Pendidikan, Belajar dan Meneliti

Michael Alfano - Figurative and surrealistic sculptures - Tutt'Art@  (31)

Michael Alfano

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di München, Jerman

Banyak universitas di Indonesia sekarang ini berusaha menjadi universitas riset (research university). Mereka menggelontorkan dana besar untuk penelitian, terutama di bidang-bidang yang populer di masyarakat dan menghasilkan uang. Mereka melakukan studi banding untuk meniru pola penelitian di berbagai universitas di luar negeri. Menurut saya, ini salah kaprah.

Universitas bukanlah lembaga penelitian. Universitas adalah lembaga pendidikan. Alasan adanya universitas adalah untuk mendidik. Kegiatan penelitian dilakukan bukan sebagai penelitian itu sendiri, melainkan untuk menunjang pendidikan.

Kualitas pendidikan adalah acuan utama pengembangan universitas. Ini adalah tujuan utama. Pengembangan ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas maupun jumlah penelitian, sehingga bisa membantu mengembangkan pendidikan di universitas. Kita tidak boleh bingung, yang mana alat, dan yang mana tujuan. Baca lebih lanjut

Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

technorati.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Publish or perish, publikasikan karya, atau punah, itulah semboyan seorang pendidik dan peneliti. Sebagai seorang pendidik, kita punya kewajiban moral dan legal untuk menulis. Menulis itu berarti terutama menulis buku teks, atau menerbitkan karya penelitian yang telah dilakukan.

Menulis itu mengabdi pada tiga tujuan. Yang pertama adalah dengan menulis (buku teks), kita sebagai pendidik bisa membantu proses belajar peserta didik. Mereka memiliki panduan yang jelas tentang apa yang mereka pelajari. Mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang kompetensi macam apa yang nantinya mereka dapatkan.

Sebagai peneliti, publikasi adalah jembatan antara peneliti dan masyarakat luas. Masyarakat luas bisa mendapatkan banyak hal berguna dari karya penelitian yang dipublikasikan. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki sumber data maupun analisis yang kuat untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang bermutu. Baca lebih lanjut

Buku Filsafat Terbaru: Metodologi Penelitian Filsafat


Image0738Editor: Reza A.A Wattimena

ISBN: 978-979-21-2940-3

Penerbit: Kanisius Yogyakarta

Kerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


Daftar Isi

Prakata

Oleh: M. Mukhtasar Syamsuddin

Kebenaran dan Metodologi Penelitian Filsafat: Sebuah Tinjauan Epistemologi

Oleh: P. HARDONO HADI

Metodologi Penelitian Filsafat

Oleh : Toeti Heraty Noerhadi

Metode Penelitian Filsafat: Belajar dari Filsuf Alfred N. Whitehead

Oleh: J. Sudarminta

Penelitian pada Bidang Ilmu Filsafat: Perbandingan Usulan Penelitian

Oleh : Anton Bakker

Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama

Oleh : M. Amin Abdullah

Metoda Pengertian dan Antropologi Filsafat

Oleh : S. Takdir Alisjahbana

Metode Refleksi Metodologis Merleau-Ponty

Oleh: M. Mukhtasar Syamsuddin

Berbagai Bentuk Metode Berfilsafat: Sebuah Tinjauan Historis Sistematis Dari Masa Yunani Kunosampai Posmodernisme

Oleh: Reza A.A Wattimena Baca lebih lanjut

Metode Penelitian: Naratif

rpgpodcasts.com

Reza A.A Wattimena

Pada bab sebelumnya saya sudah mencoba menjelaskan secara garis besar teori dekonstruksi di dalam pemikiran Jacques Derrida. Inti dari dekonstruksi (kita andaikan demi keperluan pembelajaran, bahwa dekonstruksi memiliki inti, walaupun Derrida pasti akan menolak konsep ‘inti’) adalah dorongan untuk memahami dan mengubah teks, baik teks sebagai literatur ataupun sebagai realitas itu sendiri. Dan seperti yang telah saya tegaskan di dalam bab sebelumnya dengan mengacu pada tafsiran Royle, dekonstruksi adalah suatu gempa tekstual (textual earthquake). Dekonstruksi mau menemukan kontradiksi (ketidaksesuaian) di dalam bagian-bagian teks yang tidak terlihat terlalu penting, lalu menyebarkan kontradiksi itu ke seluruh teks.

