The Dilemma of Modern Cities

Sleeper'sDilemma

By: REZA A.A WATTIMENA

At the beginning, there was only darkness. Human civilization began in the shadow light of the cave and candle which accompany their dark night in the universe. In those nights, enlightenment came through writing with deep reflection concerning life itself.

Night time is a gift. Cold air followed by small light. Night time is the time of enlightenment. There is small paradox here. Enlightenment came from place which has no light. The deep understanding concerning the mystery of life came from the cold and dark nights of ancient world.

However, in the bright light of modern cities, the dark times of mind is afloat. Why is this happening? Every thinker and so called public intellectuals trap in merely shallow popularity. Almost every people in modern cities trap in the impure motivation of action which never critically evaluated.

This is the irony paradox of modern cities and thinker. In the middle of bright light, the mind loses its ability to create enlightenment. Electricity changes how people live their life, and their way to interpret reality. Somehow, technology and electricity produce shallow minded civilization.

The Mentality

The shallowness of mind do not come from the absent of education, but from the over expose of useless education. The superficiality of thinking born not from the absent of technology, but from the over illustration of useless technology. When the world is getting complex, the human mind is getting simpler in its frivolity. This frivolity born out of the absent of critical thinking.

Technology offers a wide variation and large quantity of information. But that entire privilege blinded people, so they cannot see the truth behind it. Modern cities offer a whole variation of expensive houses which eventually destroy the solidarity of the community, and divides people. Big cities eventually occupied by small minded people.

Modern cities create highway and large road for its cars and motorcycles. But those ‘divine’ road used by people with evil will, with uncontrolled greed, and full of evil view concerning life of others. The highway road is a shortcut, just like what every corrupt bureaucrats need to get away with corruption.

Modern cities full of schools with various luxurious facilities. However, the citizens do not get smarter. What really increases is arrogance in the form of academic degree feudalism. It is almost you can smell the stink of arrogance in the luxurious schools which exist in the modern cities.

Modern cities are the home of the world largest and oldest religion. However, the behaviors of modern cities citizens are far much uncivilized compared to much humbler villagers. Religion does not become the source of enlightenment, but for rationalizations of violence and destructive act in the name of god. In modern cities, religion becomes a mask that veil the monstrous face of modernity.

Modern cities offer big sidewalk for pedestrians and hundreds of transportation means for its citizens. However, all of that just make us more distant from each other. While physical space is getting closer, our spiritual spaces between citizens just grow much further apart.

Modern cities full of monuments to remember and give meaning to the past. However, the citizens ignore them, and therefore have really short memories concerning their past and historical identity. The modern cities are the symbol of the forgetfulness of civilization concerning its past. As a consequence, many political policies have only short term and ahistorical considerations, and therefore will never be effective.

Modern cities are economical sphere. Markets are everywhere. However, the poverty and economical inequalities are extreme. In other words, the increase number of markets and other economic means in society does not guarantee the economical prosperity. On the contrary, it creates a wide division between the rich and the poor.

Paradox

Paradox is the spirit of modern cities. Modern cities have the unique characteristics of human civilization, namely the eternal dialectics itself. The effort of achieve certain purpose failed, and the results is precisely the opposite of that. Modern cities are cities in dilemma.

The dilemma is not just the city, but also in the soul of its citizens, namely human itself. Human is a dilemmatic being. The efforts to create heaven on earth fail. The result is the opposite, namely the creation of hell on earth. The efforts to create stability turn to totalitarianism policies and way of thinking. As if life itself is a dilemma.

What we have to take care is the full awareness of this paradox and dilemma. Hegel called it dialectics. Giddens called it critical consciousness to ask questions concerning social practices. I called it the courage the accept fragility and imperfectness of human life. ***

Pictures taken from google pictures

Writer is a Lecturer at the Faculty of Philosophy Widya Mandala Catholic University, Surabaya

Sains, Filsafat, dan Agama di Indonesia Dewasa ini

684px-Daniel_Huntington_Philosophy_and_Christian_Art

Dialektika yang Setengah Hati

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Manusia hidup dalam dialektika dengan sains-teknologi, agama, dan filsafat. Dialektika berarti manusia menciptakan ketiganya, sekaligus diciptakan oleh ketiganya. Di sisi lain sains-teknologi lahir dari filsafat, sekaligus mendefinisikan filsafat itu sendiri. Filsafat membantu mencerahkan iman dalam agama, sekaligus diperluas kedalamannya oleh agama itu sendiri. Dan sains memperoleh nilai-nilai kehidupan yang transenden dari agama, sekaligus membuat agama menjadi lebih beradab.

