Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)

Fiveprime

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di dunia para cyborg. Cyborg adalah manusia yang bergabung dengan mesin, guna menjalani hidup kesehariannya. Di berbagai tempat, kita melihat para cyborg bergerak menjalani hidupnya. Sebagian besar mereka tak sadar, bahwa mereka telah menjadi cyborg.

Mesin, dalam arti ini, bisa berupa kaca mata, alat kesehatan sampai dengan ponsel cerdas yang kini tak lagi bisa terpisah dari hidup manusia di abad 21. Tanpa alat-alat canggih ini, para cyborg tak bisa hidup. Mereka cacat dan ketergantungan pada teknologi. Sebagian dari diri mereka sudah menjadi robot.

Manusia-Robot

Karena sebagian dirinya sudah menjadi robot, hidupnya pun diukur dengan ukuran-ukuran robot. Semua ukuran bersifat kuantitatif. Contohnya adalah tinggi badan, berat, jumlah gizi, usia hidup, jumlah pendapatan dan sebagainya. Data-data ini dianggap sudah mewakili apa artinya menjadi manusia.

Ini tentunya bermasalah. Jürgen Habermas, dalam bukunya Theorie des kommunikativen Handelns, sudah mencium gejala ini. Baginya, sistem dunia modern telah menjajah dunia kehidupan (Kolonisierung der Lebenswelt). Akibatnya, kehidupan manusia disempitkan menjadi semata data-data yang sifatnya mekanis. Manusia kehilangan makna dan arah hidupnya di tengah dunia yang hampir sepenuhnya bergerak seperti mesin.

Di dalam tiga bukunya yang berjudul Sapiens, Homo Deus dan 21 Lessons for 21st Century, Yuval Harari sudah menegaskan pentingnya kita memantau secara kritis perkembangan teknologi biomedis, informasi-komunikasi dan kecerdasan buatan. Jika dibiarkan, kecerdasan buatan akan menggantikan banyak peran manusia di dalam kehidupan. Manusia akan menjadi mahluk yang tak berguna secara „ekonomi“. Ia pun akan punah tertelan perubahan peradaban.

Thomas Lemke dan Biopolitik

Biopolitik adalah pemahaman politik yang secara langsung melibatkan tubuh dan kehidupan manusia. Dalam arti ini, politik tidak dipahami melulu sebagai pertarungan kekuasaan untuk merebut jabatan-jabatan penting masyarakat. Politik juga bukan sekedar keterlibatan aktif di dalam hidup bermasyarakat. Biopolitik bisa dilihat sebagai tanggapan kritis terhadap bentuk-bentuk politik yang sudah ada sebelumnya, termasuk tanggapan terhadap pemikiran Habermas dan Harari.

Pandangan politik lama hanya melihat manusia sebagai sekumpulan data. Ini mirip seperti yang dikatakan oleh Habermas dan Harari. Manusia menjadi sekedar benda yang berguna di dalam sistem ekonomi politik kapitalisme. Ia berguna, sejauh ia bisa melayani alat-alat produksi yang tumbuh di dalam masyarakat industri kapitalistik.

Biopolitik ingin melawan semua kecenderungan merusak semacam itu. Bagi Lemke, politik haruslah berpusat pada kehidupan. Yang dihasilkan politik kemudian adalah pengetahuan yang mampu mengembangkan kebebasan dan akal sehat manusia. Ini hanya mungkin dilakukan, jika kajian biopolitik mampu menguak segala bentuk hubungan kekuasaan yang menghalangi kebebasan manusia.

Untuk bisa melakukan hal itu, Lemke mengajukan tiga hal. Pertama, biopolitik membutuhkan pengetahuan yang sistematik dan menyeluruh tentang manusia. Pengetahuan ini melampaui data-data kuantitatif semata. Ia menyentuh keseharian sekaligus unsur terdalam dari kehidupan manusia itu sendiri.

Dua, biopolitik juga perlu untuk terus menjalankan fungsi kritisnya. Tata politik dan ekonomi selalu berpaut erat dengan kekuasaan dan pengetahuan yang menopangnya. Dengan menjadi teori kritis, biopolitik bisa membantu memahami struktur yang menciptakan kesenjangan sosial di dalam masyarakat dalam segala bentuknya. Cita-cita pembebasan, tanpa upaya untuk membongkar penindasan yang ada, tidak akan banyak berguna.

Tiga, maka dari itu, pendekatan biopolitik adalah pendekatan transkeilmuan. Ia melihat kaitan antara politik dan kehidupan asali manusia sebagaimana adanya. Tidak hanya itu, biopolitik juga memiliki sisi normatif yang kuat. Ia menyentuh dimensi moral dalam hidup manusia sebagai kunci untuk mendorong perubahan.

Etikopolitis

Lemke mengurai ini di dalam bukunya yang berjudul Biopolitik zur Einführung. Unsur moral di dalam biopolitik, baginya, harus dibedakan dengan bioetika. Bioetika berfokus pada upaya untuk membuat keputusan dengan berpijak pada pertimbangan-pertimbangan moral yang ada. Pertimbangannya bersifat normatif, dan mengabaikan hubungan-hubungan kekuasaan yang ada di balik kenyataan.

