<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Filsafat (The House of Philosophy)</title>
	<atom:link href="http://rumahfilsafat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahfilsafat.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 07:59:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rumahfilsafat.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ab6f0911b2e3553f423b585997256cee?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Rumah Filsafat (The House of Philosophy)</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rumahfilsafat.com/osd.xml" title="Rumah Filsafat (The House of Philosophy)" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rumahfilsafat.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Guru dan Kepemimpinan</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/28/guru-dan-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/28/guru-dan-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 05:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2127</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya             Guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, orang perlu belajar untuk menjadi guru yang baik. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menjadi &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/28/guru-dan-kepemimpinan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2127&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:left;">
<div id="attachment_2128" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/surrealism-2.jpg"><img class="size-medium wp-image-2128" title="surrealism-2" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/surrealism-2.jpg?w=300&#038;h=230" alt="" width="300" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">www.arthit.ru</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></div>
<p style="text-align:left;" align="center"><em>Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya</em></p>
<p style="text-align:left;">            Guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, orang perlu belajar untuk menjadi guru yang baik. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menjadi guru yang baik? Menurut Richard Leblanc, pengajar di York University, Ontario, Kanada, ada 10 hal yang mesti diperhatikan, supaya kita bisa menjadi guru yang baik. (Leblanc, 1998) Artinya, ada 10 hal juga yang mesti ada, supaya kita bisa menjadi pemimpin yang baik. Mau tahu? Saya akan jelaskan lebih jauh.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Cinta </strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc berpendapat, bahwa inti dari pengajaran dan pendidikan adalah cinta. Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, bahwa cinta, dalam soal pendidikan, itu lebih penting daripada penalaran rasional semata. Di dalam cinta, ada niat untuk mendorong orang untuk belajar, untuk membantu mereka menemukan sendiri pola belajar yang pas, untuk menemukan diri mereka sendiri. Setuju?<span id="more-2127"></span></p>
<p style="text-align:left;">            Namun, menurut saya, guru, ataupun dosen, harus amat mencintai ilmu mereka sendiri terlebih dahulu. Cinta itu tampak di dalam gaya mengajar dan gaya guru ataupun dosen mendampingi murid-muridnya. Cinta itu lalu akan menular, sehingga si murid juga nantinya mencintai ilmu pengetahuan yang diajarkan. Cinta pertama-tama bukan soal transfer pengetahuan, tetapi transfer cinta. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Memimpin pun harus juga dilakukan dengan cinta. Seorang pemimpin harus mencintai organisasi yang ia pimpin, dan juga mencintai visi serta misi yang diemban oleh organisasi itu. Cinta yang dimilikinya akan menular ke orang-orang yang ia pimpin. Hanya dengan begitu, ditambah dengan tata kelola yang baik, visi dan misi organisasi tersebut bisa sungguh menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align:left;">            Saya teringat pengalaman saya terakhir kali mengajar di Jakarta. Pada masa itu, banyak kekecewaan menghantam saya, dan saya pun nyaris putus asa. Kelas terakhir itu pun diwarnai dengan kekecewaan yang amat mendalam. Namun, saya ingat, saya mencintai ilmu saya (filsafat), dan mencintai mahasiswa saya.</p>
<p style="text-align:left;">            Saya mengajar dengan segala cinta dan tenaga yang saya punya. Saya teringat, para mahasiswa saya bertepuk tangan, setelah kelas berakhir. Tepuk tangan itu adalah tanda apresiasi atas diskusi yang begitu mendalam, yang terjadi di kelas pada waktu itu. Sampai sekarang, ketika melihat ke masa lalu, saya masih merasa, itu adalah salah satu kelas terbaik yang pernah saya ajar. Saya rasa, para mahasiswa pun berpikiran begitu.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Teori dan Praksis</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Seorang guru harus terus mengembangkan ilmunya. Itu tak dapat disangkal lagi. Ia perlu terus membaca, dan belajar untuk menerapkan ilmu yang ia punya untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Hanya dengan begitu, ilmunya menjadi hidup, dan mampu memberikan sumbangan untuk terciptanya kebaikan bersama. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Seorang pemimpin pun perlu terus melakukan yang sama. Ia perlu terus belajar, membaca, dan mencoba menerapkan teori serta ilmu yang ia punya untuk memperbaiki praksis organisasi yang ia pimpin. Hanya dengan begitu, ia bisa mewujudkan visi dan misi organisasi yang ia pimpin. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Baru-baru ini, saya membaca biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Lepas dari sikap kasarnya, Jobs adalah pemimpin yang terus mau belajar, mengembangkan diri, dan mencoba menerapkan visi hidupnya ke dalam produk-produk yang ia keluarkan, mulai komputer Macintosh, komputer Next, film Toy Story serta produksi Pixar lainnya, sampai dengan iPod, iPad, dan sebagainya. Hambatan terus ada, dan beberapa kali, ia gagal. Namun semua halangan bisa dilawan dengan cinta dan visi yang jelas tentang kehidupan.</p>
<p style="text-align:left;">            Di dalam biografi seorang pengusaha Surabaya yang saya tulis, saya juga menemukan karakter yang sama, yakni kemauan untuk terus belajar, mengembangkan diri, lalu mencoba menerapkan pelajaran tersebut dalam organisasi dan bisnis yang ia miliki. Sekali lagi, hambatan akan terus ada. Beberapa kali, ia pun harus mengalami kegagalan. Namun, cinta dan visi yang jelas mendorongnya melampaui semua itu. Apakah anda punya pengalaman serupa?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Paradoks</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc juga mencatat, bahwa seorang guru harus hidup dalam paradoks. Di satu sisi, ia harus bersikap penuh hormat dan kelembutan pada murid-muridnya. Di sisi lain, ia juga harus bersikap keras dan menerapkan displin secara konsisten pada murid-muridnya, sehingga mereka bisa mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Seorang pemimpin pun juga harus melakukan itu. Ia tahu kapan harus bersikap lembut dan penuh hormat pada orang-orang yang ia pimpin. Namun ia juga harus tahu, kapan ia harus bersikap keras, dan menerapkan displin yang konsisten pada orang-orang yang ia pimpin, termasuk pada dirinya sendiri. Guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Saya amat beruntung. Saya punya guru-guru yang amat hebat, terutama sewaktu saya kuliah. Mereka bersikap egaliter pada saya dan teman-teman saya, yang pada waktu itu masih mahasiswa. Mereka amat menghargai pemikiran-pemikiran kami, mahasiswa, yang memang seringkali menggelikan.</p>
<p style="text-align:left;">            Namun di sisi lain, mereka juga bisa bersikap tegas dan displin, terutama dalam hal penulisan ilmiah, dan kesetiaan pada kontrak perkuliahan. Saya amat beruntung, dan sekarang, saya akan menerapkan pola yang serupa pada mahasiswa saya. Bagaimana dengan anda?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Keseimbangan yang Kreatif</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc berpendapat, bahwa guru yang baik adalah guru yang mampu bersikap seimbang secara kreatif. Artinya, ia mampu membuat kurikulum pengajaran yang baku, tetapi juga siap, bahwa dalam penerapan, kurikulum tersebut bisa berubah sesuai dengan dinamika kelas, dan perkembangan ilmu yang ada. “Guru yang baik”, demikian tulisnya, “adalah tentang keseimbangan kreatif antara diktator yang otoriter di satu sisi, seorang pendorong (pemotivasi) yang baik di sisi lain.” Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Pemimpin yang baik juga harus mampu bersikap fleksibel. Ia harus memiliki strategi untuk mewujudkan visi dan misi organisasi yang ia pimpin. Namun, ia juga harus tahu, bahwa strategi itu tidak mutlak, melainkan mampu berubah seturut dengan perubahan situasi yang terjadi. Visi dan idealisme tetap ada, namun penerapannya perlu untuk selalu membaca tanda-tanda jaman. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Saya pernah bergabung dengan klub sepeda motor di Jakarta. Waktu itu, klub tersebut baru berdiri, dan ketua pertamanya adalah Pak Sugeng. Ia berasal dari Bogor, Jawa Barat. Menurut saya, ia adalah sosok pimpinan yang luar biasa. Ia sadar betul, bahwa visi organisasi (klub motor kami) adalah menggandeng sebanyak mungkin pengendara motor, lalu membuka jaringan bisnis dan silaturahmi seluas mungkin.</p>
<p style="text-align:left;">            Ia bisa berubah menjadi amat tegas, ketika klub kami terancam pecah, atau visi organisasi mulai terlupakan. Namun ia juga amat bersahabat dengan mereka yang lebih muda, termasuk saya pada waktu itu. Sampai sekarang, menurut saya, Pak Sugeng adalah sosok pemimpin yang kuat, namun fleksibel. Sosok yang amat jarang ada di Indonesia. Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Soal Gaya</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc dengan jenaka menegaskan, bahwa seorang guru harus punya gaya. Ia harus bisa menghibur mahasiswa! Dan ia juga tidak boleh kehilangan kedalaman ilmu maupun refleksi ilmiahnya! Ia harus mampu berkeliling kelas, dan menyapa mahasiswanya untuk berpikir serta belajar dengan rajin. Guru bisa dibayangkan sebagai pemimpin orkestra, dan murid-muridnya adalah pemain beragam alat musik yang ada. Pendidikan yang baik bagaikan musik yang indah. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Bukankah seorang pemimpin juga harus seperti itu? Bukankah ia harus punya gaya? Bukankah ia harus mampu bercanda dengan orang-orang yang ia pimpin, tanpa kehilangan fokus pada visi dan misi organisasi yang hendak diwujudkan? Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Saya teringat guru ekonomi saya di SMA dulu. Namanya adalah Pak Muji. Sampai sekarang, saya masih ingat, betapa pintar dan lucunya dia, ketika mengajar. Beberapa teori ekonomi dan akuntansi yang ia ajarkan masih melekat erat di kepala saya, walaupun sekarang saya belajar filsafat. Ia bisa mengajak kami belajar, menghibur dengan lelucon-lelucon yang segar, dan menegur kami, ketika kami malas, atau tidak belajar. Apakah anda punya pengalaman serupa?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Humor</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc juga berpendapat, bahwa pengajaran yang baik tidak bisa dilepaskan dari humor dan tawa! Guru yang baik tidak terlalu serius dalam melihat kehidupan. Ia selalu bisa menertawakan ironi dan absurditas hidup. Ia bahkan bisa menertawakan dirinya sendiri, menertawakan kegagalan dan kebodohannya sendiri. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Ini penting, supaya suasana belajar jadi lebih santai. Ini juga penting, supaya murid melihat gurunya juga sebagai manusia yang punya kelemahan, dan pernah gagal dalam hidupnya. Murid-murid pun bisa melihat wajah manusia di dalam sosok gurunya yang, walaupun penuh kelemahan, mampu belajar dari kegagalannya, dan maju terus menjalani kehidupan. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Pemimpin juga harus mampu mengundang humor dan tawa, terutama ketika memimpin rapat. Ia mampu belajar dari kesalahannya sendiri, menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah ia perbuat, dan mengajak orang untuk belajar dari pengalamannya. Seorang pemimpin juga adalah manusia yang, walaupun menjalani hidup yang sulit, tetap maju terus melangkah dengan pasti di dalam kehidupan. Apakah anda adalah orang yang seperti itu?</p>
<p style="text-align:left;">            Sewaktu kuliah dulu, saya punya seorang dosen yang amat saya kagumi. Kebetulan ia juga adalah pemimpin program studi yang kami ambil. Jika mengajar, ia selalu mengambil contoh dari pengalaman-pengalamannya sendiri. Ia mampu menggali inspirasi-inspirasi kehidupan dari pengalaman hidupnya, bahkan berani menceritakan kegagalan-kegagalannya sebagai sarana kami untuk belajar. Tak heran, ia sekaligus adalah seorang pemimpin yang hebat. Program studi kami maju pesat, semenjak ia pimpin.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Memberikan Waktu</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Leblanc juga menegaskan, bahwa guru yang baik mencintai dan merawat murid-muridnya. Untuk bisa menerapkan cinta tersebut, ia butuh memberikan waktu dan tenaganya, bahkan lebih daripada yang dituntut darinya. “Menjadi guru yang baik”, demikian tulisnya, “berarti memberikan waktu banyak yang tak pernah dihargai untuk mengoreksi, membuat dan mengubah materi pengajaran, dan mempersiapkan bahan untuk mengembangkan pengajaran.” Ia menyebutnya dengan kata yang amat bagus, yakni <em>thankless hours and efforts</em>. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Pemimpin yang baik perlu melakukan yang sama. Ia harus mampu melakukan hal-hal yang melampaui tanggung jawabnya untuk membuktikan cintanya pada organisasi, serta visi dan misi yang diemban organisasi itu. Ia juga seringkali menjalani <em>thankless hours and efforts</em> yang membuatnya sedih dan merasa kesepian. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Saya tidak pernah merasa menjadi guru yang baik, walaupun saya terus berusaha untuk menjadi guru yang baik. Saya juga tidak pernah merasa menjadi pemimpin yang baik, walaupun terus berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik. Namun satu hal yang pasti, saya menjalankan hal-hal yang berada di luar tanggung jawab saya, namun tetap saya lakukan dengan rasa pengabdian dan pengorbanan. Dengan kata lain, saya tetap menjalani <em>thankless hours and efforts</em>, walaupun dengan perasaan kesepian, perasaan tidak dimengerti, dan beberapa kali <em>ngedumel. </em>Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Sumber Daya</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Guru dan pemimpin yang baik juga harus didukung oleh sumber daya yang memadai. Sumber daya itu mencakup dana yang cukup, kesempatan yang cukup, dukungan dari manajemen dan kepemimpinan tertinggi, serta kebijakan-kebijakan yang cukup terbuka, namun mampu mewujudkan visi dan misi pendidikan menjadi kenyataan. Guru dan pemimpin yang baik akan mati tercekik, ketika tidak didukung oleh sumber daya yang memadai dari lingkungannya. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Saya pernah punya pengalaman kurang bagus. Saya pernah dipercayakan untuk menjadi dosen sekaligus ketua panitia salah satu acara kampus di Jakarta dulu. Namun, saya tidak diberikan sumber daya yang memadai, yang dapat membantu saya mengerjakan dua hal itu dengan baik. Bahkan saya tidak diberikan meja dan kursi untuk bekerja. Bagaimana mungkin?</p>
<p style="text-align:left;">            Mata kuliah yang saya ampu, menurut saya, berakhir dengan baik. Namun, acara yang saya pimpin, walaupun berlangsung, berjalan kurang lancar. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Inilah contoh jelek tentang pelaksanaan visi dan misi yang tidak dibarengi dengan sumber daya yang memadai. Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Untuk Tujuan yang Lebih Tinggi</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Guru yang baik tidak mengajar untuk mendapatkan uang semata. Ia tidak mengajar untuk mendapatkan nama baik semata. Ia bekerja untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni membentuk generasi bangsa masa depan yang mampu berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan “bernafsu” untuk mewujudkan kebaikan bersama untuk semua. Dengan mengejar tujuan yang lebih tinggi, uang dan nama baik akan mengikuti. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            Guru yang baik mengajar, karena ia senang mengajar. Ia mendidik, karena ia menemukan kebahagiaan di dalam mendidik. Uang dan nama baik adalah urusan belakangan, yang akan datang sejalan dengan kualitas pengajaran dan pendidikan yang diberikannya (bukan terbalik). Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;">            Seorang pemimpin juga harus bekerja untuk tujuan yang lebih tinggi, yang sejalan dengan visi dan misi organisasi yang ia pimpin. Ia hidup dan bekerja dengan visi yang jelas, serta tidak gampang tergoda dengan keuntungan jangka pendek, ataupun kesempatan yang tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan singkat. Ia yakin, bahwa uang dan nama baik akan datang, jika ia dan organisasinya memberikan yang terbaik kepada masyarakat sesuai dengan visi dan misi organisasinya. Setuju?</p>
