Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?

The Art Of Dimitri Kozma: Dementia - Surreal painting by Dimitri KozmaOleh Reza A.A Wattimena

Bilangan Kemang, Jakarta Selatan, sekitar jam 7 malam, Senin 26 April 2021, saya sedang parkir motor. Terdengar suara gaduh begitu keras dan begitu lama. Saya bertanya kepada tukang parkir, suara apakah itu. Suara orang berdoa, jelasnya.

Mengapa begitu keras? Saya sampai tak bisa mendengar suara tukang parkir itu. Saya bahkan tak bisa mendengar suara saya sendiri. Mengapa berdoa harus begitu keras?

Saya tengok tempat ibadah terkait. Orangnya sedikit sekali, tetapi suaranya keras sekali. Apakah perlu sekeras itu? Bukankah itu menganggu lingkungan sekitar? Bukankah itu polusi suara? Gejala apakah ini?

Konon, jika dibicarakan dengan baik-baik, orang bisa dituduh menistakan agama. Akhirnya, orang takut, dan mendiamkan suara bising yang sangat menganggu lingkungan sekitar tersebut. Beginilah nasib para pencinta sunyi di negara yang terobsesi agama. Orang sakit, orang yang butuh istirahat dan para pencinta sepi harus dipaksa mendengar doa yang tak bermakna, dan seringkali merusak telinga.

Hipotesis yang Kemungkinan Benar

Saya sudah lama punya hipotesis sederhana. Hipotesis berarti pendapat yang belum diuji dalam penelitian. Bunyinya begini, semakin suatu negara terobsesi pada agama, semakin negara itu terbelakang dan miskin. Dengan beberapa ketikan di keyboard, “Professor Google” langsung menyajikan data-data yang berguna.

Data diambil oleh lembaga riset PEW dalam bentuk survey dari tahun 2008 sampai 2017. Ini adalah lembaga riset mandiri yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian secara rutin tentang berbagai hal yang terkait dengan kehidupan bersama. Mereka menggunakan metode penelitian terbaru untuk menggali data yang diinginkan. Ini data yang saya dapatkan:

Mari kita bedah data tersebut. Ada lima negara yang melihat agama sangat penting. Mereka adalah Ethiopia (98%), Pakistan (94%), Indonesia (93%), Honduras (90%) dan Nigeria (88%). Jelas, ini adalah negara-negara yang gagal menghadirkan kemakmuran dan keadilan bagi warganya. Ketimpangan sosial antara yang kaya dan yang miskin begitu tinggi. Konflik bersenjata, mulai dari teror bom sampai perang saudara, pun belum juga berakhir.

Kita lihat sisi lainnya. Ada lima negara yang tidak melihat agama sebagai sesuatu yang penting. Mereka adalah Cina (3%), Swedia (10%), Jepang (10%), Inggris (10%) dan Jerman (10 %). Ini adalah daftar negara-negara yang luar biasa.

Cina sudah menjadi negara adidaya dengan pengaruh politik, ekonomi dan budaya yang amat besar di dunia. Banyak kritik yang ditujukan pada Pemerintah Cina. Namun, kita tak bisa membantah, mereka sangat luar biasa. Bagaimana dengan Swedia, Jepang, Inggris dan Jerman? Ini adalah negara-negara maju, tempat orang-orang dari seluruh dunia ingin hidup, bekerja dan belajar.

Tanyakan ke diri anda. Apakah anda mau hidup, bekerja dan belajar di Ethiopia, Nigeria atau Indonesia (kecuali yang sudah lahir disana, seperti saya)? Saya rasa, sebagian besar akan menjawab tidak. Apakah anda mau belajar, bekerja dan hidup di Cina, Jepang atau Jerman? Saya rasa, sebagian besar akan menjawab ya.

Mengapa ini Terjadi?

Data dari PEW tidak menyebut soal obsesi. Namun, dari pengamatan dan bacaan saya, agama sudah menjadi obsesi hidup di kelima negara yang saya sebutkan di atas. Kebenaran hanya ada di dalam agama, terutama agamaku, yang diberikan pada waktu aku lahir, dan tak punya hak untuk memilih, atau pindah. Yang lain sesat, bahkan harus dibom untuk dimusnahkan dari muka bumi.