Persilangan antara sains-teknologi, agama, filsafat, dan manusia tidak bisa dihindarkan. Dalam situasi ideal kehadiran semuanya saling memperkaya satu sama lain. Namun di Indonesia ketiganya saling bersaing dan meniadakan satu sama lain. Inilah salah satu sebab, mengapa kita tidak akan pernah maju sebagai bangsa.

Sains dan Manusia

Sains lahir dari tangan manusia. Namun kini sains membantu mendefinisikan siapa itu manusia. Dengan rasionalitasnya manusia melahirkan sains. Kini apa itu rasionalitas pun ditentukan oleh aktivitas saintifik. Inilah dialektika antara manusia dan sains yang tidak bisa terhindarkan.

Yang berharga dari sains adalah pola berpikir saintifik. Pola berpikir saintifik mengedepankan keterbukaan pada fakta, walaupun fakta itu bertentangan dengan pandangan kita. Pola berpikir saintifik mengedepankan kesabaran dalam menguji anggapan, dan tidak terjebak pada prasangka yang menjauhkan kita dari kebenaran. Pola berpikir saintifik mengajarkan kita untuk bersabar, ketika tahu bahwa apa yang kita peroleh ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Ironisnya di Indonesia para ilmuwan yang seharusnya menghidupi pola berpikir saintifik tidak mencerminkan keutamaan-keutamaan di atas. Sebaliknya mereka menjadi “pelacur” bagi kepentingan ekonomi-bisnis, politik ideologis, ataupun fundamentalis-religius sesaat, dan melupakan panggilan luhur untuk melayani umat manusia secara keseluruhan, apapun status ekonomi, politis, ataupun agamanya. Pola berpikir saintifik dijual murah, demi memperoleh rupiah ataupun kekuasaan semu yang akan hilang dengan berjalannya waktu.

Filsafat dan Manusia

Filsafat juga lahir dari tangan manusia. Namun kini siapa itu manusia juga didefinisikan oleh filsafat. Inilah dialektika antara filsafat dan manusia. Filsafat lahir dari nalar manusia. Namun kini tindakan bernalar identik dengan kegiatan berfilsafat.

Yang berharga dari filsafat adalah cara berpikirnya yang rasional, kritis, dan sistematis di dalam memandang segala sesuatu yang ada di dunia. Filsafat menjauhkan orang dari trend publik yang irasional, dan mengajak untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, guna menemukan kebenaran dan kebijaksanaan. Filsafat memberikan kedalaman bagi hidup orang modern yang tampak kering tersiksa tuntutan jaman dan akal budi mekanis yang membosankan. Filsafat memberikan makna dan petualangan intelektual bagi mereka yang antusias memeluknya.

Di Indonesia filsafat masih banyak disalahpahami. Banyak orang berpendapat bahwa filsafat itu ilmu sulit. Kaum agamawan sempit banyak berpendapat, bahwa filsafat itu bisa merusak iman. Akibatnya filsafat dipenuhi dengan prasangka. Jarang ada orang yang mau mendalami filsafat dalam arti sebenarnya. Mereka yang berlatarbelakang filsafan biasanya karena keterpaksaan, dan bukan karena pilihan.

Agama dan Manusia

Agama lahir dari persentuhan manusia dengan Tuhan. Agama lahir dari kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia, demi kebaikannya sendiri. Tujuan agama adalah untuk melepaskan manusia dari kebiadaban, perang, dan ketidakadilan, serta menuntunnya kepada cinta, perdamaian, dan kesejahteraan. Kebenaran agama yang berasal dari wahyu Tuhan membuat hidup manusia lebih mulia.