<p style="text-align:left;">            “Keinginan terdalamku adalah membangun perusahaan yang mampu bertahan lama, di mana orang-orang termotivasi untuk membuat produk-produk bagus. Segalanya adalah nomor dua. Tentu saja, kita ingin membuat keuntungan, karena keuntungan memungkinkan kita untuk membangun produk-produk yang amat bagus.” Begitu kata Steve Jobs, ketika diwawancarai. Inilah yang saya maksud bekerja dengan “tujuan yang lebih tinggi”.</p>
<p style="text-align:left;">            Saya juga yakin, bahwa dosen-dosen saya sewaktu saya masih kuliah dulu tidak semata mencari uang ataupun nama baik. Mereka mengajar dan berkarya untuk kebaikan masyarakat luas. Dalam perjalanan, uang dan nama baik datang, serta semakin menunjang pengajaran dan karya-karya mereka. Dengan cara berpikir seperti inilah harusnya kita hidup. Bagaimana menurut anda?</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Guru dan Kepemimpinan</strong></p>
<p style="text-align:left;">            Untuk menjadi pemimpin yang baik, orang perlu untuk menjadi guru yang baik. Keduanya membutuhkan kualitas kepribadian yang sama. Keduanya membutuhkan cinta dan keseimbangan yang kreatif antara sikap fleksibel dan displin diri di dalam mendidik, mengajar, ataupun memimpin. Maka tidak heran jika di Indonesia, kita mengalami dua krisis yang berjalan berbarengan, yakni krisis kepemimpinan, sekaligus krisis guru yang bermutu. Ya kan?</p>
<p style="text-align:left;">            Belajar dari Richard Leblanc, walaupun bukan berprofesi sebagai guru, kita bisa mulai belajar menjadi “guru” yang baik dalam hidup sehari-hari kita. Kualitas-kualitas itu juga akan amat membantu kita dalam menjadi pemimpin di dalam hidup, mulai dari pemimpin keluarga, maupun pemimpin negara. Jadi tunggu apa lagi? Selamat belajar menjadi guru, dan selamat memimpin.</p>
<p style="text-align:left;"><em>Tulisan ini diinspirasikan dari tulisan Richard Leblanc Leblanc, Richard, “Good Teaching: The Top Ten Requirements,” </em><em>The Teaching Professor</em><em> (June-July 1998), 1,7 and reprinted in: </em><em>Insight: Advanced Learning Through Faculty Study</em><em>, newsletter of the Teaching Excellence Centre, Rutgers University, Camden Campus (Fall 1998), 1, 2; </em><em>The Point</em><em>, newsletter of United Faculty of PBCC, (November 1998), 6; </em><em>Briarcliffe College Faculty Newsletter</em><em>, Briarcliffe College, Bethpage, NY (January-February 1999), 2; and </em><em>Focus on Teaching</em><em>, Newsletter of Buffalo State University of New York (Spring 1999), 2. <a href="http://www.yorku.ca/rleblanc/html/teach.html">http://www.yorku.ca/rleblanc/html/teach.html</a>   </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>            </em></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2127&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/28/guru-dan-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/surrealism-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">surrealism-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Menegur</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/21/filsafat-menegur/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/21/filsafat-menegur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 04:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[menegur]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya Kata orang, sahabat yang paling baik adalah sahabat yang berani menegur kita dengan keras, ketika kita berbuat salah. Akan tetapi, anda mungkin sadar, betapa sulitnya melakukan itu. Yang banyak terjadi &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/21/filsafat-menegur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2114&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2115" class="wp-caption alignleft" style="width: 307px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/1194984513646717809chat_icon_01-svg-med.png"><img class="size-full wp-image-2115" title="1194984513646717809chat_icon_01.svg.med" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/1194984513646717809chat_icon_01-svg-med.png?w=584" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">www.clker.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya</em></p>
<p>Kata orang, sahabat yang paling baik adalah sahabat yang berani menegur kita dengan keras, ketika kita berbuat salah. Akan tetapi, anda mungkin sadar, betapa sulitnya melakukan itu. Yang banyak terjadi adalah, ketika kita menegur sahabat kita, maka persahabatan itu akan terancam rusak. Benar kan?</p>
<p>Padahal, secara umum, salah satu sebab mengapa banyak hal-hal buruk terus terjadi di masyarakat kita adalah, karena tidak ada orang yang menegur, ketika orang lain berbuat salah. Ketika orang melanggar lalu lintas, tak ada orang yang menegur. Jangan-jangan, ketika ada orang yang membunuh orang lain, kita juga tak menegurnya. Ketika ada orang korupsi, kita tidak berani menegur, bahkan ikut-ikutan korupsi. Seram ya?<span id="more-2114"></span></p>
<p>Pertanyaan yang perlu diajukan kemudian adalah, apa yang diperlukan untuk menegur orang lain? Menurut saya, ada lima hal, yakni keberanian, kehendak baik, cara yang baik, epistemologi yang tepat, dan sikap beradab. Saya menyebutnya sebagai “Filsafat Menegur”. Saya akan jelaskan lebih jauh.</p>
<p><strong>Keberanian</strong></p>
<p>Di era sekarang ini, keberanian tetap diperlukan. Bukan keberanian untuk bertengkar di jalan dengan orang lain, tetapi keberanian untuk menegur, ketika ada yang salah. Kita perlu untuk berani menegur, ketika terjadi kesalahan, baik besar ataupun kecil, di depan mata kita. Setuju?</p>
<p>Saya pernah naik mobil dengan teman saya. Ia orang yang, menurut saya, amat berani dan cerdas. Suatu waktu, kita hendak belok ke satu gang yang hanya berjalan satu arah. Tiba-tiba, ada mobil menyerobot melawan arah, dan berhadapan dengan kami. Teman saya marah. Dia turun dari mobil, dan datang langsung ke mobil yang melawan arah tersebut. Seru ya..</p>
<p>Ia terlibat pertengkaran mulut dengan pengemudi mobil tersebut. Teman saya, karena yakin benar, ngotot, supaya pengemudi itu berbalik arah. Akhirnya, pengemudi itu mengalah, dan berbalik arah. Wah, saya amat bangga dengan dia. Dia tidak hanya cerdas, tetapi berani untuk mempertahankan dirinya, ketika ia, secara obyektif, benar. Apakah anda punya pengalaman serupa?</p>
<p><strong>Kehendak Baik</strong></p>
<p>Immanuel Kant, salah seorang filsuf Jerman terbesar, pernah menyatakan, bahwa kebaikan paling murni dan paling tinggi di dunia adalah kehendak baik itu sendiri. Itulah dasar dari semua sikap baik yang kita lakukan. Sebelum menegur orang yang berbuat salah, kita harus sungguh-sungguh yakin, bahwa kehendak kita itu baik. Setuju?</p>
<p>Sebagai dosen, saya seringkali harus menegur mahasiswa maupun kolega yang, menurut saya, bertindak kurang tepat. Dilemanya adalah, jika kita menegur orang yang berbuat salah, hubungan kita dengan orang itu akan merenggang, bahkan rusak. Saya, dan mungkin anda, amat sadar dengan ini. Ya kan?</p>
<p>Beberapa kali saya harus “konflik” dengan kolega, karena saya menegurnya. Namun, niat saya baik, dan sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti, atau menyinggung perasaan. Pada akhirnya, karena waktu dan refleksi, saya bisa menjalin relasi yang bahkan lebih akrab dengan mahasiswa maupun kolega yang pernah saya tegur. Apakah anda punya pengalaman serupa?</p>
<p><strong>Soal Cara</strong></p>
<p>Walaupun kehendak sudah baik, dan keberanian sudah ada, kita tetap harus memperhatikan “cara” kita menegur. Yang pasti, kita harus menegur dengan cara yang sopan. Kita harus menggunakan bahasa yang halus, sopan, namun tegas, dan jelas. Kita juga tidak boleh menegur orang di depan umum, karena itu akan melukai harga dirinya. Setuju?</p>
<p>Ketika saya menegur orang, bahasa saya langsung berubah formal. Saya menyapa tidak dengan “kamu”, tetapi dengan “anda”. Kosa kata saya pun berubah menjadi formal, dan tidak lagi familiar. Niat saya adalah, supaya teguran saya tetap terasa sopan, bersahabat, tetapi juga jelas dan tegas. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Beberapa orang bilang, saya berubah menjadi menakutkan, jika sedang menegur. Padahal, maksud saya tidak seperti itu. Saya merasa tidak mungkin menegur dengan menggunakan bahasa sehari-hari, atau bahasa yang familiar. Karena jika menegur dengan bahasa familiar, saya nanti dianggap bercanda. Serba salah ya?</p>
<p><strong>Epistemologi</strong></p>
<p>Epistemologi adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat sekaligus batas-batas pengetahuan manusia. Praktisnya, kita perlu untuk memiliki pengetahuan yang mantap terlebih dahulu, bahwa kita benar, sebelum kita menegur orang lain yang kita anggap berbuat salah. Kita perlu memiliki data dan informasi yang akurat terlebih dahulu, sebelum menegur orang lain yang, kita anggap, salah. Setuju?</p>
<p>Saya punya pengalaman memalukan baru-baru ini. Saya menegur seorang kolega, tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Pendasaran epistemologis saya tidak tepat. Saya terburu berkata-kata formal dan tegas, sebelum mengecek semua data dan informasi yang ada, dan ternyata saya salah. Malu jadinya&#8230;</p>
<p>Mulai hari itu, saya belajar untuk meneliti terlebih dahulu pendasaran epistemologis itu. Saya, dan juga anda, perlu untuk benar-benar yakni, bahwa posisi anda benar, sebelum anda menegur orang lain. Namun, ketika kesalahan tak terelakkan, kita perlu minta maaf dengan tulus. Ketulusan adalah kunci terdalam di dalam menegur, dan menjalani hidup. Bagaimana menurut anda?</p>
<p><strong>Sikap Beradab</strong></p>
<p>Pada akhirnya, kita amat perlu untuk menjadi orang yang beradab. Orang beradab siap menjalin kontak yang positif dengan orang lain yang telah ia tegur, bahkan tegur dengan keras. Orang yang beradab juga siap untuk ditegur, ketika ia berbuat salah, dan menerima teguran itu dengan kritis (dicek dulu) dan tulus. Setuju?</p>
<p>Jujur saja, saya cukup sensitif, jika ditegur. Reaksi otomatis saya adalah melawan balik. Saya punya pengalaman ini, yakni marah dan tersinggung, ketika ditegur, walaupun saya tahu, bahwa saya salah. Jangan ditiru ya&#8230;</p>
<p>Namun, seperti saya tulis di atas, ketika ditegur, kita harus mengecek dulu, apakah kita sungguh salah, atau tidak. Ini yang saya sebut sebagai sikap kritis, ketika ditegur. Kalau terbukti salah, yah kita harus mau mengakui, dan minta maaf dengan tulus. Itu namanya sikap <em>fair</em>. Setuju?</p>
<p>Saya juga punya pengalaman menegur salah seorang kolega dengan cukup keras. Suasana di antara kami menjadi tidak enak. Namun, ketika jam istirahat siang, saya mengajaknya makan siang bersama. Sekarang, hubungan kami lebih baik dari sebelumnya. Apakah anda punya pengalaman yang mirip?</p>
<p><strong>Budaya Menegur</strong></p>
<p>Kita perlu membangun budaya saling menegur, jika salah seorang dari kita berbuat salah. Teguran amat penting, supaya kesalahan tidak berlanjut, dan merusak lebih dalam serta lebih luas. Prinsip yang perlu diperhatikan adalah, kita perlu menegur dengan kritis, tegas, dan sekaligus beradab. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Tindak menegur juga merupakan hal yang amat penting di dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus berani menegur dan ditegur. Ini tidak dapat dibantah lagi. Yang penting, ia tetap beradab dan <em>fair</em>, ketika menegur, ataupun menerima teguran. Setuju?</p>
<p>Jadi, sudah saatnya, kita saling menegur satu sama lain. Yang perlu diperhatikan di dalam menegur adalah adanya keberanian (1), kehendak baik (2), cara yang beradab (3), informasi yang akurat (4), dan sikap beradab sebagai manusia (5). Harapan saya, dengan saling menegur, hidup bersama kita akan lebih nyaman dan membahagiakan. Bukankah itu harapan kita semua?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2114&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/21/filsafat-menegur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/1194984513646717809chat_icon_01-svg-med.png" medium="image">
			<media:title type="html">1194984513646717809chat_icon_01.svg.med</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panca Dharma Agama di Indonesia, Apa itu?</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/19/panca-dharma-agama-di-indonesia-apa-itu/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/19/panca-dharma-agama-di-indonesia-apa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 11:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[panca dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2109</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya Beberapa hari yang lalu, saya memberikan ujian lisan pada salah satu mahasiswa saya. Ini adalah ujian mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Dari judulnya sudah terlihat jelas, yakni “filsafat”, “ilmu”, &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/19/panca-dharma-agama-di-indonesia-apa-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2109&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2110" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/peaceful.jpg"><img class="size-medium wp-image-2110" title="peaceful" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/peaceful.jpg?w=300&#038;h=213" alt="" width="300" height="213" /></a><p class="wp-caption-text">blogspot.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Beberapa hari yang lalu, saya memberikan ujian lisan pada salah satu mahasiswa saya. Ini adalah ujian mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Dari judulnya sudah terlihat jelas, yakni “filsafat”, “ilmu”, dan “logika”. Apa yang sama dari ketiga kata ini? Coba tebak.</p>
<p>Yang sama adalah ketiganya mengutamakan akal budi manusia, atau daya nalar manusia. Awalnya, saya menduga akan terlibat diskusi panjang dan dalam dengan mahasiswa saya. Harapan saya ternyata salah. Yang keluar adalah nasihat-nasihat normatif yang mengatasnamakan Tuhan. Kacau&#8230;.<span id="more-2109"></span></p>
<p>Intinya, ia sama sekali tidak belajar. Ia juga tidak bisa membedakan wilayah iman dan akal budi. Menurut saya keduanya berbeda tetapi amat perlu untuk bekerja sama. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Pengalaman kecil ini mendorong saya untuk bertanya, mengapa banyak orang Indonesia, terutama anak-anak muda, suka sekali bawa-bawa Tuhan di dalam pola berpikir mereka? Tidak bisakah mereka berpikir sendiri? Lalu, sebenarnya apa sebaiknya peran agama dalam kehidupan bersama kita? Anda mau mencoba berpendapat?</p>
<p>Saya berpendapat bahwa agama sekarang ini harus menjalankan lima peran. Saya menyebutnya <strong>Panca Dharma Agama</strong> di Indonesia. Apa saja isinya? Saya akan jelaskan lebih jauh.</p>
<p><strong>Suara Hati</strong></p>
<p>Pertama, menurut saya, agama harus menjadi suara dari hati nurani masyarakat. Agama menyuarakan apa yang sungguh diinginkan dan dibutuhkan oleh manusia. Agama menjadi rambu-rambu yang mengingatkan kita tentang apa yang sungguh penting dalam hidup. Agama menjadi hati nurani kita sebagai bangsa. Setuju?</p>
<p>Saya senang sekali ketika para tokoh agama di Indonesia bekerja sama untuk menyuarakan keprihatinan mereka secara nasional. Suara mereka adalah suara rakyat. Suara mereka adalah suara hati nurani yang terpendam di batin rakyat. Bahkan menurut saya suara mereka jauh lebih mewakili rakyat daripada suara anggota DPR kita di Senayan sana. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Namun di sisi lain, saya juga melihat, banyak pemuka agama, di berbagai agama, belum menjalankan peran ini. Mereka seringkali hanya menggunakan agama untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Mereka berbuat jahat lalu bersembunyi di balik agama untuk membenarkan tindakannya. Apakah anda punya pengalaman seperti ini?</p>
<p><strong>Sikap Kritis Sosial</strong></p>
<p>Yang kedua, menurut saya, agama harus menjadi fungsi kritis di dalam menanggapi berbagai situasi sosial masyarakat. Ini sebenarnya terhubung dengan yang pertama sebelumnya, yakni agama sebagai hati nurani masyarakat. Untuk bisa menjadi hati nurani, agama harus menjadi fungsi kritis masyarakat. Apa maksudnya?</p>
<p>Artinya, agama harus mengajarkan orang tentang nilai-nilai kehidupan yang paling penting. Agama mengajarkan orang tidak gampang terpesona dengan kekuasaan. Agama mengajarkan orang untuk punya sensitivitas pada ketidakadilan. Inilah agama yang menjalankan fungsi kritisnya dalam masyarakat. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Menjabarkan argumen ini, saya teringat dua pengalaman. Pertama, saya sering melihat di berbagai belahan dunia, bagaimana agama sungguh menjadi fungsi kritis di hadapan kekuasaan politik yang korup dan totaliter. Datanya beragam, mulai dari teologi pembebasan, sampai dengan pemberontakan organisasi-organisasi Islam progresif di berbagai negara Arab akhir 2011 lalu sampai 2012 sekarang ini. Ini tak terbantahkan. Ya kan?</p>