Ada tujuh hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, obsesi adalah gejala batin yang tak sehat. Orang memuja sesuatu, tanpa sikap kritis. Orang kehilangan nalar sehat, dan hanyut dalam obyek pujaanya.

Orang yang terobsesi sulit diajak berbicara dengan baik. Mereka mengalami kebutaan nalar. Mereka tak bisa, atau tak mau, melihat dari sudut pandang lain, atau dari sudut pandang yang lebih luas. Akhirnya, mereka pun cenderung sensitif, dan siap melakukan kekerasan, jika merasa terpojok.

Obsesi pada agama berdampak serupa. Orang buta pada data dan fakta yang berbeda dengan pandangannya. Orang menjadi keras kepala di dalam kebodohannya. Di masyarakat yang terobsesi pada agama, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tak akan berkembang.

Dua, obsesi juga akan membunuh nalar sehat. Orang tak mampu berpikir logis, dan melihat sebab akibat secara nyata di dunia. Sikap kritis juga lenyap. Tradisi dan pandangan lama yang sesat tetap dipertahankan, walaupun sudah terbukti salah total.

Tiga, buta data dan buta nalar sehat akan berujung pada kemiskinan. Korupsi akan tersebar luas, bahkan terpaut erat dengan hidup beragama. Berbagai kebijakan justru akan memperbodoh dan mempermiskin rakyat. Kemiskinan dan kekumuhan pun merajalela, diikuti dengan secuil orang kaya dengan perumahan mewah mentereng yang menganggu pemandangan.

Tanpa pegangan data dan nalar sehat, masyarakat tidak akan bisa membuat hukum yang adil. Kebijakan juga akan salah kaprah. Berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, kriminalitas, diskriminasi dan korupsi, hanya akan bertambah besar.

Empat, semua ini akan menciptakan intoleransi terhadap perbedaan cara hidup. Konflik antara kelompok dan antar agama akan rutin terjadi. Korban nyawa dan harta benda akan menjadi tak terhitung. Indonesia sudah kenyang dengan pengalaman semacam ini.

Lima, negara juga akan terjebak pada perdebatan sia-sia. Soal berpakaian akan menjadi perdebatan publik yang menyita banyak waktu dan tenaga. Soal dosa, neraka dan surga juga akan menjadi wacana publik yang sia-sia. Di dunia yang sedang giat melawan pandemik, mengembangkan energi terbarukan dan mempersiapkan perjalanan antar planet, negara-negara yang terobsesi agama semakin jauh tertinggal di belakang.

Enam, negara yang miskin dan terbelakang akan menjadi mangsa dunia internasional. Kekayaan alamnya akan dikeruk habis. Negaranya hanya akan menjadi tempat jualan semata. Budayanya hancur tergilas pengaruh asing. Di dalam kemiskinan budaya dan ekonomi, konflik dan kehancuran pun sudah menunggu di depan mata.

Tujuh, pada akhirnya, negara-negara yang terobsesi pada agama akan menjadi negara gagal (failed state). Pemerintah tidak mampu menyediakan kemakmuran dan keadilan bagi warganya. Konflik berdarah akan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Dalam waktu tertentu, negara tersebut akan lenyap dari muka bumi.

Ketujuh hal ini juga bisa dibalik, guna memahami negara-negara yang tidak terobsesi pada agama. Mereka cenderung peka pada data, dan menggunakan nalar sehat maupun kritis di dalam membuat kebijakan. Mereka berhasil keluar dari kemiskinan maupun konflik yang berkepanjangan di wilayahnya. Toleransi terhadap perbedaan cara hidup sangatlah tinggi. Mereka menjadi negara-negara maju dalam hal budaya, ekonomi dan politik, serta menjadi teladan bagi negara-negara lainnya.

Beragama Secara Wajar

Saya tergoda untuk menolak keberadaan agama di dunia. Tapi, ini tampaknya berlebihan. Tak bisa dipungkiri, agama telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan peradaban manusia. Tanpa agama dalam segala bentuknya, manusia mungkin sudah hancur oleh ketidakpastian alam.

