Steve Jobs dan Kepemimpinan yang “Brengsek”

Oleh Reza A.A Wattimena

Semoga anda tidak bosan dengan artikel tentang Steve Jobs. Saya ingin kembali mengunjungi sosok hidup, yang telah meninggal, dari Steve Jobs, pendiri dan reformis perusahaan Apple. Tapi ini bukan sekedar kunjungan, melainkan suatu upaya untuk belajar lebih jauh tentang cara berpikir yang mendasari keputusan-keputusan hidupnya.

Seperti dicatat oleh Gene Marks di dalam majalah Forbes, Jobs, jelas, adalah seorang jenius dalam bidang pengembangan teknologi alat komunikasi. Namun kunci utama kesuksesannya bukanlah karena dia kreatif, brilian, dan pekerja keras, setidaknya bukan hanya itu. Kuncinya –menurut Marks- adalah karena dia adalah orang brengsek. Jobs adalah seorang wirausahawan yang kreatif, brilian, pekerja keras, dan… brengsek. Jangan marah dulu. Saya jelaskan lebih jauh.

Menurut kesaksian orang-orang yang telah bekerja dengannya, Jobs adalah pemimpin yang otoriter. Dia menerapkan sensor bagi semua informasi yang keluar dari perusahaannya. Semua aktivitas perusahaan membutuhkan persetujuan langsung dari Jobs. Tidak boleh ada yang lolos dari pengamatannya.

Produk-produk Apple memang menghubungkan kita semua dengan dunia yang penuh dengan informasi. Namun di dalam perusahaan Apple sendiri, ide-ide tidak boleh diekspresikan dan diterapkan dengan bebas, melainkan harus lewat sensor yang telah dibuat oleh.. siapa?.. Steve Jobs. Di dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Filsafat Steve Jobs, saya mengutip motto Apple, yakni “Untuk orang-orang yang merasa tidak pas dengan komunitasnya, para pemberontak, para pembuat masalah…” Sayangnya di dalam perusahaan Apple, mereka semua harus tunduk pada perintah dan kebijakan Jobs.

Tidak boleh ada pemberitaan jelek tentang Apple. Semuanya harus dikontrol oleh Jobs. Banyak orang menuduh bahwa Jobs menentang kebebasan berekspresi dan berpendapat. Namun ia tidak peduli, karena itu, saya menyebutnya sebagai orang brengsek.

Itu satu sisi. Sisi lainnya ternyata sikap brengsek itu merupakan bentuk dari ketegasan dan integritas pada apa yang ingin dicapai. Jika anda menerapkan kontrol atas produk dan aktivitas perusahaannya, seperti yang telah Jobs lakukan, mungkin anda bisa lebih berhasil dari sekarang ini. Ingat kontrol, sensor, dan ketegasan tidak selamanya buruk.

Marks bahkan menulis bahwa di Apple amat terasa kultur ketakutan di antara para pekerjanya. Kontrol amat ketat diterapkan pada semua informasi yang beredar di dalam, maupun keluar. Bahkan Apple memiliki apa yang disebut sebagai Apple’s Worldwide Loyalty Team. Tugasnya adalah memburu setiap bocoran informasi, dan menyelidiki isi notebook maupun komputer orang yang dicurigai. Wuiiih..

Bahkan Apple memiliki agen keamanan yang pernah menggeledah rumah orang di San Fransisco terkait dengan hilangnya prototipe iPhone yang belum beredar. Tidak hanya itu agen keamanan tersebut juga mengancam keluarga orang terkait dengan masalah imigrasi. Artinya ada kemungkinan orang itu, dan keluarganya, didepak keluar dari Amerika Serikat. Ini mimpi buruk bagi para imigran..

Marks menyebut mereka sebagai Apple’s Gestapo. Artinya polisi rahasia Apple, seperti NAZI Jerman pernah mempunyai polisi rahasia untuk mengontrol bangsa Jerman maupun jajahannya. Ini semua bagian dari mekanisme kontrol yang amat ketat, yang ada di dalam Apple. Hmm.. serem juga yah…

Filsafat kerja Jobs adalah kontrol, kontrol, dan kontrol. Soal ini ia bisa menjadi orang yang amat brengsek. Bahkan ia tak segan menyerang media massa yang memberitakan hal-hal jelek tentang diri maupun perusahaannya. Jobs punya sekelompok pengacara yang siap menuntut reporter yang membuka informasi rahasia terkait dengan perusahaannya.

Namun apakah itu semua hal buruk? Coba perhatikan bahwa di dalam bisnis, semua bentuk kejutan, terutama kejutan yang menyebalkan, harus sedapat mungkin dikontrol. Semua hal terkait dengan produk dari perusahaan, apapun perusahaannya, harus dikontrol secara cermat.

Kita tidak hidup di surga. Banyak pencuri ide dan perusak nama baik berkeliaran di masyarakat. Sebagai seorang pengusaha –demikian tulis Marks- tentu saja anda ingin agar produk anda disebarkan dan disampaikan ke masyarakat dengan cara-cara yang anda sendiri tentukan bukan? Semua ini perlu kontrol. Dan untuk menjadi seorang pengontrol yang hebat, anda seringkali perlu menjadi orang brengsek.

Jobs adalah seorang pengontrol ulung. Ia adalah pemimpin yang otoriter. Namun semua itu dilakukan demi kebaikan dari perusahaannya, produk-produknya, pemegang sahamnya, pekerjanya, rekannya, dan terlebih.. pelanggannya. Ia bersedia dicap sebagai orang brengsek, bahkan dibenci, demi kebaikan dari orang-orang yang telah mempercayainya.

