. Teriakan moralitas dikumandangkan di berbagai tempat. Namun, korupsi jalan terus, bahkan semakin meluas dan mendalam. Kemiskinan dan kekumuhan tersebar di berbagai tempat, juga semakin dalam dan semakin luas.

Kaum perempuan ditindas. Mulai dari cara berpakaian sampai dengan isi pikiran, mereka terus diperbudak. Anak-anak dididik dengan sangat keras. Mereka dipaksa untuk mempelajari hal-hal yang tak bermakna dan tak berguna.

Pada bedebah terus bersembunyi di balik slogan moralitas. Para koruptor dan perusak tatanan bersembunyi di balik ajaran agama terbelakang. Pada saat yang sama, demokrasi tenggelam dalam oligarki. Hanya orang kaya yang boleh menikmati kemakmuran di Indonesia. Hanya mereka yang boleh jadi penguasa.

Revolusi Moral

Ini terjadi, karena kita tak paham soal moralitas yang sejati. Moralitas kita adalah moralitas hampa. Ia tak punya dasar. Ia hanya kata yang tak bermakna.

Moralitas kita hanya soal konsep. Ia tidak menginspirasi tindakan. Sebaliknya, ia justru menggoda untuk dilanggar. Ia hanya teori, tanpa penerapan.

Moralitas hampa, karena ia kering. Ia dipaksakan melalui lembaga yang korup. Ia dikhotbahkan oleh para bedebah. Tak heran, di Indonesia, moralitas justru bermuara pada kemunafikan.

Ini berakar pada sebab yang lebih luas. Kita mengalami krisis spirtualitas. Sistem pendidikan dan banyak lembaga agama telah menjadi lembaga kekuasaan yang memperbodoh masyarakat. Ia juga telah menjadi alat politik untuk memecah belah, dan menciptakan ketidakadilan.

Maka, wacana moralitas haruslah mengalami revolusi total. Ia harus diubah dari dasarnya. Ia harus diberi suntikan spiritualitas. Hanya dengan begitu, moralitas menjadi bergairah, dan membawa kedamaian bagi diri maupun masyarakat luas.

Moralitas yang Sejati

Moral yang sejati berpijak pada kebijaksanaan. Moralitas sejati tidak kering. Ia tidak dipaksakan, apalagi diancam dengan hukuman. Moralitas yang sejati tidak menjadi alat memperbodoh dan mempermiskin masyarakat luas.

Maka, sebelum berbicara moralitas, kita harus paham soal kebijaksanaan. Kita harus tenggelam dalam kebijaksanaan, sebelum berkhotbah soal moral. Jika tidak, maka moralitas kita adalah moralitas penindasan. Moralitas kita adalah moralitas kemunafikan, seperti yang kini terjadi di Indonesia.

Apa itu kebijaksanaan? Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk memahami dunia sebagaimana adanya. Ini adalah dunia sebelum konsep, sebelum teori dan sebelum pikiran. Inilah dunia sebagaimana diciptakan oleh Sang Pencipta.

Kebijaksanaan juga berarti memahami, siapa diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang asli berada sebelum pikiran muncul. Ia seluas semesta. Ia memeluk segala yang ada.

Setelah memahami diri kita yang sejati, identitas kita pun menjadi seluas semesta. Segala yang ada adalah bagian dari diriku. Tak ada keterpisahan. Kita memiliki identitas kosmik.

Aku adalah kamu. Kita adalah satu. Ini berlaku tak hanya untuk sesama manusia, tetapi untuk segala yang ada. Kedamaian batin yang mendalam hadir dari kebijaksanaan kosmik ini.

Mengalir dari Kebijaksanaan

Moralitas pun mengalir dari kebijaksanaan semacam ini. Akar dari moralitas adalah identitas. Ketika identitas sudah seluas semesta, maka moralitas menjadi terbuka. Ia penuh gairah, inspirasi dan membawa terang pencerahan.

Tidak ada rumusan moral baku. Bertindak moral berarti bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan. Tidak ada tipuan surga, maupun ancaman neraka. Moralitas menjadi sepenuhnya hidup, dan membawa kebebasan.

Tidak ada lagi kemunafikan. Tidak ada lagi penindasan. Moralitas menjadi alami, sealami angin bertiup, dan air mengalir. Moralitas menyatu dengan kehidupan semesta.