<p>Namun saya juga punya pengalaman langsung, bagaimana agama menjadi candu untuk membuai rakyatnya. Saya melihat sendiri bagaimana agama mengalihkan orang dari isu-isu yang sungguh penting untuk hidup bersama, dan membawa mereka fokus pada isu-isu mistik yang penuh dengan takhayul. Saya melihat agama memperbodoh, dan membuat orang jadi dangkal, pengecut, dan tak peduli. Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p><strong>Kritik Diri</strong></p>
<p>Yang ketiga, sikap kritis keluar diri akan menjadi sia-sia, jika tidak dibarengi sikap kritis ke dalam diri. Agama harus melakukan refleksi dan bersikap kritis pada dirinya sendiri. Agama harus berani bercermin, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tindakannya selama ini. Setuju?</p>
<p>Saya juga menyadari bagaimana agama yang saya anut sekarang ini bergelut selama berabad-abad, dengan korban jiwa yang begitu banyak, untuk memperbaiki dirinya sendiri. Sampai sekarang proses itu masih terus berlanjut. Saya amat mendukung proses ini. Semoga anda berani mendukung, atau bahkan memulai, proses kritik diri agama anda masing-masing. Semoga..</p>
<p>Di sisi lain, saya juga melihat banyak orang-orang yang beragama secara bebal. Mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dan tak peduli yang lainnya. Ada juga orang-orang yang beragama secara merusak. Mereka amat yakin dengan kebenaran yang mereka pegang, dan membunuh serta menghancurkan semua yang bertentangan. Seram ya?</p>
<p>Untuk mencegah itu, agama harus berani melakukan refleksi diri. Agama harus berani melihat ke dalam dirinya sendiri, mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah ia buat, dan berusaha memperbaikinya. Saya amat terharu, ketika Paus Yohanes Paulus II, atas nama Gereja Katolik Roma, meminta maaf pada Galileo Galilei. Ingat ketegangan antara Gereja Katolik Roma dan Galileo Galilei pada abad pertengahan dulu?</p>
<p><strong>Makna dan Kedamaian Diri</strong></p>
<p>Yang keempat, menurut saya, agama bisa menjadi sumber makna dan nilai hidup yang berharga untuk kehidupan pribadi. Agama tidak hanya perlu fokus pada hidup sosial, tetapi juga hidup eksistensial-individual para penganutnya. Intinya, agama bisa memberikan tujuan hidup yang bermakna sekaligus kedamaian untuk penganutnya. Ini adalah peran yang tak tergantikan dari agama. Ya kan?</p>
<p>Baru-baru ini, saya membaca buku tulisan James Martin. Isinya tentang bagaimana humor justru merupakan komponen penting setiap agama. Banyak orang lupa dengan ini. Andai kata lebih banyak humor di dalam agama kita masing-masing, bukankah hati kita lebih damai, dan dunia pun juga jadi lebih damai? Kita seringkali beragama dengan cara-cara yang terlalu serius. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Saya juga pernah (tidak sering) bertemu dengan para pemuka agama yang bertampang galak. Wajahnya seram. Kata-katanya seringkali bernada menilai dan sok-sok moralis, seolah ia sendiri tak punya salah dalam hidupnya. Jika para pemuka agamanya seperti ini, bagaimana penganut agamanya bisa merasa damai? Bagaimana agamanya bisa menjadi tujuan yang bermakna untuk para penganutnya? <em>Ndak</em> mungkin lah&#8230;</p>
<p><strong>Kedamaian Sosial</strong></p>
<p>Yang kelima, hati yang damai adalah kunci pertama perdamaian dunia. Jika hati setiap penganut agama itu damai, tidak ada rasa benci dan dendam, maka perilaku beragamanya juga pasti damai. Pada peran kelima ini, menurut saya, agama perlu menjadi simbol perdamaian bangsa-bangsa. Ini peran yang tak dapat dibantah lagi! Setuju?</p>
<p>Saya melihat sendiri, bagaimana agama bisa menggerakan hati orang untuk melakukan hal-hal yang luar biasa indah dan baik. Saya mengalami sendiri, bagaimana agama bisa membawa orang pada dimensi yang lebih tinggi dari hidup kesehariannya. Agama menjadi inspirasi bagi orang untuk menghasilkan karya-karya yang luar bisa indah, atau dalam bahasa Steve Jobs, hal-hal yang <em>insanely great!..</em></p>
<p><em>            </em>Namun saya melihat sendiri, bagaimana agama bisa menjadi sumber kebencian dan sikap-sikap merusak. Saya mengalami sendiri, bagaimana agama bisa menjadi alat untuk mendiskriminasikan orang, membuat orang tidak menjadi manusia, tetapi hanya semata sebagai benda, atau bahkan musuh yang perlu dihancurkan. Sayang sekali memang&#8230;</p>
<p><strong>Panca Dharma </strong></p>
<p>Di Indonesia, kita tidak bisa hidup tanpa agama. Semua orang berbicara tentang agama. Ini fakta yang tidak dapat dibantah lagi sekarang ini. Namun hidup beragama tidak bisa sembarangan, tetapi harus menjalankan panca dharma agama, sebagaimana saya jelaskan sebelumnya. Sudah cukup jelas bukan?</p>
<p>Isinya adalah berikut, yakni kemampuan agama untuk menjadi suara hati nurani bangsa (1), agama sebagai fungsi kritis pada situasi masyarakat (2), agama yang reflektif, dalam arti mampu melihat dirinya sendiri secara jernih (3), agama yang memberikan kedamaian hati dan makna hidup bagi setiap penganutnya (4), dan agama yang berperan besar dalam perdamaian dunia (5). Pada hemat saya, inilah jalan yang harus ditempuh setiap agama. Saya ingin aktif membantu terciptanya agama-agama semacam itu. Pertanyaannya, maukah anda?</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2109&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/19/panca-dharma-agama-di-indonesia-apa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/peaceful.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peaceful</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisnis dan Sikap Kritis, Apa Hubungannya?</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/14/bisnis-dan-sikap-kritis-apa-hubungannya/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/14/bisnis-dan-sikap-kritis-apa-hubungannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 10:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir kritis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya Mau tahu apa yang anda perlukan, supaya berhasil dalam bisnis di abad 21 ini? Jawabannya mungkin tak terduga, yakni kemampuan berpikir kritis. Itulah pendapat John Baldoni di dalam artikelnya di &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/14/bisnis-dan-sikap-kritis-apa-hubungannya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2105&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2106" class="wp-caption alignleft" style="width: 276px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/critical-thinking-traits.jpg"><img class="size-full wp-image-2106" title="critical-thinking-traits" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/critical-thinking-traits.jpg?w=584" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">http://www.blog.iqmatrix.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Mau tahu apa yang anda perlukan, supaya berhasil dalam bisnis di abad 21 ini? Jawabannya mungkin tak terduga, yakni kemampuan berpikir kritis. Itulah pendapat John Baldoni di dalam artikelnya di Harvard Business Review. Bahkan ia lebih jauh menekankan, bahwa yang diperlukan oleh para pemimpin bisnis sekarang ini adalah kemampuan untuk mendekati suatu masalah dengan sudut pandang multikultural. Maka seorang pemimpin bisnis harus memahami filsafat, sejarah, budaya, dan bahkan sastra. Bingung? Saya akan coba jelaskan lebih jauh.</p>
<p><strong>Sikap Kritis</strong></p>
<p>Kemampuan berpikir kritis adalah sesuatu yang amat dibanggakan di dalam filsafat maupun teori-teori tentang kepemimpinan. Namun sebagaimana dicatat Baldoni, sekolah-sekolah bisnis di dunia, dan juga di Indonesia, sekarang ini lebih giat mengajarkan kemampuan berpikir kuantitatif dengan menggunakan perhitungan matematis dan statistik. Dengan proses itu kemampuan berpikir kritis pun terhambat, atau bahkan hilang sama sekali. Apakah anda juga mengalami ini?<span id="more-2105"></span></p>
<p>Padahal di era yang semakin rumit sekarang ini, kemampuan berpikir kritis adalah sesuatu yang amat penting. Berbagai masalah muncul tanpa begitu saja dapat ditunjuk penyebabnya. Solusi yang diajukan pun juga harus semakin kompleks dan tajam. Untuk itu kemampuan berpikir kritis amatlah diperlukan. Setuju?</p>
<p>Saya punya pengalaman tentang ini. Ayah saya adalah pensiunan salah satu perusahaan swasta di Jakarta, dan pernah mengelola toko somay untuk mengisi masa pensiunnya. Kami sering berdiskusi tentang bagaimana cara mengembangkan bisnis somay. Menurut ayah saya, kunci keberhasilan suatu bisnis, dalam hal ini adalah menjual somay, bukan terletak pada perhitungan untung rugi penjualan (kuantitatif), tetapi pada motivasi dan daya juang orang-orang yang menjual somay tersebut (kualitatif).</p>
<p>Artinya, kunci keberhasilan bisnis terletak pada sesuatu yang amat rumit, manusiawi, dan jelas, yakni pada daya juang orang-orang yang ada di dalamnya. Perhitungan untung rugi nomor dua. Yang pertama adalah daya juang untuk memberikan sesuatu yang berkualitas untuk pelanggan. Apakah anda juga punya pengalaman yang sama tentang ini? Ayo berbagi.</p>
<p>Bahkan saya berani mengatakan, bahwa banyak sekolah bisnis salah arah di dalam mendidik siswa-siswinya. Mereka fokus pada penalaran kuantitatif yang seringkali membunuh antusiasme dan kreativitas, padahal yang justru amat diperlukan adalah daya juang dan kreativitas yang justru amat terkait dengan sastra dan filsafat. Mungkin sekolah-sekolah bisnis di dunia dan di Indonesia perlu untuk lebih banyak belajar filsafat dan sastra, serta mengurangi belajar statistik dan matematika? Bagaimana pendapat anda?</p>
<p><strong>Menggoyang Anggapan Lama</strong></p>
<p>Anda mungkin masih bingung, mengapa sikap kritis dan kemampuan berpikir rumit yang diperlukan dalam bisnis? Bukankah yang diperlukan adalah modal yang besar, dan pasar yang luas? Bukankah yang diperlukan adalah jaringan kerja yang luas? Menurut saya, di balik itu semua (modal, pasar, dan jaringan) terdapat sikap kritis yang tersembunyi di baliknya. Maksudnya begini.</p>
<p>Sikap kritis membantu kita mempertanyakan pemahaman-pemahaman yang kita pegang erat-erat. (Baldoni, 2011) Orang-orang yang berpikir kritis berusaha mencari alasan di balik berbagai peristiwa yang terjadi, dan mencoba mencari alternatif berpikir untuk menanggapi peristiwa tersebut. Mereka akan mempertanyakan, mengapa suatu metode salah, mengapa suatu taktik pemasaran gagal, dan apakah mereka harus mengubah sesuatu di dalam organisasi, atau tidak. Apakah anda termasuk orang-orang yang berpikir kritis?</p>
<p>Saya pernah membuat biografi salah satu pengusaha besar Surabaya. Melihat kisah hidupnya, saya yakin, bahwa sikap kritis itu jauh lebih penting dari modal yang besar. Bahkan pengusaha yang saya tulis riwayat hidupnya tersebut sama sekali tidak memiliki modal untuk berusaha. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, berbekal motivasi kuat dan sikap kritis, ia membangun kepercayaan konsumennya (pasar yang luas), dan menciptakan jaringan produksi serta distribusi yang amat luas. Ini kisah nyata lho. Saya tidak mengarang.</p>
<p><strong>Melihat dari Berbagai Sisi</strong></p>
<p>Sikap kritis juga memungkinkan kita melihat satu masalah dari berbagai sisi. Orang-orang yang berpikir kritis mampu melihat hal-hal yang tak dilihat orang lain. Bukan melihat hantu lho, tetapi kesempatan-kesempatan yang tak terlihat oleh orang-orang yang tak mampu berpikir kritis. Di mata orang lain, suatu fenomena adalah krisis. Sementara di mata orang-orang kritis, krisis tersebut adalah suatu kesempatan. Menarik ya?</p>
<p>Contoh klasiknya cukup jelas, yakni Steve Jobs dengan iPad-nya. Sewaktu Apple yang dipimpinnya memasuki pasar tablet PC, banyak orang skeptik, karena tablet PC sudah ada pada waktu itu, namun pasarnya amat kecil. Jobs, jelas, adalah seorang yang amat kritis di dalam melihat dunia. Ketika orang lain melihat krisis, ia melihat potensial. Ketika orang lain bersikap pesimis, ia maju terus, berusaha melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan berhasil. Apakah anda adalah orang yang seperti itu?</p>
<p>Tempat saya berkarya, yakni Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, juga sering dianggap remeh. Awalnya, kami dianggap fakultas tanpa faedah; kekurangan dosen, mahasiswa sedikit, dan ilmunya dianggap tak relevan. Namun, bukannya narsis, karena banyak orang yang mampu berpikir kritis di dalamnya, kini fakultas kami, setidaknya menurut saya, dianggap punya potensi besar di masa depan. Apa indikatornya?</p>
<p>Dosen-dosen yang baru pulang studi dari luar negeri sudah berdatangan. Mereka menawarkan ide-ide baru yang bagus untuk perkembangan universitas. Mahasiswa terus bertambah, walaupun dengan kecepatan yang masih harus terus dipacu. Dengan bangga fakultas kami sudah menerima satu mahasiswa perempuan (mayoritas mahasiswa kami adalah laki-laki)! Hebat ya?! Hehehe..</p>
<p>Dalam waktu dua tahun berdiri, kami sudah menghasilkan setidaknya 7 buku, dan belasan karya tulis lainnya yang tersebar baik di lingkungan universitas, maupun di masyarakat luas. Penjualan buku pun terus meningkat, bahkan bisa menjadi dana alternatif fakultas. Program kelas pendengar dan extension course kami ramai didatangi orang, dan bahkan dinanti-nanti keberadaannya. Saya tidak mengarang lho&#8230;</p>
<p>Kini pihak pimpinan universitas sedang mengajak kami untuk memikirkan nilai-nilai dasar universitas, dan membangun semacam Lembaga Pengembangan Nilai yang melingkupi seluruh universitas, beserta fakultas-fakultas lain di dalamnya. Rumus lama kembali berlaku, apa yang orang anggap sebagai masalah, kami lihat sebagai peluang. Apakah anda punya pengalaman serupa?</p>
<p><strong>Era Ketidakpastian</strong></p>
<p>Di dalam era yang serba tidak pasti sekarang ini, kemampuan berpikir kritis amat diperlukan. Bahkan menurut Baldoni, ketidakpastian adalah sesuatu yang mesti dikelola. Dan di dalam proses itu, sikap kritis adalah sesuatu yang amat penting. Sikap kritis membuat kita selalu siap menanggapi perubahan. Sikap kritis amat membantu kita menyingkapi ketidakpastian secara bijak dan tepat. Setuju?</p>
<p>Saya berbicara dari pengalaman pribadi. Jika dilihat lebih dekat, hidup saya itu penuh dengan kejutan. Hari ini saya diangkat tinggi dengan pujian, hari esok di banting ke bawah, dan dibuang seolah seperti sampah yang tak berguna. Saya tidak perlu masuk ke dalam detil. Cukuplah diketahui bahwa jalan hidup saya sampai sekarang ini amat penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak selalu menyenangkan. Bagaimana dengan anda?</p>
<p>Sering saya berpikir, kejutan-kejutan itu bisa membuat saya gila, bahkan ingin bunuh diri. Untung sampai sekarang belum (bunuh diri), karena saya masih melihat makna dan tujuan di dalam hidup yang saya jalani, dan orang-orang yang amat saya cintai, dan, saya kira, sekaligus mencintai saya. Filsafat dengan sikap kritis dan rasional yang diajarkannya amat membantu saya menyingkapi berbagai peristiwa dalam hidup. Saya harap anda juga merasakan hal yang sama&#8230;</p>
<p>Memang, itu semua tidak selalu berjalan mulus, karena saya seringkali jatuh di dalam hal-hal yang saya sendiri kritik (siapa yang tidak?). Namun saya tahu, hati dan pikiran saya di tempat yang tepat, dan ini akan membantu saya untuk terus memaknai hidup dengan berani, sampai nanti saya mati. Tanpa filsafat dan sikap kritis serta rasional yang diajarkannya, saya tidak akan pernah menulis artikel ini. Dan anda juga tidak akan pernah mengenal saya. Begitu bukan?</p>
<p><strong>Bisnis</strong></p>
<p>Bisnis sekarang ini amat memerlukan sikap kritis. Tidak hanya bisnis, hidup pada umumnya pun amat memerlukan sikap kritis. Di dalam era yang serba tidak pasti sekarang ini, kita justru amat membutuhkan para pemikir kritis yang tajam memahami situasi. Kita juga semakin membutuhkan orang-orang yang mampu melihat pelbagai ancaman ataupun masalah sebagai potensi untuk berkembang di masa depan, serta membuat keputusan yang tepat. Jadi, tunggu apa lagi? Mari belajar bersikap kritis! Mari belajar filsafat!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2105&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/14/bisnis-dan-sikap-kritis-apa-hubungannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/critical-thinking-traits.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">critical-thinking-traits</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Bahasa itu sama Seperti Memimpin. Kok Bisa?</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/12/belajar-bahasa-itu-sama-seperti-memimpin-kok-bisa/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/12/belajar-bahasa-itu-sama-seperti-memimpin-kok-bisa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 09:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[die Regel]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[intuisi]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[menghafal]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2092</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya Grüße dich. Mein Name ist Reza Alexander Antonius Wattimena. Ich wohne in Keputih, Surabaya, Indonesien. Ich komme aus Duren Sawit, Jakarta, Indonesien. Ich bin Philosophie Lehrer / Professor. Ich bin &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/12/belajar-bahasa-itu-sama-seperti-memimpin-kok-bisa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2092&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2093" class="wp-caption alignright" style="width: 279px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/5c.jpg"><img class="size-full wp-image-2093" title="5c" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/5c.jpg?w=584" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">classk12.org</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><em>Grüße dich. Mein Name ist Reza Alexander Antonius Wattimena. Ich wohne in Keputih, Surabaya, Indonesien. Ich komme aus Duren Sawit, Jakarta, Indonesien. Ich bin Philosophie Lehrer / Professor. Ich bin achtundzwanzig Jahre alt. Ich liebe Lesebuch, lehre, Musik hören, folgende Diskussion, und Basketball spielen. Ich möchte weiterhin dem Studium der Philosophie in Deutschland. Sie verstehen mich? Ich hoffe so    </em></p>
