Tahun Baru, Jejak Trauma, dan Dialektika Harapan

LiveJournal Tags: ,,,

image

Tahun baru, Jejak Trauma,

dan Dialektika Harapan

Reza A.A Wattimena

Apa yang baru dari ‘tahun baru’? Waktu tetap berjalan. Bumi tetap berputar pada porosnya. Hari tetap berganti dari pagi, siang, dan menuju malam. Yang baru dari tahun baru adalah pemaknaan manusia pada waktu dan peristiwa. Apa yang berjalan secara rutin kini dipahami sebagai sesuatu yang lepas dari rutinitas, yakni kebaruan itu sendiri. Oleh karena itu tahun baru tidak boleh jatuh menjadi rutinitas, karena itu hanya akan melucuti esensi –kebaruan- yang terdapat didalamnya.

Perjalanan Indonesia sebagai bangsa adalah perjalanan yang penuh dengan peristiwa traumatis. Bermula dari kolonialisme dan represi selama lebih dari 20 tahun, Indonesia bagaikan bangsa yang merangkak untuk menjadi dewasa, dan melepaskan diri dari masa lalunya yang kelam. Berbagai konflik antar etnis, krisis ekonomi, korupsi yang tak kunjung habis menggores jati diri kita sebagai bangsa. Kini di ambang dekade baru, kita mencoba menggores harapan di tengah lautan trauma yang ada.

Setiap pergantian tahun selalu ditandai dengan tumbuhnya harapan. Harapan tersebut tumbuh dihadapan tanah berduri yang penuh dengan peristiwa negatif. Namun sebagai bangsa Indonesia tidak boleh terus berkubang di dalam trauma. Trauma adalah negasi dari peristiwa negatif kehidupan yang harus dilampaui untuk mencapai sintesa kehidupan yang lebih sempurna.

Tahun Baru

Tahun baru juga melahirkan masalah dan tantangan-tantangan baru yang perlu untuk ditanggapi secara tepat dan jernih. Tantangan dan masalah baru tidak bisa ditanggap dengan kerangka berpikir dan tindakan-tindakan lama. Oleh karena itu tahun baru juga berarti keberanian untuk melihat dunia dengan cara baru, yakni cara yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Tanpa keberanian semacam itu, tahun baru hanyalah merupakan tahun lama yang mengganti nama, namun tanpa mengubah substansi di dalamnya.

Tahun baru menjanjikan harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik. Jamak ditemukan orang yang membuat janji untuk melenyapkan kebiasaan jeleknya di masa lalu. Hal yang sama sebenarnya berlaku untuk sebuah bangsa. Tahun baru adalah momen untuk menyatakan dan menegaskan komitmen untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Tanpa pernyataan, ketegasan, dan tindakan konkret untuk mewujudkan harapan serta menggulirkan perubahan, perayaan tahun akan kehilangan maknanya, dan menjadi ritual semua yang miskin substansi.

Setidaknya ada dua agenda yang menuntut ketegasan dan tindakan konkret, yakni upaya untuk melenyapkan korupsi dari ibu pertiwi, dan perubahan gaya hidup yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup. Itulah dua agenda yang menjadi isi dari komitmen kita untuk menjadi ‘baru’ di tahun baru ini. Kedua agenda itu juga dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk mengikis dan melampaui trauma sosial yang menjangkiti kesadaran bangsa kita. Tahun baru adalah momen harapan untuk menegasi trauma, dan mencapai sintesa.

Trauma Bangsa

Seperti yang pernah ditulis oleh Budi Hardiman (2005), trauma sosial adalah bekas dari suatu peristiwa negatif yang tergores di dalam ingatan sebuah bangsa. Trauma adalah bekas dari peristiwa negatif yang terus mengulang dirinya sendiri, walaupun di dalam realitas, peristiwa itu sudah lama berlalu. Dampak dari trauma sosial berskala nasional, dan bahkan berskala universal, yakni menggores rasa kemanusiaan kita sebagai insan ilahi. Efek dari trauma juga terasa dalam jangka waktu yang lama, jika tidak ada upaya-upaya konkret untuk melampauinya.

Pada 2009 yang telah berlalu, kita dihadapkan pada trauma sosial yang tak kalah besarnya. Sulitnya untuk membongkar korupsi di Indonesia menjadi trauma sosial tersendiri yang menciptakan ketidakpercayaan publik (Suharyo, 2009). Masyarakat menjadi tidak percaya pada pemerintah, terutama dalam kaitannya dengan penyalahgunaan wewenang para pejabat publik yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri. Di dalam proses tersebut, banyak korban yang berjatuhan, baik korban manusia, alam, dan korban sosial.

Setiap peristiwa selalu meninggalkan jejak. Peristiwa yang positif akan meninggalkan jejak dalam bentuk harapan dan teladan. Sementara peristiwa negatif seperti konflik sosial, korupsi, penipuan, dan diskriminasi akan meninggalkan jejak dalam bentuk trauma. Jejak tersebut seringkali tidak kelihatan, namun secara langsung mempengaruhi perilaku masyarakat secara umum.

Jejak harapan akan menciptakan teladan yang akan menginspirasi tindakan-tindakan positif lainnya. Sementara jejak trauma akan memasung kesadaran publik, dan menciptakan aura kecurigaan di dalam kehidupan bermasyarakat. (Kellermann, 2007) Jejak harapan akan menciptakan peradaban yang akan menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Sementara jejak trauma akan meninggalkan cacat dan konflik yang pada akhirnya akan menggores trauma baru di dalam kesadaran masyarakat.

Dialektika Harapan

Tahun baru adalah momen untuk membangun harapan, menyatakan, dan menegaskan komitmen untuk berani menghadapi tantangan-tantangan baru juga dengan cara berpikir baru yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Untuk menanggapi korupsi dan mengubah gaya hidup ke arah yang lebih ramah lingkungan, masyarakat Indonesia perlu untuk melampaui trauma yang menjangkiti kesadarannya.

Trauma adalah jejak dari peristiwa negatif yang mengulang dirinya sendiri, walaupun peristiwa aktualnya sudah lama berlalu. Efek dari trauma adalah apatisme, ketidakpercayaan, dan mentalitas korup yang cenderung untuk menggunakan kekuasaan guna mencapai tujuan-tujuan yang salah. Sikap-sikap inilah yang menjadi musuh kita bersama.

Trauma janganlah ditempatkan sebagai penghalang kemajuan. Sikap pengecut yang diciptakan oleh trauma janganlah dilestarikan dan ditanam dalam kultur. Sebaliknya trauma haruslah ditempatkan sebagai negasi dari peristiwa itu sendiri. Dan seperti yang pernah ditulis oleh Hegel, setiap negasi atas peristiwa selalu mengajak peristiwa tersebut melampaui dirinya sendiri, dan mencapai sintesa. Sintesa adalah penerimaan dan pelampauan dari aspek negatif dari peristiwa, serta upaya untuk menonjolkan sisi positif peristiwa, guna menciptakan harapan. Inilah esensi dari dialektika harapan yang menjadi agenda kita sebagai bangsa yang memasuki dekade baru.

Selamat tahun baru, selamat berharap, dan selamat melampaui trauma.

Penulis adalah Pengajar Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala, Surabaya,

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s