Wabah Kesempitan Berpikir

Rene Schute | Surreal art, Learned helplessness, Surrealism
Rene Schute

Oleh Reza A.A Wattimena

Masalah terbesar di dunia kita sekarang ini bukanlah pandemik. Juga bukan korupsi, atau kesenjangan sosial global, ataupun kerusakan lingkungan. Yang menjadi akar dari semua masalah tersebut adalah kesempitan berpikir. Semua masalah lainnya berakar ke satu masalah tersebut.

Pandemik tercipta dan menyebar, karena kesempitan berpikir sekelompok orang di Cina. Korupsi dan kesenjangan sosial global terjadi, karena kesempitan berpikir sekelompok orang yang rakus dan tak beradab. Diskriminasi, radikalisme dan terorisme terjadi, juga karena kesempitan berpikir. Hal yang sama terjadi dalam soal kerusakan lingkungan.

Kesempitan Berpikir

Apa itu kesempitan berpikir? Ia adalah kecenderungan orang untuk memutlakan pandangan sendiri, dan menolak untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Kesempitan berpikir juga ditandai dengan kurangnya empati, yakni kemampuan untuk merasakan apa yang mungkin dirasakan orang lain. Akibatnya, orang tersebut tidak mampu mempertimbangkan pandangan orang lain. Ia selalu merasa benar, walaupun tak sungguh berpijak pada akal sehat, ataupun kenyataan yang ada.

Orang yang sempit berpikir tidak terbuka pada perubahan. Ia tidak terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul. Ia penuh dengan prasangka terhadap perbedaan cara hidup, ataupun perbedaan pandangan. Yang menjadi masalah besar adalah, ketika orang-orang yang sempit berpikir memegang posisi kekuasaan.

Kebijakannya akan menghancurkan kebaikan bersama. Perbedaan cara hidup dan cara pandang akan terancam. Masyarakat luas berpeluang mengalami kekacauan politik, dan menjadi masyarakat yang hidup dalam rasa takut terhadap pemerintahan otoriter yang bersikap semaunya. Kesempitan berpikir lalu menjadi gaya hidup baru yang dianggap layak untuk diikuti.

Masyarakat juga terancam hancur, jika orang-orang yang sempit berpikir menjadi mayoritas. Hukum dan keadilan menjadi tak berdaya. Diskriminasi terhadap orang-orang yang berbeda cara hidup dan cara pandang akan menjadi biasa. Kekerasan dan kebodohan akan menjadi bagian hidup sehari-hari.

Kesempitan berpikir pun lalu menjadi wabah. Banyak orang yang terjangkit wabah tersebut. Tingkat pendidikan dan status ekonomi tinggi bukan jaminan, bahwa orang terhindar dari penyakit ini. Banyak juga orang sederhana, dengan tingkat pendidikan biasa-biasa saja, justru bisa terhindar dari kesempitan berpikir.

Akar Kesempitan Berpikir

Mengapa orang sempit di dalam berpikir? Ada tiga akar yang bisa dibedah, yakni akar sosiologis, akar epistemologis dan akar antropologis. Akar sosiologis mengacu pada lingkungan sosial seseorang. Ini mengacu juga pada pola didik, keteladanan keluarga dan keadaan masyarakat sekitar.

Keluarga yang berpikir sempit akan mengajarkan pola pikir tertutup kepada anak-anaknya. Biasanya, budaya dan agama menjadi patokan mutlak yang tak boleh dipertanyakan. Pemutlakkan pandangan kuno inilah yang menjadi inti dari kesempitan berpikir. Di dalam masyarakat yang terbelakang, dengan pola pikir yang irasional dan minim akal sehat, kesempitan berpikir menjadi satu-satunya hal yang diterima.

Akar epistemologis mengacu pada cara berpikir seseorang. Kesempitan berpikir lahir, ketika orang tidak memiliki ilmu dan informasi yang memadai. Ia tidak membaca. Ia menolak untuk melihat kebudayaan lain yang lebih maju.

