Lebih dari Sekedar Agama

980 Surreal Zen Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan, apakah Mas Reza seorang Buddhis? Apakah Zen yang mas dalami adalah sebuah agama? Saya sendiri lahir dari tradisi Gereja Katolik Roma yang kaya dengan tradisi dan filsafat yang sarat rasionalitas. Kini, saya menjadi seorang praktisi Zen di dalam keseharian.

Apakah ajaran Buddha, terutama Zen, adalah sebuah agama? Jawaban saya sederhana, Zen, dan ajaran Buddha secara umum, itu lebih dari sekedar agama. Agama adalah institusi yang berpijak pada kepercayaan tertentu. Ia mengikat (religare) manusia dengan seperangkat aturan yang baku. Tujuan agama adalah menciptakan keteraturan (A-Gama: tanpa kekacauan) di dalam hidup bersama.  

Zen memiliki kedua hal itu. Ada lima sila dasar yang mesti dipatuhi, supaya orang bisa mencapai pencerahan dan pembebasan. Intinya adalah kita tidak boleh menyakiti mahluk hidup dalam bentuk apapun. Dengan seperangkat kode moral tersebut, dan komunitas yang berkembang di sekitarnya, Zen menghadirkan kedamaian di dalam hidup bersama.

Namun, Zen lebih dari sekedar agama. Ia adalah teknologi untuk pembebasan. Ia berisi separangkat metode untuk membawa manusia keluar dari penderitaan yang ia buat sendiri. Akar Zen sudah amat tua, bahkan jauh sebelum  kehidupan Buddha Gautama, dan kini menyebar luas di dunia dalam dialog dengan ilmu pengetahuan modern.

Teknologi Pencerahan

Ada empat hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, sebagai teknologi, Zen, dan ajaran Buddha pada umumnya, bisa dipelajari dan digunakan oleh siapapun. Ia mirip dengan sepeda. Orang beragama bisa menggunakannya, apapun agama yang ia peluk. Orang tak beragama, dan kaum ateis, pun bisa menggunakannya.

Dua, Zen juga tidak memiliki kebenaran mutlak yang tidak boleh dipertanyakan. Zen terbuka untuk kritik dan perbedaan pendapat. Para master Zen terus mengembangkan metode baru untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan kebodohan. Tujuannya tetap satu, yakni membangunkan manusia dari penderitaan yang lahir dari kebodohannya.

Tiga, sama seperti teknologi dan ilmu pengetahuan modern, Zen juga bersifat ekperimental. Ia bisa diuji langsung. Ia tidak perlu iman ataupun keyakinan buta yang memperbodoh manusia. Zen bisa diterapkan, dan langsung dirasakan manfaatnya bagi yang melakukannya.

Empat, Zen juga mencerdaskan orang-orang yang melakukannya. Tujuan Zen adalah pembebasan dan pencerahan. Ia memberikan pengetahuan dan kebijaksanaan tentang cara kerja dunia sebagaimana adanya, termasuk cara kerja pikiran dan batin manusia secara akurat. Dengan pengetahuan ini, orang bisa keluar dari kebodohan dan penderitaan pada saat ini juga.

Tantangan Kita

Namun, sebagai agama dan sekaligus teknologi pembebasan, Zen sulit berkembang di Indonesia. Ada empat tantangan besar. Pertama, orang Indonesia cenderung suka memuja dengan buta. Ia tidak terbiasa berpikir kritis terhadap ucapan ataupun ajaran agama, terutama yang diutarakan oleh orang-orang yang berjubah.

Jika Zen dimutlakkan, ia menjadi berbahaya. Ia akan berubah menjadi seperangkat dogma yang memperbodoh manusia. Tujuan pencerahan dan pembebasan tidak akan tercapai. Zen hanya akan menjadi satu lagi agama kematian yang merusak budaya, menindas perempuan dan merusak kedamaian bersama.

Dua, orang Indonesia juga masih bermental klenik. Mereka ingin menjadi manusia sakti. Mereka ingin memiliki kekuatan-kekuatan supranatural, sehingga bisa hidup sehat lama, kaya selamanya dan berpenampilan rupawan, seringkali dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Ini semua hanya akan berujung pada kerakusan dan penderitaan.

Tiga, bangsa Indonesia juga sudah terlalu lama diracuni oleh agama kematian. Inilah agama yang menindas perempuan, menghancurkan budaya lokal, menganggu kedamaian hidup bersama dan mengembangkan terorisme serta kekerasan. Butuh upaya yang beragam dan panjang untuk melenyapkan pengaruh agama kematian di Indonesia. Semakin banyak orang yang mendalami Zen sebagai teknologi pembebasan, maka pengaruh agama kematian bisa dikikis sampai ke akar.

Empat, para pemimpin di Indonesia masih bermental bobrok. Mereka korup, rakus kekayaan, gila hormat dan tak peduli pada kepentingan rakyatnya. Pola ini merata di berbagai bidang, dari kepemimpinan desa sampai dengan kepemimpinan pusat. Di dalam negara dengan mutu kepemimpinan semacam ini, Zen sebagai teknologi pembebasan akan sulit berkembang, karena dianggap membahayakan kepentingan mereka.

Lebih dari Sekedar Agama

Mendalami Zen berarti mendalami agama sekaligus teknologi pembebasan. Ia mengajarkan orang untuk memahami pikiran dan emosinya sebagai sesuatu yang kosong dan sementara, sehingga tak layak untuk dikejar. Zen juga mengajarkan kita untuk memahami langsung, siapa diri kita yang sebenarnya. Diri sejati kita adalah kesadaran murni yang kosong, namun sepenuhnya awas (cognizant) dan hidup (alive).

Di dalamnya sudah terkandung kebijaksanaan, pengetahuan dan kedamaian yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan di saat ini. Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik untuk semua mahluk hidup, jika kita semua mendalami Zen. Sebagai agama, nilai-nilai dasar Zen sejalan dengan semua agama besar di dunia, yakni cinta, perdamaian dan solidaritas kepada semua mahluk hidup. Sebagai teknologi pembebasan, Zen menawarkan cara yang rasional, kritis dan manjur untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan penderitaan.

Secara umum, anda tidak perlu ganti KTP untuk mendalami Zen. Anda tidak perlu mengucapkan kalimat apapun untuk mendalami Zen. Tetaplah berpegang pada agama yang sudah anda punya, namun berikan sentuhan mendalam dari Zen. Hidup anda akan berubah ke arah pembebasan dan pencerahan. Tunggu apa lagi?

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Lebih dari Sekedar Agama”

  1. begitu pula yg saya alami sampai kini.
    zen mengarahkan ke “pembebasan” , bahkan kita mampu menginterpretasi kalimat “zen for nothing”(kodo sawaki).
    kita betul merasakan , hidup sangat beragam.
    weiter so !!!
    salam hangat !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.