Membangun Budaya Mawas Diri

maurilioamorim.com

maurilioamorim.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Seringkali, kita sibuk untuk mengubah orang lain dan dunia di sekitar kita, supaya sesuai dengan keinginan kita. Namun, kerap kali pula, kita gagal. Lalu, kita pun kecewa, bersedih dan bahkan marah. Bagaimanapun diusahakan, dunia di luar kita, termasuk orang-orang di sekitar kita, tidak akan pernah sejalan dengan keinginan kita.

Inilah akar dari segala penderitaan di dunia, yakni ketika kita memaksa dunia luar sejalan dengan keinginan kita, lalu gagal. Jika seperti itu, kita patut mengajukan pertanyaan sederhana berikut. Apakah keinginan yang ada di dalam diri kita itu baik untuk diwujudkan? Jangan-jangan, keinginan kita itulah yang salah, sehingga ia tidak akan pernah menjadi kenyataan?

Mawas Diri

Dengan dua pertanyaan ini, kita lalu bisa melakukan refleksi diri. Dan refleksi diri adalah inti utama dari mawas diri. Mawas diri berarti kita mengawasi diri kita sendiri, terutama emosi dan pikiran-pikiran yang muncul di dalam diri. Ketika kita marah, sedih, cemas, ataupun gembira, kita lalu mengawasi perasaan-perasaan tersebut sebagai sesuatu yang sementara, bahkan ilusi. Baca lebih lanjut

Pendidikan, Belajar dan Meneliti

Michael Alfano - Figurative and surrealistic sculptures - Tutt'Art@  (31)

Michael Alfano

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di München, Jerman

Banyak universitas di Indonesia sekarang ini berusaha menjadi universitas riset (research university). Mereka menggelontorkan dana besar untuk penelitian, terutama di bidang-bidang yang populer di masyarakat dan menghasilkan uang. Mereka melakukan studi banding untuk meniru pola penelitian di berbagai universitas di luar negeri. Menurut saya, ini salah kaprah.

Universitas bukanlah lembaga penelitian. Universitas adalah lembaga pendidikan. Alasan adanya universitas adalah untuk mendidik. Kegiatan penelitian dilakukan bukan sebagai penelitian itu sendiri, melainkan untuk menunjang pendidikan.

Kualitas pendidikan adalah acuan utama pengembangan universitas. Ini adalah tujuan utama. Pengembangan ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas maupun jumlah penelitian, sehingga bisa membantu mengembangkan pendidikan di universitas. Kita tidak boleh bingung, yang mana alat, dan yang mana tujuan. Baca lebih lanjut

“Lemak-lemak” Kehidupan

huffpost.com

huffpost.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang Penelitian di München, Jerman

Hidup kita dipenuhi dengan “lemak-lemak”. Dalam arti ini, lemak adalah “sesuatu yang lebih”. Banyak orang mengejar dan menumpuknya, walaupun ia tidak membutuhkannya. Justru, “lemak-lemak kehidupan” inilah yang seringkali menghambat hidup kita.

Lemak di dalam tubuh fisik, sejatinya, memang memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, manusia membutuhkannya untuk berbagai tujuan, seperti daya tahan tubuh, melawan dingin, dan sebagainya. Namun, tumpukan lemak dalam tubuh pula yang menciptakan berbagai penyakit, seperti jantung, kolesterol, dan sebagainya. Sebagai manusia, kita membutuhkan lemak dalam jumlah yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

“Lemak-lemak” Pribadi

“Lemak-lemak kehidupan” tidak hanya ada di dalam tubuh, tetapi juga di semua bidang kehidupan. Hidup pribadi maupun hidup bersama kita sebagai masyarakat di Indonesia juga dipenuhi dengan lemak. Kehadiran lemak ini menutupi apa yang sungguh penting. Kita pun lalu sibuk dan membuang tenaga untuk hal-hal yang tidak penting. Baca lebih lanjut

Jembatan Antar Generasi

wadafinearts.com

wadafinearts.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di berbagai organisasi, kita sering menemukan tegangan antara generasi tua dan generasi muda. Generasi tua merasa lebih punya pengalaman dan kebijaksanaan, sehingga merasa berhak untuk memimpin atau memberikan nasihat-nasihat. Sementara, generasi muda merasa, bahwa mereka tidak dimengerti. Pandangan-pandangan dari generasi tua dianggapnya ketinggalan jaman, dan tidak lagi pas untuk keadaan jaman sekarang.

Saya punya pengalaman nyata soal ini. Alumni SMA saya mengadakan rapat. Kami hendak mengorganisir kembali lembaga-lembaga alumni, lalu membuat koordinasi yang lebih dekat dan kompak. Namun, sepanjang rapat, angkatan tua sungguh mendominasi. Mereka berbicara panjang, padahal intinya sama saja.

Mereka mengulang-ngulang hal yang sama. Sementara, generasi yang lebih muda diam saja, pasif mendengar, karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketika rapat selesai, banyak dari generasi muda yang tidak lagi mau ikut rapat bersama. Mereka merasa, suara mereka tidak didengar, dan hanya diminta untuk menelan semua kata-kata dari generasi tua. Baca lebih lanjut