The Dilemma of Modern Cities

Sleeper'sDilemma

By: REZA A.A WATTIMENA

At the beginning, there was only darkness. Human civilization began in the shadow light of the cave and candle which accompany their dark night in the universe. In those nights, enlightenment came through writing with deep reflection concerning life itself.

Night time is a gift. Cold air followed by small light. Night time is the time of enlightenment. There is small paradox here. Enlightenment came from place which has no light. The deep understanding concerning the mystery of life came from the cold and dark nights of ancient world.

However, in the bright light of modern cities, the dark times of mind is afloat. Why is this happening? Every thinker and so called public intellectuals trap in merely shallow popularity. Almost every people in modern cities trap in the impure motivation of action which never critically evaluated.

This is the irony paradox of modern cities and thinker. In the middle of bright light, the mind loses its ability to create enlightenment. Electricity changes how people live their life, and their way to interpret reality. Somehow, technology and electricity produce shallow minded civilization.

The Mentality

The shallowness of mind do not come from the absent of education, but from the over expose of useless education. The superficiality of thinking born not from the absent of technology, but from the over illustration of useless technology. When the world is getting complex, the human mind is getting simpler in its frivolity. This frivolity born out of the absent of critical thinking.

Technology offers a wide variation and large quantity of information. But that entire privilege blinded people, so they cannot see the truth behind it. Modern cities offer a whole variation of expensive houses which eventually destroy the solidarity of the community, and divides people. Big cities eventually occupied by small minded people.

Modern cities create highway and large road for its cars and motorcycles. But those ‘divine’ road used by people with evil will, with uncontrolled greed, and full of evil view concerning life of others. The highway road is a shortcut, just like what every corrupt bureaucrats need to get away with corruption.

Modern cities full of schools with various luxurious facilities. However, the citizens do not get smarter. What really increases is arrogance in the form of academic degree feudalism. It is almost you can smell the stink of arrogance in the luxurious schools which exist in the modern cities.

Modern cities are the home of the world largest and oldest religion. However, the behaviors of modern cities citizens are far much uncivilized compared to much humbler villagers. Religion does not become the source of enlightenment, but for rationalizations of violence and destructive act in the name of god. In modern cities, religion becomes a mask that veil the monstrous face of modernity.

Modern cities offer big sidewalk for pedestrians and hundreds of transportation means for its citizens. However, all of that just make us more distant from each other. While physical space is getting closer, our spiritual spaces between citizens just grow much further apart.

Modern cities full of monuments to remember and give meaning to the past. However, the citizens ignore them, and therefore have really short memories concerning their past and historical identity. The modern cities are the symbol of the forgetfulness of civilization concerning its past. As a consequence, many political policies have only short term and ahistorical considerations, and therefore will never be effective.

Modern cities are economical sphere. Markets are everywhere. However, the poverty and economical inequalities are extreme. In other words, the increase number of markets and other economic means in society does not guarantee the economical prosperity. On the contrary, it creates a wide division between the rich and the poor.

Paradox

Paradox is the spirit of modern cities. Modern cities have the unique characteristics of human civilization, namely the eternal dialectics itself. The effort of achieve certain purpose failed, and the results is precisely the opposite of that. Modern cities are cities in dilemma.

The dilemma is not just the city, but also in the soul of its citizens, namely human itself. Human is a dilemmatic being. The efforts to create heaven on earth fail. The result is the opposite, namely the creation of hell on earth. The efforts to create stability turn to totalitarianism policies and way of thinking. As if life itself is a dilemma.

What we have to take care is the full awareness of this paradox and dilemma. Hegel called it dialectics. Giddens called it critical consciousness to ask questions concerning social practices. I called it the courage the accept fragility and imperfectness of human life. ***

Pictures taken from google pictures

Writer is a Lecturer at the Faculty of Philosophy Widya Mandala Catholic University, Surabaya

Iklan

Sains, Filsafat, dan Agama di Indonesia Dewasa ini

684px-Daniel_Huntington_Philosophy_and_Christian_Art

Dialektika yang Setengah Hati

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Manusia hidup dalam dialektika dengan sains-teknologi, agama, dan filsafat. Dialektika berarti manusia menciptakan ketiganya, sekaligus diciptakan oleh ketiganya. Di sisi lain sains-teknologi lahir dari filsafat, sekaligus mendefinisikan filsafat itu sendiri. Filsafat membantu mencerahkan iman dalam agama, sekaligus diperluas kedalamannya oleh agama itu sendiri. Dan sains memperoleh nilai-nilai kehidupan yang transenden dari agama, sekaligus membuat agama menjadi lebih beradab.

Persilangan antara sains-teknologi, agama, filsafat, dan manusia tidak bisa dihindarkan. Dalam situasi ideal kehadiran semuanya saling memperkaya satu sama lain. Namun di Indonesia ketiganya saling bersaing dan meniadakan satu sama lain. Inilah salah satu sebab, mengapa kita tidak akan pernah maju sebagai bangsa.

