Filsafat Yahudi

Arti

Filsafat Yahudi[1]

Reza A.A Wattimena.

Pusat Kajian Multikulturalisme dan Skolatik Filsafat Widya Mandala, Surabaya

Setiap buku tentang filsafat Yahudi harus selalu dimulai dengan terlebih dahulu menjawab pertanyaan, apa yang dimaksud dengan filsafat yahudi? Tentu saja ini bukanlah merupakan salah satu pertanyaan abadi di dalam filsafat, seperti apa hakekat manusia dan dunia, dan bagaimana kita harus hidup. Namun pertanyaan ini tetap perlu untuk dijawab, guna menempatkan seluruh filsafat Yahudi, dan pemahaman atasnya, pada konteks yang tepat. Pertanyaan tentang ‘apa’ biasanya selalu terkait dengan pertanyaan ontologis, yakni pertanyaan tentang hakekat. Di dalam pertanyaan ini sudah diandaikan keberadaan esensi, yakni sekumpulan ciri yang dimiliki oleh para filsuf Yahudi di dalam merumuskan dan menyampaikan pemikiran mereka, sekaligus membedakan mereka dari aliran-aliran besar filsafat lainnya.

Tentu saja orang akan sangat sulit menentukan hakekat dari filsafat Yahudi, terutama dengan menggunakan kriteria di atas. Tidak hanya itu konsep ‘filsafat Yahudi’ pun juga sebenarnya konsep yang ditemukan pada masa modern. Konsep itu sendiri pertama kali dirumuskan sebagai bagian dari mata kuliah filsafat, yakni mata kuliah yang hendak mempelajari sejarah pemikiran para filsuf Yahudi secara sistematis dan utuh. Namun apakah semua filsuf berdarah Yahudi praktis memiliki kesamaan ciri di dalam filsafat mereka? Tentu saja tidak. Itu sama sulitnya dengan mengatakan, bahwa semua orang filsuf Jerman memiliki kesamaan ciri di dalam filsafat mereka. Walaupun seringkali tidak memuaskan, namun lahirnya konsep “filsafat Yahudi” adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan begitu saja. Cukuplah kita sadari bersama kekurangan yang ada di dalam konsep itu, bahwa itu lebih merupakan konsep yang berguna untuk kepentingan pembelajaran.

Dengan demikian pertama-tama, filsafat yahudi adalah suatu displin akademik. Filsafat yahudi adalah suatu penemuan (invention) dari para sejarahwan filsafat abad ke -19. Mereka ingin menyatukan para filsuf berdarah Yahudi ke dalam satu kerangka untuk bisa dipelajari dan ditanggapi secara kritis. Sebelum abad ke-19, tidak ada orang yang secara eksplisit mengajukan tesis ataupun pertanyaan terkait dengan filsafat yahudi. Sebabnya sederhana yakni karena tidak ada yang disebut sebagai filsafat yahudi. Tidak ada filsuf sebelum abad ke-19 yang mengakui filsafat yahudi sebagai cabang dari filsafat. Para filsuf berdarah Yahudi seringkali digolongkan di dalam aliran-aliran filsafat tertentu, namun bukan filsafat yahudi. Hal ini sebenarnya bisa dimengerti, karena pada masa pra-modern dan modern, filsafat, teologi, dan ilmu pengetahuan masih berada di dalam satu kesatuan. Pada masa-masa itu, perbedaan antara ketiganya seringkali tidak jelas.

Di peradaban Islam yang justru merupakan tempat yang subur bagi berkembangnya pemikiran para filsuf yang berdarah yahudi, orang-orang seperti Maimonides ataupun Gersonides (yang akan kita bedah isi pemikirannya pada bab-bab berikutnya) tidak memandang diri mereka sebagai bagian dari para filsuf yahudi. Dalam arti tertentu mereka lebih tepat ditempatkan sebagai para filsuf yang memberikan tafsiran yang kreatif dan rasional atas tradisi Yahudi yang memang telah berkembang ribuan tahun sebelumnya. Mereka adalah para filsuf yang menggunakan konsep-konsep filosofis sebagai dasar bagi tafsiran atas tradisi Yahudi.[2]

Bagi para pemikir seperti Maimonides dan Gersonides, kitab suci Yahudi adalah suatu traktat filosofis yang bisa dikembangkan tafsirannya secara rasional dan sistematis. Akan tetapi kegiatan intelektual semacam itu, yakni menafsirkan kitab suci Yahudi secara filosofis, juga belum dapat menjadi dasar yang kokoh untuk suatu ‘filsafat yahudi’. Menurut Frank dan Leaman (selanjutnya saya singkat menjadi FL), suatu refleksi filosofis terhadap kita suci Yahudi tidak pernah dapat disebut sebagai filsafat yahudi, karena refleksi semacam itu tidak memiliki implikasi universal yang kiranya bisa berlaku untuk orang-orang di luar etnis ataupun agama Yahudi.