Pada bab ini saya mau memperluas tema ke metode penelitian ilmu-ilmu sosial, terutama metode naratif, yang walaupun berada di level ilmu-ilmu sosial, namun, pada hemat saya, memiliki dimensi filosofis yang cukup dalam. Hal ini saya pandang penting, karena filsuf juga perlu mempelajari metode pendekatan realitas di dalam ilmu-ilmu sosial, sama seperti para ilmuwan sosial (dan ilmuwan alam) perlu mempelajari filsafat sebagai dasar bagi ilmu mereka. Diskusi timbal balik antara filsafat dan sains bisa memperkaya keduanya.[1] Pada bab ini saya mengacu pada pemaparan Leonard Webster dan Patricie Metrova di dalam buku mereka yang berjudul Using Narrative Inquiry as a Research Method.[2]

Menurut Webster dan Metrova (selanjutnya saya singkat menjadi WM), narasi (narrative) adalah suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia  dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari (baik dalam bentuk gosip, berita, fakta, analisis, dan sebagainya, karena semua itu dapat disebut sebagai ‘cerita’). Fokus penelitian dari metode ini adalah cerita-cerita yang didengarkan di dalam pengalaman kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam cerita/narasi, kompleksitas kultural kehidupan masyarakat dapat ditangkap dan dituturkan di dalam bahasa. Dalam arti ini cerita bukan hanya menjadi cerita saja, melainkan menjadi bagian dari penelitian untuk memahami manusia dan dunianya.[3]

Setiap manusia memiliki cerita. Cerita itu bermacam-macam. Di dalam cerita terkandung nilai-nilai yang mencerminkan pandangan dunia manusia itu, sekaligus cerita-cerita yang membentuk identitasnya sebagai manusia. Metode naratif hendak memahami kehidupan manusia yang memang penuh dengan ‘cerita’. Pendekatan ini lebih bersifat holistik, detil, dan bersifat sangat kualitatif guna memahami kehidupan manusia yang terus berubah sejalan dengan perubahan waktu. Tentu saja bagi para ilmuwan yang menganut positivisme-saintifik (yang mempercayai keketatan metode penelitian tradisional dan), pendekatan ini tampak tidak ilmiah. Akan tetapi tuduhan itu tidaklah tepat. Identitas manusia dibentuk dan berkembang seturut dengan cerita yang diajarkan kepadanya, sekaligus cerita yang dituturkan di dalam hidupnya. Bahkan bisa dikatakan seluruh nilai-nilai yang diajarkan (terutama di indonesia) berbasis pada tradisi oral yang mengedepankan cerita. “Narasi, dan cerita yang ditangkapnya”, demikian tulis WM, “menawarkan penelitian yang memberi penegasan tentang pengertian-pengertian yang tidak dapat ditemukan oleh model penyelidikan tradisional.”[4]

Di dalam bukunya WM mengajukan tiga hal yang kiranya perlu untuk memahami inti dari metode naratif. Tiga hal itu dirumuskannya dalam tiga pertanyaan. Mengapa naratif? Mengapa cerita yang dijadikan sebagai titik tolak penelitian? Banyak ilmuwan berpendapat bahwa pengalaman manusia terkait dengan cerita, yakni cerita yang diajarkan kepadanya, maupun cerita tentang hidupnya. Inilah pertanyaan pertama yang perlu terlebih dahulu dijawab. Pertanyaan kedua adalah apa keunggulan metode naratif di dalam penelitian tentang manusia? Untuk mengetahui keunggulan metode ini, kita perlu memahami dasar filosofis dan metodis di baliknya. Saya akan coba melakukannya (dengan mengacu pada pemikiran WM) pada bab berikutnya.