Sains dan Manusia

Sains lahir dari tangan manusia. Namun kini sains membantu mendefinisikan siapa itu manusia. Dengan rasionalitasnya manusia melahirkan sains. Kini apa itu rasionalitas pun ditentukan oleh aktivitas saintifik. Inilah dialektika antara manusia dan sains yang tidak bisa terhindarkan.

Yang berharga dari sains adalah pola berpikir saintifik. Pola berpikir saintifik mengedepankan keterbukaan pada fakta, walaupun fakta itu bertentangan dengan pandangan kita. Pola berpikir saintifik mengedepankan kesabaran dalam menguji anggapan, dan tidak terjebak pada prasangka yang menjauhkan kita dari kebenaran. Pola berpikir saintifik mengajarkan kita untuk bersabar, ketika tahu bahwa apa yang kita peroleh ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Ironisnya di Indonesia para ilmuwan yang seharusnya menghidupi pola berpikir saintifik tidak mencerminkan keutamaan-keutamaan di atas. Sebaliknya mereka menjadi “pelacur” bagi kepentingan ekonomi-bisnis, politik ideologis, ataupun fundamentalis-religius sesaat, dan melupakan panggilan luhur untuk melayani umat manusia secara keseluruhan, apapun status ekonomi, politis, ataupun agamanya. Pola berpikir saintifik dijual murah, demi memperoleh rupiah ataupun kekuasaan semu yang akan hilang dengan berjalannya waktu.

Filsafat dan Manusia

Filsafat juga lahir dari tangan manusia. Namun kini siapa itu manusia juga didefinisikan oleh filsafat. Inilah dialektika antara filsafat dan manusia. Filsafat lahir dari nalar manusia. Namun kini tindakan bernalar identik dengan kegiatan berfilsafat.

Yang berharga dari filsafat adalah cara berpikirnya yang rasional, kritis, dan sistematis di dalam memandang segala sesuatu yang ada di dunia. Filsafat menjauhkan orang dari trend publik yang irasional, dan mengajak untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, guna menemukan kebenaran dan kebijaksanaan. Filsafat memberikan kedalaman bagi hidup orang modern yang tampak kering tersiksa tuntutan jaman dan akal budi mekanis yang membosankan. Filsafat memberikan makna dan petualangan intelektual bagi mereka yang antusias memeluknya.

Di Indonesia filsafat masih banyak disalahpahami. Banyak orang berpendapat bahwa filsafat itu ilmu sulit. Kaum agamawan sempit banyak berpendapat, bahwa filsafat itu bisa merusak iman. Akibatnya filsafat dipenuhi dengan prasangka. Jarang ada orang yang mau mendalami filsafat dalam arti sebenarnya. Mereka yang berlatarbelakang filsafan biasanya karena keterpaksaan, dan bukan karena pilihan.

Agama dan Manusia

Agama lahir dari persentuhan manusia dengan Tuhan. Agama lahir dari kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia, demi kebaikannya sendiri. Tujuan agama adalah untuk melepaskan manusia dari kebiadaban, perang, dan ketidakadilan, serta menuntunnya kepada cinta, perdamaian, dan kesejahteraan. Kebenaran agama yang berasal dari wahyu Tuhan membuat hidup manusia lebih mulia.

Yang berharga dari agama adalah kemampuannya untuk memberikan makna dan nilai pada hidup manusia. Agama menjelaskan dari mana kita berasal, apa yang mesti kita lakukan dalam hidup, dan kemana kita akan pergi, setelah kita mati. Agama menjelaskan mengapa kita menderita, dan mengapa kita bahagia. Agama memberikan kejelasan tentang apa yang harus kita perjuangkan secara serius dalam hidup ini.

Sayangnya mayoritas orang beragama di Indonesia tidak menghayati arti cinta, perdamaian, dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh agama. Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk membenarkan penindasan. Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk menyingkirkan yang berbeda, terutama kelompok minoritas. Bagi mereka agama tidak memberikan makna, melainkan hanya sekedar alat untuk membenarkan pemburuan kekuasaan.

Dialektika Setengah Hati

Sikap setengah hati para ilmuwan, filsuf, dan orang-orang beragama di Indonesia membuat relasi ketiganya tidak memperkaya, melainkan justru penuh prasangka. Sains dan teknologi curiga pada filsafat, sama seperti filsafat meremehkan sikap mekanis patuh di dalam sains. Filsafat curiga para irasionalitas agama, sama seperti agama curiga pada sifat destruktif filsafat. Sains merendahkan sisi naif agama, dan agama pun benci dengan arogansi sains.

