Filsafat Pendidikan Wilhelm von Humboldt

humanistischecanon.nl

humanistischecanon.nl

Di dalam Theorie der Bildung des Menschen

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Banyak orang ingin melanjutkan pendidikan di Jerman sekarang ini.1 Setidaknya, ada dua alasan utama. Yang pertama, Jerman memiliki sistem pendidikan umum yang diatur oleh negara dengan birokrasi yang relatif bersih. Kualitas setiap perguruan tingginya pun terjamin. Yang kedua, Jerman berhasil menghapus biaya kuliah untuk perguruan tinggi. Ini membuat biaya pendidikan menjadi amat murah bagi orang-orang yang berasal dari negara lain, terutama jika dibandingkan dengan biaya pendidikan yang amat tinggi di Amerika Serikat, Australia dan Inggris. Di sisi lain, Jerman juga memiliki reputasi sebagai rumahnya para ilmuwan dan pemikir besar, terutama di awal abad 20. Albert Einstein, Martin Heidegger dan Immanuel Kant (Jerman masih disebut Prussia) hidup dan berkarya di negara ini. Menyimak hal ini, kita juga dapat mengatakan, bahwa Jerman memiliki tradisi intelektual yang panjang dan kuat. Di samping reputasinya di bidang teknik, Jerman juga amat kuat di dalam pengembangan filsafat dan seni, terutama seni musik. Tak heran, banyak orang, terutama dari Indonesia, yang ingin melanjutkan pendidikan di Jerman.

Namun sayangnya, banyak orang tidak paham, apa sesungguhnya akar dan roh pendidikan di Jerman. Banyak orang datang ke Jerman sekedar untuk mendapatkan nilai akademik dan ijazah untuk melanjutkan hidup mereka nantinya. Mereka pun lulus tanpa mengetahui sama sekali, apa roh dan akar dari sistem pendidikan di Jerman. Sayang sekali bukan? Jika ditelusuri sejarahnya, akar dan roh pendidikan di Jerman dapat dikembalikan pada pemikiran-pemikiran Wilhelm von Humboldt, bapak pendidikan di Jerman. Ia menuangkan pemikirannya dalam sebuah tulisan pendek yang berjudul Theorie der Bildung des Menschen. Saya mencoba membaca dan menafsirkan pemikiran Humboldt di dalam tulisan ini, melihat sumbangannya untuk perkembangan sistem pendidikan di Indonesia dan mengajukan tanggapan kritis atasnya. Untuk itu, tulisan ini akan dibagi ke dalam empat bagian. Awalnya, saya akan menjelaskan inti utama dari filsafat pendidikan Humboldt di dalam tulisannya yang berjudul Theorie der Bildung des Menschen. (1) Lalu, saya akan mencoba melihat relevansi pemikiran Humboldt tersebut untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. (2) Saya juga akan memberikan catatan kritis untuk pemikiran Humboldt tersebut. (3) Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (4).

  1. Filsafat Pendidikan Humboldt

Nama lengkapnya adalah Friedrich Wilhelm Christian Karl Ferdinan Freiherr von Humboldt.2 Ia dilahirkan pada 22 Juni 1767 di Postdam, dan meninggal pada 8 April 1835 di Tegel, dekat Berlin. Ayahnya adalah seorang guru privat yang memiliki akar kuat pada tradisi Filsafat Pencerahan. Humboldt kemudian belajar ilmu-ilmu alam, bahasa Yunani, Latin dan Prancis. Ia juga pernah belajar pada Immanuel Kant dan kemudian berteman dengan Friedrich Heinrich Jacobi, Goethe dan Schiller. Pada 1790, ia bekerja sebagai pegawai pemerintah Prussia. Pada 1797, ia pindah ke Paris. Namun, ia tetap mempertahankan hubungan baik dengan kalangan intelektual dan politikus Prussia. Baca lebih lanjut

Lotus di Medan Perang

skcdn6.successkata.com

skcdn6.successkata.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Siapa yang tidak kenal dengan Nelson Mandela? Dialah pemimpin Afrika Selatan, setelah keluar dari kegelapan politik Apartheid yang membelah negara itu, hampir sepanjang abad 20 lalu. Lebih dari dua puluh lima tahun, ia hidup dalam tahanan, karena menentang pembedaan sosial antara orang-orang berkulit putih dan orang-orang berkulit hitam di Afrika Selatan. Yang menakjubkan dari hidupnya adalah, walaupun mengalami kesulitan begitu berat dan begitu lama, ia tetap bisa mengampuni musuh-musuhnya, dan menciptakan perdamaian bagi Afrika Selatan yang baru.