Pertanyaan ketiga adalah aspek-aspek apa sajakah yang perlu dikuasai di dalam model penelitian naratif? Seperti metode penelitian lainnya, metode penelitian naratif memiliki prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip itu haruslah diperhatikan dan dikuasai terlebih dahulu sebelum memulai penelitian. Dengan menjawab tiga pertanyaan itu, maka metode penelitian naratif dapatlah dirumuskan sebagai metode penelitian yang sifatnya koheren dan integral. Di dalam cerita-cerita yang diajarkan secara turun temurun terkandung nilai-nilai yang membentuk pribadi seseorang. Dengan memahami cerita-cerita turun temurun, dan cerita-cerita lainnya yang kita dengar ataupun tuturkan di dalam kehidupan kita, dalam kaitan dengan cerita hidup manusia nyata yang beraktivitas di dalam dunia, kita bisa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya terlupakan di dalam metode penelitian tradisional.[5]

Mengapa menggunakan Metode Naratif?

Menurut WM sebelum memulai penelitian, ada baiknya kita merumuskan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang nantinya dapat digunakan untuk meneliti. Di dalam metode naratif, pertanyaan-pertanyaan untuk penelitian yang biasa digunakan adalah;

  1. Cerita macam apa yang terakhir kali kau dengar?
  2. Kapan kamu mendengarnya?
  3. Apa yang kamu ingat tentang cerita tersebut?
  4. Cerita macam apa yang terakhir kali kamu ceritakan?
  5. Kepada siapa kamu menceritakannya?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah mudah dijawab (selama anda tidak memiliki masalah dengan memori anda). Hidup manusia dipenuhi denga cerita, baik cerita yang diajarkan orang tua, cerita dari teman, cerita tentang teman, dan sebagainya. Seringkali cerita-cerita itu tidak ditujukan untuk kita, tetapi kita secara tidak langsung mendengarkan, ketika teman sedang bercerita, atau orang yang duduk di sebelah kita di kendaraan umum. Bahkan dapat juga dikatakan, bahwa cerita adalah bagian integral di dalam proses komunikasi antar manusia. Aktivitas harian manusia dilalui dengan berpindah dari satu cerita ke cerita lainnya (cerita tentang naiknya harga saham, sampai cerita tentang perang di negara lain). Cerita-cerita itu seringkali berlalu begitu saja. Namun kita juga lupa, bahwa cerita-cerita itu mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Cerita-cerita itu juga secara langsung mempengaruhi identitas kita sebagai manusia, dan sebagai bagian dari suatu kelompok.

Apa pentingnya memahami cerita-cerita yang dituturkan ataupun didengarkan oleh orang lain? Yang penting untuk penelitian adalah memahami, bagaimana cerita-cerita itu mempengaruhi pandangan dunia sekaligus identitas orang-orang yang menuturkan ataupun mendengarkannya. Di sisi lain cerita-cerita itu seringkali memiliki nilai terpendam yang memiliki aspek pendidikan (walaupun bukanlah pendidikan langsung ataupun pendidikan formal). Banyak cerita memililiki nilai pendidikan yang tinggi. Cerita-cerita itu dituturkan atau dibacakan kepada kita dengan tujuan membentuk suatu sikap hidup tertentu. Biasanya cerita-cerita itu merupakan bagian dari suatu mata pelajaran di sekolah. Namun cerita yang kita dengar dan tuturkan di dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya juga memiliki nilai didik yang tinggi. Relasi yang kuat antara narasi dan edukasi (pendidikan) di dalam aktivitas manusia inilah yang kiranya menjadi titik tolak penelitian metode naratif. Nilai edukasi yang ditawarkan di dalam narasi tidak hanya soal nilai-nilai kehidupan sehari-hari, tetapi juga tentang ilmu pengetahuan, kedokteran, hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya.[6]

Di dalam tulisannya WM menyatakan dua kontribusi metode naratif di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial. Yang pertama metode naratif membantu menegaskan sejarah dari kesadaran manusia. Metode naratif mau menganalisis cerita yang dituturkan maupun yang didengarkan orang sedari ia kecil. Namun begitu cerita tidak hanya membentuk manusia individual, tetapi juga manusia sebagai keseluruhan, yakni manusia sebagai spesies. Cerita (narasi) terkait dengan perkembangan manusia sebagai mahluk yang mampu berpikir. Ada banyak sekali cerita terkait dengan penemuan-penemuan yang sangat menentukan peradaban manusia, seperti di dalam filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan praktek politik-ekonomi-budaya. Di dalam cerita-cerita itu terkandung pemikiran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh para pemikir terbesar sepanjang sejarah, seperti Hegel, Kant, Plato, Aristoteles, Marx, dan sebagainya. Ini adalah cerita mengenai perkembangan kesadaran manusia sebagai mahluk berpikir. Perkembangan yang tidak hanya memiliki sisi positif, tetapi juga sisi negatif, seperti perang, genosida, wabah, bencana alam, dan sebagainya.