<p>            Sudah seminggu ini, saya belajar bahasa Jerman. Setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 7.30 sampai jam 12.00 siang, saya berkutat dengan kata-kata asing, dan aturan-aturan bahasa yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Memusingkan, tetapi juga menyenangkan. Apakah anda juga pernah belajar bahasa baru sebelumnya? Bagaimana perasaan anda?<span id="more-2092"></span></p>
<p>Setelah saya pikirkan lebih dalam, ada kesamaan antara belajar bahasa dan mental kepemimpinan. Belajar bahasa butuh kemampuan menghafal, begitu pula seorang pemimpin perlu untuk menghafal data-data penting terkait dengan organisasi yang dipimpinnya. Belajar bahasa butuh kemampuan intuitif dan merasa, begitu pula kepemimpinan butuh intuisi dan rasa. Menarik ya? Coba saya jelaskan lebih jauh.</p>
<p><strong>Menghafal</strong></p>
<p>Banyak orang malas belajar bahasa baru, karena mereka harus menghafal hal-hal baru. Itulah yang saya alami. Namun, untuk sungguh bisa berbicara, menulis, dan membaca dalam bahasa baru, kita harus menghafal. Tidak ada jalan lain. Kata orang Amerika, <em>take it or leave it</em>!</p>
<p>Untuk menghafal, orang harus menggunakan akal budinya semaksimal mungkin. Ia harus mampu menemukan pola yang sama di berbagai konteks kalimat ataupun kata yang berbeda. Ia harus mampu membuat rumus-rumus sendiri untuk membantunya menghafal. Iya kan?</p>
<p>Sewaktu SMA dulu, saya pernah belajar bahasa Latin. Setiap mau ujian, kami harus benar-benar hafal deklinasi dan konjugasi perubahan kata-kata Latin yang ada. Benar-benar harus hafal mati! Gawat kan?</p>
<p>Sekarang pun saya mengalaminya. Namun, saya berhasil menemukan rumus. Menghafal akan jadi lebih mudah, jika kita mampu merasakan bahasa itu. Merasa? Ya merasa! Kita harus bisa merasakan “rasa” dari bahasa itu. Dengan itu, kita bisa mulai “jatuh cinta” pada bahasa tersebut, dan bisa mempelajarinya dengan jauh lebih mudah. Menarik bukan?</p>
<p><strong>Intuisi </strong></p>
<p>Merasa tidak hanya menggunakan perasaan, tetapi menggunakan intuisi. Menurut saya, intuisi itu semacam kombinasi antara pikiran dan perasaan. Intuisi amat membantu kita di dalam membuat keputusan. Intuisi juga amat membantu kita untuk belajar bahasa. Tidak percaya?</p>
<p>Saya punya pengalaman pribadi. Tahun lalu, saya ujian TOEFL IBT. Ini ujian yang terkenal sulit dan lama. Karena amat percaya diri, saya tidak belajar. Sehari sebelum ujian, saya hanya tidur, nonton DVD (dalam bahasa Inggris), dan santai-santai. Hasilnya?</p>
<p>Ujian saya sukses besar! TOEFL IBT memakan waktu sekitar 6 jam, dan saya mengerjakannya dengan amat baik. Saya tidak menghafal. Saya menggunakan intuisi, ketika mengerjakan ujian. Orang belajar bahasa tidak hanya menggunakan otak untuk menghafal, tetapi intuisi untuk merasa. Setuju?</p>
<p>Ternyata, intuisi juga tidak hanya berguna untuk belajar bahasa, tetapi untuk belajar apapun. Intuisi amat berguna untuk membuat keputusan. Singkat kata, kita perlu untuk “merasakan” apa yang sedang kita kerjakan, dan apa yang ingin kita putuskan. “Rasa” ini, menurut saya, adalah pembimbing kita yang paling setia dalam hidup. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Namun, intuisi tidak selalu benar. Kita tetap butuh data-data dan informasi yang berguna untuk keputusan yang kita ambil. Maka itu, kita butuh kehadiran orang lain untuk melengkapi intuisi kita. Kita butuh orang lain untuk melengkapi diri kita seutuhnya. Tidak hanya dalam membuat keputusan, atau belajar bahasa, secara umum, tanpa orang lain, kita bukan apa-apa. Ya kan?</p>
<p><strong>Memahami Aturan</strong></p>
<p>Belajar bahasa juga perlu untuk memahami aturan di balik gramatiknya. Dalam bahasa Jerman, aturan ini disebut <em>die Regel</em>. Di balik setiap susunan kata, di balik semua perubahan kata, ada <em>die Regel</em>. Intuisi dan menghafal akan menjadi kacau, jika tidak mengikuti <em>die Regel</em>. Ingat, <em>die Regel</em> ini bukan Regal (biskuit), melainkan aturan. Jangan tertukar..</p>
<p>Ini juga berlaku, ketika saya belajar bahasa Inggris dan bahasa Latin dulu. <em>Die Regel</em> tersembunyi sebagai tata kelola dari bahasa, sehingga bahasa itu bisa dipahami, dan mampu menyampaikan ide-ide yang ada di dalam pikiran. <em>Die Regel</em> tak terlihat, namun pengaruhnya amat terasa. Ia seperti udara, tak terlihat, namun amat terasa. Bagaimana kalau udara, dan <em>die Regel</em>, tidak ada? Apa yang terjadi?</p>
<p>Di dalam hidup, kita pun hidup dengan <em>die Regel</em>. Di berbagai aspek kehidupan, ada <em>die Regel</em> yang mesti dipatuhi. Namun perlu juga diingat, <em>die Regel</em> ini tidak abadi. Ia berubah sejalan dengan perubahan pemahaman manusia. Bahasa itu hidup. <em>Die Regel</em> itu hidup, dan bisa berubah, ketika banyak orang menghendakinya untuk berubah. Bisakah anda sebutkan contohnya?</p>
<p><strong>Kepemimpinan </strong></p>
<p>Kepemimpinan perlu menghafal, sama seperti kita belajar bahasa. Kita perlu tahu siapa dan apa yang kita pimpin. Kita perlu tahu data-data penting terkait dengan organisasi yang kita pimpin. Kita perlu tahu visi dari organisasi yang kita pimpin. Ini wajar-wajar saja. Iya kan?</p>
<p>Sekarang ini, saya bertugas sebagai Sekretaris Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Saya hafal dengan visi organisasi, data-data terkait dengan mahasiswa, situasi keuangan fakultas, tata kelola fakultas, dan sebagainya. Semua ini amat membantu saya dalam beraktivitas sehari-hari. Bagaimana jika seorang pemimpin tak mengenal organisasi yang ia pimpinan? Apa yang terjadi?</p>
<p>Sama seperti belajar bahasa, kepemimpinan juga perlu intuisi. Pertimbangan data-data tidak pernah cukup. Pemimpin harus menggunakan “rasa” di dalam mengambil berbagai keputusan terkait organisasinya. Memang, “rasa” dan intuisi tidak selalu benar. Namun, keduanya tidak pernah boleh dikesampingkan. Setuju?</p>
<p>Saya teringat salah satu pidato Bung Karno yang pernah saya baca dulu. Ia bilang begini,</p>
<p><em>“Kita boleh kesulitan makan. Tapi bangsa kita, Bangsa Indonesia, punya prinsip dan harga diri! Dan dengan prinsip dan harga diri itu, kita akan membangun bangsa ini menuju keadilan dan kemakmuran untuk semua! Kita tidak akan menjilat siapapun, baik itu negara-negara Barat, ataupun negara-negara komunis!” </em></p>
<p>Bung Karno punya visi yang jelas untuk bangsa yang ia pimpin. Namun sayang, sebelum visi itu bisa dikerjakan, ia jatuh dari posisinya. Ia adalah contoh pemimpin yang tidak pernah mau jadi budak data. Apakah anda budak data yang tak berani berinovasi, atau pemimpin visioner yang menggunakan intuisi, rasa, dan data-data (namun tak pernah menjadi budak data) untuk mengambil keputusan?</p>
<p>Dan terakhir, sama seperti belajar bahasa, kepemimpinan juga perlu untuk memahami dan mematuhi <em>die Regel</em>. Ada aturan lain untuk setiap hal, dan seorang pemimpin harus memahami dan mematuhi itu semua. Tentu saja, <em>die Regel</em> bukan untuk dijalankan secara buta. Kita tetap perlu fleksibel dan bijak di dalam menghayati <em>die Regel</em>. Iya kan?</p>
<p>Sewaktu muda (memang sekarang sudah tua?),  saya sering tak peduli pada aturan. Menurut saya, aturan itu bodoh, mengekang, dan membunuh antusiasme serta kreativitas. Saya sering bertengkar dengan otoritas, karena sikap ini. Seringkali juga, banyak rencana saya gagal, karena sikap itu. Apakah anda punya pengalaman seperti ini juga?</p>
<p>Sekarang saya sadar (akhirnya..), aturan, <em>die Regel</em>, tetap perlu ada, dan dihayati. Yang penting, kita tetap memerlukan sikap kritis untuk memahami dan menerapkannya sesuai konteks, serta sejalan dengan prinsip-prinsip keamanusiaan universal. Aturan diciptakan untuk kebaikan manusia, bukan manusia dikorbankan, bahkan dibunuh, untuk tegaknya aturan. Setuju?</p>
<p>Singkat kata, memimpin itu seperti belajar bahasa. Kita perlu untuk menghafal informasi terkait dengan organisasi yang kita pimpin, membuat keputusan dengan menggunakan intuisi dan “rasa”, serta memahami dan menerapkan <em>die Regel</em>, aturan main, yang berlaku. Hanya dengan begitu, kita bisa menciptakan organisasi yang bermakna, yang berpartisipasi besar dalam terciptanya kebaikan bersama untuk semua orang, tanpa kecuali. Selamat memimpin! <em>Glückwünsche Blei! Auf Wiedersehen!</em></p>
<p><span class="smarterwiki-popup-bubble smarterwiki-popup-bubble-active" style="top:3599px;left:377px;margin-left:-54px;margin-top:-60px;opacity:0.99456;"><span class="smarterwiki-popup-bubble-body"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-container"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Google" href="http://www.google.com/search?q=memutuskan%20" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://www.google.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Surf Canyon" href="http://search.surfcanyon.com/search?f=nrl1&amp;q=memutuskan%20&amp;partner=fastestfox" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="image/x-icon;base64,AAABAAEAEBAAAAEAIABoBAAAFgAAACgAAAAQAAAAIAAAAAEAIAAAAAAAAAQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8AycnKOmdmaastLTDuIB8j/yAfI/87Oz7eg4OFi+no6Rj///8A////AP///wD///8A////AP///wD6+voDfHx+kyAfI/8gHyP/LCsv+FJRVPhHRkr6IiEl/SAfI/8tLTDuuLe5T////wD///8A////AP///wD///8AfHx+kyAfI/8wLzP4qqqr+Pv7+////////////+3t7f+Dg4X9IB8j/yMiJvq/vr9H////AP///wD///8AyMfIPyIhJf8wLzP429vb+P///////////////////////////////66ur/0gHyP/ODc74////wD///8A////AHRzda4wLjH/rKyt+P/////8/Pz/h4eJ/z8+Qv9GRUn/rq6v////////////iIiK/6ijnP/269Y/////AP///wBQTlDzR0VI+vv7+///////oqGh/zg2Of8hICT/IB8j/yAfI//c3Nz/7de7/9alX//GfhL/48KOfv///wD///8AWFZX/3Vzdfr//////////4iGhv9SUFL/MC8z/2ZlaP+1jmz/unMv/7NjFf+zYxX/s2MV/9atin7WrYp+1q2KfmdlZf91c3T8//////////+npaT/bWtr/0tJS/81Mzf/jIB5/9Gidv+/eDD/v3gw/8B6M//NlWD/x4pO/8WFRvqLiIjXbmxs/+rq6v//////6Ofn/4yJiP9lY2T/Q0JE/0tKTf/09PT/9uvc/+K5gP/apFL/9+zaP////wD///8AwcDAe357e/+koqL9///////////09PT/zs3N/8jHx//5+fn//////+7u7/9/f4H/4tfC//rv2T////8A////APb29g+YlZXjhYKB/7W0s//9/f3//////////////////////+vr6/9paGn/NTQ3/319f6f///8A////AP///wD///8A6OjnMpmWle6MiYf/lZOS/8XEw//b2tr/0dHR/6elpv9hYGH/TkxO/25sb8L09PQM////AP///wD///8A////AP///wDv7+4jsa6tu5KPjf+Kh4b/gX59/3h2df9vbW3/amho96alpof4+PgH////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wDs6+srz87Nb8XDw37Av75+zMvKXvLy8hT///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A//8AAPA/AADAHwAAgA8AAIAHAAAABwAAAAcAAAAHAAAAAAAAAAcAAIAHAACABwAAwA8AAOAfAAD//wAA//8AAA%3D%3D" alt="" /></a></span><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search DuckDuckGo" href="http://duckduckgo.com/?q=memutuskan%20" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://ff.duckduckgo.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Wikipedia" href="http://www.google.com/search?hl=en&amp;btnI=I%27m+Feeling+Lucky&amp;q=memutuskan%20+wikipedia" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABQAAAATCAYAAACQjC21AAAAAXNSR0IArs4c6QAAAAZiS0dEAP8A/wD/oL2nkwAAAAlwSFlzAAAIpwAACKcBMsYCAwAAAAd0SU1FB9kFEwgQLXKnj9oAAAPsSURBVDiNdVRZSGRXEH1Joz8icSIMJsEQEvKvov4ICoOYIAp+KKISkLiAgij5UGOMjgoug6CiKC64i/sSpVHcl7jv7W6722pcWmyNoqBW6hRpyYSZC8W7975bdU+dOrcUIlL+axYWFq+SkpLybWxsYo17VlZWX/H6DebOzs4/ent7/+Lu7v7z/31h7y8U5fvV1VWNra3tIObGvZqamtaHh4fHxMTExb29vcejoyMKCwt7jIqKWuD/bz4Y0MXF5e319bU2JyfngA99x/YJ22empqZuERERKwcHB9Td3U37+/u0srJCc3NzNDIyQk1NTVcqleonPvv6JSCPL87OznQ8p+TkZC2vv2GzcnNz+83a2joqLy9vCQFnZ2dpfX2dlpaWqLe3lzo7O+WStLS0ORMTE7+XgCkpKTX07/Dz86PIyEhDVlaWISMjgxISEmRfp9PRzs4O7e7uEtMi6EZHRyVweHg4gp6bm5tbKK958PlbODES+ZmZmQmkxjsE2d3dHWm1WsrOzqa6ujoaGhqigYEBGh4epvT0dCovLyd7e3sfhR3fGR0vLy9fULa0tMj8/PycNBoNcVGIi0NxcXHU09NDY2Nj1N/fL2mXlZXJJV5eXkXK9va2DojggIDPz8/iuLGxQcvLy8IXEN7c3JBer5f14uKiIOzr66P29naqqqqiiooK8vf3n1aYbP3ExIQcZkkIKgcHBwJ/BoNB1ltbW8IbF466urrk3OTkpFhDQ4MEZA7Jx8fnSGEJ6I2pHh4eyvf2ViglVBbBwBMQb25u0sLCgnAXExMjVLS1tVFJSYmkHRoa+pfCmydwPjk5EYf7+3txwBoVRTFmZmZetFdcXEyBgYGUm5srVa6traWioiIqKCig4ODgVYVJnUE6LGpBhLQQDMjAHeaQzPT0tASG7iorK0U2kAwC4hIE9PT0HFZYvB7j4+NPQHlxcSGFOD4+Fvnw8xKOUGnwxAWkqakpqSz7CJ/V1dXEmiV+/+To6Pi7CJvFq356ehIHaA2ogPjq6krSRlVbW1ulqoODgyIbyMfX15dKS0spNjYWAf+2tLT8UgLyJAIPHinPz89LFcEXJIJUcdHa2ppIBAjVajWlpqYSNwcqLCwUdEFBQX9+ysP4llXcSf7gFO6A8PT0lJqbm4UXvB6kBc6QKgz/sAfu8Ers7OzecYxv3+s2PD53dXX9FVUFCiCqr6+njo4OSRMBwSN3FylKfn4+MQgKCAhAC1N9rB+aODk5vWUU5+ARUoHu8CpQ0cbGRjFcxA3kkjtRAft8/dEGazRuRabcZH8ICQkpjo6OVjNHmvj4+GXuiyMeHh453ATCzMzMXn3I9x8oCiuuorpqawAAAABJRU5ErkJggg==" alt="" /></a></span></span></span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2092/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2092&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/12/belajar-bahasa-itu-sama-seperti-memimpin-kok-bisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/5c.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">5c</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://www.google.com/favicon.ico" medium="image" />

		<media:content url="https://ff.duckduckgo.com/favicon.ico" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Kepemimpinan</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/cinta-dan-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/cinta-dan-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 12:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin yang baik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2089</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya Pada tulisan saya sebelumnya, saya menyatakan argumen, bahwa cinta itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1), kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen (4), harus &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/cinta-dan-kepemimpinan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2089&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2090" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/leadership-love.jpg"><img class="size-full wp-image-2090" title="leadership-love" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/leadership-love.jpg?w=584" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">lizkeever.files.wordpress.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Pada <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/">tulisan saya sebelumnya</a>, saya menyatakan argumen, bahwa cinta itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1), kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen (4), harus pakai akal budi (5), dan dijalankan dengan penuh kesadaran akan paradoks hidup (6). Yang juga menarik, keenam hal ini juga merupakan enam hal yang diperlukan oleh pemimpin yang baik. Apa kaitan antara kepemimpinan dan cinta? Kok, kelihatannya ga nyambung gitu?</p>
<p>Seorang pemimpin harus punya hasrat. Jelas donk, kalau tidak ada hasrat, tidak ada keinginan, tidak ada api, bagaimana ia bisa memberikan inspirasi pada orang-orang yang dipimpinnya? Bagaimana ia bisa berkomunikasi secara tegas dan jelas tentang visi pribadinya untuk organisasi? Tanpa hasrat, pemimpin adalah orang yang lemas dan membosankan. Capek deh, ya ga?</p>
<p>Saya punya seorang teman yang adalah pemilik pabrik besar di Jawa Timur. Kalau berbicara, suaranya keras. Matanya menatap tajam. Ide-ide yang keluar dari mulutnya juga tertata dengan baik. Tak heran, para pekerjanya amat menghormatinya. Pabrik yang dipimpinnya pun dipercaya konsumen, dan kini sukses besar.<span id="more-2089"></span></p>
<p>Seorang pemimpin juga harus hadir untuk organisasinya. Ia harus hadir beserta seluruh pikiran, hati, dan tenagannya. Hanya dengan begitu, organisasinya bisa berkembang. Pemimpin yang selalu menghilang akan membuat organisasi tak ubahnya seperti anak ayam kehilangan induk. Mirip seperti lagu yang terkenal akhir 2011 lalu, <em>mau dibawa kemana.. organisasi kita? </em></p>
<p>Saya pribadi punya banyak pengalaman terkait dengan pemimpin semacam ini. Indonesia rupanya jadi gudang pemimpin-pemimpin semacam ini. Mereka mau terima gaji besar, berpangkat tinggi, tetapi tak pernah hadir untuk para pekerjanya. Semua anggota organisasinya pun menyanyi, <em>mau dibawa kemana&#8230; organisasi kita?</em> Udah ah.. hush.. ganti lagu..</p>
<p>Pemimpin yang baik juga memberikan ruang bagi orang-orang yang dipimpinnya untuk mengembangkan diri. Pekerja yang bahagia adalah pekerja yang ideal, dan bahagia berarti ia memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia punya. Kalau anda memiliki bos yang amat peduli dengan pengembangan diri anda, bagaimana perasaan anda? Senang bukan? Kalau sudah senang, anda mau kerja lebih rajin kan? Amin!!</p>