Di Indonesia dialektika ketiganya berlangsung setengah hati. Tidak ada kerja sama. Yang ada adalah prasangka dan arogansi. Selama ini berlangsung selama itu pula kemajuan hanya mimpi tanpa realitas, karena pada dasarnya, kita berperang di dalam diri kita sendiri, dan ini justru merugikan semua pihak. Yang mungkin tercipta di Indonesia adalah masyarakat yang semakin lama semakin primitif, justru di tengah perlombaan dunia internasional untuk menjadi semakin maju.

Ironis? ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Gambar dari Google Pictures

Dilema Mengelola Konflik

9_7conflict

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Di dalam hidup kita menemukan banyak sekali perbedaan pandangan, mulai dari cara penanganan masalah, selera musik, pandangan tentang Tuhan, soal hidup, soal cinta, soal hubungan percintaan, soal seks, dan sebagainya. Banyak orang bilang bahwa perbedaan itu adalah positif. Perbedaan itu memperkaya semua orang. Apakah betul begitu?

Bagi Amy Gallo perbedaan tidak otomatis menghasilkan sesuatu yang positif. (Gallo, 2010) Perbedaan pandangan atas sesuatu hal seringkali berujung pada konflik, baik dalam bentuk konfrontasi langsung, ataupun pasif dalam bentuk keenggenan berkomunikasi. Apapun bentuknya perbedaan atau bahkan konflik pandangan tanpa tata kelola yang tepat tidaklah produktif, dan justru bisa menghancurkan. Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk mengelola konflik, menemukan titik pandang yang kiranya bisa disepakati oleh semua pihak yang berbeda, dan kemudian menjadikan perbedaan sebagai sumber yang memperkaya kehidupan, begitu pendapat Gallo.

Namun pada hemat saya, argumen semacam itu hanya menyentuh satu sisi dari masalah. Konflik pun memiliki dimensi metafisis yang melampaui analisis praktis, sebagaimana diajukan oleh Gallo. Konflik bisa dianggap sebagai simbol, bahwa perpecahan adalah suatu keharusan. Orang tidak perlu takut dengan perpecahan, karena seringkali pembebasan dan inovasi spektakuler lahir darinya.

Soal Taktik

Taktik kuno mengelola konflik adalah “dengan kekuatan fisik atau memisahkan hal-hal yang berbeda tersebut.” (Weis dalam Gallo, 2010) Namun menurut Gallo pandangan ini tidak tepat. Ia menyarankan agar kita berpegang pada beberapa prinsip yang berguna untuk mengelola konflik dalam hidup, bahkan sebelum konflik itu dimulai. Prinsip itu adalah pemikiran bahwa kita selalu bisa belajar dari siapapun, terutama yang berbeda dengan kita, dan bahwa mungkin saja ada ide-ide yang lebih brilian keluar dari mulut orang lain, daripada ide yang kita miliki. (Gallo, 2010)

Artinya kita perlu memasuki diskusi dengan orang-orang yang berbeda dengan pikiran terbuka, lepas dari siapapun lawan bicara kita, atau apa argumennya. Dengan menempuh proses ini perlahan tapi pasti, orang bisa menemukan titik tolak yang sama. Seperti yang dikatakan Judith White, kita perlu melakukan “investasi uang dan pikiran” dalam berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda dengan kita. Gallo merumuskan beberapa prinsip praktis tentang taktik mengelola perbedaan pandangan di dalam kehidupan. (Gallo, 2010)

Sumber Konflik

Gallo berbicara dalam konteks perbedaan pandangan dalam organisasi. Baginya di dalam organisasi, ada tiga bentuk konflik. Yang pertama adalah konflik di tataran substansi. Di dalam konflik ini, orang berbeda pandangan soal isi dari tugas atau persoalan yang ada di depan mata. Pada titik ini orang berbeda pendapat soal esensi dari apa yang hendak mereka putuskan atau lakukan. (Gallo, 2010)

Yang kedua adalah konflik di tataran relasional. Pada tataran ini konflik lebih di tataran pribadi. Orang yang satu tidak menyukai orang yang lain, karena karakter atau sikapnya soal masalah tertentu. Dan yang ketiga adalah konflik di tataran perseptual. Di dalam konflik ini, orang melihat satu masalah yang sama dari sudut pandang yang berbeda. (Gallo, 2010) Ketiga perbedaan pandangan dasar ini dapat dikelola, jika kita memahami akar masalahnya, dan menggunakan cara yang tepat untuk melakukan intervensi.

