Do not believe in anything simply because you have heard it.
Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many.
Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books.
Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.
Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.
But after observation and analysis,
when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all,
then accept it and live up to it.
( Buddha )
“Design is a funny word. Some people think design means how it looks. But of course, if you dig deeper, it’s really how it works. The design of the Mac wasn’t what it looked like, although that was part of it. Primarily, it was how it worked. To design something really well, you have to get it. You have to really grok what it’s all about. It takes a passionate commitment to really thoroughly understand something, chew it up, not just quickly swallow it. Most people don’t take the time to do that.”
“Creativity is just connecting things. When you ask creative people how they did something, they feel a little guilty because they didn’t really do it, they just saw something. It seemed obvious to them after a while. That’s because they were able to connect experiences they’ve had and synthesize new things. And the reason they were able to do that was that they’ve had more experiences or they have thought more about their experiences than other people.”
“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex: You have to work hard to get your thinking clean to make it simple. But it’s worth it in the end because once you get there, you can move mountains.”
“We’re just enthusiastic about what we do.”
“Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me … Going to bed at night saying we’ve done something wonderful… that’s what matters to me.”
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything—all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure—these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma—which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice”
“No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.”
“Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.” (from www.jwsasongko.com)

Hmmm…
Benar – benar menarik dan sangat inspiratif. Tapi bagi saya, ketika hal apapun tidak melalui intregitas filsafat, hal tersebut bakal menjadi sesuatu yang biasa – biasa saja. Tidak heran jika arahan inovasi seorang Steve Job begitu out of the box. Selain seorang teknokrat, saya rasa ia juga seorang pengamat kehidupan yang baik. Tentunya akan menjadi hal yang sangat luar biasa ketika sebuah teknologi memperhitungkan social impact pada penerapanya. Sayangnya di Indonesia ilmu engineering dianggap tak berhubungan dengan filsafat. Itu yang saya rasakan sebagai mahasiswa teknik. Saya rasa indonesia perlu membenahi dulu aspek mentalitas sebelum membenahi aspek lainnya. Dengan tujuan agar masyarakat menjadi lebih dewasa. Tapi tanpa diimbangi pemahaman filsafat yang cukup, saya rasa itu tinggalah utopia saja. Tapi apapun itu, nice share mas…mantap. Jadi bagaimana menurut anda ?.mohon maaf bila ada salah
Saya setuju dengan anda. Kemampuan berpikir rasional dan kritis yang ditawarkan filsafat harus disebarkan ke seluruh penjuru Indonesia, jika kita mau maju.
Saya rasa filosofi Budhisme akhirnya terbukti dalam filsafat dan sains suatu saat,Siddhartha Gautama “cuma” salah satu orang yang tahu rahasia kehidupan semesta.lewat pelepasan pribadi/ego untuk melihat kesadaran akan dunia sebagai suatu kesatuan paradoks.
Sidartha gautama benar,hidup cuma parodi/dagelan(jawa),sirkus.manusia terjebak dalam bencana eksistensial.Lahir-dewasa-bekerja-menikah-berketurunan-sedih bahagia-mati! cuma soal nafsu-ambisi-prestasi-ego diri-terbius kebutuhan hidup yang adiktif dan budak keinginan.Hidup cuma satu kedipan mata saja.ASTAGA saya kira ini lelucon dan serius sebelum saya mengerti bahwa kematian cuma bagian kecil dari roda gila yang berputar tanpa henti.Dalam sains manusia mati membusuk terurai dalam organik mikroskopis dan uap,lalu muncul kesadaran lagi kita terjebak dalam materi,makhluk hidup dan universe tidak kemana-mana.kita terhubung,dalam suatu super komputer canggih tak bertuan,bermain sandiwara peran(kepribadian) untuk jadi satu lagi kemudian pecah lalu menyebar lagi.ini semua masuk akal sekarang.saya-lah kitalah Tuhan yang sesungguhnya(Budhisme tidak mengenal sang pencipta) kita ributkan dan,salahkan,hampir setiap hari menunggu untuk sempurna jadi satu bagian lagi sampai kita tahu rahasia hidup bahkan semesta.dan keyakinan kita sekarang lebih mirip moralitas “binatang”(evolusi perilaku moral) yang cuma mengejar tujuan ego(pahala surga) dan menghindari derita,sakit(Neraka).apa lagi mentoknya?.Mungkin anda belum pernah melihat seorang penganut budhisme kesadaran tinggi bisa melayang diudara atau berjalan di air.tapi begitu anda melihatnya.mungkin anda akan mengerti.Pikiran kuncinya,seperti “Hantu dalam mesin” yang menyembunyikan kebenaran.anda tidak dapat menemukannya dalam materi.analoginya anda melihat skrup dan baut tapi tidak melihat bahwa itu cuma bagian dari pengunci ban dari sebuah mobil.Maaf bung Reza saya jadi mengoceh…….kebanyakan saudara2 kita lebih memilih jalur lambat,memilih jadi kutu-kutu di bulu kelinci hangat dan tidur nyenyak.malas untuk memanjat bulu2nya dan melihat si pesulap yang memunculkan seekor kelinci dari topinya.
Keyakinan saya di KTP Khatolik tapi saya sendiri sekarang “ateis”.
Dan jangan percaya satupun yang saya ocehkan diatas.
ANDA HARUS MENGALAMINYA SENDIRI !
Saya memahami posisi anda. Kunci dari kebahagiaan dan kebijaksanaan memang “pengenduran” ego dalam diri. Hanya itu satu-satunya. Jalan ini bisa dicapai oleh setiap orang, apapun agama maupun kepercayaannya. Namun proses untuk sampai pada tahap itulah yang memang amat sulit.