Bagi Maimonides dan Gersonides (seperti akan kita lihat secara lebih detil pada bab-bab berikutnya), berfilsafat atas ajaran Yahudi adalah suatu kewajiban moral yang perlu dan harus dilaksanakan, terutama untuk menarik relevansi konkret dari ajaran Yahudi yang memang sudah berusia ribuan tahun. Mereka menafsirkan tradisi dan menjadikannya sebagai tema diskusi yang menarik, terutama tentang penciptaaan, karya Allah, dan bahkan ramalan atas masa depan bangsa Yahudi. Gaya semacam ini memang tidak hanya ditemukan di dalam tradisi Yahudi. Berdasarkan penelitian FL gaya seperti itu sebenarnya juga dapat ditemukan di tradisi filsafat lainnya. Bahkan hampir semua agama monoteistik, seperti Islam dan Kristen, melakukan hal ini. Mereka menanggapi hal-hal yang muncul di dalam kitab suci secara filosofis.

Sekali lagi perlu untuk ditegaskan, bahwa filsafat Yahudi bukanlah cabang filsafat, melainkan suatu cara untuk menafsirkan tradisi kultur Yahudi dengan menggunakan pendekatan filosofis yang sifatnya rasional, kritis, dan sistematis. Di dalam filsafat abad pertengahan, para filsuf seringkali berpijak pada tradisi agama tertentu, dan kemudian bergerak untuk merumuskan suatu sistem filsafat tersendiri untuk memahami realitas. Tidak hanya dulu para filsuf kontemporer sekarang ini seringkali berpijak pada suatu sistem filsafat tertentu untuk mengembangkan pemikirannya, seperti yang dilakukan oleh Iris Murdoch dengan tradisi Platonisme dan Alasdair MacIntyre dengan tradisi Aristoteliannya.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, filsafat Yahudi adalah temuan pada sejarahwan filsafat abad ke-19. Tujuan mereka adalah untuk menanggapi suatu situasi dan kondisi jaman tertentu yang dianggap dapat menghancurkan identitas Keyahudian. “Filsafat Yahudi”, demikian FL, “muncul sebagai suatu upaya untuk melukiskan, sejalan dengan standar garis akademik, sebuah kesatuan tulisan-tulisan.”[3] Dengan kata lain filsafat Yahudi adalah suatu kesatuan tekstual yang berpijak pada tradisi suku dan agama Yahudi, serta memenuhi standar akademik. Misalnya filsafat Yahudi tidak membahas mistisisme, karena dianggap tidak sesuai dengan standar akademik dan rasionalitas.

Dari pemaparan FL dapatlah disimpulkan, bahwa filsafat Yahudi merupakan suatu displin akademik yang diciptakan pada abad ke-19 untuk memelihara dan mengembangkan tradisi Yahudi, serta untuk menegaskan akar akademisnya. Tema utama filsafat Yahudi adalah tradisi dan agama Yahudi yang kemudian dijadikan bahan refleksi filosofis. Yang juga harus disadari adalah, bahwa tradisi itu berubah sejalan dengan perubahan jaman. Di sisi lain agama dan tradisi Yahudi juga memiliki banyak aliran. Di dalam filsafatnya Maimonides hendak merumuskan kembali pandangan dunia Yahudi yang dikaitkan dengan konteks jamannya. Ia semacam mendirikan aliran sendiri dengan mengubah pandangan orang Yahudi, yang sebelumnya memang masih bersifat tradisional, menjadi lebih progresif.

Pada masa abad pertengahan, tidak ada pemisahan yang tegas antara akal budi dan wahyu. Pemisahan itu baru dilakukan, setelah Eropa mulai mengenal dan menerapkan prinsip pemisahan negara dan gereja. Bahkan menurut penelitian FL, para filsuf besar abad pertengahan, seperti Averroes, Maimonides, dan Thomas Aquinas tidak melihat adanya pemisahan antara akal budi dan wahyu agama.  Proyek filsafat abad pertengahan, dan juga filsafat Yahudi, adalah untuk memahami dan menafsirkan wahyu yang terdapat di dalam agama tertentu melalui rasionalitas. Sekali lagi tujuan dari filsafat abad pertengahan, dan juga di dalam Filsafat Yahudi abad pertengahan, bukanlah mempertanyakan tradisi dan agama, melainkan memahaminya dengan cara-cara yang rasional.



[1] Pada bab ini saya diinspirasikan dari tulisan Frank, Daniel H., dan Leaman, Oliver (ed), History of Jewish Philosophy, London: Routledge, 1997. Saya akan memberikan keterangan selengkapnya dari sumber-sumber lain yang saya gunakan.

 

[2] Lihat, ibid, 2.

[3] Ibid, 4.

About these ads

2 gagasan untuk “Filsafat Yahudi

  1. sangat menarik bila di dijelaskan lagi bagaimana peranan filosof jahudi dalam perkembangan islam dahulu di andalusia, termasuk pengaruh mereka kepada kaum mu’tazilah, khususnya kebebasan berfikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s