Politik “Menutup Diri”

thepartybazaar.com

thepartybazaar.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Para ahli politik dan ekonomi menyatakan, bahwa globalisasi telah membuka dunia lebar-lebar. Tidak ada jalan kembali. Semua negara harus membuka pintunya lebar-lebar, jika ingin mengembangkan ekonomi maupun politiknya. Perdagangan bebas antar negara dan keterbukaan politik adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan. Apakah iya?

Apakah membuka pintu perdagangan lebar-lebar adalah jalan ekonomi terbaik untuk Indonesia saat ini? Apakah membiarkan setiap perusahaan asing menanamkan investasi di Indonesia adalah jalan terbaik sekarang ini? Apakah keterbukaan politik terhadap hubungan dengan negara lain adalah jalan terbaik untuk politik Indonesia sekarang ini? Perlukah kita meninjau ulang semua kebijakan kita terkait dengan keterbukaan ekonomi dan politik tanpa batas?

Sebuah strategi ekonomi atau politik membutuhkan pertimbangan kritis. Slogan keterbukaan ekonomi dan politik haruslah juga dipikirkan ulang secara kritis. Kita juga perlu untuk mempelajari beberapa pengalaman negara-negara lain terkait soal ini. Yang paling jelas adalah pengalaman Jepang. Baca lebih lanjut

Kopi, Ubah dan Gabungkan!

smartnetzone.com

smartnetzone.com

Tentang Kreativitas

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Apakah ada yang baru di atas muka bumi ini? Pertanyaan ini tentu tidak berlebihan, jika kita hidup dalam suatu tata dunia, dimana kreativitas dan inovasi mendorong perkembangan ekonomi, yang berarti juga terkait dengan kualitas hidup banyak orang. Tanpa inovasi dan kreativitas, ekonomi tidak akan berkembang. Itu artinya, semakin banyak orang hidup terjebak di bawah garis kemiskinan.

Ide Baru Kreativitas

Di dalam presentasi singkatnya dengan judul Embrace The Mix pada 2012 lalu, Kirby Ferguson mencoba merumuskan pandangan baru tentang arti dari kreativitas. Ia mengambil contoh dari dunia musik, terutama terkait dengan penyanyi AS terkenal, Bob Dylan. Menurutnya, yang terjadi sekarang adalah, “bagaimana hal baru diciptakan dari hal lama. Tekniknya ada tiga: kopi, ubah, dan gabungkan.”

Inilah yang disebut sebagai teknik Remix (menggabungkan ulang). Jika anda membuat lagu, gampang caranya. Pertama, anda kopi dari lagu yang sudah ada. Lalu, ada belah dan ubah susunan dari lagu itu. Setelah itu, anda gabungkan lagi potongan-potongan lagu itu sesuai dengan selera anda. Anda pun memiliki lagu baru! Namun, lagu baru tersebut tidaklah datang langit sebagai inspirasi murni, melainkan berpijak pada lagu lama yang sudah ada sebelumnya. Baca lebih lanjut

Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

amazonaws.com

amazonaws.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.

Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“telek”-tual ini? Baca lebih lanjut

Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

creativeintelligenceinc.com

creativeintelligenceinc.com

Oleh B. Herry Priyono

Musim gempita membandingkan dua calon presiden/wakil-presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.

Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara “memilih dari keputusasaan” dan “memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.

Namun dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal-sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan. Baca lebih lanjut