Zen dan Filsafat

cropped-zen-circle-symbol.jpgSebuah Dialog

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Ini ada logo yang unik, yakni lingkaran. Apa arti sesungguhnya?

Logo ini merupakan lingkaran Zen. Artinya adalah kekosongan yang sempurna, yang seharusnya menjadi dasar dari hidup setiap orang. Ketika orang melepaskan semuanya, ia akan masuk ke dalam kekosongan. Ketika ia melepas kekosongan, ia akan kembali ke masyarakat dan hidup sehari-hari, namun dengan kebebasan. Kebebasan batin yang sejati, yang membawa kejernihan dan kedamaian, inilah jalan hidup Zen. Orang lalu bisa bekerja dan berpikir dengan kebebasan batin dan kejernihan, tidak lagi dengan kebingungan dan ketakutan.

Terdengar menarik. Sebelum bergerak lebih jauh, bisakah dijelaskan, apa itu Zen sebenarnya?

Zen berasal dari bahasa Jepang yang artinya meditasi. Ini adalah serapan dari bahasa Sanksekerta Dyanna dan Ch’an dalam bahasa Cina. Semuanya memiliki arti sama, yakni meditasi. Namun, meditasi disini tidak berarti duduk berjam-jam, dan tidak melakukan apa-apa. Itu hanya satu jenis meditasi. Zen sebenarnya berarti memahami jati diri sejati kita. Banyak orang menyamakan diri mereka dengan nama dan identitas sosial mereka. Namun, nama bisa diubah. Identitas sosial pun berubah terus. Pekerjaan bisa berubah. Agama bisa berubah. Apa jati diri kita yang tidak bisa berubah dan abadi? Zen berusaha mengajak orang melakukan refleksi diri untuk mencari “hal yang tak berubah” (yang juga disebut sebagai hakekat-Buddha) yang ada di dalam diri kita. Dasar yang tak berubah ini menjadi sumber bagi kedamaian dan kejernihan bagi hidup kita, jika kita berhasil menyadarinya. Zen menawarkan banyak metode untuk mencapai “hal yang tak berubah” ini. Salah satunya adalah dengan mencerap keadaan disini dan saat ini, yang membawa orang pada kejernihan batin.

“Menemukan yang tak Berubah”, hmmm. Apakah Zen itu agama?

Pada hemat saya, Zen bukanlah agama. Agama selalu melibatkan keberadaan suatu entitas yang disebut sebagai Tuhan. Entitas ini memberikan prinsip-prinsip moral untuk manusia. Zen tidak ada hubungan dengan hal-hal semacam ini. Zen adalah jalan untuk sampai pada kebebasan batin. Caranya adalah dengan menyadari jati diri sejati kita yang ada sebelum nama dan semua identitas sosial kita. Zen menyebutnya sebagai hakekat Buddha yang dimiliki segala hal.

Bisa jelaskan sedikit soal hakekat Buddha yang tak berubah ini?

Segala hal di alam semesta ini diciptakan dari bahan-bahan yang sama. Dengan kata lain, substansinya sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Ada manusia. Ada hewan. Ada planet. Bentuknya berbeda, namun substansinya sama, karena berasal dari unsur-unsur yang sama. Fisika dan kimia modern sudah membuktikan hal ini. Zen mengajak orang untuk menyadari substansi dirinya ini, yang juga berarti substansi dari alam semesta. Zen mengajak orang untuk sadar, bahwa dia adalah alam semesta, dan alam semesta adalah dia. Di titik ini, semua ketakutan dan penderitaan lenyap. Yang ada adalah kejernihan dan kedamaian. Namun, sejatinya, hakekat Buddha ini tidak memiliki nama. Ia adalah kekosongan yang besar. Namun, ia juga bukan kekosongan, karena kekosongan hanyalah sekedar kata. Ia sesungguhnya tak memiliki nama.

Lalu, apa hubungan hakekat Buddha yang sejatinya tanpa nama ini dengan hilangnya penderitaan manusia? Itu tampaknya masih belum jelas.

Orang menderita, karena ia mengira ilusi sebagai kenyataan. Ilusi adalah segala hal yang dibentuk dalam konsep, seperti harta, nama baik, kekayaan, harga diri, waktu, ruang, tubuh dan sebagainya. Konsep adalah ilusi, karena ia mudah sekali berubah, dan bahkan lenyap. Penderitaan lahir, ketika orang mengira semua itu sebagai nyata, dan lalu menggantungkan hidupnya pada itu semua. Orang yang sudah memahami hakekat Buddhanya akan sadar, bahwa semua itu ilusi. Ia tidak melekat padanya. Ia hanya menggunakannya untuk membantu orang lain atau mahluk lain, yang juga adalah bagian dari dirinya. Ia tidak lagi menderita, ketika tidak punya uang, atau harga dirinya dilecehkan orang lain. Ia hidup dalam kedamaian dan kejernihan, serta siap untuk membantu siapapun dan apapun. Ia mengalami apa yang disebut sebagai kekebalan mental. Apapun yang terjadi di luar tidak akan membuat dirinya menderita.

Ini ajaran yang menarik dan penting. Siapa yang merumuskannya?

