Sesat Makna Kewirausahaan

GlobalEntrepreneurshipEducation

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Ada yang sesat dalam pemahaman kita soal kewirausahaan. Seolah itu adalah tujuan utama. Seolah itu adalah instrumen utama untuk mencapai perubahan. Seolah pendidikan mesti diarahkan sepenuhnya ke arah itu.

Padahal mental kewirausahaan hanya merupakan akibat dari sesuatu yang lebih mendasar, yakni terciptanya masyarakat ilmiah di masyarakat. Masyarakat ilmiah ini terbentuk, akibat menyebarnya cara berpikir ilmiah. Dalam arti ini masyarakat secara luas adalah masyarakat ilmiah yang mengedepankan nilai-nilai rasionalitas, kebebasan, keterbukaan, dan dialog. Jika masyarakat sudah seperti itu, kewirausahaan akan otomatis tercipta.

Masyarakat ilmiah adalah kondisi-kondisi yang memungkinkan lahirnya kewirausahaan. Maka fokus kita bukanlah kewirausahaan pada dirinya sendiri, tetapi upaya untuk menciptakan masyarakat ilmiah di Indonesia. Hanya dengan begitu kreativitas akan tercium di udara, dan menjadi bagian sehari-hari kehidupan masyarakat. Masyarakat ilmiah adalah tujuan utama, sementara kewirausahaan adalah akibat semata.

Masyarakat Ilmiah

Masyarakat ilmiah adalah masyarakat yang hidup berpijak pada nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai itu tidak hanya tertulis, tetapi tercium di udara, dan dihayati oleh semuanya. Ada tiga nilai yang menjadi pilar masyarakat ilmiah, yakni nilai rasionalitas, kebebasan, dan keterbukaan.

Tolok ukur kebenaran masyarakat ilmiah adalah kebenaran dan rasionalitas. Tidak lebih dan tidak kurang. Keputusan dibuat dengan berpijak pada analisis rasional dan data yang memiliki probabilitas kebenaran tinggi. Penilaian dibuat dengan kedalaman dan refleksivitas. Tidak ada tempat untuk rumor dan gosip.

Di Indonesia tolok ukur kebenaran masihlah kekuasaan. Siapa yang berkuasa dialah yang benar, bukan sebaliknya. Selama ini berlaku selama itu pula nilai-nilai kebenaran dan rasionalitas akan jauh dari genggaman. Masyarakat ilmiah pun tidak akan pernah tercipta.

Nilai kedua adalah nilai kebebasan. Nilai ini bisa hidup, jika masyarakat bisa membuat pembedaan tegas antara ruang privat dan ruang publik. Ruang privat adalah tempat untuk mengembangkan diri, seturut dengan apa yang dianggap benar dan baik oleh orang-orang pribadi. Sementara ruang publik adalah tempat untuk memperjuangkan keadilan sosial di masyarakat.

Di dalam ruang privat, orang memiliki kebebasan untuk mengatur dirinya. Di dalam ruang publik, orang memiliki kebebasan untuk memperjuangkan hak-hak dasarnya sebagai manusia. Kebebasan tersebut tidak hanya rangkaian kata-kata, tetapi juga dilindungi oleh hukum yang secara konsisten berlaku. Kebebasan menjadi atmosfer yang melingkupi masyarakat luas.

Di Indonesia sekarang ini, pembedaan antara ruang privat dan ruang publik masih belum tegas. Masyarakat masih ikut mengurus apa yang sebenarnya menjadi otonomi pribadi. Di sisi lain urusan privat malah disebarluaskan sebagai urusan publik, seperti gosip kawin cerai artis, dan sebagainya. Jika begitu kebebasan tidak akan pernah menjadi bagian dari hidup bersama. Masyarakat ilmiah tidak akan tercipta. Kewirausahaan pun hanya tinggal cita-cita.

Dan terakhir masyarakat harus menciptakan iklim keterbukaan. Syarat keterbukaan adalah penghargaan pada perbedaan, seberapapun ekstremnya, asal masih dalam batas-batas hukum yang sah. Perbedaan haruslah dirawat, dan diperlakukan sebagai aset yang mendorong kemajuan. Berbagai cara hidup berkembang meriah di masyarakat. Dialog adalah jembatan yang menghubungkan pelbagai perbedaan. Inilah ciri masyarakat terbuka.