Biopolitik, dengan unsur etikopolitisnya, tidak ingin sampai segera pada pembuatan keputusan. Ia justru ingin mempermasalahkan keadaan yang sudah diterima begitu saja, tanpa sikap kritis. Ia mengajukan pertanyaan yang sebelumnya tidak, atau takut, untuk ditanyakan. Biopolitik melemparkan lampu kesadaran kepada hal-hal yang diabaikan oleh kajian bioetika.

Tujuannya adalah membuka kemungkinan untuk melihat masalah secara baru. Dengan cara pandang ini, perubahan muncul, bukan dari keputusan moral, melainkan dari pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh atas masalah politik dan kehidupan manusia. Dari pemahaman lahirlah perubahan yang terbentuk secara alami. Inilah kehidupan yang sesungguhnya, sebelum ia bercampur dengan robot, dan menjadi cyborg.

Walaupun cyborg, tapi sebagian dari diri kita masihlah manusia. Ia berada di luar hitung-hitungan ekonomis. Ia berada lebih dalam, daripada ukuran-ukuran kuantitatif yang bersifat dangkal dan sempit. Cyborg, biar bagaimanapun, juga masih manusia. Inilah yang kiranya ingin diingatkan, tidak hanya oleh Lemke, tetapi juga oleh Habermas dan Harari.

Indonesia

Buku ini (Biopolitik zur Einführung) menjadi amat penting untuk Indonesia, persis karena alasan ini. Perdebatan politik di Indonesia telah menjadi begitu dangkal dan kotor. Agama diperas untuk kepentingan politik dan ekonomi busuk. Manusia dilihat sebagai kumpulan massa yang bisa dipergunakan untuk kepentingan apapun.

Biopolitik mengajak Indonesia untuk kembali ke kehidupan manusia, dengan tubuh dan jiwanya, sebagai dasar politik. Politik bukanlah pertarungan kekuasaan. Politik bukanlah ajang tak tahu malu untuk mengumbar kerakusan. Politik adalah soal menata hidup dalam segala kompleksitasnya, sehingga kebebasan dan akal sehat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Di dalam tata kelola politik dan ekonomi, sesungguhnya, tak ada yang lebih penting dari ini.

 

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

28 tanggapan untuk “Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)”

  1. sepakat sekali dgn karya diatas. tanpa alat2 modern (termasuk ponsel, alat kesehatan, kaca mata) kita pun sd menjadi “robot dan cyborg”, berkat jalan hidup kita (pendidikan , kalangan / primodialisme ).
    utk hidup “bebas kepala” menurut hemat dan pengalaman saya jalan spriritual adalah ” jalan pendek”/ “crash kurs”/”seiten einsteiger”, walau seumur hidup dan berliku2.
    biopolitik sangat “viel versprechen” , utk menuju kearah tsb memerlukan “potensi “dalam segala bentuk, sehingga rasanya , biopolitik sebagai titik tolak, tetapi sulit /tidak mungkin utk di jalankan.
    kata “bioethik” membuat saya kemrinding, kita tahu, bagaimana “hidup dalam alam semesta” bisa di manipulasi. kita lihat spätesten im dritten reich, riset dibidang gentechnik, terutama “seleksi” utk menciptakan manusia sepadan dgn “keinginan”. dewasa ini hal tsb bukan lagi hanya impian.
    terima kasih atas inspirasi2 di forum ini.
    pemandangan serba putih, hawa dingin, banya tugas pembersihan!
    salam hangat!

    Suka

  2. Kehidupan ini perlu dikonservasi kembali untuk menempatkan manusia pada posisi fitrahnya sebagai makhluk mandiri yg dapat bekerja tanpa harus diganggu oleh mesin. Namun apakah bisa kembali pada cara lama yg seperti itu kecuali akan tertinggal oleh cepatnya arus perubahan. Waktu semakin pendek dan jarak semakin sempit, akal semakin terbatas krna sering tertinggal perubahan.

    Mohon pencerahan bang….

    Suka

  3. Hii pak reza, saya tertarik apabila anda mengupas pandangan filsafat Rocky Gerung. Mungkin sdh pernah bertemu atau berdiskusi? Hanya saran pak.

    Suka

  4. Hello pak Reza, bagi pandangan dong pak ttg Rocky gerung. Menurut pak Reza, aliran filsafat apa yg di ikuti oleh Rocky gerung? Mengapa beliau tdk melanjutkan pendidikan sampai ke eropa karena menurut saya seorang filsuf itu selalu haus akan pengetahuan. Atau sdh perbah kah pak Reza berdiskusi dgn beliau?

    Suka

  5. Tulisan ini sangat membantu untuk kaum yang milenial. Share ke media lain biar bisah merubah pola pikir bangsa ini pak.
    Terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.