Manajemen Konflik

Ada beberapa saran yang diberikan oleh Gallo. Pertama, temukan dalam tataran apa konflik itu terjadi. Jika sudah menemukan coba bandingkan dengan temanmu, apakah pandangannya sama soal itu. Jika sudah coba gunakan pendekatan yang dingin untuk menanganinya, dan jangan terlalu cepat meledak dengan emosi. “Ketidaksetujuan karena perbedaan”, demikian tulis Gallo, “paling baik diselesaikan dengan obyektivitas daripada emosi.” (Gallo, 2010, dikutip dari Weiss)

Kedua, coba temukan titik pandang yang sama. Coba temukan tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Setelah duduk dengan nyaman, mulailah dengan menemukan prinsip-prinsip dasar yang kiranya beririsan dengan “lawan” diskusimu. Prinsip dasar ini biasanya berupa tujuan dasar organisasi, yang kiranya juga disepakati oleh orang-orang yang berbeda pandangan denganmu. Mulailah dengan kalimat begini, “Kita berdua ingin mewujudkan …..”, atau, “Kita tidak ingin salah membuat keputusan tentang soal sepenting ini……”

Tiga, coba pasang telinga dan dengarkan baik-baik apa yang ingin disampaikan oleh orang lain. Jangan berprasangka terlebih dahulu. Jika belum jelas cobalah tanyakan, dan pahami secara tepat sudut pandangnya. Dari proses ini anda bisa menangkap, apa yang sebenarnya diinginkan oleh lawan bicara, yang mungkin saja juga anda setujui. Mendengarkan adalah langkah awal untuk menciptakan solusi.

Setelah mendengarkan coba bagikan sudut pandangmu sendiri. Jelaskan latar belakang tindakan, pendapat, atau argumenmu. Menurut Gallo ini bisa membantu lawan diskusi untuk memahami konteks dari pandanganmu, dan menciptakan empati dari sudut pandangnya. (Gallo, 2010) Jika dia emosi dan menantangmu, berikan dia ruang untuk mengekspresikan kekesalannya.

Empat, selalu fokuskan argumenmu untuk mengajukan solusi. Solusi tersebut tidak didasarkan pada prasangka yang telah dibuat sebelumnya, melainkan dari hasil pembicaraan intensifmu dengan lawan diskusimu. Coba lakukan sintesis atas pendapatmu dan pendapat lawan diskusi di dalam proses pertemuan tersebut. Jika ini tidak bisa juga, coba tanyakan solusi yang mungkin dari sudut pandangnya.

Lima, perbedaan pandangan biasanya selalu bermuara pada konflik konfrontatif. Pada situasi-situasi tertentu, ini tidak terhindarkan. Pada titik ini emosi akan meledak, kata-kata kasar akan terucap, dan semua proses sebelumnya tampak menjadi sia-sia. Menghadapi ini hanya ada satu cara, yakni berhenti berdiskusi, jaga jarak, jika perlu tinggalkan ruangan untuk mendinginkan keadaan.

Gallo menawarkan pandangan yang menarik, di samping secara fisik meninggalkan ruangan, orang bisa menggunakan kemampuan untuk diam secara mental, dan menjadi pengamat dari konflik yang terjadi. Inilah yang disebut sebagai sudut pandang “orang luar” yang dapat membantu kita melihat situasi secara menyeluruh dan jernih. Cara lainnya adalah dengan memilih tempat dan waktu yang lain serta lebih nyaman untuk melanjutkan diskusi. Jika semua ini gagal, menurut Gallo, usahakan temukan orang ketiga untuk menjadi perantara. (Gallo, 2010)

Beberapa Catatan

Gallo memiliki pendapat yang menarik. Saran-saran praktisnya bisa digunakan untuk mencoba mengelola konflik yang terjadi. Namun ada beberapa asumsi yang kiranya tidak tepat, yang membuat argumennya menjadi tidak bisa diterapkan. Saya setidaknya melihat dua asumsi.

Pertama, Gallo berpikir dengan asumsi, bahwa semua konflik itu bisa dan harus dikelola untuk diselesaikan. Pertanyaan saya sederhana apakah asumsi ini tepat? Apakah semua konflik itu harus dikelola dan diselesaikan? Tidak bisakah konflik dianggap sebagai tanda, bahwa ini saatnya kita berpisah, dan menempuh jalan masing-masing? Saya pikir banyak orang besar di dalam sejarah menanggapi konflik sebagai tanda untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang sama sekali lain dari yang sebelumnya ada.

Dua, Gallo masih berpijak pada asumsi kuno, bahwa perbedaan pendapat bisa diatasi dengan diskusi atau dialog. Seolah argumentasi dapat digunakan untuk melampaui perbedaan pandangan. Seolah manusia adalah mahluk rasional yang selalu mendengarkan dan menganut argumentasi yang lebih baik. Yah, Gallo masih berpijak pada asumsi, bahwa manusia adalah mahluk yang sepenuhnya rasional, yang hidup dengan prinsip yang argumentatif.

Apakah begitu? Dalam keseharian orang tidak beroperasi melulu dengan rasionalitasnya. Argumen seakurat dan sevalid apapun tidak akan bisa meyakinkan orang sepenuhnya. Dibutuhkan sesuatu yang melampaui argumentasi dan rasionalitas untuk bisa mencapai keterbukaan pikiran.