Zen sebenarnya berpijak pada Buddhisme. Jadi, yang merumuskan pertama kali adalah Sidharta Gautama, atau sang Buddha itu sendiri, sekitar 2600 tahun yang lalu. Dalam arti ini, Buddha adalah orang yang sudah bangun. Ia berhasil melampaui segala bentuk penderitaan yang dialami manusia. Di dalam perkembangannya, Bodhidharma, seorang biksu dari India, pergi ke Cina pada abad ke 6 , dan mengajarkan Zen di sana. Ia dikenal sebagai Patriakh pertama Zen. Ia mengajarkan cara langsung untuk sampai pada kesadaran akan hakekat Buddha yang ada di dalam diri setiap orang dan segala hal. Tidak ada teks atau buku suci. Tidak ada ritual. Yang ada hanyalah berbagai cara untuk menyadari hakekat Buddha di dalam diri, sehingga orang lalu sampai pada kesadaran akan kesatuan dari segala sesuatu. Di dalam kesadaran semacam ini, penderitaan menjadi kehilangan maknanya. Orang lalu hidup dengan kerjenihan dan kedamaian, serta bisa membantu orang ataupun mahluk lainnya, sesuai dengan kemampuannya.

Di judul ini, anda menulis: Zen dan Filsafat. Mengapa disebut filsafat? Apa hubungan antara Zen dan filsafat?

Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Para filsuf adalah pecinta kebijaksanaan. Dalam arti ini, Zen adalah filsafat. Ciri khas filsafat adalah penggunaan akal budi untuk sampai pada pemahaman dan kebijaksanaan. Zen menggunakan akal budi untuk melampaui akal budi tersebut, karena kebijaksanaan dalam diperoleh, jika orang melepaskan semuanya, termasuk akal budinya. Akal budi hanya alat, dan bukan tujuan dari hidup manusia itu sendiri. Pemutlakkan atas akal budi membawa orang pada penderitaan dan konflik satu sama lain, juga konflik dengan alam, seperti yang terjadi saat ini. Disini letak perbedaan fundamental antara Zen dan filsafat.

Bisakah dijelaskan lebih jauh? Mungkinkah orang hidup tanpa akal budi?

Akal budi digunakan sejauh ia dibutuhkan. Inti dari diri manusia bukanlah akal budi. Alam semesta adalah ruang kosong yang besar yang menjadi dasar dan unsur pembentuk dari segala sesuatu. Akal budi manusia tidak mampu menggapainya. Iman juga tidak mampu menggapainya, karena iman masih terjebak pada konsep dan bahasa yang dilihat sebagai kebenaran mutlak. Zen mengajak orang untuk pergi ke tempat sebelum konsep, sebelum bahasa, dan sebelum akal budi itu sendiri. Di tempat ini, orang menemukan kejernihan dan kedamaian. Di tempat ini, segala hal adalah satu dan sama. Aku adalah alam semesta, dan alam semesta adalah aku. Di tempat ini, tidak ada penderitaan. Orang pun lalu bisa berkarya untuk kepentingan semua mahluk, tanpa kecuali. Inilah cinta yang sejati, yakni cinta yang berpijak pada alam semesta, dan bukan pada kepentingan ego manusia.

Bisakah anda tunjukkan lebih jauh dimensi filosofis dari Zen?

Sama seperti filsafat, Zen mencoba memahami segalanya dengan akal budi. Tema-tema penting, seperti apa itu alam semesta, apa itu bahasa, batas-batas pengetahuan manusia, bagaimana kita harus hidup, pikiran, juga adalah tema di dalam Zen. Bedanya dengan filsafat, Zen tidak terjebak pada konsep dan bahasa untuk memahami semua itu. Zen hanya menggunakan bahasa dan konsep, guna melampaui bahasa dan konsep itu sendiri. Zen sadar, bahwa kebenaran yang sejati tidak terjebak pada konsep dan bahasa. Ia lebih atau bahkan berada “sebelum” bahasa dan konsep. Metode Zen sangat radikal, karena ingin memahami kenyataan apa adanya, dan bukan kenyataan yang telah ditutupi oleh bahasa dan konsep yang selalu memuat konteks sosial, sejarah dan budaya tertentu. Kenyataan sebelum bahasa dan konsep itu tidak memiliki nama. Ketika orang bisa menyadarinya, dan hidup dengan itu, maka seluruh hidupnya akan berubah. Ia akan menemukan kedamaian dan kejernihan. Dengan dua hal itu, ia lalu bisa melakukan apapun untuk menolong segala mahluk, tanpa kecuali.

Apakah Zen mengakui adanya Tuhan?

Zen bukan agama. Ia tidak memahami Tuhan dalam artian agama. Zen juga bukan filsafat dalam artian tradisional. Bagi Zen, segalanya adalah satu. Segala hal yang ada di alam semesta, termasuk manusia dan semua mahluk di luar bumi (jika ada), memiliki substansi yang sama. Bisa dibilang, Zen melihat segalanya sebagai “tuhan”. Maka, kita tidak boleh menyakiti diri sendiri, ataupun mahluk lain, karena kita semua adalah satu, yakni “tuhan” semesta itu sendiri. Namun, “tuhan” juga sebenarnya hanyalah kata dan konsep. Sejatinya, “tuhan” tidak memiliki nama. Ia adalah segalanya, sekaligus bukan apa-apa, karena ia berada di luar sekaligus “sebelum” bahasa dan konsep yang kita punya. Zen ingin menyadari sesuatu yang sejatinya tanpa nama ini. Kesadaran ini bisa mengubah seluruh hidup seseorang.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

11 tanggapan untuk “Zen dan Filsafat”

  1. Aku adalah master zen
    Dengan rasa sejati yang berani karena benar. Dn berpijak dgn satu keyakinan.bukan dirgama yg percaya akan diluar nalar dan mengejar hal yg semu..dn tidak nyata akn kebenaran.
    Aku adalah master zen
    Mengasihi..dan menerangi isi dari seluruh alam semesta.serta kembali kpd sifat sifat tuhan yg ada pada diriku.utk mencapai kesempurnaan hidup.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s