Yang kedua pada level individual, menurut WM, cerita adalah cerminan dari pribadi personal setiap orang. Di dalam cerita terkandung sejarah dan ingatan tentang masa kecil, remaja, dewasa, sampai masa tua seseorang. Kita bisa dengan mudah menemukan cerita-cerita semacam ini di dalam buku-buku biografi, autobiografi, studi kasus, dan sebagainya. Di dalam filsafat pendidikannya, John Dewey menggunakan narasi (cerita) sebagai titik tolaknya. Baginya cerita memiliki pengaruh besar di dalam perkembangan kesadaran diri manusia. Tidak hanya itu baginya, masyarakat manusia pada umumnya berkembang dengan berpijak pada tradisi oral (tutur cerita) yang sangat mengedepankan pendidikan melalui cerita. Maka dari itu cerita memiliki peran yang sangat penting di dalam pembentukan cara berpikir dan karakter manusia.

Di dalam masyarakat yang memiliki tradisi oral yang sangat kuat, narasi memiliki peran penting di dalam proses pendidikan nilai. Tidak hanya itu narasi juga membentuk dimensi intelektual dan praktis dari orang-orang yang hidup di masyarakat tersebut. Narasi membentuk iklim komunikasi dan tindakan, sekaligus juga mempengaruhi dunia batin manusia yang terdiri dari pemikiran, perasaan, dan tujuan-tujuan personal dari tindakannya. Jika narasi memang memiliki peran yang begitu penting di dalam kehidupan, maka penelitian atasnya juga membantu kita untuk memperoleh pengertian lebih tentang iklim pendidikan di suatu masyarakat, baik pendidikan dalam bentuk keterampilan teknis, ataupun pendidikan yang sifatnya lebih teoritis yang sifatnya lebih membentuk pemikiran dan pandangan dunia (world view).[7]

Narasi dan Metode Penelitian

Setiap cerita pasti memiliki struktur. Struktur itu yang memungkinkan cerita tersebut dimengerti, dan kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Cerita membuat kita (manusia) bisa memahami dunia, sekaligus mengembangkannya. Cerita memungkinkan kita memahami kaitan antara gejala yang satu dengan gejala lainnya. Cerita juga merupakan bentuk rumusan kita untuk menjelaskan, mengapa sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Cerita memungkinkan terjadinya analisis, yang nantinya berkembang menjadi sains dan teknologi.

Penelitian atas cerita yang didengar dan dituturkan seseorang memungkinkan kita memahami dasar dari tindakan ataupun perilakunya. Penelitian tersebut juga mengungkapkan aspek manusiawi yang di dalam penelitian tradisional-positivistik kerap kali diabaikan. Cerita yang dihidupi seseorang, seperti agama dan ajaran-ajaran budaya, bisa menjelaskan alasan dan makna hidup orang tersebut. Dengan memahami cerita yang dihidupi oleh orang-orang di dalam suatu masyarakat, kita sebagai peneliti dapat memahami makna hidup mereka tanpa harus terjun langsung di dalam masyarakat tersebut.

Tidak hanya itu cerita juga membentuk pengetahuan. Bisa juga dibilang setiap bentuk pengetahuan manusia adalah suatu bentuk cerita tentang alam semesta, ataupun tentang dirinya sendiri. Dengan menggunakan metode naratif, kita sebagai peneliti juga dapat memahami proses pembentukan pengetahuan manusia di dalam suatu masyarakat tertentu. Thomas Kuhn pernah berpendapat, bahwa untuk sungguh memahami suatu kelompok masyarakat, orang perlu untuk mengalami masyarakat tersebut. Di dalam metode penelitian naratif, tindak mengalami tidak perlu dilakukan secara langsung (walaupun tetap perlu dilakukan, jika ingin memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam). Pandangan dunia dan cara berpikir orang-orang yang hidup di dalam suatu kelompok biasa tampak di dalam cerita atau narasi yang mereka dengar dan tuturkan sehari-hari. Rasa untuk menjadi bagian dari suatu komunitas terbentuk, ketika kita sebagai peneliti telah menghidupi cerita yang dituturkan di dalam masyarakat yang ingin kita teliti.[8]