Selama Gallo tidak mempertanyakan asumsi dari argumentasi yang ia ajukan, selama itu pula saran-sarannya, yang tampak praktis, justru tidak akan bisa diterapkan di dalam praktek. Praktikalitas hanya dapat dicapai, jika kita memiliki kedalaman tertentu di dalam memahami akar masalah. Yang kita perlukan adalah kejelian dan kemampuan kritis tidak hanya dalam menganalisis masalah, tetapi juga melihat diri kita sendiri, serta asumsi-asumsi yang mendasari pemikiran serta argumentasi yang kita ajukan.

Kejernihan muncul dari sikap kritis semacam itu. Dan hanya dengan kerjenihan, kita bisa meraba akar masalah sebenarnya, dan mengajukan intervensi yang tepat atasnya. Kejernihan semacam ini tidak melulu lahir dari mental praktis-pragmatis, tetapi justru dari hidup yang reflektif dan kontemplatif. Seninya adalah menyeimbangkan dua bentuk mentalitas tersebut, praktis-pragmatis dan reflektif-kontemplatif, tanpa jatuh ke salah satu ekstrem, karena walaupun berbeda, keduanya saling membutuhkan.***

Penulis adalah Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Acuan:

Gallo, Amy, “The Right Way To Fight”, Harvard Business Review, 12 Mei 2010

Multikulturalisme sebagai Ideologi

ideology

Membaca Keberagaman dengan Kaca Mata

Teori Hegemoni, Ideologi, dan Struktur Sosial[1]

Oleh: REZA A.A WATTIMENA[2]

Multikulturalisme adalah pandangan normatif tentang cara menata keberagaman di dalam masyarakat. Dalam arti ini keberagaman bukan sekedar keberagaman suku, ras, ataupun agama, melainkan keberagaman bentuk-bentuk kehidupan, termasuk di dalamnya adalah kelompok-kelompok subkultur, seperti gay-lesbian, para pecinta prangko, punk, suckerhead, dan lainnya. Argumen inti multikulturalisme adalah, bahwa setiap bentuk kehidupan memiliki nilai yang berharga pada dirinya sendiri. Maka setiap bentuk kehidupan layak untuk hidup dan berkembang seturut dengan pandangan dunianya, namun tetap dalam koridor hukum legal yang berlaku (bukan hukum moral). (Taylor, 1994)

Yang dimaksud dengan kelompok sub kultur adalah semakin banyaknya orang yang hidup dengan berbagai latar belakang nilai, seperti orang bisa sekaligus beragama Islam, suku Batak, gay, pecinta perangko, sekaligus pecinta musik punk. Di sisi lain ada seorang waria beragama Hindu, mencinta musik Gereja Katolik, menyukai makanan Timur Tengah, serta mendalami budaya Cina. Mereka kelompok sub kultur yang semakin hari semakin banyak jumlahnya di masyarakat kita. Mereka hidup bersama dan perlu tata politik yang tepat untuk mengaturnya, supaya tidak terjadi gesekan yang bermuara pada konflik ataupun diskriminasi sosial. Dalam konteks inilah wacana multikulturalisme menemukan relevansinya.

Namun pada hemat saya, multikulturalisme tetap tidak netral dan murni emansipatif, karena multikulturalisme juga tidak bebas dari hegemoni, ideologi, dan struktur sosial yang dominan di dalam masyarakat. Tidak hanya itu konsep masyarakat pun selalu merupakan masyarakat yang hidup dalam konteks hegemoni, ideologi, ataupun konteks struktur sosial tertentu. Maka masyarakat bukanlah sebuah kata yang netral. Pada titik ini saya ingin mengajukan argumen, bahwa wacana multikulturalisme bisa dengan mudah jatuh ke dalam ideologi, dalam arti kesadaran palsu atau kesesatan berpikir, jika tidak dibarengi dengan analisis soal hegemoni, ideologi, dan struktur sosial masyarakat yang dominan di dalam masyarakat.

Untuk menjelaskan argumen itu, tulisan ini akan dibagi ke dalam empat bagian. Awalnya saya akan menjelaskan dasar-dasar teori hegemoni dengan mengacu pada pemikiran Antonio Gramsci sebagaimana ditafsirkan oleh Andrew Deak dan dan Derek Boothman (1). Lalu saya akan menjelaskan arti konsep ideologi dengan menggunakan pemikiran Slavoj Zizek, sebagaimana ditafsirkan oleh Myers, dan pemikiran Teary Eagleton (2). Kemudian saya akan menjelaskan konsep struktur sosial di dalam pemikiran Anthony Giddens, sebagaimana dibaca dan ditafsirkan oleh Herry Priyono (3). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (4).