Yang berharga dari agama adalah kemampuannya untuk memberikan makna dan nilai pada hidup manusia. Agama menjelaskan dari mana kita berasal, apa yang mesti kita lakukan dalam hidup, dan kemana kita akan pergi, setelah kita mati. Agama menjelaskan mengapa kita menderita, dan mengapa kita bahagia. Agama memberikan kejelasan tentang apa yang harus kita perjuangkan secara serius dalam hidup ini.

Sayangnya mayoritas orang beragama di Indonesia tidak menghayati arti cinta, perdamaian, dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh agama. Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk membenarkan penindasan. Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk menyingkirkan yang berbeda, terutama kelompok minoritas. Bagi mereka agama tidak memberikan makna, melainkan hanya sekedar alat untuk membenarkan pemburuan kekuasaan.

Dialektika Setengah Hati

Sikap setengah hati para ilmuwan, filsuf, dan orang-orang beragama di Indonesia membuat relasi ketiganya tidak memperkaya, melainkan justru penuh prasangka. Sains dan teknologi curiga pada filsafat, sama seperti filsafat meremehkan sikap mekanis patuh di dalam sains. Filsafat curiga para irasionalitas agama, sama seperti agama curiga pada sifat destruktif filsafat. Sains merendahkan sisi naif agama, dan agama pun benci dengan arogansi sains.

Di Indonesia dialektika ketiganya berlangsung setengah hati. Tidak ada kerja sama. Yang ada adalah prasangka dan arogansi. Selama ini berlangsung selama itu pula kemajuan hanya mimpi tanpa realitas, karena pada dasarnya, kita berperang di dalam diri kita sendiri, dan ini justru merugikan semua pihak. Yang mungkin tercipta di Indonesia adalah masyarakat yang semakin lama semakin primitif, justru di tengah perlombaan dunia internasional untuk menjadi semakin maju.

Ironis? ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Gambar dari Google Pictures

Dilema Mengelola Konflik

9_7conflict

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Di dalam hidup kita menemukan banyak sekali perbedaan pandangan, mulai dari cara penanganan masalah, selera musik, pandangan tentang Tuhan, soal hidup, soal cinta, soal hubungan percintaan, soal seks, dan sebagainya. Banyak orang bilang bahwa perbedaan itu adalah positif. Perbedaan itu memperkaya semua orang. Apakah betul begitu?

Bagi Amy Gallo perbedaan tidak otomatis menghasilkan sesuatu yang positif. (Gallo, 2010) Perbedaan pandangan atas sesuatu hal seringkali berujung pada konflik, baik dalam bentuk konfrontasi langsung, ataupun pasif dalam bentuk keenggenan berkomunikasi. Apapun bentuknya perbedaan atau bahkan konflik pandangan tanpa tata kelola yang tepat tidaklah produktif, dan justru bisa menghancurkan. Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk mengelola konflik, menemukan titik pandang yang kiranya bisa disepakati oleh semua pihak yang berbeda, dan kemudian menjadikan perbedaan sebagai sumber yang memperkaya kehidupan, begitu pendapat Gallo.

Namun pada hemat saya, argumen semacam itu hanya menyentuh satu sisi dari masalah. Konflik pun memiliki dimensi metafisis yang melampaui analisis praktis, sebagaimana diajukan oleh Gallo. Konflik bisa dianggap sebagai simbol, bahwa perpecahan adalah suatu keharusan. Orang tidak perlu takut dengan perpecahan, karena seringkali pembebasan dan inovasi spektakuler lahir darinya.

Soal Taktik

Taktik kuno mengelola konflik adalah “dengan kekuatan fisik atau memisahkan hal-hal yang berbeda tersebut.” (Weis dalam Gallo, 2010) Namun menurut Gallo pandangan ini tidak tepat. Ia menyarankan agar kita berpegang pada beberapa prinsip yang berguna untuk mengelola konflik dalam hidup, bahkan sebelum konflik itu dimulai. Prinsip itu adalah pemikiran bahwa kita selalu bisa belajar dari siapapun, terutama yang berbeda dengan kita, dan bahwa mungkin saja ada ide-ide yang lebih brilian keluar dari mulut orang lain, daripada ide yang kita miliki. (Gallo, 2010)