Belajar dari Aristoteles dan Buddha Gautama, jalan tengah yang moderat adalah jalan terbaik. Maka, kita harus tetap beragama. Namun, jangan sampai kita jatuh ke dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Ada lima hal yang penting untuk diperhatikan.

Pertama, lepaskan segala bentuk obsesi. Ia tidak sehat. Ia membunuh nalar sehat dan hati nurani. Ia membunuh empati.

Beragama boleh, namun jangan terobsesi. Beragamalah dengan santai dan penuh tawa. Tetap belajar bernalar sehat. Tetap mengembangkan hati nurani dan empati. Silahkan beribadah, sambil tetap peka pada kepentingan orang lain, dan kebaikan bersama.

Dua, hidup manusia itu punya banyak sisi. Jangan hanya agama yang dikembangkan. Kembangkan sisi seni dan budaya juga. Kembangkan sisi ilmiah dan filsafat juga. Hidup kita akan menjadi seimbang, dan jauh dari jebakan obsesi.

Tiga, secara khusus, kita harus belajar mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni. Ini akan mengasah akal sehat dan nurani. Sistem pendidikan harus mengembangkan budaya ilmiah dan kecintaan pada seni budaya. Ini dimulai dengan memilih menteri pendidikan maupun pejabat-pejabat pendidikan yang tepat.

Empat, jika ingin beragama, belajarlah sampai ke inti. Jangan terjebak pada kulit permukaan yang dangkal. Jangan terjebak pada tafsiran-tafsiran yang sesat yang memperbodoh. Inti semua agama adalah kesatuan dengan Tuhan dan segala yang ada. Cinta dan kedamaian akan muncul secara alami dari kesatuan ini.

Lima, pada satu titik, kita harus melampaui agama, dan memasuki spiritualitas. Artinya, kita tak lagi melihat diri kita sebagai semata anggota kelompok sosial tertentu, tetapi sebagai warga semesta. Di dalam filsafat, ini disebut juga sebagai kosmopolitanisme. Kita akan hidup berdampingan dengan damai dengan segala yang ada, termasuk tumbuhan dan hewan di sekitar kita. Kita akan terhindar dari segala bentuk obsesi yang menyiksa, termasuk obsesi pada agama.

Indonesia jelas masih ada harapan. Sebagian besar bangsa ini mampu bernalar sehat dan memiliki nurani yang jernih. Hanya sebagian kecil yang radikal, dan merusak kebaikan bersama. Mereka kecil, namun suka sekali ribut di media sosial dan media massa nasional.

Mari kita kembangkan Indonesia yang beragama, namun makmur dan cerdas. Kita bisa menjadi teladan bagi seluruh dunia dalam hal ini. Saya bermimpi, suatu saat, semua tempat ibadah di Indonesia akan terbuka untuk semua agama. (Roetting, 2021) Orang lalu bisa melakukan Yoga di Gereja, ataupun Sholat di Wihara, tanpa ada rasa risih ataupun takut. Kita melampaui obsesi tak sehat pada agama, dan menjadi bangsa yang tercerahkan.

Semoga ini tidak menjadi mimpi belaka, tetapi kenyataan yang bermakna. Itu tergantung pada kita semua. Mari mulai bekerja!

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

49 tanggapan untuk “Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?”

  1. Keren om Reza. Sangat inspiratif… mudah-mudahan kita semakin menyadari dan menghidupi apa makna dibalik keagamaan yang kita anut. Tidak sekedar memilih karena terobsesi dan sensasi tapi melampaui keduanya…

    Suka

  2. Benar, agama seharusnya menjadi pemersatu umat manusia dan alam semesta oleh karena cinta kasih yang sedianya menjadi inti dari agama itu sendiri. Bukan malah saling membenci bahkan saling bunuh atas nama agama. Saya rasa Tuhan pun punya rasa humor dan senang dengan tawa. Terimakasih, pencerahannya Bung Reza…

    Suka

  3. Dari tulisan diatas,sy melihat bahwa penulis tdk membedakan antara agama dgn fiqih ibadah (aturan peribadatan).
    Padahal agama dan fiqih/aturan peribadatan a/dua hal yg berbeda,meskipun fiqih adalah satu satu bagian kecil dr agama.
    Jika bicara agama sebagai suatu sistem nilai,maka apa yg penulis sarankan,semuax telah tercakup dlm agama.