1.Hegemoni

Teori pertama yang perlu kita pahami adalah teori tentang hegemoni. Tokoh yang mencoba merumuskan teori ini secara komprehensif adalah Antonio Gramsci, seorang pemikir Neo-Marxis pada awal abad ke-20. Secara singkat hegemoni adalah, “pradominasi ideologis dari nilai-nilai dan norma borjuasi pada kelas-kelas yang lebih rendah.” (Carnoy, 1984, dalam Deak, 2005) Dengan kata lain menurut Deak, hegemoni merupakan tanda, bahwa nilai-nilai hidup kelompok yang dominan di masyarakat menyebar dan menjadi nilai-nilai hidup seluruh masyarakat.

Apa akibatnya? Akibatnya kaum yang berkuasa dilihat sebagai sosok ideal, yakni orang-orang yang bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik dari seluruh masyarakat luas. Dalam arti ini menurut Deak, hegemoni lebih dari sekedar dominasi (pemaksaan dengan menggunakan kekuasaan), tetapi juga “gabungan antara kesepakatan dan pemaksaan.” (Deak, 2005) Lebih dari itu hegemoni dapat dikatakan berhasil, jika orang merasa sukarela hidup dengan nilai-nilai kelompok dominan, dan merasa bahwa itulah yang terbaik.

Dalam konteks ini Gramsci hendak memahami struktur kelas sosial di dalam masyarakat, terutama dalam hal kepemimpinan yang ideal, ataupun nilai-nilai normatif yang menjadi ideal masyarakat terkait. Inilah hegemoni. Hegemoni memastikan bahwa kelas-kelas sosial yang berkuasa tetap berkuasa, dan bahwa struktur politik-sosial-ekonomi yang ada tetap menguntungkan kelas-kelas sosial dominan yang berkuasa. Jika hegemoni berlangsung maka setiap orang, terutama yang berasal dari kelas-kelas sosial berbeda, akan menerima nilai-nilai serta kepemimpinan kelas sosial dominan secara sukerela, dan bahkan berbahagia. (Boothman, 2008)

Misalnya jika ditanya kemana kamu ingin melanjutkan sekolah? Mayoritas orang akan menjawab, mereka ingin sekolah di Amerika atau Eropa. Ini menandakan adanya hegemoni pendidikan dari Amerika dan Eropa sebagai kaum yang berkuasa dan dominan di dunia. Jika siswa sekarang ditanya, apa cita-citamu? Mayoritas mereka akan menjawab ingin menjadi direktur, manajer, atau pengusaha sukses. Ini jelas menandakan bahwa nilai-nilai kapitalisme ekonomi masih menjadi hegemoni, karena kelompok-kelompok itulah yang sekarang ini menjadi kaum dominan di masyarakat Indonesia.

Wacana multikulturalisme menjadi sulit terwujud, karena masyarakat hidup dalam hegemoni dari suatu kelas sosial tertentu, entah kelas sosial ekonomi ataupun religius tertentu. Indonesia kini hidup dalam tawanan hegemoni kedua kelas tersebut. Apa yang baik dan buruk ditentukan berdasarkan nilai-nilai ekonomi maupun ajaran agama tertentu yang dominan. Di dalam masyarakat yang terhegemoni oleh dua sistem nilai tersebut, penerimaan kepada keberagaman menjadi sesuatu yang mustahil, bahkan salah untuk diwujudkan.

2. Ideologi

Di dalam ranah teori-teori Marxis, ideologi seringkali dipahami sebagai kesadaran palsu, yakni cara berpikir yang tidak tepat tentang dunia. Misalnya soal Blackberry. Banyak orang merasa mereka membutuhkan Blackberry. Kebutuhan itu menurut mereka alamiah, maka mereka membeli Blackberry. Ini adalah cara berpikir ideologis, karena mereka tidak melihat kemungkinan, bahwa Blackberry adalah kebutuhan palsu yang diciptakan oleh produsen melalui iklan.

Pada akhirnya orang dijajah oleh produk yang tidak mereka butuhkan, karena mereka salah berpikir tentang produk yang mereka gunakan. Bagi Myers –dalam tafsirannya tentang pemikiran Zizek- dalam konteks ini, ideologi bukan merupakan fakta yang salah, melainkan kesalahan di dalam menafsirkan suatu fakta. Blackberry bukan sekedar alat komunikasi, tetapi juga simbol penjajahan atas ruang privat, karena orang kini bisa diakses kapanpun dan dimanapun, sejauh Blackberry ada di sampingnya.