Penelitian dengan menggunakan cerita sebagai obyek penelitian tentu saja mengundang berbagai tanggapan, baik positif maupun negatif. Secara positif dapatlah dikatakan, bahwa penelitian berbasis cerita mampu menangkap dan menggambarkan kerumitan kehidupan manusia. Namun secara negatif juga sering dikatakan, bahwa penelitian berbasis cerita bersifat terlalu subyektif, sehingga tidak cukup kuat menjadi bagian dari metode penelitian ilmiah yang punya klaim obyektif dan universal. Dan karena sifatnya yang sangat subyektif, narasi atau cerita penuh dengan ketidakpastian. Subyektivitas dan ketidakpastian (uncertainty) semacam itu dianggap tidak memiliki karakter ilmiah yang kuat.

Namun pada hemat saya, hal tersebut tidak perlu menjadi kelemahan di dalam metode naratif, namun sebaliknya, yakni justru menjadi kekuatan. Seperti yang ditulis oleh WM, narasi bukanlah bagian dari ilmu pengetahuan yang sifatnya positivistik. Metode naratif hendak mengangkat aspek manusia yang kompleks di dalam penelitian lengkap dengan keunikan maupun partikularitas lainnya. Dengan kata lain fokus dari penelitian naratif adalah manusia individual yang sifatnya unik dan tidak bisa digeneralisasi. Manusia dengan segala unsur subyektivitasnya yang unik haruslah dihormati dan diperlakukan secara tepat. Keabsahan dari penelitian naratif sangat bergantung pada hal terakhir ini.

Manusia dan Penelitian Naratif

Fokus dari penelitian naratif adalah soal manusia. Dengan kata lain manusia memiliki tempat utama di dalam penelitian naratif. Seperti sudah disinggung sebelumnya, setiap orang hidup dengan mendengarkan sekaligus menuturkan cerita. Di dalam cerita terkandung pandangan dan nilai-nilai hidup yang diyakini oleh individu terkait, maupun masyarakat di mana individu itu hidup. Dengan demikian naratif mengungkapkan sekaligus aspek partikular manusia, yakni keunikan dan identitas subyektifnya, sekaligus aspek universalnya, yakni tentang manusia pada umumnya, atau apa yang kita sebut sebagai kodrat manusia. Tujuan utama dari penelitian naratif adalah menghasilkan gambaran yang utuh dan bermakna tentang manusia.

Keabsahan dari penelitian naratif tidaklah terletak pada stabilitas dan obyektivitas pengukuran, melainkan pada kejujuran dan ketepatan deskripsi atas manusia yang menjadi subyek penelitian. Kriteria yang lazim digunakan di dalam penelitian-penelitian tradisional yang banyak bersifat kuantitatif tidak akan dapat diterapkan di dalam metode penelitian naratif, yang memang memiliki kriterianya sendiri. Kriteria itu antara lain adalah kemampuan untuk menemukan cerita atau data yang tepat untuk diteliti (access), kejujuran di dalam membaca dan menafsirkan cerita ataupun data yang ada, kebenaran, kemampuan untuk menjalin relasi yang dekat dengan subyek penelitian (familiarity), dan kemampuan untuk  menerima catatan dan data serta mengolahnya menjadi kajian penelitian yang bermakna.[9]

Di dalam cerita terkandung analisis mengenai tindakan manusia, dan latar belakang tindakan tersebut yang memang memiliki akar yang rumit. Seringkali motif atau alasan tindakan manusia tidak langsung dapat terlihat. Motif tersebut diselubungi simbol, dan simbol itu seringkali berupa cerita, atau narasi. Tujuan dari keberadaan simbol atau narasi adalah menyembunyikan motif atau maksud asli dari tindakan dari orang lain. Di sisi lain cerita atau narasi seringkali digunakan untuk membenarkan suatu tindakan tertentu yang sekilas terlihat tidak dapat dibenarkan. Setiap pengalaman individu adalah bagian dari narasi tertentu. Narasi juga digunakan untuk memaknai pengalaman, sekaligus untuk membuat keputusan-keputusan praktis di dalam kehidupan nyata. Narasi adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk memaknai dunianya, dan untuk merumuskan dunia tersebut di dalam satu kesatuan pandangan dunia yang sistematis. Narasi adalah bagian penyusun ilmu pengetahuan (science).