Artinya kita perlu memasuki diskusi dengan orang-orang yang berbeda dengan pikiran terbuka, lepas dari siapapun lawan bicara kita, atau apa argumennya. Dengan menempuh proses ini perlahan tapi pasti, orang bisa menemukan titik tolak yang sama. Seperti yang dikatakan Judith White, kita perlu melakukan “investasi uang dan pikiran” dalam berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda dengan kita. Gallo merumuskan beberapa prinsip praktis tentang taktik mengelola perbedaan pandangan di dalam kehidupan. (Gallo, 2010)

Sumber Konflik

Gallo berbicara dalam konteks perbedaan pandangan dalam organisasi. Baginya di dalam organisasi, ada tiga bentuk konflik. Yang pertama adalah konflik di tataran substansi. Di dalam konflik ini, orang berbeda pandangan soal isi dari tugas atau persoalan yang ada di depan mata. Pada titik ini orang berbeda pendapat soal esensi dari apa yang hendak mereka putuskan atau lakukan. (Gallo, 2010)

Yang kedua adalah konflik di tataran relasional. Pada tataran ini konflik lebih di tataran pribadi. Orang yang satu tidak menyukai orang yang lain, karena karakter atau sikapnya soal masalah tertentu. Dan yang ketiga adalah konflik di tataran perseptual. Di dalam konflik ini, orang melihat satu masalah yang sama dari sudut pandang yang berbeda. (Gallo, 2010) Ketiga perbedaan pandangan dasar ini dapat dikelola, jika kita memahami akar masalahnya, dan menggunakan cara yang tepat untuk melakukan intervensi.

Manajemen Konflik

Ada beberapa saran yang diberikan oleh Gallo. Pertama, temukan dalam tataran apa konflik itu terjadi. Jika sudah menemukan coba bandingkan dengan temanmu, apakah pandangannya sama soal itu. Jika sudah coba gunakan pendekatan yang dingin untuk menanganinya, dan jangan terlalu cepat meledak dengan emosi. “Ketidaksetujuan karena perbedaan”, demikian tulis Gallo, “paling baik diselesaikan dengan obyektivitas daripada emosi.” (Gallo, 2010, dikutip dari Weiss)

Kedua, coba temukan titik pandang yang sama. Coba temukan tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Setelah duduk dengan nyaman, mulailah dengan menemukan prinsip-prinsip dasar yang kiranya beririsan dengan “lawan” diskusimu. Prinsip dasar ini biasanya berupa tujuan dasar organisasi, yang kiranya juga disepakati oleh orang-orang yang berbeda pandangan denganmu. Mulailah dengan kalimat begini, “Kita berdua ingin mewujudkan …..”, atau, “Kita tidak ingin salah membuat keputusan tentang soal sepenting ini……”

Tiga, coba pasang telinga dan dengarkan baik-baik apa yang ingin disampaikan oleh orang lain. Jangan berprasangka terlebih dahulu. Jika belum jelas cobalah tanyakan, dan pahami secara tepat sudut pandangnya. Dari proses ini anda bisa menangkap, apa yang sebenarnya diinginkan oleh lawan bicara, yang mungkin saja juga anda setujui. Mendengarkan adalah langkah awal untuk menciptakan solusi.

Setelah mendengarkan coba bagikan sudut pandangmu sendiri. Jelaskan latar belakang tindakan, pendapat, atau argumenmu. Menurut Gallo ini bisa membantu lawan diskusi untuk memahami konteks dari pandanganmu, dan menciptakan empati dari sudut pandangnya. (Gallo, 2010) Jika dia emosi dan menantangmu, berikan dia ruang untuk mengekspresikan kekesalannya.

Empat, selalu fokuskan argumenmu untuk mengajukan solusi. Solusi tersebut tidak didasarkan pada prasangka yang telah dibuat sebelumnya, melainkan dari hasil pembicaraan intensifmu dengan lawan diskusimu. Coba lakukan sintesis atas pendapatmu dan pendapat lawan diskusi di dalam proses pertemuan tersebut. Jika ini tidak bisa juga, coba tanyakan solusi yang mungkin dari sudut pandangnya.