Blackberry adalah simbol dari superstruktur yang mempertahankan stabilitas sistem ekonomi tertentu, yakni kapitalisme, supaya tetap ada dan berkembang, dan ini juga berarti melestarikan jurang kesenjangan sosial yang diciptakannya. “Ideologi”, demikian Myers, “adalah sejenis kesalahan persepsi yang dapat diperbaiki sama seperti anda mengganti lensa kaca mata anda jika anda tidak bisa melihat dengan jelas.” (Myers, 2005)

Eagleton sendiri berpendapat bahwa ideologi memiliki banyak macam arti. Ideologi baginya dapat dipahami sebagai cara pandang terhadap dunia, termasuk di dalamnya nilai-nilai, ide, maupun simbol-simbol yang bermakna dalam hidup seseorang atau masyarakat. Dalam arti ini ideologi memiliki makna netral positif. Namun Eagleton juga mencatat, seperti Zizek, bahwa ideologi juga bisa bermakna negatif, yakni ideologi sebagai ide-ide yang membenarkan kekuatan politik dominan di masyarakat, ide-ide palsu yang membenarkan struktur kekuasaan tertentu, komunikasi yang terhambat akibat kepentingan, dan cara berpikir identitas yang melihat dunia secara hitam putih. (Eagleton, 1991)

Saya sendiri lebih melihat ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat kita salah dalam menafsirkan realitas. Dalam arti ini multikulturalisme juga bisa menjadi ideologi, ketika ia buta akan pengaruh hegemoni dan ideologi di dalam cara pandangnya sendiri. Roh dari multikulturalisme adalah pengakuan, bahwa setiap bentuk kehidupan memiliki nilai yang berharga pada dirinya sendiri. Maka setiap bentuk kehidupan haruslah diberdayakan untuk mencapai tingkatnya yang maksimal.

Cita-cita ini hanya dapat terwujud, jika multikulturalisme melepaskan kesadaran palsunya (ideologi), bahwa masyarakat itu netral dari pengaruh kekuasaan dan hegemoni. Dalam konteks Indonesia wacana multikulturalisme terlebih dahulu harus mempertimbangkan pengaruh hegemoni kapitalisme dan fundamentalisme religius, sebelum memulai misinya untuk menciptakan masyarakat yang ramah pada perbedaan bentuk-bentuk kehidupan. Selama dua sistem nilai masih berhasil menjadi hegemoni, selama itu pula cita-cita multikulturalisme hanya akan berhenti menjadi wacana, dan tidak pernah bisa membawa perubahan kebijakan yang sungguh nyata bagi masyarakat.

3. Struktur Sosial

Salah satu teoritikus yang, pada hemat saya, cukup komprehensif merumuskan konsep struktur sosial adalah Anthony Giddens. Argumentasi Giddens tentang struktur sosial terkait erat dengan pemahamannya tentang manusia yang memiliki tiga bentuk kesadaran. Dalam arti ini struktur sosial terbentuk dari apa yang disebutnya sebagai kesadaran praktis, yakni perilaku manusia yang dilakukan secara rutin dan berbarengan dengan manusia lainnya, dan secara perlahan menciptakan struktur yang kurang lebih tetap. Struktur itu kemudian menjadi otonom dari manusia yang menciptakannya. (Giddens, 1985)

Dengan mendapat inspirasi dari Freud tentang tiga dimensi internal manusia, Giddens merumuskan sebuah model tentang bagian-bagian dari kesadaran manusia. Menurut dia setiap orang memiliki tiga aspek ini, yakni motivasi tak sadar, kesadaran praktis, dan kesadaran diskursif.(Giddens, 1985) Motivasi tak sadar adalah keinginan pelaku yang merupakan potensi sebuah tindakan, tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. Oleh karena itu amatlah jarang tindakan kita didorong langsung oleh motivasi yang sadar. Misalnya kita makan untuk mempertahankan hidup kita. Akan tetapi seberapa seringkah kita sadar, bahwa ketika kita makan, tujuan sessungguhnya adalah untuk hidup? Motivasi yang sering muncul adalah bahwa kita makan karena sudah jamnya, untuk rutinitas.

Kedua, kesadaran diskursif mengacu pada kemampuan kita untuk memberikan penjelasan atas tindakan yang tengah kita lakukan. Ketika ditanya mengapa saya membaca buku karangan Giddens yang berjudul The Constitution of Society? Saya akan menjawab bahwa tindakan itu dilakukan, supaya saya bisa mengerti apa maksud Giddens tentang struktur dan pelaku, dan kemudian menulis sebuah paper tentang itu. Ketiga, kesadaran praktis adalah wilayah di dalam diri pelaku yang berisi segala bentuk pengetahuan praktis, dan tidak bisa diurai secara eksplisit. Wilayah inilah yang merupakan bidang hidup yang sudah selalu diandaikan.

Misalnya ketika kita berbahasa, kita tidak pernah betul-betul ingin bertanya dan sadar akan struktur gramatika bahasa yang kita ucapkan. Itu semua sudah diandaikan. Begitu pula dengan cara kita makan. Wilayah inilah yang merupakan “insting” hidup, yang hampir tidak pernah kita pertanyakan lagi.(Giddens, 1985) Hampir semua hal di dalam hidup kita sehari-hari berada di wilayah kesadaran praktis ini. Di dalam kesadaran praktis inilah berakar apa yang dinamakan Giddens sebagai ‘rasa aman ontologis’ kita. Momen ketika kesadaran praktis ini rendah disebut Giddens sebagai ‘kecemasan ontologis’. Contoh yang paling bagus, pada hemat saya, adalah tentang orang yang pindah ke suatu tempat dengan bahasa baru dan cara hidup baru.