    Suka

  4. Agamanya baik2 saja, hanya cara beragama manusianya yang mungkin berlebihan. Di dalam al-quran dijelaskan bahwa al-quran diperuntukkan untuk kaum yang berfikir, bukan untuk di-iman-i begitu saja hanya saja nyaris semua orang beragama meyakini saja agamanya karena takut dikatakan sesat, padahal pengkategorian sesat itu adalah hak Allah yang Maha Mengetahui kebenaran. Ini hanya pendapat saya pribadi. Terima kasih.

    Suka

  5. Setuju sekali dengan kekritisan Bapak Dr.Reza A.A Wattimena. Memang seharusnya manusia seperti itu.

    Suka

  6. Saya semakin percaya argumen Marx, ‘Die religion … ist das opium des volkes.’

    Agama apapun jika didalami dengan baik akan memperkaya hidup, manusia menerima dengan kepala dingin dunianya yang terus berevolusi, menerima alam semestanya dengan hangat, menyadari kefanaannya sambil terus berkarya. Jalan terus.

    Didalami secara dangkal, agama menyadarkan manusia akan Freudian ‘death wish,’ semua soal ‘the life after,’ semua yang berbeda akan dilihatnya secara dangkal karena pikirannya bukan pada kehidupan. Berhenti dan matilah sambil meronta2 ketakutan.

    Hipotesis hasil PEW menarik, is that it? Cheers 2 life, pak Wattimena☕

    Suka

  7. Trima kasih. Tulisan anda sgt mencerahkan dan mjd peringatan bagi yg lagi “mabuk agama”, bahwa agama adalah sarana bagi menuju kebahagiaan dan memuliakan Tuhan, agama bukan tujuan hidup manusia.

    Suka

  8. Setuju sekali dengan pendapat bapak…sudah banyak juga yang mengutarakan hal ini. Semoga bangsa Indonesia makin tercerahkan soal ini…..apalagi dengan adanya pandemi, harusnya manusia Indonesia makin disadarkan pentingnya akal sehat……tidak semata mengedepankan agamanya saja….

    Suka

  9. Betul sangat tepat sekali….keberanian menyuarakan hal yang benar sangat diperlukan namun kadang orang takut menyatakan yang benar itu adalah benar… perbedaan pendapat hal keyakinan seharusnya tidak perlu diperdebatkan karena tujuannya sama yaitu hidup kekal dan masuk surga yang menentukan adalah Tuhan

    Suka

  10. Pembahasan yang bagus, rasanya ingin bgt share tp apa daya, saya masih takut untuk dicap sesuatu oleh orang2 yang saya kenal hanya karena kemungkinan besar mereka tidak akan membaca lebih jauh drpd judul artikel ini.

    Suka

  11. Sekedar berbagi opini saja
    Kita perlu pemisahan di berbagai bidang. Tidak hanya pemisahan kekuasaan agama dan politik tetapi juga pemisahan bidang politik, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, olahraga, dan lainnya. Setiap bidang harus otonom dan berjalan berdasarkan kriteria-kriterianya sendiri. Jika kita mencampurbaurkan agama, politik, dan ekonomi, hasilnya adalah korupsi. Jika seorang dosen mengevaluasi mahasiswa berdasarkan agama mereka, maka sang dosen adalah dosen yang korup. Bila seorang dosen menilai berdasarkan uang, maka ia guru yang korup. Dosen harus menilai murid dari sisi akademik saja. Hal yang sama berlaku untuk pimpinan agama. Ia mesti mengikuti panduan agama. Percampuran agama, politik, ekonomi, dan sebagainya adalah masalah besar.

    Salam damai

    Baca selengkapnya di artikel “Ahmet Kuru: Tradisi Islam Demokratis Hancur oleh Otoritarianisme”, https://tirto.id/gf7f.

    Suka

  12. Negeri ini jd miskin krn pemimpinnya yg tolol dan tdk punya integritas, jangan mengkambing hitamkan agama. Knp tdk mengkritisi pengelola negeri ini. Essensi tulisan tsb adlh utk mendiskreditkan Islam berkedok kemiskinan negara krn si penulis golongan kafir yg minus data ttng aqidah Islam.

