<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Rumah Filsafat (The House of Philosophy)</title>
	<atom:link href="http://rumahfilsafat.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahfilsafat.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 May 2012 07:00:20 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Komentar di Filsafat Cinta oleh bandriandysmbln</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/01/08/filsafat-cinta/#comment-1452</link>
		<dc:creator><![CDATA[bandriandysmbln]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 07:00:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2082#comment-1452</guid>
		<description><![CDATA[Suatu diskusi yang menarik tentang cinta. Menurut saya, cinta itu tidak pernah mengalami makna yang peyoratif. Bila kita ikuti sejarah pemikiran tentang cinta, yang pertama kali mencoba memasukkan cinta dalam ranah akademis adalah Plato. Dalam bukunya, Symposium, Lysis dan Republic, salah satu pertanyaan Plato adalah &quot;apa itu CInta?&quot; Term yang dipakai dalam bahasan itu adalah &quot;Eros&quot; dan &quot;Philia&quot;. Bagi Plato, Cinta itu muncul dari kekurangan atau defisiensi kebaikan dan keindahan. Mungkin ini mirip dengan terminologi dari Kak Reza (lubang). Karena manusia memiliki kekurangan akan kebaikan, maka Cinta (eros) itu menjadi pendorong bagi manusia untuk mencari kebaikan dan keindahan itu. Nah, menjadi pertanyaan kritis untuk pemikiran ini adalah bagaimana dengan Cinta Tuhan? Apakah TUhan mencintai karena Dia memiliki kekurangan? Atau, bagaimana dengna suami yang mencintai istrinya karena membutuhkan anak. Apakah kehadiran anak akan menjadi alasan untuk tidak mencintai Istri? Dengan kata lain, Cinta karena dorongan, kurang mendapat tempat yang tepat dalam ranah Cinta, ntah itu dorongan hasrat atau pun Kekurangan. 

Menurut saya, pembahasan cinta yang lebih comprehensif bisa kita peroleh dengna mendalami pemikiran seorang Filsuf Postmodern Amerika, John D. Caputo.
Beberapa tese Penting dari dia tentang Cinta:
- cinta harus “tanpa tolok ukur”, 
- sebentuk pemberian tanpa harapan kembali, 
- suatu komitmen “tanpa syarat”,
- cinta yang hanya mungkin dalam wilayah ketidakmungkinan
- dan lainnya.

Dengan jelas, tesis ini muncul karena menurut Caputo, selama ini cinta telah dimanipulasi demi ego.


Semoga semakin menyemangati kita untuk diskusi. (http://subandrisimbolon.wordpress.com/]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu diskusi yang menarik tentang cinta. Menurut saya, cinta itu tidak pernah mengalami makna yang peyoratif. Bila kita ikuti sejarah pemikiran tentang cinta, yang pertama kali mencoba memasukkan cinta dalam ranah akademis adalah Plato. Dalam bukunya, Symposium, Lysis dan Republic, salah satu pertanyaan Plato adalah &#8220;apa itu CInta?&#8221; Term yang dipakai dalam bahasan itu adalah &#8220;Eros&#8221; dan &#8220;Philia&#8221;. Bagi Plato, Cinta itu muncul dari kekurangan atau defisiensi kebaikan dan keindahan. Mungkin ini mirip dengan terminologi dari Kak Reza (lubang). Karena manusia memiliki kekurangan akan kebaikan, maka Cinta (eros) itu menjadi pendorong bagi manusia untuk mencari kebaikan dan keindahan itu. Nah, menjadi pertanyaan kritis untuk pemikiran ini adalah bagaimana dengan Cinta Tuhan? Apakah TUhan mencintai karena Dia memiliki kekurangan? Atau, bagaimana dengna suami yang mencintai istrinya karena membutuhkan anak. Apakah kehadiran anak akan menjadi alasan untuk tidak mencintai Istri? Dengan kata lain, Cinta karena dorongan, kurang mendapat tempat yang tepat dalam ranah Cinta, ntah itu dorongan hasrat atau pun Kekurangan. </p>
<p>Menurut saya, pembahasan cinta yang lebih comprehensif bisa kita peroleh dengna mendalami pemikiran seorang Filsuf Postmodern Amerika, John D. Caputo.<br />
Beberapa tese Penting dari dia tentang Cinta:<br />
- cinta harus “tanpa tolok ukur”,<br />
- sebentuk pemberian tanpa harapan kembali,<br />
- suatu komitmen “tanpa syarat”,<br />
- cinta yang hanya mungkin dalam wilayah ketidakmungkinan<br />
- dan lainnya.</p>
<p>Dengan jelas, tesis ini muncul karena menurut Caputo, selama ini cinta telah dimanipulasi demi ego.</p>
<p>Semoga semakin menyemangati kita untuk diskusi. (<a href="http://subandrisimbolon.wordpress.com/" rel="nofollow">http://subandrisimbolon.wordpress.com/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Mengubah Paradigma Pendidikan di Indonesia oleh Reza A.A Wattimena</title>
		<link>http://rumahfilsafat.com/2012/03/10/mengubah-paradigma-pendidikan-di-indonesia/#comment-1450</link>
		<dc:creator><![CDATA[Reza A.A Wattimena]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 00:21:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahfilsafat.com/?p=2182#comment-1450</guid>
		<description><![CDATA[Saya setuju. Kita harus banyak membangun perpustakaan, lalu menggelar event2 menarik yang melibatkan proses membaca yang mendalam, sekaligus menyenangkan.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju. Kita harus banyak membangun perpustakaan, lalu menggelar event2 menarik yang melibatkan proses membaca yang mendalam, sekaligus menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

