Bijaksana Beragama

The Goddess of Wisdom | This is an original oil surrealism f… | FlickrOleh Reza A.A Wattimena

Agama hadir untuk menghadirkan keteraturan di dunia yang kacau. Sebelum agama ada, manusia hidup dalam ketidakpastian. Banyak konflik yang mengorbankan hidup orang tak bersalah. Agama pun hadir menghadirkan tatanan dengan nilai-nilai kehidupannya.

Agama adalah organisasi buatan manusia. Ia adalah komunitas orang-orang yang berbeda, namun memutuskan untuk menyatu bersama. Yang dihadirkan bukan hanya tatanan sosial, tetapi juga kedamaian batin. Agama memanusiakan manusia.

Agama mengingatkan, bahwa manusia itu tidak sendiri. Ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Namanya beragam, seperti Tuhan, Dewa, Allah, Atman dan sebagainya. Manusia diajak untuk melepaskan sikap egoisnya, dan menyatu dengan sesuatu yang lebih besar daripadanya.

Di abad 21, ada banyak agama di dunia. Bahkan, di dalam satu agama, ada banyak aliran. Begitulah kehidupan. Ia tidak akan pernah seragam.

Agama menjadi kunci pembangunan. Di Eropa dan Amerika Serikat, berbagai institusi pendidikan Katolik dan Kristen menjadi tempat penelitian ilmiah serta lahirnya pemikir-pemikir besar. Walaupun dalam sejarah, banyak juga perang yang terjadi atas nama agama, terutama agama-agama Timur Tengah.

Krisis Hidup Beragama

Di Indonesia 2021 ini, hidup beragama mengalami krisis. Ada empat gejala yang tampak. Pertama, agama menjadi pembenaran sikap egois. Kepentingan satu agama diutamakan sambil mengorbankan kepentingan agama-agama lainnya. Agama jatuh ke dalam kesombongan semu yang justru bertentangan dengan nilai-nilainya sendiri. Ia keropos dan membusuk dari dalam.

Dua, ibadah satu agama amat menganggu kehidupan bersama. Orang sakit, anak kecil dan para pecinta hening sulit menikmati hidup yang tenang. Mereka terpaksa diganggu oleh teriakan-teriakan tak jelas berkali-kali setiap harinya. Banyak keluhan sudah diutarakan, namun tak ada perubahan nyata yang tampak.

Tiga, agama juga banyak menindas perempuan. Perempuan dianggap sebagai benda tak berpikir yang mesti diatur seluruh hidupnya. Bahkan, perempuan seringkali tak mendapatkan hak-haknya sebagai manusia. Atas nama agama dan menjaga kedamaian semu, banyak perempuan tunduk pada penindasan, bahkan ikut juga menjadi pihak yang menindas.

Empat, di Indonesia, agama juga sering dipakai sebagai kendaraan politik. Isu-isu sensitif diangkat, sehingga rakyat terpecah belah. Para penguasa busuk pun memperoleh keuntungan dari keadaan yang kacau tersebut. Ini menjadi sangat terlihat menjelang pemilihan umum.

Dengan Bijaksana

Beragama mestilah bijaksana. Ini sesuai dengan nilai-nilai semua agama di muka bumi ini. Ada empat hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, beragama mesti dengan empati.

Kita hidup bersama dengan orang lain. Ada kepentingan orang lain yang mesti diperhatikan. Kita tidak boleh egois dengan hanya memperhatikan kepentingan diri dan kelompok kita sendiri. Berempati berarti melihat dunia dari sudut pandang orang lain, sehingga bisa menghargai kepentingan mereka.

Tanpa empati, masyarakat bisa pecah. Kepentingan saling beradu, sehingga konflik terjadi. Banyak korban jiwa maupun harta benda. Di Indonesia, kita harus menghindari ini.

Dua, beragama dengan bijak berarti beribadah dengan tenang. Kehadiran Sang Pencipta tidak bisa dirasakan di dalam teriakan. Ia hanya bisa disentuh di dalam hening. Beribadah tidak boleh menganggu orang lain yang juga punya hak untuk hidup tenang.

Tiga, beragama tidak boleh menindas siapapun, terutama perempuan. Perempuan adalah jalan kehidupan. Kita semua lahir dari rahimnya. Mereka harus dihargai sepenuhnya, dan tidak dijajah hidupnya, misalnya dengan melanggar hak-hak mereka, atau melarang mereka berpikir bebas.

Empat, beragama dengan bijak berarti membawa pencerahan untuk semua. Semua pihak mendapatkan keuntungan dari kehadiran agama tersebut, walaupun mungkin mereka berbeda agama. Agama tersebut juga menghadirkan kedamaian di dalam diri dan di dalam hidup bersama. Ia membuat orang menjadi cerdas dalam berpikir, dan beradab di dalam perilaku.

Di Indonesia, sudah saatnya kita bijaksana dalam beragama. Sudah terlalu sering, agama digunakan untuk membenarkan sikap egois dan merusak. Sudah terlalu sering juga, agama digunakan untuk kendaraan kepentingan-kepentingan politik maupun ekonomi busuk. Ini tidak boleh terulang lagi.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Bijaksana Beragama”

  1. begitulah kenyataan nya, dunia canggih ponsel dan sosmed, tapi ttg agama masih di zaman baheula.
    di negara2 dgn pemikiran terbuka , kerjasama antar agama bukanlah asing lagi, tapi lumrah, umumlah.
    di indonesia justru sebaliknya, bahkan kaum intelekt pun tidak mampu berpikir/bertindak kritis.
    sangat menarik utk mengikuti jejak cara berpikir/bertindak sang penulis.
    bak barang langka !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.