    Suka

  13. Maki bodoh suatu (kelompok) masyarakat maka makin rajin dia berdoa mengharap berkah, makin keras suaranya, makin keren kalau pakaiannya beratribut agama makin bangga bahwa dia pandai dalam hal agama.

    Suka

  14. Tulisan yang jujur dan enak dibaca. Semoga lebih banyak orang membaca tulisan ini, lalu berhenti dan berpikir. Saya agak lama berhenti di kalimat ini, “Tak bisa dipungkiri, agama telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan peradaban manusia.” Mungkin benar, tetapi sejarah juga mencatat begitu banyak nyawa hilang demi “membela” agama.

    Suka

  15. Setelah menghisap seluruh sumber daya alam dan manusia negara dan bangsa lain, kemudian menguasai seluruh hajat hidup mereka, dilanjutkan dengan bermegah-megahan dengan hasil rampokannya, sekarang para perampok itu membuat riset dan penelitian, siapa yang lebih maju dan berperadaban.

    Suka

  16. Negara paling terobsesi agama di dunia:
    1. Arab Saudi
    2. Vatikan
    3. Israel

    Makin terobsesi agama, makin miskin pula itu negara, contohnya Brunei Darussalam yg ngotot berlakukan rajam berdasar hukum syariat Islam

    Rumah filsafat tapi isinya tulisan sampah berdasar asumsi belaka 🤣

    Penulis lahir sungsang keluar pantat duluan karena otaknya emang disana

    Suka

  17. Tulisan yang sangat menarik, dan saya setuju. Sudah lama terbersit di pikiran saya dan ingin menuliskannya, tapi takut kena pasal penistaan agama 🙂

    Suka

  18. Saya sangat setuju. Semakin orang mabok agama, semakin merasa paling benar, merasa berdoa saja sudah cukup, katanya ini hanya duniawi yg kekal itu adalah surga. Tapi mereka tidak sadar bahwa untuk mencapai surga tidak hanya dengan beragama dan melupakan hal yang diajarkan agamanya.

    Suka

  19. Biasanya, perang atas nama agama melekat erat dengan kerakusan dan politik busuk. Agama itu sendiri mampu membuat manusia menjadi bening dan jernih. Ia menjadi sepenuhnya mahluk hidup yang suci. Ini yang kiranya terlupakan di Indonesia, karena agama dikendarai politik busuk.

    Suka

  20. Luar biasa, tulisan yg sangat bagus. Semoga bangsa ini terhindar dari bahaya radikalisme. Salam kenal bung Reza 🤝

    Suka

  21. Hukum buatan manusia bisa direkayasa, bisa dibeli dan kita bisa lari untuk mempertanggung jawabkannya.
    Tetapi hukum Tuhan tidak bisa ditawar bagi insan yang takut menjadi pendosa.

    Fakta bahwa negara yang berobsesi pada agama cenderung miskin mungkin benar adanya. Tetapi kekeliruan bukan pada agamanya. Bahkan penulis sendiri memberi solusi jadilah orang beragama yang masuk ke intinya. Yang paham betul pada agamanya.
    Artinya, yang keliru bukan agamanya, tetapi umatnya.

    Sebab agama memberi marka yang jelas, membatasi kesenjangan antara yang miskin dengan yang kaya, cara bertoleransi, menilai baik dan benar dll.
    Sementara hukum buatan manusia hanya menilai dari sisi benar (yang kebanyakan adalah PEMBENARAN).
    Maka menjadi wajar jika yang kuat merampas hak² yang lemah hanya karena merasa benar tanpa mempertimbangkan hati nurani. Contoh, maling ayam mendapatkan hukuman setimpal atau lebih berat dari seorang koruptor yang nilainya bisa membeli ribuan ayam berikut kandangnya…hahaha

    Suka

  22. Sepenuhnya sependapat dan mendukung dengan opini penulis. Dua saja saja komentar saya mengenai bukti yg digunakan; (1) kuat lemahnya korelasi, not necessarily mencerminkan hubungan kausalitas (2) perlu ada ukuran yg kredibel utk mendukung claim penulis mengenai miskin/terbelakang-nya sebuah negara. Menurut data bank dunia, Indonesia misalnya masuk dalam kelompok negara middle income country

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.