Narasi juga memberi makna pada tindakan manusia. Tindakan manusia tidak hanya merupakan fenomena fisik, tetapi juga merupakan fenomena mental. Oleh karena itu tindakan manusia bersifat multidimensional, dan dapat dipahami dengan berbagai cara. Tindakan manusia tidak dapat dipahami dengan metode positivisme yang kuat di dalam ilmu-ilmu alam. Positivisme hanya berfokus pada dimensi fisik. Padahal manusia itu lebih dari sekedar fenomena fisiknya semata. Metode penelitian naratif hendak membingkai manusia di dalam kerumitan dan keindahannya, serta berusaha melepaskan diri dari kecenderungan positivisme yang mempersempit manusia melulu pada dimensi fisiknya semata.

Narasi juga dapat dipahami di dalam tindakan berbicara manusia. Di dalam tindakan berbicara terjadi komunikasi. Maka dapat dikatakan narasi dan tindak berbicara adalah alat manusia untuk memindahkan ataupun menyebarkan pengetahuan. Narasi atau cerita adalah alat manusia untuk memahami dan merumuskan pemahamannya tersebut secara sistematis. Cerita adalah alat manusia untuk menyampaikan kebijaksanaan dari generasi satu ke generasi lainnya. Cerita juga merupakan alat manusia untuk mentransfer pengalaman dari satu orang ke orang lainnya. Cerita adalah alat untuk belajar.

Cerita atau narasi adalah alat untuk memahami kerumitan diri dan dunia batin manusia.[10] Pengalaman subyektif seseorang ketika berelasi dengan orang lain biasanya dibungkus dalam bentuk cerita. Cerita itu pulalah yang menjadi latar belakang dari tindakan maupun pikiran seseorang. Dalam arti ini cerita menjadi alat untuk membenarkan suatu tindakan ataupun pemikiran tertentu. Pengalaman sehari-sehari seseorang dituturkan dan disimpan di dalam bentuk cerita. Setiap orang pasti memilikinya. “Narasi”, demikian dikutip oleh WM, “alat para pelaku untuk memahami pengalaman inderawi dan mengaturnya menjadi sebentuk pengetahuan praktis.”[11]

Narasi berada di dalam praktek ataupun tindakan manusia sehari-hari. Hal ini tentunya berbeda dengan pandangan para ilmuwan sosial tradisonal yang menggunakan metode di dalam ilmu-ilmu alam untuk memahami tindakan manusia. Dalam arti ini mengikuti Aristoteles, tindakan manusia membutuhkan penjelasan dan penafsiran dari dalam dirinya sendiri, dan bukan penelitian berjarak dengan pretensi obyektif, seperti di dalam ilmu-ilmu alam. Artinya tindakan manusia tidak hanya bisa dipahami, jika kita hanya berfokus pada penjelasan-penjelasan fisikal semata yang sifatnya mekanistik.

Untuk memahami tindakan manusia, orang perlu memahami konteks sejarah dari tindakan tersebut. Dalam arti ini cerita memainkan sangat penting di dalam upaya untuk memahami tindakan manusia. Tindakan adalah suatu peristiwa yang perlu untuk ditafsirkan terus menerus, terutama dalam kaitan dengan tujuan sadar dari tindakan tersebut. Cerita sudah ada di dalam tindakan. Cerita menjadi alasan dari suatu tindakan ataupun pemikiran tertentu. Tidak hanya itu tujuan dari suatu tindakan seringkali dituturkan dan dibentuk di dalam cerita.