“Setelah lama hidup di lingkungan yang dikenal, dengan bahasa orang-orang dan kebiasaan yang sangat dikenal, seseorang tidak perlu lagi sadar tentang bagaimana mengucapkan bahasa yang dipakai, bagaimana naik kendaraan di daerah itu, seberapa besar memutar volume radio, dan sebagainya.” (Herry Priyono, 2001) Hal-hal itu sudah menjadi bagian dari pengetahuan instingtif orang tersebut. Dengan kata lain ia telah memiliki rasa aman ontologis tentang bagaimana menjalani rutinitas di tempat itu. Kecemasan hidup memang tidak sepenuhnya hilang. Akan tetapi kecemasan itu bukan dalam wujud tentang cara naik bis, cara belanja, cara berbicara dengan bahasa setempat, dan seterusnya.

4. Kesimpulan

Kita kembali ke problematik awal multikulturalisme, bagaimana supaya multikulturalisme bisa mewujudkan visinya tentang masyarakat yang ramah pada perbedaan akan berbagai bentuk-bentuk kehidupan? Di dalam tulisan ini, saya telah mengajukan argumen, bahwa multikulturalisme perlu peka pada berbagai hegemoni maupun ideologi yang hidup serta menentukan kinerja masyarakat. Lebih dari itu wacana multikulturalisme juga perlu mempertimbangkan struktur sosial yang membentuk masyarakat itu sendiri, karena seperti yang dikatakan oleh Giddens, masyarakat itu sendiri adalah struktur sosial.

Tanpa kesadaran akan hegemoni sistem nilai kapitalisme dan fundamentalisme religius yang mendominasi Indonesia, ideologi yang beroperasi di balik berbagai kebijakan publik maupun pilihan individual, serta struktur sosial yang menciptakan masyarakat Indonesia, wacana multikulturalisme sendiri akan jatuh ke dalam ideologi, yakni kesesatan berpikir tentang suatu fenomena yang akhirnya menjauhkan wacana ini dari visi otentiknya. Jika sudah menjadi ideologi, wacana multikulturalisme akan kehilangan relevansinya untuk mengubah masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka pada perbedaan bentuk-bentuk kehidupan. Wacana tersebut akan kehilangan daya kritisnya, dan justru menjadi penghambat bagi perubahan ke arah yang lebih baik di Indonesia. Jika itu yang terjadi, tidak ada gunanya bagi kita untuk berbicara soal multikulturalisme. ***

Daftar Acuan

Boothman, Derek, “Political and Linguistic Sources for Gramsci’s Concept of

Hegemony”, dalam Hegemony: Studies in Consensus and Coercion, Richard

Howson and Kylie Smith (eds), New York: Routledge University Press, 2008.

Deak, Andrew, “The Condition of Hegemony and the Possibility of Resistance”, dalam

Undercurrent Journal, Volume II, No 3, 2005, hal. 46-56.

Eagleton, Terry, Ideology: An Introduction, London: Verso, 1991.

Giddens, Anthony, The Constitution of Society, Cambridge, Polity Press, 1985.

Myers, Tony, Slavoj Zizek, New York, Routledge University Press, 2003

Priyono, B. Herry “ Anthony Giddens dan Teori Strukturasi ”, Basis, Nomor 09-10,

Tahun ke-48, September-Oktober 1999.

Taylor, Charles, “The Politics of Recognition”, dalam Multiculturalism: Examining the

Politics of Recognition, New Jersey: Princeton University Press, 1994.


[1] Diajukan sebagai materi diskusi System Thinking di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan Sekolah Kritik Ideologi Impulse di Yogyakarta.

[2] Reza Alexander Antonius Wattimena lahir 22 Juli 1983 adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kini bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, redaktur Media Budaya On Line untuk Kolom Filsafat www.dapunta.com, anggota Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO (dalam kerja sama dengan Universitas Airlangga) di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan anggota komunitas System Thinking di universitas yang sama. Telah menulis beberapa buku yakni Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Filsafat dan Sains (2008), Filsafat Kritis Immanuel Kant (2010), Bangsa Pengumbar Hasrat (2010), Menebar Garam di Atas Pelangi (artikel dalam buku, 2010), Ruang Publik (artikel dalam buku, 2010), menjadi editor untuk satu buku tentang Filsafat Manusia (Membongkar Rahasia Manusia: Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta, 2010), serta beberapa artikel ilmiah di jurnal ilmiah, maupun artikel filsafat populer di media massa. Bidang peminatan adalah Filsafat Politik, Multikulturalisme, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dapat dihubungi di reza.antonius@gmail.com atau dilihat di Rumah Filsafat https://rezaantonius.wordpress.com/