Zen dan Seni Bersih-bersih Rumah

Image result for cleaning

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya harus mengakui, pendidikan masa kecil saya tidak bagus. Di rumah, kami punya dua pembantu. Padahal, kami hanya dua bersaudara. Alhasil, kami hidup seperti layaknya putri dan pangeran.

Semua hal dilayani. Rumah dibersihkan. Makan dimasak pembantu. Bahkan, sampai akhir sekolah dasar, saya masih dimandikan pembantu. Memalukan.

Saya dimanja. Padahal, memanjakan anak itu sama dengan membunuhnya. Memanjakan itu menghancurkan karakter, dan memperlemah daya juang. Tak heran, banyak anak yang dimanja akhirnya terus bergantung pada orang tua, atau pada saudara saudarinya, bahkan ketika mereka dewasa.

Namun, itu semua berubah, ketika saya memasuki SMA. Saya hidup di asrama dengan segala aturan dan kebiasaannya yang kompleks. Saya hidup dan belajar bersama teman-teman seumuran. Semuanya berubah.

Saya harus mengerjakan semuanya sendiri. Saya memasang sprei, dan membersihkan tempat tidur sendiri. Saya mencuci baju dan piring sendiri. Saya mengatur keuangan sendiri.

Masih teringat pengalaman mencuci baju pertama kali. Baju direndam, lalu disikat, dan dibilas. Namun, bilasan saya tak bersih. Alhasil, semua pakaian berbau apek, dan saya terpaksa harus mencuci dari awal.

Pengalaman serupa saya dapatkan, ketika merantau ke berbagai kota. Begitu banyak yang harus dikerjakan. Saya harus bekerja mencari uang dan berkarya. Saya harus membersihkan kamar, lalu mengangkut baju ke binatu murah untuk dicuci (karena sudah tak ada waktu dan tenaga untuk mencuci manual).

Di negara lain, saya memilih untuk mencuci sendiri. Seminggu dua kali, saya mencuci baju. Setiap hari, saya membersihkan kamar, mencuci piring dan bekerja. Hari-hari saya penuh.

Namun, waktu itu, saya belum mengenal Zen. Semua kegiatan, seringkali, saya lakukan, karena terpaksa. Padahal, dari sudut pandang Zen, kegiatan sehari-hari adalah jalan untuk mengolah batin, sehingga penderitaan bisa dilampaui. Kuncinya adalah dengan melakukan semuanya secara sadar dan fokus.

Maka, membersihkan rumah bisa dilihat sebagai tindakan spiritual. Membersihkan rumah bisa dilihat sebagai jalan untuk mencapai pencerahan. Penderitaan hidup pun lenyap. Pendek kata, kita tak memiliki waktu dan energi lagi untuk menderita.

Ketika membersihkan sesuatu, lakukanlah itu, seolah keselamatan seluruh dunia bertumpu pada kegiatan membersihkan tersebut. Pola pikir yang sama perlu diterapkan, ketika berjalan, duduk, berdiri atau tidur. Lakukan semua itu, seolah itu semua adalah tujuan tertinggi di dalam hidup ini. Tindak membersihkan pun menjadi tindakan spiritual yang mendalam.

Lakukan dengan sadar, fokus dan gesit. Tidak perlu bergerak terlalu lama. Bergerak terlalu perlahan justru tidak alami. Ini tak sesuai dengan gerak hidup manusia yang sebenarnya.

Ketika melakukan sesuatu dengan kesadaran dan fokus yang penuh, maka ego pun lenyap. Sejatinya, ego memang tak pernah ada. Ia diciptakan oleh kebiasaan pikiran kita. Lalu, ia semakin besar, dan menjadi sumber penderitaan hidup yang tiada tara.

Ketika orang menyadari, bahwa ego hanya sesuatu yang bersifat semu, maka penderitaan pun akan luntur secara alami. Orang terlibat penuh pada apa yang ia lakukan disini dan saat ini. Pikiran dan badan menyatu dengan saat ini. Memang, yang sesungguhnya ada dan nyata hanyalah saat ini.

Zen juga mengajarkan, bahwa di dalam bekerja, kita harus peka pada kehidupan lain. Ada serangga di sekitar kita. Ada nyamuk, semut dan sebagainya. Sedapat mungkin, kita harus memperhatikan kehidupan mereka, karena mereka juga punya hak untuk hidup bersama di bumi ini, sama seperti kita.

Ingatlah, bahwa saat ini adalah waktu yang terpenting. Masa lalu tak bisa lagi diubah. Masa depan belum terjadi, dan amat tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini. Maka, di saat ini, kita tidak boleh menunda apapun.

Apa yang bisa dilakukan sekarang, haruslah dilakukan sekarang. Tentu saja, ini juga harus memperhatikan keadaan. Istirahat juga amat penting untuk kesehatan dan kebahagiaan hidup kita. Ketika badan lelah, maka istirahat pun harus dilakukan dengan penuh kesadaran.

Pikiran sehari-sehari adalah pencerahan kehidupan itu sendiri. Kita tak perlu bertapa di puncak gunung. Kita tidak perlu menyepi di hutan belantara. Disini dan saat ini, di tengah kegiatan hidup sehari-hari, seperti bersih-bersih, kita bisa memperoleh pencerahan dan kebahagiaan yang sejati.

Ketika pikiran mulai kembali mengulang masa lalu, atau cemas akan masa depan, kita hanya perlu kembali ke saat ini. Apa yang sedang dilakukan? Lakukan dengan fokus, totalitas dan penuh kesadaran. Ini perlu dilakukan terus, dan dianggap sebagai latihan seumur hidup.

Dengan cara ini, kita belajar untuk tidak hanyut dalam pikiran dan emosi sesaat. Kita bisa melepaskan masa lalu dan masa depan. Kita bisa hidup dalam kenyataan, dan meninggalkan ilusi. Kita pun bisa melepaskan diri dari rasa takut, marah, trauma dan derita yang selama ini mungkin mencengkeram.

Pada akhirnya, bersih-bersih rumah adalah bersih-bersih pikiran itu sendiri. Selalu saja ada yang perlu dibersihkan. Membersihkan debu itu bagaikan menghapus trauma dan luka lama. Ia perlu dilakukan terus.. dan terus.. dan terus.

Jadi, selamat bersih-bersih!

 

 

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Zen dan Seni Bersih-bersih Rumah”

  1. yang paling menguras energi itu klo saya terbebani masa depan, kondisi orang berbeda2, klo saya tidak cukup materi sedangkan misalnya negeri ini materi hal diutamakan maka pikiran sepenuhnya bergerak terus, kadang ingin sekali tidur nyenyak layaknya tidak ada masalah tapi pikiran berusaha untuk mengambil alih semuanya tentunya pikiran yng membawa kecemasan. hati pikiran layaknya bom waktu bagi segala penyakit yg akan berdatangan, sedih.

    Suka

  2. Saya juga merasakan pengalaman yang kurang lebih mirip dengan mas Reza, hidup mudah dan nyaman karena semua sudah ada yang layanin. Sekali merantau ( tinggal sendirian) baru merasakan capeknya bersih-bersih rumah…..

    Wkwk

    Salam hangat dari Charvin

    Suka

  3. Terima kasih sudah berbagi. Itu memang dilema banyak manusia abad 21. Coba untuk mengalami ini, tanpa menganalisisnya… hanya mengalami semua perasaan ini, tanpa diberi kata atau konsep apapun… cukup amati…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.