Namun, ada paradoks disini. Di satu sisi, kita hidup di jaman informasi. Beragam informasi begitu mudah dan murah untuk didapat. Namun, di sisi lain, kita kerap terjebak pada informasi palsu, dan akhirnya mengalami kesalahpahaman.

Banjir informasi juga memuat kita kekurangan waktu maupun tenaga untuk melakukan refleksi. Informasi hanya menjadi sekumpulan fakta tanpa arti. Pengetahuan berlimpah. Namun, kebijaksanaan justru hampir punah.

Akar antropologis mengacu pada sisi manusia yang sempit dalam berpikir. Nietzsche, pemikir Jerman, sudah lama mengingatkan, bahwa manusia butuh untuk mempercayai sesuatu dalam hidupnya. Di tengah ketidakpastian hidup, ajaran moral di dalam budaya dan agama lalu menjadi pegangan yang seolah pasti. Ketakutan akan ketidakpastian, dan kerinduan untuk percaya, mendorong manusia menjadi sempit dalam berpikir.

Pendidikan boleh tinggi. Ekonomi boleh mapan. Namun, jika orang hidup di dalam ketakutan yang tak masuk akal, maka ia akan menjadi keras. Pikirannya menjadi sempit.

Melatih Keterbukaan

Tiga akar di atas bisa menjadi peta untuk melakukan perubahan. Pola didik haruslah terbuka pada perbedaan pendapat. Pertanyaan kritis harus didorong, dan tak boleh dijajah. Ini berlaku mulai dari pola asuh di dalam keluarga, sampai dengan tata kelola politik sehari-hari.

Informasi yang beredar di masyarakat juga harus dikelola dengan tepat. Berita palsu dan penyebar kebencian haruslah dibasmi. Masyarakat juga diajak untuk menekuni informasi secara mendalam. Hanya dengan begitu, informasi bisa menjadi ilmu, dan membentuk kebijaksanaan hidup.

Musuh dari kesempitan berpikir adalah sikap terbuka. Keterbukaan hanya mungkin tercipta, jika orang belajar untuk memeluk ketidakpastian di dalam hidup. Ketidakpastian tidak dihancurkan oleh kepastian yang semu, melainkan dilihat sebagai kemungkinan-kemungkinan yang kreatif. Perbedaan cara pandang dan cara hidup pun dirayakan sebagai warna warni kehidupan itu sendiri.

Masa depan manusia ditentukan oleh keterbukaan berpikir manusia itu sendiri. Apakah ia akan tetap sempit dalam berpikir, dan mengundang konflik maupun kekacauan di dalam hidup bersama? Apakah ia akan tetap sempit dalam berpikir, dan membiarkan kerusakan lingkungan terus bertambah besar? Ini yang mesti sungguh kita renungkan.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020) dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Wabah Kesempitan Berpikir”

  1. thema nya benar2 aktuell dan cocok utk situasi “kehidupan”( politik, perekonomian, masyarakat dsb , dsb )dewasa ini. cara pemikiran yg terjadi di negara apapun juga.
    rasanya bung reza leistet sisyphusarbeit atau berjuang spt don quichotte gegen die windmühle.
    tercampur dgn kesan2 (youtube) kehidupan dan jadwal harian di antaiji tempel.
    mungkin kehidupan sederhana membawa kita ke pemikiran waras, walau memerlukan banyak usaha dan kemauan.
    sering saya berpandangan, kerjakanlah pekerjaan/tugas aktuell tanpa pamrih dan tanpa diskusi, semua terima apa adanya !!
    selamat berkarya!
    terima kasih atas impuls2 yg mencerahkan !
    banyak salam dari seberang, musim menjelang gugur !!

    Suka

  2. Akankah kesempitan pikiran ini harus kita tunggu hingga benar-benar membusuk, agar tumbuh embrio baru sebagai harapan. Entahlah. (?)

    Suka

  3. Dan sangat mengherankan, banyak yg merasa nyaman dengan kesempitan berpikir itu, dan cepat terjadi akumulasi baper. Maka tak heran terjadi bunuh-bunuhan, hingga menghancurkan kemanusiaan. Tragis!
    Darurat akal sehat kebijaksanaan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.