Ekspresinya pun beragam. Tak ada keseragaman yang dipaksa. Tak ada pakaian yang diwajibkan. Tak ada aturan yang mesti dipatuhi secara buta. Tak ada ajaran yang memperbodoh dan mempermiskin manusia.

Moralitas Zen

Moralitas yang mengalir dari kebijaksanaan adalah moralitas Zen. Inilah moralitas yang berpijak pada keheningan batin. Inilah moralitas yang mewarnai kehidupan dengan inspirasi dan gairah. Ia memperkaya kehidupan, dan bukan mencekiknya dengan aturan-aturan bodoh yang tak masuk akal.

Moralitas Zen bisa mendorong orang menjadi biksu. Mereka menjadi pertapa. Mereka membaktikan hidupnya untuk mencari kebenaran. Mereka melepaskan hidup yang fana dan sementara.

Moralitas Zen juga bisa mendorong orang menjadi samurai. Mereka para ahli pedang yang mematikan. Mereka siap berperang dengan lawan yang mengancam. Baik biksu maupun samurai, walaupun berbeda, keduanya adalah manusia tercerahkan dengan moralitas sejati di hatinya.

Praktisi Zen juga menjadi pelaku bisnis. Mereka membuat keputusan-keputusan ekonomis penting setiap harinya. Lapangan kerja jutaan orang ada di tangan mereka. Moralitas mereka adalah moralitas sejati yang menghidupkan.

Praktisi Zen juga menjadi penyair. Mereka adalah jiwa-jiwa bebas yang menolak untuk dikekang. Mereka memberontak terhadap sikap kuno yang mencekik jiwa. Mereka menawarkan keindahan di tengah dunia yang penuh kemunafikan.

Ekspresi dari moralitas sejati itu beragam. Ia tidak mengenal batasan tradisi. Moralitas sejati, yakni moralitas Zen, itu seluas semesta. Ia seperti musik Jazz yang dinamis, berwarna dan menggairahkan. Tak ada rumusan baku yang mesti dipatuhi secara buta.

Hanya tiga pertanyaan yang penting. Apakah kamu sudah memahami dirimu yang sejati? Apakah identitasmu sudah seluas semesta? Apakah kamu sudah tercerahkan? Jika ya, maka moralitas sejati mengalir secara alami dari keadaan batin yang tecerahkan tersebut.

Hati damai. Tindakan menyesuaikan dengan keadaan yang terus berubah. Ia terbuka untuk berbagai kemungkinan. Masyarakat pun bisa damai, dan maju bersama. Maka, berhentilah berbicara moralitas, sebelum menyentuh kebijaksanaan. Sudah terlalu lama, bangsa kita berkubang di dalam kemunafikan. Saatnya berubah.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Revolusi Moral ala Zen”

  1. sepakat sekali !
    ingin saya utara kan , ttg”zen ..mendorong jadi bhiksu / samurai …..”, ini adalah buah dr “non duale pemikiran”, shg tidak ada beda antara hidup/mati.
    bahkan di waktu perang dunia II bbrapa zen-master
    “menyetujui” arah politik tsb. sebalik nya berapa banyak zen-master yg dimasa lalu , pimpinan militer berpangkat.
    sangat menolong, kl kita hanya “melihat, melihat, melihat, tanpa menilai”.
    kemunafikan , pribadi pengecut , buta nalar hanyalah cermin kebodohan belaka. mereka perlu “perhatian dan bahkan butuh pertolongan “.
    fazit : hanya diri sendiri bisa menolong dari “jeratan”(konzep/bayangan) hidup.
    salam hangat !!

    Suka

  2. Moralitas yang dibangun berdasarkan kepentingan benar-benar merenggut kebebasan dalam menampilkan diri saya yang sesungguhnya. Semoga saya bisa menemukan revolusi moral yang sejati itu.

    Suka

  3. kenapa kita semua lompat sana sini spt monyet mencari sesuatu yg kita “butuhkan”, walau kita semua sudah punya, sudah ada, hanya lah kita tidak sadar !!
    apa yg kita cari / butuh semua adadi telapak kaki dan di emperan jalan bukan di perguruan tinggi dan tempat2 ibadah……haha, pemikiran miring bukan ??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.