Jantung Hati Zen

ladybug-796481_960_720
pixabay.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Disarikan dari uraian Hyon Gak Sunim, Mirror of Zen dan Seung Sahn Sunim, The Compass of Zen

“…Baik dan Buruk tidak memiliki inti pada dirinya sendiri… Suci dan Tidak Suci adalah kata-kata kosong…Sebelum semuanya, yang ada hanya ketenangan dan cahaya… Musim hujan datang, air jatuh dari langit dengan sendirinya…”

Zen adalah menyadari, siapa diri kita sebenarnya. Siapa saya? Atau, apa saya? Zen bukanlah agama, teologi, atau sekumpulan dogma yang harus dipercaya buta. Zen juga bukan filsafat. Zen adalah sebuah jalan kuno untuk menyadari jati diri kita yang sebenarnya, sebelum semua konsep dan pikiran muncul. Dengan kesadaran itu, kita bisa hidup dengan jernih dari saat ke saat, dan membantu semua mahluk. Inilah jantung hati Zen.

Siapa Saya?

Mengapa kita lahir ke dunia ini? Mengapa kita harus meninggal? Mengapa segala hal yang kita raih tidak bisa memberikan kita kebahagiaan yang sejati? Mengapa semuanya harus kita lepas, ketika kita meninggal? Ingat, mayat tidak memiliki kantong di badannya.

Semua orang pasti pernah bertanya tentang hal ini. Setiap agama berusaha mengajukan jawaban. Setiap ajaran filsafat dan ilmu pengetahuan mencoba menggali penjelasan atasnya.

Namun, tidak ada satupun yang bisa memberikan jawaban untuk semua orang. Apa itu kesadaran? Mengapa kita ada? Mengapa kita harus lahir, dan kemudian mati? Memang, ilmu pengetahuan telah berkembang amat pesat. Agama-agama besar juga bertumbuh dan berkembang di berbagai belahan dunia. Namun, semua itu tidak pernah bisa sungguh menjawab pertanyaan mendasar berikut: Siapa aku sebenarnya?

Filsafat dan ilmu pengetahuan mengandalkan akal budi manusia. Ketika kita bertanya, siapa aku sebenarnya, akal budi kita terhenti. Kita pun lalu mencerap keadaan batin, sebelum segala pikiran muncul. Ini adalah keadaan batin kita yang asli, sebelum semua agama, filsafat dan konsep.

Jati diri kita yang asli tidak memiliki nama. Ia tidak memiliki bentuk. Ia tidak datang, dan ia tidak pergi. Tidak ada yang muncul, dan tidak ada yang hilang. Ia bukanlah benda, dan bukanlah tempat. Ketika kita menamainya, kita sudah jatuh dalam kesalahan.

Kita bisa menyadari jati diri kita dengan bertanya, siapa saya? Mengapa kita hidup di dunia ini? Sejuta pertanyaan kehidupan berakhir pada pada pertanyaan “siapa saya sebenarnya”.

Saat Ini

Kita perlu untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Kita perlu bertanya, “Siapa ini yang sedang membaca tulisan ini? Siapa ini yang sedang bernafas?”. Ketika ditanyakan secara serius, pertanyaan tersebut menghentikan pikiran kita. Semua analisis konseptual secara alamiah berhenti.

Yang muncul adalah kesadaran akan gerak nafas kita. Kita berakar di keadaan disini dan saat ini. Kita tidak lagi menilai keadaan sekitar kita. Kita melepaskan semua pikiran konseptual, dan kembali ke kesadaran akan telinga, nafas, tubuh dan lidah kita. Inilah keadaan alamiah kita sebagai manusia. Semua kata dan konsep berhenti.

Ketika ini terjadi, kita bergerak dari ranah pikiran ke ranah sebelum pikiran. Ini bisa disebut “pikiran tidak tahu”, atau “pikiran pemula”, atau “jati diri alamiah”. Namun, semua nama ini adalah sebuah kesalahan. Bagaimana kesalahan ini bisa digunakan untuk menolong semua mahluk?

“Siapa kamu? Tunjukkan! Tunjukkan! Jika kamu membuka mulut untuk menjawab, tongkat ini akan memukulmu tiga puluh kali…Jika kamu diam saja, tongkat ini juga akan memukulmu tiga puluh kali… Apa yang dapat kamu lakukan?”

 

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Jantung Hati Zen”

  1. Dear Mas Reza, Terima kasih sudah dikirimi artikel terbaru mas rezayang berjudul Jantung Hati Zen.Saya sangat senang membaca tulisan anda tentang Zen.Karena saya ingin mendalami Meditasi Zen salam hangat selalu dari penggemar zen

    NaizalKota jambiIndonesia

    Suka

  2. zen adalah mencari keparadoksan, ada tapi tak ada. jika tak dicari menjanjikan ke’ada’annya jika dicari selalu mengingkari dirinya. dicari dan mencari, itulah zen, yg selalu dlm pusaran misteri yg mendamaikan hati dan diri.
    itul yg bisa saya tangkap mas Reza. terima kasih atas tulisan2nya yg selalu mencerahkan. salam kenal.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s