<p>Jujur saja, sekarang ini, saya bekerja di tempat yang amat memperhatikan pengembangan diri saya (sekalian promosi nih.. hehehe). Saya merasa diajak terlibat, diberikan ruang untuk mengembangkan diri, dan, akhirnya, saya pun jadi bersemangat kerja (mengajar, menulis, dan sebagainya). Saya merasa dimanusiakan. Duh, semoga situasi ini tidak berubah ya. Atau kalau berubah, ya mbok jangan banyak-banyak. Heheheeh&#8230;</p>
<p>Pemimpin yang baik harus memiliki komitmen. Jelas donk, ia harus punya komitmen pada visi organisasinya, komitmen pada orang-orang yang ia pimpin, dan komitmen pada hati nuraninya sendiri. Segala hal di muka bumi ini, apalagi kepemimpinan, butuh komitmen. Jika cuma bicara-bicara saja, tidak ada komitmen untuk menjalankan, semuanya jadi sia-sia saja. Kalau kata anak jaman saya SMA dulu (1990-an akhir), NATO, no action talk only, atau omdo, omong doank. Capek deh&#8230;</p>
<p>Saya punya contoh buruk tentang ini, yakni diri saya sendiri. Hehehehe&#8230; Saya pernah diminta menjadi pemimpin suatu organisasi cukup besar, sewaktu kuliah dulu. Namun, saya malas. Saya tak punya komitmen. Saya lebih senang main di luar kampus, di geng bermotor pada saat itu. Akibatnya, kinerja organisasi saya pas-pasan, hidup segan, mati tak mau. Bagaimana pengalaman anda? Semoga tak seburuk saya&#8230; hiks..</p>
<p>Kepemimpinan, jelas, butuh akal budi. Siapa yang tak setuju dengan argumen ini? tunjuk tangan!.. loh.. ga bisa ya.. lagi baca.. atau melotot! Hehehe.. Memimpin terkait erat dengan membuat keputusan, dan membuat keputusan perlu mempertimbangkan data-data dan situasi yang ada. Semua proses itu perlu mikir. Ya ga? Kalo ga setuju, keterlaluan banget!</p>
<p>Saya sih tidak punya pengalaman tentang pemimpin yang tak pakai akal budi. Namun, saya punya banyak sekali pengalaman dengan pemimpin yang tidak menggunakan akal budinya secara maksimal. Ia hanya mampu berpikir teknis, tetapi tak mampu berpikir reflektif (melihat diri sendiri), kritis (tak mudah percaya kata orang), dan analitik (memecah masalah ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, lalu kembali lagi ke keseluruhan). Duh, pusing banget, apa sih konkretnya?</p>
<p>Konkretnya, keputusan yang ia ambil hanya mempertimbangkan kepentingan jangka pendek semata. Pada jangka panjang, organisasi yang ia pimpin bisa hancur. Kalau dalam bahasa kerennya, kepemimpinannya tidak berkelanjutan. Semangat di awal, tetapi lemas di tengah, dan hancur di akhir. Mirip Edi Tansil=ejakulasi diri tanpa hasil. Hush.. porno.. eh ga juga sih.</p>
<p>Yang terakhir, pemimpin juga harus memiliki kesadaran tentang paradoks hidup. Paradoks itu, secara singkat, adalah dua hal yang bertentangan, namun bisa ada berbarengan, dan justru saling membutuhkan. Misalnya, kita perlu mengeluarkan uang, guna mendapatkan uang. Tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakatnya bukanlah beban, melainkan investasi yang amat menguntungkan untuk keberlanjutan perusahaan tersebut sebagai bagian integral dari masyarakat. Saya setuju sekali dengan ini. Bagaimana dengan anda?</p>
<p>Baru-baru ini, saya menulis biografi seorang pengusaha besar asal Surabaya. Ada satu ilmu menarik yang saya pelajari. Sebelumnya, ia adalah pemilik toko cat di Malang, sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Ada satu ilmu menarik yang menurut saya anda harus tahu. Mau kan?</p>
<p>Begini, ia selalu mau mencampur cat sesuai dengan kebutuhan konsumennya. Segala warna, ia buat, supaya konsumennya puas. Ketika mencampur cat, selalu ada cat yang kelebihan. Ia rela memberikannya kepada pembelinya, tanpa biaya. Akhirnya, banyak orang senang mengunjungi toko cat tersebut. Toko cat itu pun akhirnya menjadi toko cat terbesar di Malang.</p>
<p>Inilah inti paradoks. Semakin kita memberi, semakin kita menerima. Mirip seperti orang yang mencintai kan? Jangan-jangan, berbisnis itu tak jauh bedanya dengan mencintai. Bagaimana menurut anda?</p>
<p>Yang mau saya tegaskan adalah, bahwa kepemimpinan itu butuh cinta. Apa yang menjadi enam komponen cinta ternyata juga merupakan enam komponen untuk bisnis. Romantis ya? Cengeng ya? Terserah, tetapi ini adalah kebenarannya.</p>
<p>Saya ingin membuat pernyataan yang lebih tegas lagi, esensi kepemimpinan adalah cinta. Untuk menjadi pemimpin yang baik, belajarlah untuk membangun api dalam diri! Belajarlah untuk hadir! Belajarlah untuk punya komitmen! Dan yang lebih penting lagi, belajarlah untuk mencintai! Kepemimpinan yang sejati adalah cinta itu sendiri! Ini adalah dua hal yang tak pernah bisa dipisahkan.</p>
<p>Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2089/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2089&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/cinta-dan-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/leadership-love.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">leadership-love</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Cinta</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 01:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[akal budi]]></category>
		<category><![CDATA[cari pacar]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[jacques lacan]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2082</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap, baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2082&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2083" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/love1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2083" title="Love1" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/love1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">andrewsegawa.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena </strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap, baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar lagi. Saya juga yakin, anda pasti pernah pacaran sebelumnya. Ya kan?</p>
<p>Setiap orang juga tahu, bahwa komponen terpenting dari pacaran adalah cinta. Ya, cinta! Namun, banyak orang kesulitan, ketika diminta menjelaskan, apa itu cinta? Ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba mendefinisikan arti kata itu. Namun, tak ada yang sungguh bisa menjelaskannya. Atau, jangan-jangan cinta itu hanya bisa dirasa, tapi tak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana menurut anda?<span id="more-2082"></span></p>
<p>Yang saya tahu, cinta itu punya enam komponen. Anggaplah saya punya teori sendiri tentang cinta, semacam filsafat cinta. Enam komponen itu adalah hasrat, kehadiran, komitmen, akal budi, berkembang, dan paradoks. Bingung? Tenang.. saya akan jelaskan satu per satu.</p>
<p><strong>Hasrat</strong></p>
<p>Komponen pertama dari cinta, menurut saya, adalah hasrat. Hasrat adalah keinginan yang membakar hati, dan mendorong kita untuk bertindak. Hasrat adalah sumber dari dorongan hidup manusia, yang membuat kita bangun di pagi hari, dan mulai melakukan aktivitas. Pada saat ini, saya yakin, anda sedang berhasrat untuk membaca tulisan saya. Iya kan? Hayoo ngaku&#8230;</p>
<p>Sekitar 50 tahun yang lalu, Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis, pernah menulis, bahwa manusia adalah mahluk yang berlubang. Hah, berlubang? Bukan berlubang secara fisik, tetapi ia memiliki lubang dalam jiwanya yang terus menuntut untuk diisi. Isinya bisa macam-macam, mulai diisi dengan barang-barang mewah, teman, keluarga, cinta, dan sebagainya. Apakah anda punya lubang semacam itu di hati anda?</p>
<p>Pada hemat saya, Lacan betul. Saya sendiri merasakannya. Bagi saya, lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Artinya, keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya manusia untuk mengisi lubang yang ada di dalam jiwanya. Saya menyebutnya sebagai “rumah hasrat”. Menarik bukan?</p>
<p>Saya pernah jomblo (ga punya pacar) cukup lama. Rasanya hampa. Hati kosong. Malem Minggu sepi. Mau curhat (curahan hati), tapi ga ada yang bisa diajak curhat. Akhirnya, di dalam hati muncul keinginan (hasrat) untuk mencari pacar lagi. Mirip seperti lagunya ST12 yang sempat terkenal, “cari pacar lagi&#8230;”</p>
<p>Setelah bergaul dan membuka lingkungan pergaulan baru (anak gaul nih ceritanya), saya pun mendapatkan pacar baru. Hati senang. Namun, itu tak lama. Si lubang (rumah hasrat) dalam diri kembali berteriak-teriak. Saya ingin pacar saya seperti ini, seperti itu. Tidak cocok. Putus lagi. Hampa lagi. Sedih lagi&#8230; hiks&#8230;</p>
<p>Dugaan saya, anda pun pernah mengalami seperti itu. Ga pacaran kesepian, tapi pacaran justru pusing dan repot. Manusia memang tak pernah puas, karena ia punya lubang hasrat di dalam dirinya yang menuntut untuk terus diisi, tanpa pernah sungguh penuh terisi. Artinya, kita seumur hidup selalu dibayangi oleh kecemasan untuk memenuhi hasrat kita. Tul ga?</p>
<p>Kata ajaran Buddha, lubang ini bisa dilenyapkan, dan manusia lalu bisa sampai pada kedamaian sempurna. Ajarannya kelihatan baik. Namun, menurut saya, justru hasrat ini yang membuat kita ini manusia, yang membuat kita ini hidup. Kalau dihilangkan, lalu kita ini apa namanya? Tidak tahu. Yang pasti bukan manusia. Robot? Mayat hidup? Hiii&#8230; Tidak bermaksud menghina ya. Bagaimana pendapat teman-teman yang mendalami ajaran Buddha?</p>
<p>Oke.. oke.. kembali ke tema utama. Jadi pada hemat saya, salah satu komponen utama cinta adalah hasrat, dan hasrat itu sudah selalu ada dalam diri manusia, apapun agama, ras, ataupun etnisnya. Hasrat yang mendorong kita untuk mencintai, pacaran, menikah, punya anak, dan sebagainya. Hasrat yang mendorong kita untuk hidup. Tanpa hasrat, kita bagaikan mayat hidup berjalan. Udah ah.. jangan ngomong mayat-mayat lagi.. serem&#8230;</p>
<p><strong>Kehadiran </strong></p>
<p>Komponen kedua, menurut saya, adalah kehadiran. Cinta itu butuh kehadiran, baik kehadiran fisik, maupun kehadiran hati. Orang yang mencintai harus “hadir” dengan seluruh dirinya untuk yang dicintai, untuk menemani, membantu, dan berjalan bersama dengan orang yang dicintainya. Kalo tidak hadir, maka apa gunanya pacaran, apa gunanya mencintai? Itu sama saja dengan “tidak mencintai” atuh. Ya kan?</p>
<p>Makanya, saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa pacaran jarak jauh, apalagi suami istri yang berhubungan jarak jauh. Kehadiran fisik hanya mungkin pada saat-saat tertentu saja, seperti pada saat liburan atau cuti. Yang mengikat mereka adalah kehadiran hati. Artinya, tubuhku jauh, tapi hati dan pikiranku bersamamu. Romantis ya? Cihuy&#8230;</p>
<p>Saya sering melihat, ada orang pacaran, tapi yang satu sibuk main Blackberry, yang satu sibuk main notebook. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling menatap. Lah, apa gunanya ketemu? Mereka pacaran, tetapi mereka tidak hadir untuk satu sama lain. Apa itu namanya? Temannya juga bukan pasti. Apakah anda seperti itu juga?</p>
<p>Saya juga sering marah, kalau berjumpa dengan teman, tetapi ia sibuk main Blackberry. Fisiknya ada di depan saya, tetapi perhatiannya entah kemana. Saya merasa diabaikan, ga dianggap manusia, tetapi cuma dianggap benda saja. Siapa yang tidak marah, kalau diperlakukan seperti itu?</p>
<p>Melihat itu semua, saya janji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan memberikan perhatian penuh pada orang lain, jika mereka berbicara kepada saya. Saya tidak sibuk main BB, main notebook, atau main apapun. Saya akan mendengar, dan menanggapi, kalau diminta. Semoga janji saya ini juga bisa menginspirasikan anda untuk membuat janji yang sama kepada diri anda sendiri. Semoga&#8230;.</p>
<p>Jadi intinya, orang pacaran itu harus punya cinta, dan cinta itu tandanya adalah kehadiran, baik kehadiran badan, hati, maupun pikiran. Tanpa kehadiran, pacaran itu cuma basa-basi, formalitas, atau sekedar menaikan status sosial. Kalau itu yang terjadi, semuanya jadi sia-sia. Kita jadi orang dangkal yang tak punya idealisme. Jangan jadi seperti itu ya&#8230; plis..</p>
<p><strong>Komitmen</strong></p>
<p>Komponen ketiga dari cinta, menurut saya, adalah komitmen. Komitmen adalah kesetiaan pada janji. Bukan hanya setia, tetapi janji itu dijalankan, ditepati, sampai sedetil-detilnya, dan jangan ditawar-tawar, kalau sudah disepakati. Ya ga?</p>
<p>Kok otoriter banget? Ga juga. Diskusi dan debat itu boleh dilakukan, sebelum janji dibuat. Tetapi ketika janji sudah disepakati, yah jangan ditawar lagi untuk membenarkan pelanggaran. Itu ndablek namanya. Hehehe&#8230;</p>
<p>Suatu saat, janji bisa berubah. Namun, sebelum janji berubah, harus ada pembicaraan dulu yang intensif, yang sering. Jangan tiba-tiba, salah satu pasangan ingin mengubah perjanjian, lalu semua berubah seenaknya. Yang penting, ketidaksepakatan itu dibicarakan. Bicara donk&#8230; jangan diam saja&#8230;</p>
<p>Saya sendiri juga bukan orang yang selalu tetap janji. Saya pernah melanggar janji. Tapi, saya sadar, dan kemudian berubah. Niat berubah pun belum tentu mengubah tindakan. Butuh waktu lama, sebelum niat sungguh menjadi kenyataan. Beberapa kali, saya dimarahi atau ditegur oleh pacar saya, karena tidak tepat janji. Maklum, namanya juga manusia. Yang penting kan ga diulangi lagi&#8230; hehehe..</p>
<p>Saya juga pernah punya pacar yang janjinya banyak, tetapi sering banget dilanggar. Akhirnya, kita berantem terus. Hubungan bukan lagi menjadi hiburan dan penguat, tetapi justru menjadi beban yang memberatkan. Susah kalo kita punya hubungan seperti ini. Bagaimana dengan kisah anda?</p>
<p>Pokoknya, cinta itu harus diikat dengan komitmen, baru sungguh menjadi cinta sejati yang menjadi penguat kehidupan, dan sumber kebahagiaan. Cinta tanpa komitmen itu seperti sambal tanpa cabe, artinya yah bukan sambal sama sekali. Ga ada gunanya. Masing-masing cuma menipu diri. Kita tidak hanya menipu orang lain, dengan mengaku mencintai dia, tetapi juga menipu diri sendiri. Kasiaaan banget&#8230;.</p>
<p><strong>Akal Budi</strong></p>
<p>Cinta juga harus pake akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan, sehingga ditipu pun tidak sadar. Orang yang mencintai juga harus tahu batas, kapan dia bisa memanjakan kekasihnya, memarahinya, atau meninggalkannya. Cinta tidak boleh buta. Duh.. hari gini, tetap saja masih ada orang yang mencintai secara buta, sehingga semuanya dikorbankan, termasuk uang, keluarga, dan sebagainya. Jangan jadi seperti itu ya&#8230;</p>
<p>Saya pernah punya teman perempuan. Ia amat mencintai suaminya. Apapun keinginan suaminya pasti dituruti. Gaya hidup mereka mewah, sementara pendapatan tak seberapa. Ketika situasi keuangan menurun, hubungan mereka krisis, dan pecah. Teman saya amat sedih dan patah hati. Ternyata, suaminya hanya mau dimanja, tetapi tidak mau hidup sulit bersamanya. Duh.. anda jangan sampai seperti itu ya&#8230;</p>
<p>Beberapa orang bilang, bahwa saya orang yang kejam. Di mata mereka, saya tuh pelit kalau pacaran. Kalau bikin perjanjian tuh tepat banget, sampe keliatan ga manusiawi. Pembelaan saya cuma satu, saya cuma ga mau memanjakan pasangan saya. Saya ingin mereka mandiri, dan tak tergantung secara emosional pada saya. Jahat ga sih begitu?</p>
<p>Saya juga dibilang sok-sok rasional. Itu sih tidak masalah, karena memang prinsip saya tetap sama, yakni pacaran dan cinta pun harus menggunakan akal. Jangan sampai kita diperas, karena cinta. Jangan sampai kita ditipu, karena cinta. Cinta tidak boleh membuat mata kita gelap dari kenyataan. Setuju ga? Hidup cinta.. hidup akal! Hush.. lebai..</p>
<p><strong>Berkembang</strong></p>
<p>Cinta sejati itu mengembangkan. Saya setuju dengan prinsip ini. Orang yang saling mencintai ingin pasangannya lebih baik, lebih pintar, lebih bijak. Hubungan mereka menjadi dasar untuk mengembangkan diri seutuhnya. Setuju?</p>
<p>Namun, ada kalanya upaya mengembangkan diri itu mengancam hubungan. Misalnya, istri dapat promosi di luar kota, dan harus meninggalkan keluarganya. Sementara, si suami merasa, bahwa urusan di rumah terlalu banyak untuk diurusnya sendiri, maka ia tidak setuju dengan rencana itu. Lalu bagaimana?</p>
<p>Saya rasa, tidak ada rumus universal untuk masalah itu. Yang perlu diperhatikan adalah prinsip berikut, semua keputusan yang dibuat harus didasarkan pada pembicaraan yang matang, egaliter, dan bebas dominasi antara semua pihak, yang nantinya terkena dampak dari keputusan itu. Proses ini menjamin, bahwa keputusan yang dibuat itu adil untuk semua pihak. Setujukah anda?</p>
<p>Berkembang juga harus tahu batas. Jangan sampai perkembangan diri justru malah menghancurkan hubungan. Percayalah, kesuksesan tidak ada artinya, kalau anda tidak punya orang yang bisa diajak untuk berbagi kesuksesan itu. Kebahagiaan itu bersifat sosial, dan tidak pernah bersifat semata individual. Orang yang paling berbahagia di dunia ini adalah orang yang paling banyak berbagi. Percaya tidak?</p>
<p>Saya punya seorang teman. Dia amat sabar, dan baik. Istrinya amat ambisius, dan sukses dalam karirnya. Pendapatan istrinya jauh lebih tinggi dari pada dia. Mereka hidup bahagia. Anaknya dua. Teman saya amat mendukung karir istrinya. Sementara, istrinya juga tahu batas, dan tak pernah mengorbankan keluarga. Saya tidak bilang, bahwa mereka keluarga sempurna. Namun, saya yakin, keluarga itu bisa menanggapi semua masalah kehidupan dengan baik, sebesar apapun masalah itu. Bagaimana pengalaman anda?</p>