Siapa juga yang tidak kenal dengan Mahatma Gandhi? Ia memimpin revolusi kemerdekaan India dari Kerajaan Inggris. Filsafat yang ia gunakan adalah sikap tanpa kekerasan. Ia juga hidup dalam tahanan untuk jangka waktu lama. Lepas dari penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi, ia mampu menanggapi semuanya dengan ketulusan dan ketabahan yang menjadi dasar dari perdamaian.

Siapa yang tidak pernah mendengar Dalai Lama, pimpinan religius asal Tibet? Nama aslinya adalah Tenzin Gyatso. Sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik Tibet, ia kini hidup dalam pengasingan, karena Pemerintah Cina kini menguasai Tibet. Ia harus menyaksikan ribuan temannya dibunuh tentara Cina. Ia juga harus melihat hancurnya ribuan kuil Buddha di Tibet. Lepas dari penderitaannya tersebut, ia tetap menjadi pribadi yang damai, cerdas dan memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Ia bahkan kini menjadi salah satu tokoh terbesar perdamaian dunia. Baca lebih lanjut

Berpikir yang Berakar

actu-philosophia.com

actu-philosophia.com

Pandangan Martin Heidegger

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Tema utama dari pemikiran Heidegger adalah soal “Ada” (Sein).1 Ia menyebutnya sebagai Seinsfrage. Semua tema dari pemikirannya, seperti soal manusia, soal teknologi dan soal budaya, harus dikembalikan pada pemahaman Heidegger tentang “Ada” itu sendiri. Tentang pemikiran yang “membiarkan dunia apa adanya”, atau selanjutnya saya sebut sebagai Gelassenheitsdenken, Heidegger membahasnya di dalam karya-karya akhirnya, atau karya-karya Heidegger tua. Dua konsep lainnya yang penting di dalam ide tentang Gelassenheit adalah tentang esensi dari teknologi (das Wesen der Technik), dan esensi dari manusia (das Wesen des Menschen) itu sendiri.

Di dalam karyanya yang berjudul Sein und Zeit, atau Ada dan Waktu, Heidegger menegaskan, bahwa seluruh sejarah filsafat metafisika (pemikiran tentang hakekat dari segala sesuatu yang ada) ditandai dengan satu ciri, yakni “kelupaan akan ada” (Seinsvergessenheit). Filsafat metafisika sibuk dengan turunan dari “Ada” dalam bentuk manusia dan benda-benda, seperti alam. Ia lupa akan “Ada” itu sendiri yang mendasari segalanya. Maka, melalui karya-karyanya, Heidegger berusaha melampaui “kelupaan akan ada” tersebut, sehingga filsafat bisa kembali fokus pada “Ada” yang mendasari segalanya, yakni kebenaran itu sendiri.

Teknologi modern, baginya, adalah bentuk tertinggi dari metafisika (pemikiran tentang hakekat dari segala yang ada) yang ada di dalam sejarah manusia. Ia pun menjadi bentuk tertinggi dari “kelupaan akan ada”, sebagaimana tampak di dalam sejarah metafisika. Teknologi modern pun lalu tidak bisa disamakan dengan pemikiran rasional, atau Logos, yang menjadi dasar dari seluruh filsafat Barat.2 Maka, teknologi modern bukanlah sesuatu yang harus diagung-agungkan, melainkan sebaliknya, ia perlu untuk dilampaui. Dalam arti ini, melampaui kedangkalan berpikir teknologi modern berarti juga melampaui metafisika (die Überwindung der Metaphysik) itu sendiri. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Baca lebih lanjut