Kejahatan Orang-orang Saleh

Ilustrasi karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Bajunya religius. Senyumnya lebar. Ia ingin menampilkan diri sebagai manusia saleh. Doa rajin, apalagi ketika banyak orang menonton. Puasa pun kuat, asal juga disaksikan oleh banyak orang.

Tampilan religius dibalut juga dengan kekayaan yang gilang gemilang. Sayang, hobinya mencuri, alias korupsi. Ia memandang rendah orang-orang miskin, dan orang-orang yang berbeda identitas dengannya. Jika mungkin, ia mempersulit, dan bahkan menindas mereka.

Tampilan religius dan kekayaan melahirkan kesombongan. Ia merasa, Tuhan ada di pihaknya. Jilat atas (orang-orang kaya dan berkuasa), injak bawah (orang-orang miskin dan minoritas), itulah semboyan hidupnya. Tentu saja, doa jalan terus, terutama jika banyak orang menyaksikan.

Kejahatan dan Kesalehan

Inilah kejahatan orang-orang saleh. Intinya adalah kemunafikan. Hidup beragama tak dibarengi dengan peningkatan kepekaan terhadap alam dan orang lain. Semakin hari, manusia semacam ini semakin banyak ditemukan di Indonesia.

Kesalehan adalah keutamaan yang berpijak pada tradisi atau agama tertentu. Ia bersifat pribadi. Di dalam masyarakat multikultur dan demokratis, seperti Indonesia, kesalehan harus dibarengi dengan keutamaan hidup sebagai warga negara modern, seperti berpikir rasional, patuh hukum, bersikap kritis dan terbuka pada perbedaan. Jika tidak, ia akan terjatuh pada kemunafikan.

Pemikir Jerman, Hannah Arendt, menyebut ini sebagai banalitas dari kejahatan (Banalität des Bösen). Karena kurangnya kepekaan, dan tajamnya kebiasaan yang dibangun lama, kemunafikan menjadi hal biasa. Bahkan, kemunafikan dipertontonkan di depan orang banyak, seringkali dibalut dengan upacara keagamaan, supaya terlihat saleh dan suci. Tak ada rasa malu.

Inilah jiwa dari manusia kerumunan. Martin Heidegger, pemikir Jerman lainnya, menyebutnya sebagai Das Man, yakni manusia-manusia palsu. Ini adalah manusia yang secara buta patuh mengikuti tradisi dan agama. Setiap pertanyaan dan pemikiran kritis dibungkam oleh ketakutan dan kepatuhan dangkal.

Akar dari jiwa Das Man, menurut Heidegger, adalah ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit). Orang bisa cerdas menghafal dan menghitung. Namun, ia tidak berpikir kritis. Ia hanya mengikuti secara buta apa yang menjadi kecenderungan masyarakat umum.

Publik dan Privat

Maka, kesalehan tidaklah cukup. Keutamaan publik demokratis haruslah dikembangkan. Kesalehan agamis menjadi urusan pribadi dan golongan semata, serta bukan urusan negara. Seperti dijelaskan oleh Habermas, pemikir Jerman kontemporer, kesalehan agamis harus bisa diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang bisa dimengerti oleh semua pihak, terutama oleh orang-orang yang berbeda identitas.

Tentunya, pembedaan ruang publik dan ruang pribadi harus ditekankan dulu. Persoalan alat kelamin dan orientasi gender adalah urusan pribadi yang mesti dilepaskan dari mata negara. Korupsi, kekerasan dan diskriminasi adalah persoalan publik yang harus dihadapi oleh negara dan hukum. Tanpa dua pembedaan ini, kemunafikan berbalut kesalehan akan terus berkembang.

Di Indonesia, orang boleh memeluk tradisi ataupun agama tertentu. Namun, ia juga adalah warga negara yang hidup bersama di dalam negara hukum dengan beragam orang yang berbeda latar belakang. Keduanya harus berjalan seimbang, walaupun tetap terpisah.

Jika orang saleh, namun tak memiliki keutamaan publik demokratis, maka  ia dan kelompoknya akan dimanfaatkan oleh para politisi busuk untuk merusak keadaan. Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 kiranya harus menjadi pelajaran bersama.

Kejahatan orang-orang saleh adalah kejahatan yang paling keji. Ia dilakukan oleh orang-orang yang merasa suci. Senyuman dan kesombongan berbarengan dengan penindasan terhadap orang lain.

Kiranya benar, bahwa setan di abad 21 tidak lagi bertanduk dan bertaring, namun menggunakan dandanan religius, dan pandai berbicara soal kesalehan. Ia berdoa keras-keras, sambil terus korupsi, mencuri dan menindas.

 

Penulis: Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020) dan berbagai karya lainnya.

20 tanggapan untuk “Kejahatan Orang-orang Saleh”

  1. Memang benar sekarang banyak orang berlagak saleh, tapi sebenarnya jahat  ..Shalat Terus-Maksiat Jalan (STMJ) … Teruslah kirimi saya bahan2 filsafat ..akan saya baca semuanyaDan saya sekarang mulai senang membaca dan belajar filsafat yang merupakan hakekat hidup dan kehidupan yang singkat di dunia fana ini.. Terima kasih

    Suka

  2. sepakat sekali dgn thema diatas, begitulah dgn kelompok tertentu juga di luar indonesia.
    menurut hemat saya, “halangan2” ini hanya lah ikatan dan cengkeraman dlm kepala, yg bisa dibebaskan, kalau yg bersangkutan mencari jalan keluar, walau memerlukan waktu yg lama.
    ada baik nya , kita membina nalar sehat, hati nurani, jati hati, utk melihat dan mengalami hidup dgn penuh kesadaran.
    saya yakin, jalan keluar ada dibawah telapak kaki setiap mahluk (manusia)!
    terima kasih atas thema yg aktuell, kritis.
    salam hangat !!

    Suka

  3. Menurut sy sih… Jika masih terbilang jahat atau tidak pernah merasa sering melukai hati sesama manusia berarti bukan org. saleh, karena org. Saleh tidak pernah merasa dirinya saleh, org. Beriman tidak merasa dirinya beriman,tidak ingin dipandang dan sangat takut akan menyakiti hati sesama manusia karena takut akan balasan dari Tuhannya. So.. keepsmile 😊 pada org. Yang jahat ataupun baik sesama manusia.. biar mereka berhadapan langsung sama Tuhannya.

    Suka

  4. Yang paling mengerikan memang mereka orang-orang yang suka berbuat kejahatan tapi masih tetap merasa diri baik dan suci. Masih merasa diri istimewa dan mulia.

    Suka

  5. Itulah keadaan akhir jaman firman Tuhan nyata terjadi
    1 Timotius 6:4-5 (TB) ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
    percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

    Suka

  6. saya tidak sependapat dengan tema di atas. kesalehan dan kejahatan tidak bisa digabungkan. kejahatan tidak mungkin dilakukan oleh orang saleh. karena saleh adalah menolah kejahatan dan yang sejenisnya. kesalehan tidak diukur hanya dengan lewat tampilan dan praktek ibadah. kesalehan diukur sejauh mana seseorang terhindar dan meghindar dari hal hal yang mendatangkan kemudharatan dan sejauh mana pula pikiran dan perbuatannya mendatangkan kebaikan. jadi kejahat tidak mengkin disebabkan kesalehan. dan kesalehan tidak sama denga pura pura saleh.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.