Memperebutkan Jiwa Bangsa

5 Pengertian Nilai Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa & NegaraOleh Reza A.A Wattimena

Jiwa bangsa kita sedang dipertaruhkan. Ini sebenarnya bukan hal baru. Identitas adalah sesuatu yang mengalir. Namun, apakah aliran memberikan keadilan untuk semua, atau justru menciptakan pola-pola penindasan baru?

Hal ini menjadi penting dipikirkan, terutama ketika kita menyentuh peringatan hari kemerdekaan ke 76 Republik ini. Di satu sisi, kita diterkam beragam bentuk kemunafikan. Ia seringkali bersembunyi di balik slogan-slogan suci agamis. Di sisi lain, kekuatan nasionalisme progresif tetap ada, namun seperti tiarap dan terserak. Alhasil, Indonesia diancam oleh setidaknya lima musuh ini.

Lima Musuh Kita

Pertama, korupsi akut kini menikam seluruh sendi kehidupan bangsa. Dari jajaran pelayan publik terendah, penegak hukum sampai kementerian, korupsi dengan amat mudah ditemukan. Tak jarang, orang melapor ke polisi, namun justru diperas lebih jauh. Tak jarang pula, para koruptor bersembunyi di balik agama, supaya seolah dihapus dosa-dosanya.

Indikator korupsi di Indonesia memang tak bisa dibanggakan. Transparency International memberikan 37 poin pada Indonesia di 2020 lalu. Ini turun tiga poin dari 2019 sebelumnya. Poin 0 berarti, negara itu sangat korup. Sementara, poin 100 menunjukkan, bahwa sebuah negara bersih dari korupsi.

Dari 180 negara di dunia, Indonesia berada di peringkat 102 terkait korupsi. Ini setingkat dengan Gambia. (Ahsan Ridhoi, 2021) Tidak hanya Transparency International, beberapa lembaga lain pun, seperti Global Insight Country Risk Ratings dan Political Service Risk Corruption, pun sampai pada kesimpulan yang serupa. Korupsi tidak hanya menciptakan ketimpangan sosial yang semakin besar di Indonesia, tetapi juga bisa menghancurkan keutuhan republik itu sendiri.

Dua, radikalisme agama jelas menjadi salah satu musuh terbesar. Di Indonesia, Islam telah mengalami proses radikalisasi yang mendalam. Intoleransi berkembang begitu pesat di berbagai tempat. Perempuan pun semakin menjadi obyek untuk kepuasan dangkal para pria yang menyembunyikan kebusukannya di balik jubah agama.

2020 adalah puncak intoleransi Indonesia. (Guritno, Kompas 2021) Pelakunya adalah individual, maupun lembaga masyarakat, seperti warga, ormas keagamaan sampai dengan Majelis Ulama Indonesia. Bentuknya beragam, mulai dari penindasan terhadap hak perempuan, penutupan Gereja di berbagai tempat sampai dengan pelarangan ibadah agama tertentu. Aceh dan Jawa Barat menjadi tempat paling banyak terjadinya intoleransi beragama.

Tiga, Indonesia turut ambil bagian di dalam terciptanya pemanasan global dan perubahan iklim dunia. Polusi industri dan kendaraan mengubah mutu udara di berbagai tempat. Manajemen sampah yang lemah pun turut memperparah masalah. Pertambangan yang menyalahi aturan juga terus terjadi, dibarengi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme yang berakar dalam.

Hancurnya hutan di Indonesia kini juga hampir tak tertahankan. Menurut Forest Watch Indonesia, dari 2000 sampai 2017, kita telah kehilangan hutan lebih dari 23 juta hektar. Ini setara dengan 75 kali luas dari Yogyakarta. (Pratama, Kompas, 2020) Pada 2019 lalu, Indonesia menjadi negara peringkat ketiga yang mengalami kehilangan hutan alam, yakni sekitar 324 juta hektar. Penyebab utamanya dua, yakni penghancuran hutan demi perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan yang menyalahi aturan.

Empat, Indonesia pun belum lulus dari pelanggaran HAM berat yang terus saja terjadi. Intoleransi beragama sudah disebutkan di atas. Kita jahat terhadap alam, sekaligus terhadap sesama manusia. Sampai 2021 ini, tidak ada perubahan yang terlihat.

Peristiwa pembantaian 1965-1966 di berbagai daerah di Indonesia membisu tak tersentuh oleh keadilan. Anak cucu korban masih merasakan derita yang berat di 2021 ini. Kerusuhan Mei 1998 masih tak jelas akar maupun tanggapan resmi dari pemerintah. Penculikan orang secara paksa dari 1996 sampai 1998 juga tak pernah sedikit pun dibahas oleh negara. Ini juga ditambah dengan begitu banyaknya pelanggaran HAM di Papua yang cenderung diabaikan. Ironis dan bodohnya, kita sibuk dengan soal Palestina.

Lima, tampak di depan mata adalah ketimpangan sosial yang ekstrem. Orang berpunya bisa hidup begitu mewah, kerap dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang mereka lakukan. Orang miskin hidup begitu melarat, kerap masih bingung, besok akan makan apa, dan tinggal dimana. Kita hanya cukup melihat dengan jeli berbagai kota di Indonesia untuk menyadari hal ini.

Ketimpangan sosial suatu negara biasanya diukur dengan koefisien gini. Pada dekade 1990-an, koefisien gini kita menyentuh 29,2. Sementara, pada 2011, kita menyentuh 38,9. Artinya, ketimpangan kita semakin besar, setelah reformasi 1998 lalu. Pandemik 2020 kembali memperbesar ketimpangan tersebut. Masyarakat yang sudah miskin justru yang semakin melarat. (Pusparisa, 2021)

Enam, disinilah jiwa bangsa kita sungguh dipertaruhkan, yakni dalam soal pendidikan. Apakah kita akan menjadi bangsa dengan kemakmuran dan keadilan yang merata? Ataukah kita akan menjadi bangsa agamis yang melarat, terbelakang dan saling membunuh? Sayangnya, keadaan pendidikan Indonesia bukanlah sebuah berita baik.

Pendidikan dihabisi oleh formalisme agama. Kepatuhan dan budaya menghafal terus disebarkan. Sikap kritis dan cara berpikir ilmiah hampir sama sekali tak mendapat ruang. (Wattimena, 2020) Ini dibarengi dengan bertumbuhnya radikalisme agama yang memaksakan ajaran Islam radikal di berbagai sekolah di Indonesia.

Jiwa Bangsa Kita

Menuju peringatan kemerdekaan yang ke 76, jiwa bangsa kita terus menjadi pertaruhan. Tantangan semakin besar. Pemerintah juga tampak semakin tidak kompeten. Masyarakat sipil harus bergerak dalam koordinasi yang luas untuk menanggapi kelima musuh di atas.

Perubahan sosial hanya mungkin lewat dua hal. Yang pertama adalah pertumbuhan kesadaran lewat perkembangan ilmu pengetahuan dan berkembangnya cara berpikir ilmiah. Yang kedua adalah keberadaan organisasi yang secara jujur dan konsisten memperjuangan kebaikan bersama. Alternatifnya hanya satu, yakni revolusi berdarah yang akan menghancurkan republik ini. Semoga, kita tidak sampai ke titik tersebut.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.