<p><strong>Paradoks </strong></p>
<p>Esensi terdalam cinta, menurut saya, adalah paradoks. Paradoks itu artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu, dan menciptakan sesuatu. Misalnya, anak itu sekaligus benci dan cinta pada ayahnya, atau orang itu sekaligus lembut dan keras pada saat bersamaan. Intinya, dua hal yang bertentangan justru bisa menyatu secara harmonis. Semoga anda tidak bingung ya..</p>
<p>Cinta pun juga paradoks. Di dalamnya, orang bisa merasakan benci dan sayang pada waktu yang sama. Cinta juga bisa bertahan, jika orang tidak terlalu mengikat pasangannya. Justru dengan melepas orang yang disayangi, maka cinta akan bertumbuh. Sebaliknya, dengan diikat, orang yang dicintai justru akan pergi. Apakah anda punya pengalaman seperti itu?</p>
<p>Kalau kata orang dulu, mencintai itu seperti menggengam pasir. Semakin kita kuat menggengam, semakin cinta itu jatuh. Sebaliknya, jika kita menggenggam dengan santai, maka pasir/cinta itu akan tetap di tangan kita. Jadi, cinta itu memang mirip pasir. Pasir adalah bahan dasar bangunan material, sementara cinta adalah bahan dasar bangunan spiritual. Romantis ya?</p>
<p>Di dalam cinta, semakin kita memberi, semakin kita akan mendapatkan. Semakin banyak kita berkorban, semakin kita akan memiliki banyak. Semakin kita mencintai, semakin kita akan dicintai. Namun, seperti prinsip di atas, prinsip akal budi tetap harus dipakai. Yang pantas-pantas saja dilakukan sebagai manusialah. Kalau kata anak remaja jaman sekarang, jangan lebay ya&#8230;.</p>
<p>Saya punya pengalaman sewaktu masih kuliah dulu. Ketika pacaran, saya hitung-hitungan dengan pacar saya. Bukan hanya uang, tetapi waktu dan tenaga. Saya malas pergi keluar rumah. Saya malas mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Bahkan, saya malas pergi ke kondangan. Siapa yang mau punya pacar seperti itu?</p>
<p>Alasan saya waktu itu hanya satu, yakni hemat, termasuk hemat uang, hemat tenaga, hemat bensin, dan sebagainya. Namun, proses pacaran kami jadi penuh tekanan. Pacaran jadi tidak enjoy, dan hanya menjadi beban. Semuanya dihitung, dan akhirnya saya pusing sendiri. Di akhir-akhir hubungan, saya mulai berubah mulai mengikuti keinginan pacar saya, walaupun itu melelahkan, dan buang-buang uang. Mukjizat terjadi? Hehehe..</p>
<p>Ternyata, hasilnya tidak jelek. Saya lebih enjoy, dapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru, serta kenal dengan orang-orang baru. Wawasan saya diperluas. Bahkan, pacar saya bersedia patungan beli bensin, dan traktir makan. Sayangnya, hubungan kami tidak bertahan. Kami putus, karena alasan lain. Yang pasti bukan karena saya pelit&#8230; heheheh&#8230;</p>
<p>Kembali ke tema, intinya, pacaran itu harus punya cinta. Dan, cinta itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1), kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen (4), harus pakai akal budi (5), dan dijalankan dengan penuh kesadaran akan paradoks hidup (6). Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita pacaran! Yuk, belajar mencintai!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2082/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2082/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2082&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/love1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Love1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan, Kebahagiaan, dan Keberlanjutan Organisasi</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/03/kepemimpinan-kebahagiaan-dan-keberlanjutan-organisasi/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2012/01/03/kepemimpinan-kebahagiaan-dan-keberlanjutan-organisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 03:24:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2077</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya Lepas dari data-data bagus yang diterbitkan di koran-koran nasional, situasi ekonomi Indonesia tetap memprihatinkan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar. Putaran uang hanya terfokus di kelompok-kelompok masyarakat tertentu. &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2012/01/03/kepemimpinan-kebahagiaan-dan-keberlanjutan-organisasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2077&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2078" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/happiness.jpg"><img class="size-full wp-image-2078" title="Happiness" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/happiness.jpg?w=584" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">blogspot.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Lepas dari data-data bagus yang diterbitkan di koran-koran nasional, situasi ekonomi Indonesia tetap memprihatinkan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar. Putaran uang hanya terfokus di kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sementara mayoritas penduduk tidak mendapatkan akses terhadap putaran uang raksasa tersebut.</p>
<p>Para pengusaha kecil kesulitan bersaing dengan para pemilik modal besar. Mereka juga kesulitan bersaing dengan produk-produk asing yang membanjiri pasar Indonesia. Lulusan perguruan tinggi diminta untuk berwiraswasta di dalam situasi yang mencekik mereka. Padahal slogan pendidikan kewirausahaan seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah memberikan lapangan kerja yang memadai untuk rakyatnya.<span id="more-2077"></span></p>
<p>Di sisi lain banyak orang merasa bersyukur, selama mereka masih memiliki pekerjaan, walaupun pekerjaan itu menyiksa nuraninya, dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup minimal. Pada situasi semacam ini, masihkah relevan berbicara soal kebahagiaan pekerja, kebahagiaan para buruh?</p>
<p><strong>Pekerja yang bahagia</strong></p>
<p>Di dalam penelitiannya Spreitzer dan Porath menemukan, bahwa justru di dalam situasi ekonomi yang sulit, para pemilik perusahaan maupun pemimpin organisasi harus memusatkan perhatian mereka pada kebahagiaan pekerja, karena di tangan merekalah (para pekerja) produktivitas dan kreativitas perusahaan maupun beragam bentuk organisasi lainnya berada. (Spreitzer dan Porath, <em>Creating Sustainable Performance</em>, 2011)</p>
<p>Konkretnya begini. Pekerja yang bahagia bekerja lebih rajin, daripada pekerja yang tidak bahagia. Mereka akan datang tepat waktu, bahkan sebelum jam kerja dimulai. Mereka tidak gampang berhenti dari pekerjaan, atau berpindah perusahaan. Ketika diminta menjalankan tugas, mereka melakukannya sesuai tugas, bahkan lebih. Mereka menjadi semacam magnet yang menarik orang-orang seperti mereka untuk bergabung ke dalam perusahaan.</p>
<p>Pertanyaan kritisnya disini adalah, apa yang dimaksud sebagai pekerja, atau buruh, yang bahagia? Jelas pekerja yang bahagia bukan hanya pekerja yang tenang, setidaknya bukan hanya tenang. Mengapa? Karena orang yang tenang biasanya malas berpikir, sehingga kemampuannya tidak berkembang. Berdasarkan penelitiannya Spreitzer dan Porath menemukan, bahwa kebahagiaan pekerja tidak terletak pada ketenangan, melainkan pada kesempatannya untuk berkembang.</p>
<p>Di dalam lingkungan kerja yang memungkinkannya berkembang, orang tidak hanya puas, kreatif, dan produktif di dalam bekerja, ia juga mengambil bagian dalam menciptakan masa depan perusahaan atau organisasinya. Bisa dibilang bahwa masa depan perusahaan atau organisasi terkait erat dengan masa depan pribadinya sebagai manusia. Mereka bekerja dengan antusiasme dan semangat tinggi, karena mereka merasa sedang menciptakan masa depannya sendiri.</p>
<p><strong>Berkembang </strong></p>
<p>Ada dua tanda bagi perkembangan diri, sebagaimana dirumuskan oleh Spreitzer dan Porath. Yang pertama adalah vitalitas diri, yakni perasaan penuh semangat, hidup, dan antusias di dalam bekerja. Perasaan semacam ini menular ke orang-orang lainnya. Salah satu cara untuk membangkitkan vitalitas adalah dengan menyatakan kepada pekerja, bahwa yang mereka lakukan sehari-hari, walaupun kecil, tetap memberikan pengaruh besar pada perusahaan secara khusus, maupun kepada masyarakat secara umum.</p>
<p>Yang kedua adalah tersedianya ruang untuk belajar. Orang-orang yang berkembang adalah orang-orang yang memiliki kehendak dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan maupun keahlian baru. Di sisi lain sikap mau untuk belajar, dan adanya kesempatan untuk itu, bisa menciptakan apa yang disebut sebagai lingkaran keutamaan, di mana orang-orang yang mampu mengembangkan dirinya akan memiliki kepercayaan, bahwa dia, dan orang lain, akan mampu berkembang melampaui kemampuannya yang sebelumnya.</p>
<p>Dua hal ini menjadi tanda, bahwa orang itu berkembang. Dan orang yang mampu berkembang adalah orang yang berbahagia. Juga perlu diperhatikan bahwa dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Vitalitas tak bisa dipisahkan dari kemampuan dan kesempatan untuk belajar. Belajar tidak bisa dipisahkan dari semangat. Belajar tanpa semangat biasanya akan patah di tengah jalan.</p>
<p>Di sisi lain jika orang hanya punya semangat dan antusiasme, namun tak memiliki kesempatan untuk belajar, ia akan merasa terjebak melakukan hal-hal yang sama secara berulang, tanpa pernah mengalami perkembangan. Pada akhirnya ia menjadi mesin. Vitalitas hidupnya pun akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Kombinasi antara vitalitas dan kemauan/kesempatan untuk belajar akan mendorong orang bekerja demi mencapai hasil, serta mengembangkan diri maupun perusahaannya.</p>
<p>Motivasi kerja bukan lagi sekedar mendapatkan uang untuk mempertahankan hidup, melainkan karena bekerja memberikan makna maupun tujuan bagi hidup mereka. Di dalam semua proses itu, para pekerja akan merasa bersemangat, antusias, berkeinginan untuk terus belajar, berkembang, dan merasa bahagia. Semua keutamaan itu akan menular, dan menjadi budaya organisasi. Pada titik ini keuntungan finansial dan keuntungan sosial akan mengalir deras.</p>
<p><strong>Budaya yang Membahagiakan</strong></p>
<p>Maka sebuah perusahaan ataupun beragam organisasi lainnya harus amat memperhatikan kebahagiaan pekerjanya. Peran para pembuat kebijakan organisasi amat penting di dalam menentukan berhasil atau tidaknya proses ini. Namun perlu juga dicatat, bahwa dalam konteks ini, ada dua macam pekerja.</p>
<p>Yang mereka adalah orang-orang yang memang terdorong untuk terus mengembangkan dirinya secara bersemangat. Artinya mereka secara alamiah sudah memiliki daya untuk mengembangkan diri, dan mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang sekitarnya. Orang-orang semacam inilah yang perlu anda cari untuk bekerja di organisasi anda. Namun sayangnya jumlah mereka amat sedikit.</p>
<p>Mayoritas pekerja adalah orang-orang yang tunduk pada situasi eksternal dirinya. Mereka mudah menyerah pada sulitnya situasi. Mereka pesimis. Sayangnya karakter semacam ini pun juga mudah menular. Bahkan orang-orang yang bersemangat tinggi untuk mengembangkan diri juga bisa tertular karakter ini, jika mayoritas koleganya memiliki karakter tersebut.</p>
<p>Namun kita masih punya harapan. Manusia adalah mahluk sejuta kemungkinan, maka ia bisa berubah. Para pemilik dan pemimpin organisasi bisa menciptakan kultur organisasi yang mendorong setiap pekerja untuk berkembang, dan berkarya secara bersemangat untuk organisasi, serta untuk diri mereka sendiri. Masalahnya bukan tidak adanya kemampuan, tetapi apakah para pemimpin dan pemilik organisasi memiliki kehendak untuk menciptakan kultur organisasi semacam itu?</p>
<p>Jika jawabannya adalah ya, maka, menurut Spreitzer dan Porath, ada empat hal yang mesti diciptakan. Yang pertama adalah ruang untuk membuat keputusan melalui pertimbangan pribadi. Yang kedua adalah penyebaran informasi yang merata dan adil. Yang ketiga adalah adanya peraturan-peraturan yang dijalankan untuk menjamin hubungan yang beradab antar manusia di organisasi. Dan yang keempat adalah adanya upaya untuk memberikan kritik dan saran pada kinerja masing-masing pekerja.</p>
<p>Perlu untuk dicatat bahwa empat hal ini harus ada berbarengan, tidak bisa satu per satu. Misalnya orang tidak akan bisa membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang di dalam memutuskan sesuatu, jika ia tidak memiliki informasi yang diperlukan. Kritik dan saran juga bisa menjadi sia-sia, jika diberikan dengan menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Jadi keempat hal tersebut harus secara bersamaan dikembangkan, guna menciptakan budaya organisasi yang mengembangkan dan membahagiakan semua pihak di dalamnya.</p>
<p><strong>Ruang untuk Membuat Keputusan</strong></p>
<p>Orang akan merasa dihargai, jika pendapatnya didengarkan. Orang akan merasa dihormati, jika ia diberi kesempatan untuk membuat keputusan di dalam pekerjaannya. Orang akan merasa dipercaya, jika ia diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Inilah yang perlu dilakukan oleh para pemilik dan pemimpin organisasi, supaya para pekerja bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Setiap organisasi perlu untuk menciptakan kultur yang menyenangkan sekaligus memicu produktivitas. Musik dan tawa harus menjadi bagian dari kultur organisasi, sambil berusaha memberikan pelayanan yang paling memuaskan kepada klien atau pengguna jasa organisasi tersebut. Pemimpin dan pemilik organisasi perlu untuk menciptakan suasana kerja dan interaksi yang memicu setiap orang untuk bersemangat mengembangkan diri.</p>
<p>Perlu juga disadari bahwa manusia itu adalah mahluk yang bisa berbuat salah. Justru kesalahan adalah peluang paling besar bagi orang untuk belajar memperbaiki dirinya. Maka para pimpinan dan pemilik organisasi tidak bisa menghukum orang, semata karena ia berbuat salah, apalagi jika kesalahan itu adalah kesalahan pertamanya. Sebaliknya para pimpinan dan pemilik justru harus berusaha mengajak para pekerja untuk melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar dan mengembangkan diri, serta juga menjadi contoh belajar bagi teman-temannya.</p>
<p><strong>Berbagi Informasi</strong></p>
<p>Orang bekerja harus berdasarkan data-data yang tepat, sehingga ia bisa mengambil posisi untuk membuat keputusan tentang pekerjaannya. Orang juga harus tahu, apa perannya sebagai individu bagi tujuan organisasi yang lebih besar. Dua hal ini akan memicu orang untuk bekerja lebih baik, dan lebih terinspirasi untuk mengembangkan dirinya. Intinya pekerja tidak boleh dibiarkan buta dari perkembangan-perkembangan terbaru yang dialami perusahaan.</p>
<p>Inilah yang disebut sebagai manajemen buku terbuka. Sistem tata kelola organisasi, di mana setiap informasi terbuka untuk setiap pekerja di dalam organisasi tersebut akan menciptakan kepercayaan di antara mereka. Setiap orang lalu bisa membuat keputusan berdasarkan informasi akurat yang mereka punya. Mereka pun bisa mengembangkan diri mereka seturut dengan situasi kontekstual yang ada.</p>
<p><strong>Keberadaban Organisasi</strong></p>
<p>Organisasi haruslah memiliki nilai-nilai yang melandasi aktivitasnya. Dan salah satu nilai yang amat perlu diperhatikan adalah nilai keberadaban di dalam organisasi tersebut. Menurut penelitian yang dibuat oleh Christine Pearson di berbagai perusahaan multinasional di dunia, organisasi yang tidak memperhatikan keberadaban interaksi antar pekerja di dalamnya akan mengalami kerugian yang amat besar. Lebih dari 50% pekerjanya akan secara sengaja menurunkan kualitas kerja mereka. Dua pertiga dari pekerja yang ada cenderung menghindari hubungan langsung dengan orang-orang yang mereka anggap telah bersikap tidak beradab pada mereka. Secara statistik seluruh kinerja pekerja di organisasi tersebut menurun. (Spreitzer-Porath, 2011)</p>
<p>Apa contoh dari sikap tidak beradab? Misalnya anda menghina hasil kerja pegawai anda, tanpa sebelumnya memberi petunjuk yang memadai. Atau jika anda menghina pendapat pegawai anda yang sebenarnya berniat baik untuk membantu mencarikan solusi atas permasalahan yang ada. Juga ketika anda memaki bawahan anda di depan teman-temannya.</p>
<p>Sikap-sikap semacam itu memasung keinginan orang lain untuk berkembang. Orang-orang yang menjadi korban dari sikap tidak beradab cenderung juga untuk bersikap tidak beradab pada koleganya. Dihadapkan pada perlakuan yang tidak beradab, orang akan cenderung bersifat defensif, malas mengambil resiko di dalam pekerjaan, dan pada akhirnya enggan untuk mengembangkan kemampuan diri.</p>
<p><strong>Kritik dan Saran</strong></p>
<p>Sikap beradab harus menjadi bagian dari kultur perusahaan. Dan sikap ini hanya dapat dibentuk, jika ada proses kritik dan saran yang berlangsung secara berkelanjutan antar kolega di dalam organisasi. “Masukan-masukan”, demikian tulis Spreitzer dan Porath, “menciptakan kesempatan dan energi untuk belajar yang amat penting untuk menciptakan kultur pengembangan diri.” Peran kritik dan saran amatlah penting untuk menciptakan kultur yang memungkinkan semua orang belajar dan mengembangkan diri.</p>