Dengan memahami cerita yang dituturkan di dalam tindakan ataupun perkataan seseorang, kita juga dapat menemukan makna baru yang sebelumnya tidak terlihat. Cerita berpusat pada kehidupan manusia, dan hanya dengan memahami cerita yang dituturkan seseoranglah kita dapat memahami kehidupannya secara menyeluruh. Di sisi lain teori narasi juga membantu kita memahami kompleksitas dari sebuah komunitas, baik organisasi ataupun masyarakat. Teori narasi tidak hanya mau memahami aspek manusiawi di dalam tindakan, tetapi juga proses belajar dan perubahan yang dialami oleh pelaku tindakan. Maka teori narasi juga harus memuat teori tentang perubahan dan proses belajar manusia.

Teori Narasi dalam Praktek[12]

Di dalam prakteknya teori narasi melibatkan deskripsi atas subyek penelitian, termasuk di dalamnya cerita yang dituturkan oleh subyek tersebut dalam bentuk tempat, karakter, ataupun peristiwa. Fokus dari penyelidikan naratif adalah kompleksitas motif dari tindakan manusia dan orang-orang di sekitarnya. Metode-metode praktis seperti observasi, data survey, wawancara, dokumentasi, dan catatan dari percakapan tentang cerita yang dituturkan subyek penelitian sangatlah dibutuhkan untuk memperkuat pemahaman. Kita juga perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa penting yang dituturkan oleh subyek penelitian. Hal ini sangat mudah ditemukan melalui metode naratif.

Sekarang ini banyak peneliti bidang ilmu-ilmu sosial berpendapat, bahwa metode penelitian kuantitatif, yang mengedepankan statistik dan korelasi, tidak dapat berjalan berbarengan dengan penelitian kualitatif, yang memang mencari makna serta motif dari tindakan manusia. Namun pendapat ini menurut WM tidak sepenuhnya benar. Kedua bentuk penelitian tersebut dapat saling melengkapi satu sama lain. Metode kuantitatif dengan menggunakan statistik tidak cukup untuk memahami manusia. Si peneliti harus memperhatikan faktor-faktor lainnya yang tidak bisa dikuantifikasikan, seperti nilai-nilai maupun motivasi subyek penelitian, serta pengaruh kultur tempatnya lahir dan bertumbuh. Hal-hal itu hanya dapat diperoleh dengan menggunakan metode kualitatif.[13]

Di dalam perjalanan sejarah, metode kuantitatif memang terbukti mampu menjelaskan relasi antara berbagai macam faktor yang ada di dalam realitas, walaupun relasi tersebut sifatnya masih sangat kasar dan perlu untuk diteliti lebih jauh. Di sisi lain metode kualitatif juga telah terbukti mampu memahami mekanisme di balik kehidupan manusia, seperti motivasi dan pandangan dunianya yang nantinya menjadi dasar dari pilihan-pilihan hidup yang dibuatnya. Keduanya menurut WM dapat diperoleh di dalam metode penelitian naratif.[14] Metode penelitian naratif dapat menjembatani metode penelitian kualitatif dan kuantitatif yang selama ini saling ‘bermusuhan’.

Metode kuantitatif dapat memberikan kemampuannya untuk menggabungkan dan membaca data yang berskala luas. Sementara metode kualitatif dapat memberikan kemampuannya untuk memahami mekanisme tindakan manusia. Metode naratif menggabungkan keduanya dengan memahami kompleksitas manusia dalam konteks kaitannya dengan data yang memiliki skala luas. Metode naratif ingin memahami cerita yang didengar dan dituturkan orang di dalam kehidupannya. Cerita adalah pusat dari penelitian naratif. Di dalam cerita terkandung kerumitan kehidupan manusia yang menantang untuk diteliti.


[1] Lihat pemaparan saya soal filsafat dan sains; Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains, Jakarta: Grasindo, 2008.

[2] Bab ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap Leonard Webster dan Patricie Metrova, Using Narrative Inquiry as a Research Method, Oxon: Routledge, 2007.

[3] Lihat, ibid, hal. 13.

[4] Ibid, hal. 14.

[5] Lihat, ibid.

[6] Lihat, ibid, hal. 15.

[7] Lihat, ibid, hal. 16.

[8] Lihat, ibid, hal. 20.

[9] Lihat, ibid, hal. 21.

[10] Lihat, ibid, hal. 21.

[11] Ibid.

[12] Lihat, ibid, hal. 23-24.

[13] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2008.

[14] Lihat, WM, 2007, 24.