Lima, perbedaan pandangan biasanya selalu bermuara pada konflik konfrontatif. Pada situasi-situasi tertentu, ini tidak terhindarkan. Pada titik ini emosi akan meledak, kata-kata kasar akan terucap, dan semua proses sebelumnya tampak menjadi sia-sia. Menghadapi ini hanya ada satu cara, yakni berhenti berdiskusi, jaga jarak, jika perlu tinggalkan ruangan untuk mendinginkan keadaan.

Gallo menawarkan pandangan yang menarik, di samping secara fisik meninggalkan ruangan, orang bisa menggunakan kemampuan untuk diam secara mental, dan menjadi pengamat dari konflik yang terjadi. Inilah yang disebut sebagai sudut pandang “orang luar” yang dapat membantu kita melihat situasi secara menyeluruh dan jernih. Cara lainnya adalah dengan memilih tempat dan waktu yang lain serta lebih nyaman untuk melanjutkan diskusi. Jika semua ini gagal, menurut Gallo, usahakan temukan orang ketiga untuk menjadi perantara. (Gallo, 2010)

Beberapa Catatan

Gallo memiliki pendapat yang menarik. Saran-saran praktisnya bisa digunakan untuk mencoba mengelola konflik yang terjadi. Namun ada beberapa asumsi yang kiranya tidak tepat, yang membuat argumennya menjadi tidak bisa diterapkan. Saya setidaknya melihat dua asumsi.

Pertama, Gallo berpikir dengan asumsi, bahwa semua konflik itu bisa dan harus dikelola untuk diselesaikan. Pertanyaan saya sederhana apakah asumsi ini tepat? Apakah semua konflik itu harus dikelola dan diselesaikan? Tidak bisakah konflik dianggap sebagai tanda, bahwa ini saatnya kita berpisah, dan menempuh jalan masing-masing? Saya pikir banyak orang besar di dalam sejarah menanggapi konflik sebagai tanda untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang sama sekali lain dari yang sebelumnya ada.

Dua, Gallo masih berpijak pada asumsi kuno, bahwa perbedaan pendapat bisa diatasi dengan diskusi atau dialog. Seolah argumentasi dapat digunakan untuk melampaui perbedaan pandangan. Seolah manusia adalah mahluk rasional yang selalu mendengarkan dan menganut argumentasi yang lebih baik. Yah, Gallo masih berpijak pada asumsi, bahwa manusia adalah mahluk yang sepenuhnya rasional, yang hidup dengan prinsip yang argumentatif.

Apakah begitu? Dalam keseharian orang tidak beroperasi melulu dengan rasionalitasnya. Argumen seakurat dan sevalid apapun tidak akan bisa meyakinkan orang sepenuhnya. Dibutuhkan sesuatu yang melampaui argumentasi dan rasionalitas untuk bisa mencapai keterbukaan pikiran.

Selama Gallo tidak mempertanyakan asumsi dari argumentasi yang ia ajukan, selama itu pula saran-sarannya, yang tampak praktis, justru tidak akan bisa diterapkan di dalam praktek. Praktikalitas hanya dapat dicapai, jika kita memiliki kedalaman tertentu di dalam memahami akar masalah. Yang kita perlukan adalah kejelian dan kemampuan kritis tidak hanya dalam menganalisis masalah, tetapi juga melihat diri kita sendiri, serta asumsi-asumsi yang mendasari pemikiran serta argumentasi yang kita ajukan.

Kejernihan muncul dari sikap kritis semacam itu. Dan hanya dengan kerjenihan, kita bisa meraba akar masalah sebenarnya, dan mengajukan intervensi yang tepat atasnya. Kejernihan semacam ini tidak melulu lahir dari mental praktis-pragmatis, tetapi justru dari hidup yang reflektif dan kontemplatif. Seninya adalah menyeimbangkan dua bentuk mentalitas tersebut, praktis-pragmatis dan reflektif-kontemplatif, tanpa jatuh ke salah satu ekstrem, karena walaupun berbeda, keduanya saling membutuhkan.***

Penulis adalah Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Acuan:

Gallo, Amy, “The Right Way To Fight”, Harvard Business Review, 12 Mei 2010