Di Indonesia perbedaan menjadi dosa. Perbedaan adalah beban yang harus dihilangkan. Orang-orang kreatif dianggap pemberontak yang mesti dibungkam. Jika terus begini masyarakat akan tercekik oleh pikiran sempit. Keterbukaan hanya mimpi. Masyarakat ilmiah jauh dari jangkauan. Kewirausahaan hanya slogan tanpa isi.

Makna Baru

Roh dari kewirausahaan adalah kreativitas. Kreativitas hanya dapat tumbuh, jika sudah tercipta masyarakat ilmiah yang didasarkan pada rasionalitas, kebebasan, dan keterbukaan. Tanpa masyarakat ilmiah kreativitas hanya buih tanpa kenyataan. Kewirausahaan lenyap ditelan udara.

Integritas juga merupakan roh dari kewirausahaan. Integritas membuat kreativitas menjadi sesuatu yang berkelanjutan. Integritas hanya mungkin jika orang membuat keputusan secara bebas. Dan kebebasan yang bermutu hanya dapat ditemukan, jika masyarakat ilmiah telah tercipta.

Dengan demikian fokus utama kita bukanlah kewirausahaan pada dirinya sendiri, tetapi masyarakat ilmiah yang menjadi kondisi-kondisi yang memungkinkan terciptanya mentalitas kewirausahaan. Kewirausahaan adalah akibat dari terbentuknya masyarakat ilmiah. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

About these ads

6 thoughts on “Sesat Makna Kewirausahaan

  1. Wah…..ini baru yang namanya penyelenggaraan ilahi…..Mengapa? karena aku juga sedang menulis post tentang enterpreneurship hahahaha……….Beda perspektif memang, tapi still it’s an interesting coincidence……Sekarang lagi finishing, dan memang aku rencana postnya besok atau lusa :-)

    As for your opinion, I sahre the same view. Masyarakat yang anti perbedaan dan dipenuhi mental terjajah tidak koheren dengan ide enterpreneurship. Sayangnya, para pemimpin politik-sosial-budaya dan pendidikan lebih menjunjung tinggi kepatuhan tanpa kekritisan daripada kreatifitas dalam kolaborasi pluralis.

    Padahal, jika kita memahami gerak roda ekonomi kapitalistik tempat ide enterpreneurship berasal, yang dibutuhkan untuk terciptanya pertumbuhan ekonomi yang merata (high growth low disparity) adalah kreatifitas dalam kolaborasi pluralis. Dan jelas inilah yang tidak disukai oleh masyarakat feodalis.

    • Yaps. Divine intervention.. hehehehe… Ak juga nulis ini spontan, karena melihat salah satu institusi pendidikan di Surabaya yang berslogankan entrepreneurship, tapi atmosfer kampus dan kebijakannya sama sekali tidak mencerminkan hal itu. Kontradiksi internal yang seringkali ditemukan di berbagai organisasi di Indonesia, yakni cara-cara praktis organisasi yang pada akhirnya membunuh tujuan dasar organisasi itu sendiri. Sayang memang.

      Saya setuju entrepreneurship adalah konsekuensi, dan bukan tujuan utama. :) Tujuan utamanya adalah menciptakan komunitas yang semakin toleran pada perbedaan cara hidup, dan siap bekerja sama mencapai tujuan bersama.

      • Hehehehe…..saya tau siapa yang kau maksudkan hehehe……Well, seperti yang kita diskusikan, visi pendiri itu selalu dengan cepat direduksi oleh cara-cara pengorganisasian yang tidak dijiwai pemahaman akan visi. Itu sebabnya ada guyonan, nabi mengajak umat menuju Tuhanm dan para pembantu nabi mengajak iblis untuk membangun jalan hehehehe……Jadinya, walau cita-citanya baik, dengan cepat ideologi dasar yang berkuasa dala hegemoni cara pandang dan cara hidup mengambil alih.
        Saya punya beberapa cerita soal ini, tapi kita bisa diskusi offline aja hehe :-)

  2. Memang tantangan utama adalah menyadari hegemoni. Itu pun sudah upaya besar. Baru kemudian mengambil jarak, dan memilih cara-cara yang bisa mengikis hegemoni, sambil membangun hegemoni baru… tentunya yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang. Seperti yang Lakoff bilang, ini perlu dana besar dan waktu yang cukup lama, seperti yang dilakukan kaum konservatif di Amerika untuk meraih opini publik. :)

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s