Pretensi

blogspot.com

blogspot.com

atau…. Simulo ergo sum; Aku Berpura-pura, Maka Aku Ada

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul Masse und Macht, Elias Canetti, penulis dan pemikir asal Bulgaria, mencoba mengamati berbagai bentuk perilaku manusia, dan mengaitkannya dengan perilaku hewan. Salah satu perilaku yang menonjol adalah pretensi, atau berpura-pura. Perilaku semacam ini tampak di dalam perilaku bunglon. Ketika latar belakang berubah, maka si bunglon akan mengubah warna tubuhnya, guna menyesuaikan dengan latar belakangnya.

Manusia pun memiliki perilaku yang sama. Kita berpura-pura di hadapan orang lain, guna mencapai tujuan kita. Orang menyebutnya sebagai kemampuan beradaptasi, atau kemampuan untuk menyesuaikan diri. Namun, di balik itu, kita tahu, bahwa kita berusaha memoles tampilan luar kita, agar sesuai dengan keadaan di luar diri kita. Bahkan, kita menipu diri kita sendiri, demi supaya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar kita.

Pretensi di Sekitar Kita

Politikus tampil terlihat kuat dan dapat dipercaya, supaya ia bisa memperoleh dukungan politik dari rakyat. Ia berpura-pura kuat dan kredibel, walaupun niat hatinya tetap tak dapat ditebak. Nyatanya, begitu banyak politikus, tidak hanya di Indonesia, menjadi koruptor di kemudian hari. Pretensi adalah suatu bentuk kebohongan, yang mengaburkan kenyataan dan bayangan. Baca lebih lanjut

Logos dan “Apa yang Terpenting”

principlesforlifeministries.com

principlesforlifeministries.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Orang beragama menyebutnya sebagai “Tuhan”. Para seniman menyebutnya sebagai “Keindahan” yang bisa diekspresikan melalui berbagai karya. Para ilmuwan menyebutnya sebagai “Kebenaran” yang bisa didekati dengan berbagai metode. Para filsuf Yunani Kuno melihatnya sebagai “Logos“. Kata ini memiliki beberapa arti, yakni bahasa, roh atau akal budi.

Ada berbagai kata untuk hal ini. Saya menyebutnya sebagai “apa yang terpenting.” Ia terungkap dan bisa didekati dengan berbagai cara dan dari berbagai bidang. Ia menjadi pusat dari apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup. Namun, seringkali kita lupa akan hal ini.

“Apa yang terpenting” ini tertanam di berbagai bidang. Ia juga terungkap di berbagai media. Sebuah karya, apapun bentuknya, entah itu sebuah lukisan, musik, bangunan, atau tulisan, jika berhasil menangkap satu bagian kecil dari “apa yang terpenting”, maka akan menciptakan rasa getar dan kagum dari orang yang melihatnya. Tremendum et Fascinosum, kata Rudolf Otto. Baca lebih lanjut

Membangun Budaya Mawas Diri

maurilioamorim.com

maurilioamorim.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Seringkali, kita sibuk untuk mengubah orang lain dan dunia di sekitar kita, supaya sesuai dengan keinginan kita. Namun, kerap kali pula, kita gagal. Lalu, kita pun kecewa, bersedih dan bahkan marah. Bagaimanapun diusahakan, dunia di luar kita, termasuk orang-orang di sekitar kita, tidak akan pernah sejalan dengan keinginan kita.

Inilah akar dari segala penderitaan di dunia, yakni ketika kita memaksa dunia luar sejalan dengan keinginan kita, lalu gagal. Jika seperti itu, kita patut mengajukan pertanyaan sederhana berikut. Apakah keinginan yang ada di dalam diri kita itu baik untuk diwujudkan? Jangan-jangan, keinginan kita itulah yang salah, sehingga ia tidak akan pernah menjadi kenyataan?

Mawas Diri

Dengan dua pertanyaan ini, kita lalu bisa melakukan refleksi diri. Dan refleksi diri adalah inti utama dari mawas diri. Mawas diri berarti kita mengawasi diri kita sendiri, terutama emosi dan pikiran-pikiran yang muncul di dalam diri. Ketika kita marah, sedih, cemas, ataupun gembira, kita lalu mengawasi perasaan-perasaan tersebut sebagai sesuatu yang sementara, bahkan ilusi. Baca lebih lanjut

Pendidikan, Belajar dan Meneliti

Michael Alfano - Figurative and surrealistic sculptures - Tutt'Art@  (31)

Michael Alfano

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di München, Jerman

Banyak universitas di Indonesia sekarang ini berusaha menjadi universitas riset (research university). Mereka menggelontorkan dana besar untuk penelitian, terutama di bidang-bidang yang populer di masyarakat dan menghasilkan uang. Mereka melakukan studi banding untuk meniru pola penelitian di berbagai universitas di luar negeri. Menurut saya, ini salah kaprah.

Universitas bukanlah lembaga penelitian. Universitas adalah lembaga pendidikan. Alasan adanya universitas adalah untuk mendidik. Kegiatan penelitian dilakukan bukan sebagai penelitian itu sendiri, melainkan untuk menunjang pendidikan.

Kualitas pendidikan adalah acuan utama pengembangan universitas. Ini adalah tujuan utama. Pengembangan ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas maupun jumlah penelitian, sehingga bisa membantu mengembangkan pendidikan di universitas. Kita tidak boleh bingung, yang mana alat, dan yang mana tujuan. Baca lebih lanjut