<p>Dalam konteks ini tugas seorang pemimpin adalah menunjukkan kelemahan serta kekuatan organisasi, dan mengajak setiap orang di dalam organisasi untuk membantu mengembangkan kekuatan, serta mengurangi kelemahan yang ada. Pendapat setiap orang dihargai, dan diberikan tempat yang semestinya. Dengan pola ini setiap orang akan merasa menjadi bagian dari pembentukan kultur dan proses mewujudkan visi organisasi.</p>
<p>Jika dilakukan secara berulang dan dalam jangka waktu yang pendek, kritik dan saran justru bisa melemahkan semangat kerja organisasi. Satu-satunya cara untuk mencegah ini adalah dengan tetap mempertahankan nilai-nilai serta perilaku beradab di dalam organisasi, dan tetap menegaskan kepada semua orang di dalam organisasi, bahwa proses kritik dan saran adalah bagian integral dari proses mereka sendiri untuk berkembang.</p>
<p>Seperti sudah saya tegaskan sebelumnya, menurut penelitian Spreitzer dan Porath, keempat unsur di atas tidak dapat dipisahkan, jika anda ingin menciptakan budaya organisasi yang memungkinkan setiap orang bahagia, berkembang, dan bersama-sama maju mengembangkan organisasi yang ada. Orang tidak mungkin membuat keputusan-keputusan tepat, jika ia tidak memiliki informasi yang memadai, jaminan bahwa pemikirannya akan ditanggapi secara beradab, dan tidak mendapatkan masukan yang tepat dari kolega maupun pimpinannya.</p>
<p>Yang paling dibutuhkan adalah kekuatan kehendak dan tindakan dari para pimpinan maupun pemilik organisasi untuk menegaskan budaya organisasi yang ada melalui keempat unsur di atas. Hal ini amat penting untuk dilakukan. Membantu orang untuk mengembangkan diri bukan hanya baik untuk kemajuan organisasi, tetapi itu adalah hal yang baik dan benar untuk dilakukan oleh kita sebagai manusia. Dan itu adalah tujuan tertinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2077/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2077/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2077&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2012/01/03/kepemimpinan-kebahagiaan-dan-keberlanjutan-organisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2012/01/happiness.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Happiness</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Belum Tentu&#8221;</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2011/12/31/belum-tentu/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2011/12/31/belum-tentu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 03:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[belum tentu]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2072</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Kita hidup dengan pengandaian-pengandaian yang dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu diandaikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2011/12/31/belum-tentu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2072&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2074" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/www-eco20-20-com1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2074" title="www.eco20-20.com" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/www-eco20-20-com1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">eco20-20.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p>Kita hidup dengan pengandaian-pengandaian yang dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu diandaikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai suatu pengandaian, ada baiknya kita menguji dulu pengandaian tersebut. Di tahun 2012 ini, kita perlu menggunakan paradigma “belum tentu”, sebelum salah sangka, atau malah tertipu.</p>
<p><strong>Kekayaan</strong></p>
<p>Orang kaya belum tentu pintar. Banyak juga orang kaya, karena mendapat warisan. Bisa juga ia menang lotere, menang judi, menipu, atau korupsi, lalu menjadi kaya. Tidak ada hubungan yang pasti antara kekayaan dan kecerdasan.</p>
<p>Di Indonesia orang kaya seringkali dianggap orang cerdas. Pendapat-pendapat mereka didengarkan, bukan karena pendapat itu benar, melainkan karena yang berbicara adalah orang kaya. Bahkan orang kaya dengan mudah dicalonkan menjadi anggota DPR/DPRD bukan karena ia layak, melainkan semata karena ia kaya. Padahal seperti saya bilang sebelumnya, banyak orang kaya mendapatkan kekayaannya dari warisan, atau dari sumber-sumber lain yang tak menuntut kecerdasan.<span id="more-2072"></span></p>
<p>Maka kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam melihat orang kaya. Kita perlu berhenti mendewakan orang kaya, karena mereka belum tentu benar, dan pendapat mereka belum tentu berisi. Orang kaya adalah manusia, dan manusia bisa salah, maka orang kaya pun bisa salah. Kita tidak boleh tertipu.</p>
<p>Orang kaya belum tentu berhati baik. Di balik sumbangan yang diberikan, ia seringkali punya motif-motif tersembunyi yang tak selalu luhur. Ia seringkali punya agenda politik ataupun bisnis yang menipu. Tidak ada hubungan pasti antara kekayaan dan kebaikan hati.</p>
<p>Di Indonesia orang kaya, terutama ketika menyumbang, langsung dianggap orang baik. Berbagai cap positif ditempelkan ke mereka secara naif, apalagi jika yang memuji terciprat harta dari si kaya. Uang yang berlimpah menutupi sikap kritis. Orang lalu buta terhadap si kaya, ketika ia dilumuri oleh harta berlimpah. “Maju tak gentar membela yang bayar”, begitu kata orang.</p>
<p>Kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara kekayaan dan kebaikan. Orang kaya belum tentu baik, walaupun ia tampaknya baik dengan menyumbang banyak orang. Kita tidak boleh tertipu, walaupun diiming-imingi harta berlimpah.</p>
<p><strong>Beragama dan Bergelar</strong></p>
<p>Orang beragama juga belum tentu baik. Bisa juga kedok agama digunakan untuk menutupi kejahatan yang telah ia lakukan. Ia ingin tampil suci untuk menutupi aksi jahat yang telah dilakukan atau sedang direncanakan. Tidak ada hubungan pasti antara orang yang beragama dengan orang yang baik.</p>
<p>Di Indonesia orang beragama dianggap pasti bermoral baik. Makanya orang takut untuk tidak beragama. Institusi-institusi tertentu sering menggunakan nama agama tertentu, walaupun isinya jauh dari hal-hal baik. Agama disamakan begitu saja dengan kebaikan, tanpa pernah secara kritis dipertimbangkan.</p>
<p>Kita juga harus menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara status beragama dengan sifat baik. Jelas sekali bahwa orang beragama, serajin apapun dia beribadah, belum tentu adalah orang baik. Kita tidak boleh tertipu dengan slogan-slogan religius, jubah-jubah yang tampak suci, gelar-gelar religius, dan keahlian mengutip kitab-kitab, melainkan berani belajar untuk melihat apa yang ada di baliknya.</p>
<p>Orang bergelar akademik panjang, seperti professor doktor, belum tentu orang cerdas. Seringkali mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai dosen puluhan tahun, tetapi tidak menghasilkan karya-karya bermutu yang mencerahkan masyarakat di bidang keahliannya. Dengan kata lain gelar akademik seringkali adalah gelar formalitas yang tak selalu mencerminkan kecerdasan orang-orang yang memakainya.</p>
<p>Di Indonesia gelar adalah segalanya. Semakin banyak gelarnya maka ia akan semakin dianggap jenius oleh lingkungannya. Omongannya tetap didengarkan dengan penuh kagum, walaupun mungkin tak ada isinya. Gelar dipampang di forum-forum publik, seolah tak percaya diri dengan nama yang telah diberikan orang tuanya.</p>
<p>Orang bergelar panjang “belum tentu” cerdas dan bermoral baik. Paradigma “belum tentu” pun perlu kita terapkan di dalam memandang orang-orang bergelar panjang. Kita tidak boleh tertipu oleh kedok gelar yang dikenakan seseorang, dan perlu untuk sungguh belajar melihat apa yang sungguh ada di baliknya.</p>
<p><strong>Etiket</strong></p>
<p>Orang sopan juga belum tentu baik. Seringkali ia menutupi maksud jahat dengan tata krama yang tampak baik. Kata-kata lembut dikeluarkan untuk memberi kedok bagi maksud jahat yang tetap tersembunyi di balik kata-kata. Sikap sopan hanyalah topeng dari sesuatu yang tak jelas dibaliknya.</p>
<p>Di Indonesia orang tergila-gila dengan tata krama. Sikap sopan langsung diangap sebagai tanda kebaikan. Kata-kata lembut dianggap amat penting, tak peduli maksud tersembunyi apa yang ada di baliknya. Penampilan dan tata krama adalah ukuran bagi kebaikan seseorang.</p>
<p>Paradigma “belum tentu” perlu diterapkan untuk melihat kesopanan. Yang jelas orang sopan belum tentu baik. Jangan sampai kita tertipu, karena hanya terpaku melihat etiket serta tata krama, namun buta pada karakter asli yang seringkali tersembunyi di baliknya.</p>
<p><strong>Litani “Belum Tentu”</strong></p>
<p>Ada banyak lagi litani “belum tentu” dalam hidup kita. Orang miskin belum tentu bodoh. Orang miskin belum tentu tak bahagia. Bisa saja ia miskin, karena ditipu orang, atau karena hidup mempermainkannya tanpa tujuan. Bisa saja ia miskin, karena ia bahagia dengan kesederhanaan hidup, dan tak mau menjadi budak materi. Ada banyak kemungkinan.</p>
<p>Orang tua belum tentu bijaksana, karena bisa saja ia jarang menimba pelajaran dari pengalaman hidupnya. Orang muda belum tentu tidak tahu apa-apa, karena bisa saja ia amat reflektif di dalam menggali pelajaran dari pengalaman hidupnya. Ada banyak kemungkinan.</p>
<p>Orang yang berperilaku tidak lazim belum tentu sakit, atau gila. Bisa saja karena ia adalah orang yang amat kreatif, yang mampu melihat dunia dari sudut yang unik, yang tak dimiliki oleh orang-orang lainnya. Begitu pula sebaliknya; orang waras belum tentu sehat. Bisa saja ia menutupi kegilaannya dengan perilaku normal. Mayoritas pembunuh dan pemerkosa berantai adalah orang-orang yang sehari-harinya tampak normal.</p>
<p>Institusi ternama belum tentu bermutu. Sekolah terkenal belum tentu kualitas pendidikannya bagus. Universitas besar belum tentu mampu mendidik secara tepat. Perusahaan besar belum tentu memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada pegawai maupun konsumennya. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita pertimbangkan lebih jauh.</p>
<p>Orang berjenggot, bersorban, dan tampak ganas belum tentu teroris. Begitu pula orang berpenampilan rapih belum tentu orang baik. Orang Batak (maaf) belum tentu jadi pengacara. Orang Tionghoa (maaf) belum tentu jadi pedagang. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita perhatikan.</p>
<p>Orang berijazah belum tentu mampu mampu bekerja dan punya karakter bagus. Dan sebaliknya juga benar, orang yang tak punya ijazah belum tentu tak mampu bekerja dan berkarakter jelek. Hasil ujian belum tentu mencerminkan kualitas diri peserta didik. Hasil psikotes belum tentu mencerminkan karakter, kepribadian, ataupun potensi diri si peserta tes. Ada banyak kemungkinan lain.</p>
<p><strong>Terbuka</strong></p>
<p>Di tahun 2012 ini, kita perlu lebih berpikir terbuka. Kita perlu untuk lebih menggunakan paradigma “belum tentu” di dalam hidup sehari-hari kita. Semakin banyak orang tidak bisa lagi digolongkan di dalam satu kategori pengandaian (beragama maka baik, atau sopan maka bermoral). Dunia kita semakin banyak diisi oleh hal-hal yang “belum tentu”.</p>
<p>Jangan sampai kita tertipu, atau salah membuat tindakan, karena kita masih berpegang pada pengandaian-pengandaian naif yang tak terbuktikan. Ada banyak kemungkinan lain di balik pengandaian-pengandaian tersebut, yang justru merupakan peluang untuk bertindak kreatif dan menghasilkan hal-hal bermutu. Tahun 2012 adalah tahun baru, namun “belum tentu” kita semua bisa berpikir secara baru. Semoga yang terakhir ini tidak benar. “Belum tentu”&#8230;..***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2072/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2072/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2072&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2011/12/31/belum-tentu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/www-eco20-20-com1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">www.eco20-20.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hannah Arendt, Banalitas Kejahatan, dan Situasi Indonesia</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2011/12/26/hannah-arendt-banalitas-kejahatan-dan-situasi-indonesia/</link>
		<comments>http://rumahfilsafat.com/2011/12/26/hannah-arendt-banalitas-kejahatan-dan-situasi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 02:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza A.A Wattimena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[banalitas]]></category>
		<category><![CDATA[eichmann]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hannah arendt]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[kejahatan]]></category>
		<category><![CDATA[nazi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2067</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Reza A.A Wattimena Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya Para pelaku kejahatan tidaklah harus orang-orang jahat berhati kejam penuh dendam. Orang-orang biasa pun bisa melakukan kejahatan besar, ketika ia tidak memiliki imajinasi untuk membayangkan posisi orang lain, dan tidak &#8230; <a href="http://rumahfilsafat.com/2011/12/26/hannah-arendt-banalitas-kejahatan-dan-situasi-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2067&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2068" class="wp-caption alignleft" style="width: 239px"><a href="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/banality-of-evil04.jpg"><img class="size-medium wp-image-2068" title="banality of evil04" src="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/banality-of-evil04.jpg?w=229&#038;h=300" alt="" width="229" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">blogspot.com</p></div>
<p><strong>Oleh Reza A.A Wattimena</strong></p>
<p><em>Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya</em></p>
<p>Para pelaku kejahatan tidaklah harus orang-orang jahat berhati kejam penuh dendam. Orang-orang biasa pun bisa melakukan kejahatan besar, ketika ia tidak memiliki imajinasi untuk membayangkan posisi orang lain, dan tidak berpikir kritis di dalam melihat keadaan secara lebih luas. Di dalam tulisan ini, dengan berpijak pada pemikiran Hannah Arendt, saya akan mencoba menjelaskan argumen tersebut, dan menggunakannya untuk memahami situasi Indonesia. Awalnya saya akan memperkenalkan secara singkat sosok Hannah Arendt (1), menjabarkan pemikirannya tentang banalitas kejahatan yang tertulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil</em> (2), dan menunjukkan relevansi pemikiran Arendt untuk memahami situasi di Indonesia (3). Saya banyak terbantu dari tulisan Seyla Benhabib tentang Arendt.<span id="more-2067"></span></p>
<p><strong>1. Hannah Arendt</strong></p>
<p>Hannah Arendt adalah seorang filsuf politik ternama di abad keduapuluh. Ia lahir pada 1906 di Hanover, Jerman, dan meninggal di New York pada 1975.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Pada 1924 ia belajar di Universitas Marburg, Jerman, dan berjumpa dengan Martin Heidegger. Pada masa itu Heidegger sudah dikenal sebagai salah satu filsuf besar di dalam Sejarah Filsafat. Pemikirannya tentang fenomenologi ada (<em>phenomenology of being</em>) memicu diskusi filosofis di berbagai universitas di Eropa dan Amerika. Walaupun sebentar perjumpaan Arendt dengan Heidegger amat mempengaruhi pemikiran filsafat Arendt. Kisah cinta mereka pun menjadi legendaris di kalangan para filsuf, sampai sekarang ini. Ia belajar di Marburg selama setahun, lalu pindah ke Freiburg. Di Freiburg Arendt belajar di bawah Edmund Husserl. Pada 1926 ia pindah ke Universitas Heidelberg untuk belajar di bawah Karl Jaspers, seorang filsuf Jerman ternama. Arendt dan Jaspers menjalin persahabatan yang amat dekat dan panjang. Pada 1933 karena Hitler memperoleh kekuasaan politik tertinggi di Jerman, Arendt terpaksa meninggalkan Jerman, lalu pergi ke Polandia, Swiss, dan kemudian Paris, Prancis. Di sana ia tinggal selama 6 tahun, dan bekerja sebagai pendamping para pengungsi.</p>
<p>Pada 1941 Arendt dipaksa untuk keluar dari Paris, dan pindah ke New York, Amerika Serikat bersama keluarganya. Di New York Arendt langsung terlibat di dalam dunia intelektual di sana, dan berpartisipasi di dalam pembuatan jurnal ilmu-ilmu sosial yang amat berpengaruh pada masa itu, yakni <em>Partisan Review</em>. Setelah perang dunia kedua berakhir, ia menjadi dosen, dan mengajar di beberapa universitas di Amerika. Diantaranya adalah Princeton, Berkeley, dan Chicago. Namun Arendt sendiri lebih dikenal sebagai salah satu pemikir New School of Social Research. Ia menjadi professor filsafat politik di sana sampai pada 1975. Ia juga menghasilkan buku-buku filsafat yang amat inspiratif, mulai dari <em>The Origins of Totalitarianism</em>, <em>Eichmann in Jerusalem</em> (yang menjadi fokus kajian tulisan ini), dan <em>The Human Condition</em>.</p>
<p><strong>2. Banalitas Kejahatan</strong></p>