Bahkan seperti dicatat oleh Marks, produk-produk Apple mayoritas dibuat di Cina. Di dalam pabrik-pabrik Apple di Cina seringkali ditemukan anak-anak di bawah umur yang telah bekerja dengan gaji rendah untuk jam kerja yang amat panjang. Jadi mayoritas produk-produk Apple berpartisipasi di dalam penindasan kaum buruh di Cina. Jobs jelas tahu soal ini. Namun ia diam saja. Ia memang brengsek.

Tapi tunggu dulu. Apakah Jobs salah? Di satu sisi ia memang salah. Ia ingin meningkatkan keuntungan perusahaan dengan memindahkan pabriknya ke tempat, di mana tenaga kerja manusia murah, yakni Cina. Jobs jelas tidak peduli. Cita-cita tertingginya adalah memberikan kepuasan pada semua pelanggannya, dan kepada pemegang saham perusahaannya.

Sebagaimana dicatat Marks, Jobs juga bukan orang yang baik di dalam hidup sehari-harinya. Ia seringkali meremehkan orang lain, menyumpahnya dengan kasar, dan menekan serta memaksa mereka, sampai mereka bekerja melampaui titik batas kemampuannya. Untuk menciptakan produk-produk yang indah dan unggul, Jobs melupakan semua sikap baik dan empati, serta fokus untuk memaksa orang bekerja untuk melampaui kemampuan normal dirinya. Di dalam proses itu, ia tak segan menyumpah dengan kasar. Hmm.. terlihat seperti sikap orang brengsek.

Namun tunggu dulu. Andai kata saya –dan juga anda- bisa seperti Jobs, mungkin kita bisa lebih berhasil dari sekarang. Kita bisa mengajak –dan memaksa- orang untuk belajar, dan berprestasi di luar kemampuan normalnya. Di dalam proses itu, kita menghasilkan produk-produk yang indah dan berguna, serta membantu mengubah dunia jadi tempat yang lebih baik untuk lebih banyak orang.

Jadi sikap brengsek itu perlu untuk menjadi pemimpin yang baik. Dan untuk menjadi pemimpin yang brengsek, anda perlu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Jika Jobs tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk menjadi pemimpin yang brengsek (otoriter sekaligus visioner), bisakah ia mencapai keberhasilan seperti sekarang?

Di dalam hidup sehari-hari, banyak orang, termasuk juga saya, bersikap terlalu baik, dan takut pada konfrontasi. Padahal itu bukanlah sikap seorang pemimpin. Itu adalah sikap artis, yakni menyenangkan semua orang. Kita berperan menjadi artis, padahal tugas utama kita adalah memimpin.

“Mereka yang memiliki kepercayaan diri untuk menjadi orang brengsek, seperti Jobs, adalah orang-orang yang memberikan diri mereka sendiri kesempatan lebih besar untuk menjadi sukses,” demikian tulis Marks. Tentu saja sikap brengsek tidaklah cukup, melainkan harus dibarengi dengan visi yang jelas, kerja keras, dan kreativitas tanpa batas. Pada akhirnya pelangganlah yang berbicara, apakah mereka puas atau tidak pada produk yang ditawarkan oleh perusahaan.

Satu lagi sikap buruk Steve Jobs. Ia dituduh tidak punya kepedulian sosial. Ia tidak pernah memberikan bantuan sosial pada siapapun, walaupun kekayaannya sudah lebih dari 7 biliun dollar AS. Seperti dicatat oleh Marks, setelah ia menutup program filantropik Apple pada 1997, Jobs tidak pernah membukanya kembali, walaupun keutungan Apple sudah amat besar.

Tapi itu semua berubah, setelah ia meninggal. Konon seperti ditulis oleh Marks, Jobs melepaskan semua kekayaannya untuk kepentingan sosial. Tapi pada hemat saya bukan itu soalnya. “Yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita menggunakan waktu kita di dunia ini, bukan seberapa banyak kita memberikan uang pada orang lain. Yang paling penting dalam hidup adalah seberapa banyak kekuatan dan keberanian yang kita berikan untuk melawan semua pandangan-pandangan sinis, menantang pikiran-pikiran dangkal, melawan orang-orang yang menentang mimpi-mimpi kita, berjuang untuk menciptakan keajaiban bagi kebaikan orang-orang banyak, dan mendorong potensi umat manusia semaksimal mungkin,” begitu kata Jobs.

Anda mungkin sudah punya visi yang jelas, sudah kreatif, dan sudah bekerja keras. Namun mungkin anda belum berhasil, karena anda belum menjadi orang brengsek, sebagaimana dicontohkan oleh Steve Jobs. Anda belum berhasil karena anda masih berperan sebagai artis dalam bisnis, dan belum menjadi seorang pemimpin. Fokus anda masih menyenangkan semua orang, dan belum untuk mengubah dunia.

Ini juga bisa jadi catatan untuk kepemimpinan nasional kita. Presiden bertugas memimpin bangsa, termasuk mendorong para menteri dan bawahannya untuk bekerja secara maksimal lebih dari biasanya, serta menerapkan kontrol yang kuat pada penggunaan dana kabinetnya, sehingga tidak terjadi korupsi, sekecil apapun. Untuk menjalankan itu semua, Presiden perlu untuk berperan menjadi orang “brengsek”, seperti yang dicontohkan oleh Jobs. Setuju?

Tulisan ini diinspirasikan dari karya Gene Marks Judulnya Steve Jobs was a Jerk. Good for Him di dalam Forbes Online 10 Oktober 2011.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Steve Jobs dan Kepemimpinan yang “Brengsek””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s