<p>11 Mei 1960 anggota intel Israel menangkap Adolf Eichmann, seorang tentara Nazi yang melarikan diri di Argentina.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Ia dibawa ke Israel untuk diadili atas kejahatannya selama perang dunia kedua terkait dengan pembunuhan orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi Jerman. Tugas utamanya sebagai prajurit adalah mengatur transportasi jutaan orang Yahudi dari seluruh Eropa ke dalam kamp-kamp konsentrasi buatan Nazi. Dan dalam hal ini, ia menjalankan tugasnya dengan amat baik. Setelah perang usai ia pergi ke Argentina, dan hidup sebagai orang biasa dengan identitas palsu. Konon pemerintah setempat mengetahui hal ini, dan tetap bersikap diam. Pemerintah Israel tidak berhasil melakukan perundingan terkait dengan extradisi tahanan dari Argentina. Intel mereka pun bermain. Setelah Eichmann sampai Israel, pemerintah Israel membuka sebuah sidang publik yang bersifat terbuka. Ketika diminta memberikan pendapat tentang persidangan ini, David Ben-Gurion, perdana menteri Israel pada masa itu, berpendapat, bahwa sidang terbuka ini untuk menarik perhatian dunia pada “peristiwa yang paling tragis di dalam sejarah kami, fakta paling tragis di dalam sejarah manusia.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Menurut Benhabib ada dua tujuan dari tindakan ini. Yang pertama adalah untuk mencari keadilan kejahatan terhadap kemanusiaan (<em>crime against humanity</em>) yang dilakukan oleh Eichmann selama perang dunia kedua terhadap orang-orang Yahudi. Yang kedua adalah untuk menegaskan kepada dunia, betapa besar skala kejahatan yang dilakukan kepada orang-orang Yahudi pada masa perang dunia kedua. Memang pada masa itu, sudah ada cerita tentang kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Namun belum ada suatu pengadilan resmi yang mengungkapkan aspek-aspek legal dan moral atasnya. Harapannya dengan pengadilan ini bisa muncul diskusi-diskusi publik yang lebih luas atas <em>holocaust</em> yang terjadi pada masa perang dunia kedua.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Sampai saat ini pengadilan terhadap Eichmann dianggap sebagai salah satu peristiwa yang telah menetapkan standar untuk menyatakan bahwa suatu kejahatan dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.</p>
<p>Hannah Arendt mendengar berita itu. Ia pun mengajukan diri sebagai reporter atas pengadilan itu kepada editor kepalanya di <em>The New Yorker</em>, William Shawn. Shawn menyetujuinya. Arendt pun pergi ke Yerusalem untuk meliput sidang Eichmann tersebut mulai dari 11 April 1961 sampai 14 Agustus 1961. Ketika mendarat di Yerusalem, Arendt begitu kaget, karena ternyata Eichmann, pelaku kejam kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang dunia kedua, adalah orang biasa yang sama sekali tak tampak kejam. Sebaliknya ia adalah “warga negara yang patuh pada hukum.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Tidak ada tanda-tanda kejahatan di dalam dirinya. Ia hanya menjawab dengan pernyataan-pernyataan baik yang normatif. Rupanya seperti ditulis oleh Benhabib, pikiran yang kejam tidak diperlukan untuk melakukan suatu kejahatan yang brutal. Kejahatan yang brutal bisa mengambil rupa wajah orang baik-baik, orang-orang biasa.</p>
<p>Sebelumnya banyak orang menganggap, bahwa Eichmann adalah orang yang kejam dan biadab. Pikirannya pasti dipenuhi fanatisme terhadap Nazi, dan kebencian mendalam pada orang-orang Yahudi. Persepsi semacam inilah yang dikembangkan oleh para jaksa Israel, ketika mereka melakukan tuntutan resmi kepada Eichmann. Arendt sendiri sebenarnya amat kesal dengan pola ini. Ia merasa jaksa-jaksa Israel tersebut terlalu berlebihan di dalam menggambarkan Eichmann. Padahal seperti sudah disinggung sebelumnya, di mata Arendt, terutama setelah mengikuti sidang tersebut sampai selesai, orang-orang biasa, dengan wajah dan pikiran yang seringkali amat lurus, mampu melakukan kejahatan brutal terhadap manusia lainnya, tanpa merasa benci, ataupun merasa bersalah. Pandangannya ini ditulisnya di dalam publikasi hasil laporan terhadap sidang tersebut yang diterbitkan pada 1963 dengan judul <em>Eichmann in Jerusalam, A Report on the Banality of Evil</em>.</p>
<p>Argumen Arendt di dalam buku disebutnya sebagai banalitas dari kejahatan, yakni suatu situasi, dimana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar. Argumen ini ia dapatkan dari pengamatannya terhadap orang-orang Jerman biasa, yang tidak memiliki pikiran jahat, namun mampu berpartisipasi aktif di dalam suatu tindak kejahatan brutal. Argumen ini jugalah yang mengagetkan para pembaca laporan Arendt tersebut. Apakah argumen ini berlaku untuk konteks di luar Jerman? Coba kita perhatikan argumen Arendt berikut ini. Eichmann adalah seorang perwira militer yang patuh. Dan sikap patuh di dalam militer adalah suatu keutamaan, bukan kejahatan. Ia tidak akan pernah berkhianat atau bahkan membunuh orang lain demi memuaskan kepentingan pribadinya. Bahkan menurut Arendt sebagai seorang perwira militer, Eichmann sama sekali tidak sadar tentang akibat dari tindakan patuhnya tersebut.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Yang kurang dari Eichmann adalah imajinasi. Bahkan ketika ia diinterogasi oleh dua orang polisi, ia berkata, bahwa penyesalannya terbesarnya adalah tidak dipromosikan ke pangkat yang lebih tinggi di SS Nazi Jerman pada masa itu. Karena itu ia kemudian menyarankan dilakukannya evaluasi ulang atas nilai-nilai yang dianut oleh militer. Jelaslah sebagaimana diamati Arendt, Eichmann bukanlah orang bodoh. Yang menjadi “penyakit” utamanya adalah ketidakberpikiran.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> Tidak berpikir berbeda sama sekali dengan bodoh. Orang bisa saja amat cerdas, namun tak menggunakan kecerdasannya itu secara maksimal untuk berpikir secara menyeluruh, berpikir secara sistemik (bukan sistematis).  Dan karena tak berpikir, ia seringkali tak sadar, bahwa tindakannya itu merupakan suatu kejahatan brutal. Maka salah satu hal mendasar yang dibutuhkan untuk menjadi penjahat brutal adalah ketidakberpikiran.</p>
<p>Ketidakberpikiran membuat suatu tindakan menjadi terasa wajar, termasuk tindakan yang mengerikan. Orang-orang biasa seperti Eichmann bukanlah orang jahat atau kejam. Banyak orang menganggap bahwa pelaku kejahatan brutal adalah penjelmaan setan. Wajahnya pasti sangar. Matanya kejam. Badannya besar. Namun faktanya tidaklah seperti itu. Sebaliknya Eichmann adalah orang biasa, cerdas, dan patuh. Tidak ada niat jahat ataupun kejam di dalam dirinya. “Ketercabutan dari realitas semacam itu dan ketidakberpikiran semacam itu”, demikian tulis Arendt, “dapat jauh lebih merusak dari semua insting jahat dijadikan satu.. dan semua ini ada di dalam diri manusia.”<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> Inilah yang kiranya menjadi pelajaran dari pengadilan Eichmann di Yerusalem, sebagaimana dianalisis oleh Arendt. Ketidakberpikiran adalah sisi gelap manusia yang menjadi sumber dari lahirnya kejahatan. Inilah kejahatan khas abad keduapuluh yang, menurut Arendt, tidak pernah ditemukan sebelumnya. Saya yakin banyak orang seperti Eichmann. Mereka bukan orang gila. Mereka bukan orang kejam. Mereka hanyalah orang-orang yang amat normal, dan karena normalitasnya, mereka menjadi menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang tak berpikir.</p>
<p><strong>3. Arendt dan Konteks Indonesia</strong></p>
<p>Analisis Arendt pada hemat saya bisa digunakan untuk memahami berbagai tragedi di Indonesia. Salah satunya yang terbesar adalah penangkapan dan pembantaian orang-orang yang dituduh PKI pada 1965-1969. Pelaku penangkapan dan pembantaian tersebut adalah militer dan sipil di berbagai penjuru di Indonesia. Para pelaku tersebut bukanlah orang-orang jahat yang berhati kejam. Sebaliknya sama seperti Eichmann, mereka adalah orang-orang biasa, yakni rakyat kebanyakan, dan militer yang patuh pada perintah atasan. Dan sama seperti Eichmann, mereka adalah orang-orang yang miskin imajinasi, sehingga tak mampu membayangkan perasaan orang-orang yang mereka tangkap atau bantai pada masa-masa itu. Mereka adalah orang-orang yang tak berpikir, karena hanya asal menjalankan perintah dan mengikuti trend umum masyarakat (menangkap dan membantai), sehingga pembantaian pun dilihat sebagai suatu tindakan yang biasa-biasa saja.</p>
<p>Hal yang sama kiranya terjadi pada era 1996-1999 di Indonesia, yakni penculikan aktivis pro demokrasi di masa rezim otoriter Orde Baru. Pelaku penculik kebanyakan adalah anggota militer, walaupun ini masih bisa diperdebatkan. Mereka menangkap, menculik, menyiksa, dan bahkan membunuh aktivis-aktivis pro demokrasi yang pada waktu itu mayoritas adalah mahasiswa. Mereka tak peduli akan ketakutan dan penderitaan yang dialami oleh korban penculikan. Yang ada di pikiran mereka hanya satu, yakni menjalankan perintah, tanpa pernah sungguh bertanya, apakah perintah itu masuk akal atau tidak? Apakah perintah itu manusiawi atau tidak? Sama seperti Eichmann para pelaku penculikan aktivis tersebut bukanlah orang-orang yang kejam dan jahat, namun hanya orang-orang biasa yang miskin imajinasi dan tak berpikir, yang melihat tindakan jahat sebagai suatu tindakan yang wajar (banal).</p>
<p>Fenomena penculikan, penyiksaan, pembunuhan, dan pembantaian massal adalah fenomena universal umat manusia. Artinya kita bisa menemukan peristiwa-peristiwa semacam ini di berbagai peradaban di berbagai lintasan waktu. Belajar dari Arendt kita bisa menemukan dua ciri mendasar dari fenomena ini. Yang pertama adalah distorsi persepsi dari pelaku tentang korbannya. Orang bisa menculik, menyiksa, dan membunuh orang lain, karena ia tidak melihat orang lain tersebut sebagai manusia, melainkan semata sebagai benda, atau bahkan musuh yang harus dihancurkan. Distorsi persepsi mengaburkan pandangan orang tentang dunia, dan ini jelas amat mempengaruhi tindakannya. Yang kedua adalah ketidakberpikiran. Ketika bertindak jahat orang menutup imajinasinya, sehingga ia tidak bisa membayangkan perasaan dan ketakutan korbannya. Dan belajar dari Arendt, kita bisa tahu, bahwa orang-orang biasa pun bisa melakukannya, tidak hanya orang-orang yang memang berhati kejam. Dua ciri ini bisa kita temukan di berbagai peristiwa penculikan, penyiksaan, pembunuhan, dan pembantaian massal di berbagai peradaban di berbagai lintasan waktu.</p>
<p>Dari pemikiran Arendt kita bisa mengajukan satu argumen kontroversial, bahwa kejahatan terbesar justru dilakukan oleh orang-orang biasa yang tidak merasa melakukan tindakan jahat, tetapi melihat kejahatan semata sebagai sesuatu yang wajar. Dalam konteks ini ada satu penyakit sosial yang telah lama diderita oleh masyarakat Indonesia, yakni diskriminasi sistemik. Diskriminasi sistemik adalah tindakan meniadakan atau mengecilkan peran seseorang di masyarakat, karena latar belakang suku, agama, rasa, ataupun golongannya di masyarakat. Misalnya etnis minoritas yang tidak akan pernah menjabat sebagai presiden, sulitnya kelompok minoritas memasuki perguruan tinggi negeri, sulitnya penganut agama minoritas mendirikan rumah ibadah, dan berbagai diskriminasi lainnya. Disebut bersifat sistemik karena kejahatan ini telah begitu mengakar pada budaya maupun sistem birokrasi di Indonesia, sehingga tidak lagi dilihat sebagai suatu tindakan jahat, namun sebagai tindakan yang sewajarnya dilakukan (banal). Pada titik ini analisis Arendt jelas amat relevan untuk memahami permasalahan diskriminasi sistemik di Indonesia. Para pelaku dari kejahatan ini bukanlah orang-orang kejam, melainkan orang-orang yang tidak berpikir secara mendalam, dan tak punya imajinasi untuk membayangkan penderitaan orang lain.</p>
<p>Dengan berpijak pada pemikiran Arendt, kita bisa menyimpulkan satu argumen sederhana, bahwa akar kejahatan tidak melulu kebencian, dendam, ataupun pikiran kejam, melainkan sikap patuh buta pada sistem dan aturan, yang tidak disertai dengan sikap kritis maupun reflektif. Kejahatan semacam ini memiliki dampak amat besar, namun pelakunya adalah orang-orang biasa yang tidak merasa berbuat jahat. Mirip seperti seekor monyet yang menyelamatkan ikan, karena ia mengira, ikan itu tenggelam di air. Akhirnya si monyet justru membunuh si ikan, walaupun niat awalnya adalah menolong si ikan. Yang perlu dilakukan kemudian adalah pendidikan untuk berpikir kritis dan reflektif di dalam bertindak dan memahami pelbagai hal di dunia. Berpikir kritis berarti orang mampu mengambil jarak dari peristiwa yang dialaminya, bersikap skeptik, lalu membuat penilaian secara tepat atas peristiwa tersebut. Berpikir reflektif berarti melihat ke dalam diri sendiri, lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan, apakah jalan yang ditempuhnya sudah tepat. Pola semacam ini tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di dalam keluarga. Hanya dengan mengembangkan pola berpikir kritis dan reflektif di berbagai segi kehidupan bangsa, Indonesia bisa terhindar dari penyakit tak berpikir dan kemiskinan imajinasi yang mematikan.</p>
<p><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Arendt, Hannah, <em>Eichmann in Jerusalem</em>, Macmillan Company, New York, 1963</p>
<p>Seyla Benhabib, “Arendt’s Eichmann in Jerusalem”, <em>Cambridge Companion to Hannah Arendt</em>,  Villa, Dana (ed), Cambridge University Press, Cambridge, 2000</p>
<p><a href="http://plato.stanford.edu/entries/arendt/#Int">http://plato.stanford.edu/entries/arendt/#Int</a> diakses pada 20 Desember 2012 pk. 14.46.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Bagian ini diinspirasikan dari <a href="http://plato.stanford.edu/entries/arendt/#Int">http://plato.stanford.edu/entries/arendt/#Int</a> diakses pada 20 Desember 2012 pk. 14.46.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Bagian ini diinspirasikan dari Seyla Benhabib, “Arendt’s Eichmann in Jerusalem”, <em>Cambridge Companion to Hannah Arendt</em>,  Villa, Dana (ed), Cambridge University Press, Cambridge, 2000, hal. 66. <em>“</em><em>On May 11, 1960, members of the Israeli Secret Service kidnapped the Nazi fugitive Adolf Eichmann in Argentina, spiriting him out of the country so he could stand trial in Israel for crimes he had committed in the course of the “Final Solution.””</em><em></em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3"><em><strong>[3]</strong></em></a><em> Ibid, “</em><em>“the most tragic in our history, the most tragic facts in world history.”</em><em></em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Ibid,</em> hal. 67. “<em>From the beginning, then, the Israelis saw the trial of Eichmann as serving a dual function. First, and most obviously, Eichmann was to be brought to justice for the crimes against humanity he had committed in helping to implement the Nazis’ “Final Solution” to the “Jewish question.” Second (and almost equally important from the Israeli point of view) was the education of public opinion, in Israel and the rest of the world, about the nature and extent of the Nazi extermination of European Jewry. The enormity of the crime was known, but – until the Eichmann trial – there had been rela- tively little public discussion of the legal, moral, and political dimensions of the genocide.” </em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid, “</em><em>She was taken aback by what she later described as the sheer ordinariness of the man who had been party to such enormous crimes: Eichmann spoke in endless clichés, gave little evidence of being moti- vated by a fanatical hatred of the Jews, and was most proud of being a “law- abiding citizen.”</em><em></em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Untuk berikutnya saya mengikuti uraian Arendt, Hannah, <em>Eichmann in Jerusalem</em>, Macmillan Company, New York, 1963, hal. 135. <em>“Except for an extraordinary diligence in looking out for his personal advancement, he had no motives at all. And this diligence in itself was in no way criminal; he certainly would never have murdered his superior in order to inherit his post. He merely, to put the matter colloquially, never realized what he was doing.”</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Ibid, “He was not stupid. It was sheer thoughtlessness &#8211; something by no means identical with stupidity &#8211; that predisposed him to become one of the greatest criminals of that period. And if this is &#8220;banal&#8221; and even funny, if with the best will in the world one cannot extract any diabolical or demonic profundity from Eichmann, that is still far from calling it commonplace.”</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Ibid, That such remoteness from reality and such thoughtlessness can wreak more havoc than all the evil instincts taken together which, perhaps, are inherent in man.” </em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/2067/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/2067/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahfilsafat.com&amp;blog=1329793&amp;post=2067&amp;subd=rezaantonius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahfilsafat.com/2011/12/26/hannah-arendt-banalitas-kejahatan-dan-situasi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<georss:point>-7.281718 112.744631</georss:point>
		<geo:lat>-7.281718</geo:lat>
		<geo:long>112.744631</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rezaantonius.files.wordpress.com/2011/12/banality-of-evil04.jpg?w=229" medium="image">
			<media:title type="html">banality of evil04</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
